MUSE

MUSE
S2 ~ PELUKAN



MUSE S2


EPISODE 48


S2 \~ PELUKAN


\~ Arvin memelukku kembali, derasnya hujan menjadi saksi bisu akan pesonanya yang mulai terpatri dalam jiwaku.\~


Aku terbelalak kaget saat dia datang. Wajahnya yang semula begitu buram kini perlahan-lahan menjadi jelas dan nyata. MUSE yang tak pernah tergambar sempurna itu kini berdiri di depanku. Memandangku dengan kedua matanya yang sayu. Entah apa yang dirasakannya saat ini? Sorot matanya begitu memancarkan kesedihan.


“Aku sangat merindukanmu, baby..” bisiknya saat ia tiba-tiba telah berhasil mendekapku dalam pelukannya.


“Tuan, tolong jangan begini,” tolakku, aku menggeliat untuk mencoba keluar dari dalam dekapannya.


“Kumohon, sebentar saja. Ijinkan aku memelukmu, sebentar saja.” lirihan nafasnya terasa begitu hangat menyentuh telinga.


Aku hanya bisa pasrah saat dia memeluk tubuhku erat. Kenangan akan masa lalu kembali teringat di dalam benakku. Bagiku dia adalah laki-laki pertama dalam hidupku, karena dialah yang pertama kali memilikiku seutuhnya.


Walaupun dulu rasanya begitu kotor dan menjijikkan. Sakit dan juga menyesakkan, tapi tak di pungkiri bahwa ada sedikit rasa manis yang dia tinggalkan.


Oh, Tuhan. Kenapa dekapannya terrasa sangat hangat?


Kenapa dekapannya terasa sangat aman?


Dan...


Kenapa aku menerima pelukannya begitu saja?


“Baby...” tangannya yang lebar menyentuh kedua pipiku.


Dia memaksakan tangannya untuk mengangkat wajahku agar pandangan kami bisa bertemu. Pandangannya sungguh mampu meluruhkan semua pertahananku. Meluruhkan semua dinding yang sengaja ku bangun untuk melindungi hatiku yang pernah terluka.


Aku memandangnya, wajahnya masih setampan dulu. Rasa sakit membuatku sempat melupakan wajahnya yang begitu mempesona. Kini, entah mengapa hatiku begitu bahagia karena telah berhasil mengingat kembali wajahnya.


“Hallo, Tuan,” sapaku lirih. Aku juga tak tahu bagaimana aku harus merespon keadaan ini.


“Panggil namaku, baby! Aku tahu kau masih mengingatnya.” sebuah senyuman yang bercampur dengan derasnya hujan terkulumm manis pada wajah tampannya.


“Tuan—,” ucapku terbata.


“Say it, Baby!” perintahnya lagi, laki-laki ini masih sangat dominan sama seperti dulu.


“Ar—vin,” panggilku.


Ya, aku memang masih mengingat namanya. Mengingat nama indah itu.


Arvin memelukku kembali, derasnya hujan menjadi saksi bisu akan pesonanya yang mulai terpatri dalam jiwaku.


“Kini katakan namamu, baby! Aku akan memenggilmu berkali-kali. Sampai kau bosan mendengarnya.” ucapannya terdengar tak masuk akal, tapi aku menyukainya.


“Kalila, namaku Kalila.” Aku mulai menangis. Merasakan bahwa masih ada seorang pria yang merindukanku membuat hatiku bergetar.


“Kalila, nama yang indah.” pujinya sembari menghapus air mataku.


“Kalila, Kalila, Kalila...,” dia kembali memelukku.


Walaupun aku tak tahu berapa lama lagi kami akan berdiri di tengah hujan untuk saling melepaskan rindu. Nyatanya jantungku masih terus berdetak cepat untuknya.


— MUSE S2 —


Hujan deras masih mengguyur kota S. Aku sudah selesai mandi dan berganti pakaian kering. Untung aku membawa ganti karena aku memang berencana menginap di cafe malam ini.


Aku melihatnya juga telah berganti pakaian. Ia sedang mengancingkan kemeja putih dengan kedua tangannya. Entah kenapa wajahku terasa panas. Mungkinkah aku tersipu melihatnya?


“Tuan, bagaimana kau bisa mendapatkan pakaian kering?” tanyaku keheranan.


“Aku menyuruh sopir untuk mengantarnya.” jawabnya.


“Kenapa anda tidak sekalian pulang saja?” aku keheranan.


“Kau mengusirku?” tanyanya sambil tersenyum manis.


“Tidak, Tuan. Tapi bagaimana kalau anda sakit? Rambut anda pasti basah bukan?” Aku menuju ke belakang meja bar, menyiapkan kopi untuk Arvin.


“Jadi kau mengkhawatirkanku?” Arvin kembali tersenyum manis. Aku heran, ke mana perginya wajahnya yang sendu tadi? Kenapa jadi menyebalkan seperti ini?


“Kenapa melihat saya seperti itu, Tuan?” tanyaku kikuk.


“Jangan panggil aku Tuan, Kalila. Panggil aku Arvin!” Arvin menyuruhku untuk merubah panggilanku padanya.


“Tapikan itu tidak sopan.”


“Kakak, tambahkan kata Kak, atau mungkin tambahkan kata ‘sayang’.” ucapannya membuat wajahku kembali memanas, aku sangat salah tingkah mendengarnya.


Tanpa menjawab aku berputar membelakanginya dan kembali menyeduh kopi. Aku menyeduh kopi dengan espresso maker lalu menambahkan susu dan caramel. Aku juga memanaskan roti keju dan ham buatan Melody di dalam microwave.


“Kenapa diam saja, Kalila?” Arvin kembali menagih jawaban, ia menyangga kepalanya dengan telapak tangan.


“Eee.. Tuan, apa anda sedang bercanda?” Aku memberanikan diri bertanya. Bukankah hubungan kami terlalu dangkal untuk saling memanggil dengan sebutan ‘sayang’?


“Tidak, Kalila. Aku tidak bercanda.”


“Baik, saya akan memanggil anda, Kakak.” Aku tersenyum dan meletakan secangkir hot latte di depannya, lengkap dengan roti ham yang masih hangat sebagai pendamping.


“Aromanya wangi, kau pandai sekali membuatnya.” pujinya sesaat setelah menyesap kopi buatanku.


“Nikmatilah Tua—akh.., Kak.” Aku kembali hampir memanggilnya Tuan. Susah ternyata mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk sebelumnya.


“Kalila, aku tahu kau pasti kaget melihatku saat ini. Tapi percayalah, aku benar-benar merindukanmu. Aku mencintaimu Kalila.” Arvin bangkit untuk mendekatiku, lalu iaberdiri di sampingku. Membuatku semakin salah tingkah, “aku ingin tahu semua tentangmu, aku ingin lebih mengenalmu, Kalila.”


Memang hubungan kami ini cukup rumit. Di bilang dangkal karena memang kami hanya pernah bertemu dua kali. Dibilang dalam juga bisa karena kami telah melakukan hubungan selayaknya suami dan istri. Tapi bukankah bagi pria sepertinya aku ini hanyalah wanita yang hanya lewat? Yang hanya mengisi energinya selepas satu malam saja.


Mendambakan cinta dari pria mapan dan petualang sepertinya bagaikan menggali kuburanku sendiri. Lebih baik aku menolaknya. Mengubur semua angan-angan manis tentang dirinya.


“Kak Arvin, tolong jangan begini. Kita bahkan tak cukup saling mengenal untuk bisa berkata rindu, apa lagi cinta.” Aku memeluk diriku sendiri.


“Kalila, aku benar-benar cinta padamu.” Arvin menyahut lenganku, membuatku kehilangan keseimbangan dan menabrak tubuhnya.


Kini tak ada jarak di antara kami. Aku hanya bisa berdesir pasrah saat Arvin mulai mendekatkan wajahnya padaku. Apakah dia akan menciumku? Tidak, aku harus menolaknya.


“HUUUAAA.. MAMI!!!” suara tangisan Keano memecah keheningan. Membuat Arvin memandang lebih tajam padaku.


Aku melepaskan dekapan Arvin dan berlari masuk ke dalam kamar. Menggendong tubuh mungil Keano agar dia kembali tenang dan melanjutkan tidurnya.


Arvin menyusul di belakangku, nampaknya dia begitu penasaran dengan suara Keano yang menangis dan terus memanggilku. Bisa ku lihat bola matanya yang membulat dan pupilnya yang mengecil karena terbelalak.


“Siapa dia, Kalila? Apa dia anakmu? Anak kita??!”


— MUSE S2 —


Yoo Muse up readers


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;



Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


Masuk ke Grup Chat Author.


Di tutup 15 Mei 2020.


Pengumuman pemenang di Grup Chat!!



3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s, setara dengan merk gio**ano.


Jadi tunggu apa lagi Readers.. baca MUSE dan VOTE!!!!



Lap yu to the moon and back readers...


❤️❤️❤️