MUSE

MUSE
S2 ~ RASA



MUSE S2


EPISODE 41


S2 \~ RASA


\~Aku memang merindukannya, mengingatnya membuat hatiku sakit, mengingatnya membuat nadiku berdenyut dengan cepat. \~


Pagi ini aku ke kantor dengan hati yang gusar, aku marah, aku geram. Mood-ku benar-benar hancur hari ini. Bagaimana tidak? Dua orang designer tokoh game yang kupekerjakan membuat sebuah kesalahan besar. Mereka menggambar tokoh yang mirip dengan game sebelah. Membuat nota tuntutan atas ‘pelagiat karya’ bersarang di atas meja kerjaku.


“Brengsekk!!!” Aku hendak melemparkan tablet pintar pada mereka berdua tapi aku membuatnya meleset dan menatap dinding. Alat elektronik itu langsung pecah dan berhamburan.


Aleina langsung menutup matanya, mungkin dia juga takut dengan emosiku saat ini.


“Maafkan kami, Tuan,” permintaan maaf mereka tak membuat emosiku lantas mereda.


“Apa tuntutannya, Na?” tanyaku pada Aleina, wanita yang berdiri di samping meja kerjaku itu langsung bergegas membuka file case di tangannya.


“1 milyar kalau kita tidak segera menarik tokoh tersebut dari game, dan 200 juta kalau tokoh itu ditarik dari game.” Aleina menyodorkan tuntutan mereka padaku.


Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan nominal uang ganti rugi pada perusahaan itu. Tapi rasa malu saat kau dianggap sebagai seorang pelagiat yang membuatku marah. Aku membangun perusahaan ini dari enol, dari mulai aku sendiri yang mengganbar tokohnya. Sifatku yang selalu perfecsionis tak mengijinkanku untuk melakukan kesalahan barang secuilpun. Dan kini, dua orang manusia rendah itu menodainya, menodai reputasiku dan juga perusahaan.


“Keluar kalian!! Aku tak ingin melihat kalian ada di perusahaan ini lagi besok!!”


“Tapi, Tuan. Kami..”


“KELUAR!!!” teriakku.


“Ba—baik, Tuan,” mereka berdua bangkit dan keluar dari ruang kerjaku. Bisa ku lihat bahu mereka yang terus tertekuk lesu. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa membiarkan orang yang tak punya kekreatifan bekerja di industri kreatif seperti ini.


“Siapa yang meloloskan karakter itu, Na?”


“Manager perencanaan, Tuan,” jawab Aleina.


“Pecat dia juga!”


“Baik, Tuan.”


Aku bangkit dan menengok ke arah luar jendela gedung kantor. Melirik pada baliho besar dengan iklan game RPG online yang baru dikembangkan oleh perusahaanku. Game itu sedang naik daun, namun malah dikacaukan oleh dua cec*nguk sialan itu. Arg.. ingin rasanya aku menghabisi mereka berdua.


“Aleina, belilah perusahaan game yang menuntut kita, buatlah sabotase agar nilai saham mereka turun.” mungkin terdengar kejam, tapi itulah bisnis. Aku hanya perlu memercikkan sedikit api pada perusahaan itu dan dia akan menyerah padaku. Berani-beraninya sebuah perusahaan kecil menantangku?


“Baik, saya akan menghubungi manajer Noah.”


Noah adalah orang dalam devisi pengembangan sirkuit kerja program dan juga web. Keahliannya dalam program komputer dan sebagai seorang hacker tak pernah ku ragukan. Aku beruntung memiliki Noah dalam tim kerjaku.


“Dan carilah designer baru sebagai manajer perencanaan. Kali ini pilihlah dengan benar..!”


“Baik, Tuan.”


Lama aku berfokus pada pikiranku. Aku mencoba mengendalikan emosiku saat ini. Sudah beberapa hari ini emosiku tak terkendali, mungkin juga efek karena aku tak bisa melepaskan stressku belakangan ini.


“Tuan, anda ada jadwal temu dengan dokter Kim.” Aleina mendekatiku, membuatku kembali fokus padanya.


“Oke. Aku akan ke sana.”


“Mau saya panggilkan sopir untuk mengatar anda? Anda terlihat lelah, Tuan.” tanya Aleina.


“Aku akan menyetir sendiri, Na.” Aku menyahut kunci mobil dan berjalan lesu menuju pintu keluar.


Aku tak pernah pergi ke dokter jiwa di atarkan oleh sopir, mereka bisa tahu aku mengidap mental disorder. Mereka pasti juga akan bertanya-tanya, gangguan jiwa macam apa yang merusak jiwaku?


— MUSE S2 —


“Siang, Tuan Arvin.” sapa seorang lelaki tua saat aku masuk ke dalam ruang periksa.


Dia adalah dokter Kim, psycolog yang sudah menemaniku selama dua tahun terakhir. Wajahnya terlihat sangat bersahaja, seperti tidak pernah ada emosi dalam kehidupannya. Mirip seperti sosok seorang Budha. Apa lagi ditambah dengan penampilan rambutnya yang mulai botak. Dan telinganyapun sedikit lebih panjang dari manusia lainnya. Kadang aku berpikir kalau mungkin saja dokter Kim adalah rekarnansi dari Sang Budha.


“Siang, dok,” sapaku balik.


“Duduklah, Tuan. Hari ini aroma greentea dan jasmin.” dokter Kim menghidupkan lilin aromatherapy pada samping lounge chair pasien. Aku mengikuti instruksinya untuk duduk pada kursi malas itu.


Dokter Kim mulai memakai kaca matanya, kaca mata bulat dengan rantai sebagai kalung. Usia tua mungkin membuatnya sering lupa di mana ia menaruh kaca mata, jadi rantai itu mempermudahkannya saat harus melepas kaca mata.


Tangannya sibuk membuka-buka kertas rekam medis milikku saat terakhir aku menjumpainya. Sepertinya dia berusaha mengingat kembali apa yang menjadi pembicaraan kami terakhir kalinya.


“Hmm... sadistis dan masokis.” angguknya mengerti.


Aku bersandar dengan santai pada kursi malas. Permukaan kursi yang terbuat dari bludru membuat perasaan menjadi sedikit nyaman. Di tambah juga wangi lembut aromatherapy yang tercium pekat, ah.. aku bisa tertidur karenanya.


“So, apa anda masih melakukannya?” akhirnya sesi tanya jawabpun dimulai.


Sebenarnya kalau boleh jujur, aku nggak begitu menyukai sesi ini. Rasanya seperti seseorang yang diadili untuk mengakui semua dosa-dosanya.


“Masih.”


“Apa yang anda lakukan untuk menyiksa wanita-wanita itu?”


“Borgol, cambuk, sulutan rokok, tamparan, caci maki, hinaan, gigitan. Banyak, dok. Apa harus saya jabarkan satu persatu?” tanyaku bingung, kan beda wanita beda cara.


“Ada penyesalan saat melakukan?”


“Tidak.”


“Dua hari yang lalu.”


“Apa yang anda lakukan?”


“Hanya mencambuknya, juga memotong rambutnya.” jawabku cepat.


“Dia menangis?”


“Tidak, bayarannya cukup mahal untuk menahan tangisan.”


“Apa anda puas saat ia tak menangis?”


“Hmm.. puas saat ia merasa kesakitan.”


“Mereka tahu siapa anda?”


“Tidak, aku menutup semua mata wanita yang bercinta denganku.”


“Baik. Saya akan meresepkan penahan hormon testosteron.”


“Lagi???!” tanyaku gusar, obat itu hanya menekan nafsuku saja. Tapi tak mengobati jiwaku.


“Tuan. Anda harus bisa mengontrol diri anda dulu sebelum bisa mengontrol jiwa anda.” ucapannya masuk akal, manusia memang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh.


“Aku ingin sembuh, dok. Bukan hanya sekedar meminum obat yang menekan nafsuku!!” seruku sedikit kencang, lagi-lagi emosi mulai mempengaruhi akal sehatku.


“Tuan Arvin. Apa anda pernah sekali saja memikirkan wanita-wanita itu? Saat anda menyiksa mereka, apakah ada rasa kasihan dalam hati anda.”


“Tidak.. kecuali satu orang...” Aku teringat akan sosok gadis itu, gadis tanpa nama yang membuatku terpana pada pesonanya.


“Siapa?”


“Aku tak tahu namanya, Dok.”


“Apa anda betul-betul tak menyiksanya?”


“Betul, saya tidak tega melakukannya. Saya benar-benar melakukan sex dengannya tanpa menyiksa ataupun menyakitinya.”


“Dan anda terpuaskan?”


“Betul.”


“Lalu apa anda pernah mencarinya?”


“Pernah.”


“Lalu?”


“Tidak pernah menemukannya lagi,” helaku panjang


“Sayang sekali, dia mungkin bisa jadi kunci anda untuk sembuh. Perasaan anda padanya mungkin lebih dalam di banding apa yang anda sadari.” dokter itu mengangguk.


“Apa anda kira saya jatuh cinta padanya?”


“Bisa jadi.”


“Saya hanya dua kali bertemu dengannya.” aku menyangkal perasaanku.


“95% laki-laki menyukai wanita pada fisik mereka dan jatuh cinta pada pandangan pertama.”


Aku terdiam sejenak, benarkah aku jatuh cinta padanya? Betulkah gadis itu bisa membantuku untuk sembuh? Kalau benar aku memiliki perasaan yang begitu mendalam padanya, bisa jadi ini adalah jawaban dari rasa emosional yang membuatku sakit hari-hari ini.


Aku memang merindukannya, mengingatnya membuat hatiku sakit, mengingatnya membuat nadiku berdenyut dengan cepat. Seperti ada rasa sesak yang tak mampu untuk diungkapkan.


Mungkin tempramenku yang meledak-ledak akhir-akhir ini adalah karena aku merindukannya. Rindu yang tak tersalurkan membuatku kacau. Membuat emosiku labil.


Aku melirik pada lidah api yang bergoyang pelan pada sumbu lilin. Semakin melihatnya aku semakin mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Aku sudah mencarinya ke sana-sini. Tapi tak juga bisa menemukannya.


“Where are you, baby?”


— MUSE S2 —


Like, comment, dan bagi votenya ya


Dukung kisah cinta Arvin, Kalila, dan Angga.


❤️❤️


Sweet love.


Saya mau giveaway lagi nih..


Dalam rangka memeriahkan lebaran..


Tunggu eventnya di Grup Chat saya ya


Yang mau ikutan give away bisa masuk ke grup chat. Bisa jg ngobrol sama saya.


Kalau sempat pasti saya balas


Makasih bnyak readers..