
MUSE S7
Episode
S7 \~ MUAT TIDAK?
\~Napas Leoni memburu, Levin begitu memanjakan mahkotanya sampai ledakan itu kembali terjadi. Leoni baru tahu kalau itu yang namanya ter puas kan.\~
_____________
Leoni melongo, ia tak percaya bahwa pemuda tengil di depannya saat ini sudah mampu membeli rumah dan mobil sendiri. Bahkan memberikannya untuk Leoni. Levin memang sudah merencanakan masa depan mereka jauh ke depan. Setelah Leoni lulus dari semua jenjang pendidikannya ia akan menikahi Leoni.
“Cobalah. Bukankan ini mobil impianmu. Aku membelikannya sebagai kado ulang tahunmu.” Levin menyerahkan kunci mobil pada Leoni.
“Aku belum punya SIM.”
“Tapi bisa mengemudikan?” tanya Levin, Leoni mengangguk. Leon sudah mengajarkannya cara menyetir mobil namun memang Leoni belum mengambil ujian SIM. Kanna belum mengijinkan putrinya memiliki mobil pribadi sebelum genap lulus sekolah.
“Cobalah, berputar saja di kompleks perumahan sampai ke taman kota lagi.” Usul Levin.
Leoni tersenyum. Ia lekas menyahut kunci dari tangan Levin dan masuk ke mobil. Duduk di kursi pengemudi dan mengelus setir dan juga interior mobil yang masih sangat berkilau, lalat pun akan terpeleset bila berjalan di atasnya. Mobil baru, jadi aromanya pun masih khas. Masih tajam menusuk hidung, jadi Leoni membuka semua kaca jendela supaya udara di dalam berganti.
“Wah, ini hebat.” Leoni menghidupkan mesin, menginjak pelan gas mobil dan mobil itu pun melaju perlahan-lahan. Leoni tak berhenti tersenyum bahagia sepanjang jalan. Leoni membawa mobil itu ke area taman kota, berputar-putar di sana beberapa kali. Lalu parkir di pinggir sungai.
“Bagaimana? Kau suka?” tanya Levin, tentu saja Leoni mengangguk.
“Bagian tengah atapnya bisa dibuka, jadi kau bisa melihat bintang gemintang di malam hari.” Levin menekan tombol, dan semuanya terbuka. Leoni terlihat antusias dan juga kagum.
Levin berpindah ke kursi tengah, ia menarik Leoni untuk duduk bersama dengannya. Levin memeluk tubuh Leoni dari belakang sementara pandangannya ke atas menikmati lautan bintang di angkasa.
Leoni mengistirahatkan kepalanya di dada Levin dan ikut menatap bintang. Keduanya diam, keheningan yang indah. Hanya suara detak jantung yang menemani keduanya menghabiskan malam.
Levin mengecup tengkuk Leoni, merasakan aroma manis parfum yang bercampur dengan keringat sisa latihan. Leoni menggeliat pelan, ciuman Levin terasa geli.
( Mengandung adegan dewasa, bagi yang belum cukup umur di larang baca!! Bijaklah dalam memilih bacaan dan menyikapinya. Terima kasih)
Levin memindahkan tangannya naik untuk mencubit dagu Leoni supaya menoleh padanya. Sedetik kemudian, Levin mengecupi bibir Leoni dan bahkan mengullumnya dengan penuh perasaan.
Detak jantung keduanya berpacu seiring dengan gulatan bibir yang semakin cepat. Levin menautkan lidah, bergegas untuk menenggak rasa manis bak candu dari bibir kekasihnya sampai habis tak tersisi.
“Levin …” Leoni memanggil nama Levin dengan lembut. Panggilan itu terdengar sek si, terasa begitu menggairahkan di telinga Levin.
Levin mengusap masuk ke dalam kaos Leoni dan menanggalkannya. Leoni telihat cantik dalam balutan bra berwarna putih dengan pita besar dibagian depan.
Levin menganggumi kedua gunung kembar sampai harus menelan salivanya dengan susah payah. Tak pernah ia bayangkan bahwa tubuh Leoni bisa berubah sedemikian indah dalam waktu tiga tahun.
“Kenapa menatapku seperti itu?? Kau membuatku malu!” Leoni membuang muka.
Levin tersenyum, ia merebahkan Leoni ke tempat duduk, dan menin dihnya. Levin tak ingin orang lain melihat tubuh kekasihnya yang indah dari kaca jendela. Oke, meskipun kaca jendela begitu gelap dan malam pun juga telah larut. Tetap saja, taman kota adalah tempat umum. Siapa pun akan bisa berkunjung ke sana, dan Levin tak mau mereka melihat miliknya. Hanya Levin yang boleh melihat, menyentuh, dan merajainya.
“Vin …” Leoni merasa aneh, timbul getaran dan juga rasa panas di sekujur tubuhnya saat Levin mulai mengecupi area dada Leoni. Meski kedua manisan merah jambu itu masih terlapisi dengan kain, tetap saja gigitan Levin terasa sangat merang sang.
Levin membuka bajunya, menampilkan tubuh atletis dengan hiasan tato di lengan dan juga punggung belakang. Leoni ikut kesusahan menahan diri. Ia ingin Levin lekas memberikan sentuhan terhangat di sekujur permukaan kulitnya yang licin karena keringat. Ia ingin Levin merajai tiap jengkal tubuhnya.
Leoni menjil*t daun telinga Levin dan mulai merancau saat Levin dengan sengaja menggigit tato bunga matahari pada pundak Leoni.
“Nice Tatto Baby.” Puji Levin.
“Give me more tatto, Baby.” Leoni tersenyum. Levin langsung mengecup leher Leoni, mengh*sapnya dalam dan menimbulkan bekas cup ang merah keunguan. Tatto itu tak hanya satu, banyak bertebaran di depan dada dan juga perut ramping Leoni.
“Levin ahahah ... Vin!!!” seru Leoni kegelian saat Levin melepaskan celananya. Kini hanya ada sepasang pakaian dalam warna putih di tubuh Leoni.
“Sssttt … nanti ada yang dengar.” Levin menyumpal kembali bibir Leoni dengan bibirnya. Keduanya tersenyum di sela panggutannya. Leoni mengalungkan lengannya pada Leher Levin saat mereka beradu bibir.
Levin melepaskan celananya sendiri, keduanya semakin tak memiliki pembatas apa pun. Kulit bertemu kulit, peluh bertemu peluh, membuat getaran panas merambat dengan cepat.
Leoni bisa melihat sesuatu mene gang sangat keras seperti batu, kokor menjulang sampai ke pusat Levin. Baru kali itu Leoni melihat barang pribadi milik seorang pria. Leoni tercengang, apakah benda itu bisa muat masuk ke dalam dirinya?
“Kenapa tercengang?” tanya Levin.
“Tidak, aku hanya. Ah … aku hanya …” Leoni panik. Ia sungguh takut membayangakan senjata besar kekasihnya itu membelah celah sempur di antara paha. Muatkah?? Dan kalau muat, sakitkah??
“Kau tidak apa-apakan Singa??” tanya Levin panik.
“Tidak apa.” Leoni berusaha relaks, melihat wajah Levin yang cemas membuat Leoni menjadi merasa bersalah.
“Kita lanjutkan tidak?” Levin pun tak ingin memaksa Leoni. Kalau memang ia belum siap.
“Lanjut, Vin. Aku mau kok.” Leoni memejamkan matanya, ia mempersilahkan Levin bila ingin lekas masuk. Tangan Levin bergerak pelan, masuk perlahan, mengusap mahkota milik kekasihnya dengan lembut.
Bulu halus di sekitarnya membuat mahkota merah jambu itu semakin indah. Levin merasa bahagia bisa menyentuhnya dan bahkan membuat sang pemilik merancau sangat keras.
“Levin!!”
Getaran rasa yang meluap dengan sangat dasyat membuat Leoni terperanjat, rasa geli dan juga gatal bercampur dengan getaran ringan dan meledak menjadi luapan kebahagiaan.
Mahkota Leoni berke dut pelan, ****** ***** keluar membasahi celah itu. Belum sampai kedut annya menghilang, Levin sudah kembali menghisap mahkotanya dengan lembut. Bekerja dengan bibir dan lidah.
“Tidak!! Apa yang kau lakukan, Vin?” Napas Leoni memburu, Levin begitu memanjakan mahkotanya sampai ledakan itu kembali terjadi. Leoni baru tahu kalau itu yang namanya ter puas kan.
Bahu Leoni naik turun sementara Levin menyeringai saat melihat kekasihnya bergulung dalam kenikm*tan. Des*han terus terdengar.
“Aku hanya ingin membahagiakanmu.” Levin terkikih pelan.
“Apa kau siap?” Levin menunjukan miliknya yang keras dan menjulang, Leoni lagi-lagi berpikir.
Apakah muat??
...— MUSE S7 —...
Muat enggak gaes??
Wkwkwkwkekkwkek
Authornya gendeng. 🙈🙈🙈🙈🤣🤣🤣