
MUSE S7
EPISODE 23
S7 \~ PUPUS
Farel bergegas mengusap matanya yang nanar, sungguh begitu memalukan bahwa gadis yang ia cintai melihat keadaannya yang mengenaskan. Sudah tak ada lagi yang tersisa darinya. Sudah tak ada lagi yang bisa ia tawarkan sebagai seorang pria. Bahkan untuk mengangkat wajahnya pun Farel tak lagi sanggup.
_________________
Hari berganti hari. Seluruh kelas melewati ujian akhir semester dengan penuh semangat. Tinggal satu langkah lagi mereka akan meninggalkan kelas 7 untuk naik ke kelas 8. Semua bekerja dengan kusuk. Hanya Levin dan Leoni yang terlihat tidak tenang.
Sejak kejadian kecelakaan itu, Levin benar-benar menghindari Leoni. Levin menyerah akan persahabatan mereka, ia memilih untuk meninggalkan Leoni sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai seorang pria.
Tak hanya Leoni yang membuat Levin gusar. Farel, teman satu ganknya itu juga sudah berhari-hari tak menampakkan batang hidungnya. Padahal Levin tiap hari mengirimkan chat, juga kisi-kisi pelajaran agar Farel bisa belajar. Tapi sampai hari terakhir ujian pun Farel tidak muncul di sekolahan.
Levin berjanji pada Arvin untuk sekolah dengan baik terlebih dahulu. Ia tak akan mengikuti lagi balapan liar atau berhubungan dengan hal-hal itu. Atau Arvin benar-benar akan memupus impian anaknya menjadi pembalap.
Kemana lagi si Farel? Kenapa dia tak masuk sekolah? Levin merasa aneh.
Levin melemparkan kertas lipat pada Bryan dan Chiko. Mereka sempat bahagia karena mengira Levin memberikan contekkan. Tapi setelah dibuka, bahu mereka langsung melemas, kecewa.
pulang sekolah kita ke tempat Farel yuk!
Itu bunyi surat Levin pada keduanya. Dengan kode anggukan dan acungan jempol keduanya menyanggupi permintaan Levin.
Leoni melirik ke arah Levin dan juga kedua temannya. Ingin tahu dengan rencana mereka. Leoni juga sudah mulai tidak tenang ingin mengetahui kabar Farel. Bagaimana dengan keputusan pria ber jas hitam. Apakah ia menerima Farel? Mau membimbing Farel menjadi pembalap profesional.
•
•
•
Pulang sekolah, Levin dan kedua temannya mengkayuh sepedanya menuju ke bengkel milik Farel. Di sana Farel terlihat sedang membetulkan sebuah motor tua bersama dengan Firza.
“Hallo, Bro!!” Bryan langsung menghambur masuk dan merangkul tubuh Farel. Farel berjengit kaget, lalu melihat ke arah temannya satu persatu. Pandangannya terhenti pada Levin. Ada rasa benci dan iri saat melihat Levin. Padahal Farel sadar betul, semua juga pasti bukan salah Levin. Tapi rasa iri menutup nuraninya.
“Kenapa kau tidak masuk sekolah?” Levin duduk berjongkok di dekat Farel. Chiko juga nimbrung. Tetap diam seperti biasanya. Hanya nyeletuk bila ada yang lucu.
“Kenapa?” Bryan menyenggol lengan Farel yang masih sibuk bekerja.
“Kalian tak lihat aku sedang bekerja?” Farel menghentikan pekerjaannya, mengelap tangannya yang penuh noda oli pada kain kotor.
“Kau bisa tak naik kelas, Rel.” Levin menatap sahabatnya itu.
“Memang apa pedulimu? Mau aku naik kelas atau tidak? Mau aku hidup atau tidak? Kehidupanku apa pedulimu?” Farel membalas tatapan Levin dengan tatapan tak kalah tajam.
“Farel!!” Firza menyela ucapan Farel, memperingatkan adiknya untuk tidak tersulut emosi.
Farel membanting kain kumal dan bangkit berdiri. Ia meninggalkan area bengkel dan duduk pada emperan jalan. Menyeka keringat dari dahinya. Entah kenapa dadanya sesak dan berguruh. Entah kenapa ia begitu membenci Levin.
Kenapa dunia tidak adil? Levin punya segalanya, orang tua yang utuh, kehidupan yang tak berkekurangan, wajah tampan, otak cerdas, dan kini Tuhan pun menambahkan bakat yang Farel idamkan. Jalan menuju ke impiannya begitu mudah dan lancar bagi Levin, kenapa tidak baginya?
Apa benar uang memberikan segalanya? Apa karena uang Levin begitu mudah mendapatkan apapun?
“Dia kenapa?” Bryan menunjuk punggung Farel.
“Entahlah! Apa kalian bertengkar?” Chiko menatap Levin.
“Setahuku sih, tidak.” Levin bangkit, menyusul Farel.
“Rel, kenapa? Apa yang salah? Katakan padaku?!” Levin duduk di samping Farel, mereka berdua menatap jalanan ramai. Kendaraan dan angkot berlalu lalang.
“Kenapa??? Kau masih bertanya kenapa? Apa kau tak bisa bercermin? Mengevaluasi dirimu sendiri? Ah, iya, sorry aku lupa kalau kau adalah manusia sempurna yang punya segalanya. Tak mungkin ada kesalahan terjadi dalam hidupmu,” cerca Farel. Levin mengerutkan keningnya, ucapan Farel begitu menyebalkan. Tidak enak di dengar.
“Katakan apa yang ingin kau katakan!! Jangan menyindirku!!” Levin mencengkram lengan Farel, menyuruh temannya itu berkata jujur. Tak perlu berkelat kelit, atau bersilat lidah. Katakan saja apa yang membuatnya begitu membenci Levin saat ini. Karena memang Levin tam tahu letak kesalahannya.
“Kenapa?? Kenapa kau merusak semuanya Levin?? Aku bahkan mempertaruhkan seluruh hidupku untuk satu kesempatan itu!! Kau sudah punya segalanya!! Kau sudah hidup dengan nyaman dalam keluarga kaya raya. Kenapa?? Kenapa kau merebut satu-satunya kesempatanku?” Farel mencengkram kerah kemeja seragam Levin.
“Apa maksudmu, Rel?? Aku tak mengerti?” Levin memang tak tahu kalau Sandro, pria pencari bakat itu menemui Arvin, tapi Farel tahu.
Mata Farel berkaca-kaca, sedikit merah dan nanar. Rasanya ingin memberikan sebuah pukulan ke atas wajah Levin. Iri hati, dengki, dan kekecewaan menyelimuti hati Farel. Mengubah persahabatan mereka menjadi permusuhan. Farel semakin kecewa lantara Levin yang telah merebut posisinya. Semakin kecewa karena Levin adalah sahabatnya.
“Mungkin tidak akan sesakit ini kalau itu adalah orang lain.” Farel bergumam, “tapi kenapa? Kenapa harus kau, Levin?!”
“Farel, diam!! Jangan merancau! Katakan padaku apa yang terjadi?!” Levin melepaskan diri dari cengkraman Farel.
“Aku membencimu, Levin!! Kau munafik!” Farel hendak pergi berpaling, tapi langkahnya terhenti saat melihat Leoni.
Leoni berjalan perlahan dan terpaku saat menyaksikan keduanya bertengkar. Leoni yang tahu gelagat tidak beres dari Levin mengikuti mereka sampai pada bengkel milik ayah Farel.
Farel bergegas mengusap matanya yang nanar, sungguh begitu memalukan bahwa gadis yang ia cintai melihat keadaannya yang mengenaskan. Sudah tak ada lagi yang tersisa darinya. Sudah tak ada lagi yang bisa ia tawarkan sebagai seorang pria. Bahkan untuk mengangkat wajahnya pun Farel tak lagi sanggup.
“Farel, bukan begitu ceritanya. Bukan salah Levin.” Leoni mendekat.
Hati Farel semakin tertusuk. Bahkan Leoni pun membela Levin. Memang dunia tidak adil, yah, tentu saja Leoni akan lebih memilih berteman dengan cowok tampan, pintar, dan kaya raya seperti Levin dibandingkan dengannya. Cowok miskin, bodoh, dan kehilangan masa depannya. Putus sekolah di tengah jalan. Tak ada harapan bagi masa depan. Ocehannya akan masa depan gemilang pada Leoni dulu pupus ditengah jalan. Ia kalah dalam pertaruhan sekali seumur hidupnya.
“Kenapa dunia tidak adil?” lirih Farel, masih dengan menunduk Farel meninggalkan keduanya. Perutnya berdesir hebat merasakan betapa besarnya kekecewaan itu menggelayuti hatinya.
“Farel,” panggil Leoni, ia mencoba mencekal tangan Farel, membuat cowok itu mau mendengarkan ceritanya. Bukan Levin yang mau masuk ke dalam area balap, bukan Levin, tapi pria itu, pria berjas yang menyuruh Levin masuk.
“Lepaskan!!” Tapi Farel tak memberi kesempatan Leoni, ia menghempaskan tangan Leoni sampai gadis itu terjatuh.
“Hei!!” Levin mendorong bahu Farel, baginya kelakuan Farel sama sekali tidak gantleman. Dia membuat seorang gadis terjatuh.
“Kenapa? Mau sok jagoan?” Farel memincingkan sudut bibirnya, menyeringai licik.
“Levin berhenti!! Levin jangan bertengkar.” Leoni mencoba melerai keduanya.
Farel menepis tangan Levin. Melepaskan cengkraman jemari Levin dari bahunya. Farel sempat melirik sepintas pada Leoni yang menatap iba padanya.
“Farel?!” Panggil Levin.
“Lupakan kita pernah berteman. Lupakan dan jalani hidup kita masing-masing. Kalian dengan hidup kalian yang begitu beruntung. Aku dan hidupku yang begitu memuakkan.” Farel berjalan kembali menuju ke bengkel.
“Farel!!!” Leoni memanggil Farel, ia menangis, namun Farel diam saja. Tak menoleh. Leoni menyesali kejadian yang menimpa Farel, tapi sungguh, semua itu pun bukan salah Levin. Kenapa Farel tak mau mengerti?!
“SIALAN!!” Farel menendang kaleng bekas oli, bunyi keras membuat Firza menoleh.
“Jangan mengumpat, Dek. Sudah resiko. Sekarang tinggal bangkit dan mencari sponsor lainnya.” Firza menepuk pundak Farel lalu mencuci tangan.
Farel melamunkan ucapan Firza. Benar, usianya baru tiga belas tahun. Belum terlambat, Farel bisa mencari sponsor lain. Walaupun tidak berbakat alami atau jenius seperti Levin, dengan kerja keras dan tekat bulat, Farel pasti berhasil unggul dari Levin.
...— MUSE S7 —...
...My baby Farel. Ya ampun, sedih aku tuh😭😭😭...
...Jangan marahan ya, baik-baik ya...
...Para Bellecious jangan lupa like dan commentnya ya 💋💋💋...