
MUSE S3
EPISODE 131
S3 \~ LEON
\~Wajahnya memandangku dengan rasa khawatir dan juga penyesalan yang sama besarnya denganku.\~
_______________
Sudah seminggu lebih aku kembali ke rumah orang tuaku. Aku tak tahu lagi kemana aku harus tinggal saat ini. Kami berdua sudah memasukkan berkas perceraian ke persidangan, tinggal menunggu putusan hakim tentang status rumah tangga kami.
Jadi bisa dikatakan kini aku bukan lagi Nyonya Zean. Aku kembali menjadi seorang Kanna.
Aku membuka ponselku, melihat-lihat ke dalam semua akun sosial media milikku. Sudah hampir setengah tahun aku tak mengisi konten dan juga feed. Aku memilih vakum dari dunia yang memberiku penghasilan, juga dunia yang pernah membuatku terbuai dengan kebahagiaan semu. Sebuah dunia yang membawaku pada kehancuran.
Aku memeluk lututku, mendekamnya dengan erat. Aku menangis sejadi-jadinya, ternyata beberapa hari belakangan ini ada seseorang yang mengupload foto-fotoku saat masih gemuk. Saat masih SMA, saat masih menjadi Kanna yang jelek.
Xxxx : dulu dia gendut!! Aku kira dia langsing, padahal makannya banyak.
Xxxx : apa dia oprasi plastik?
Xxxx : mirip Bab1
Xxxx : ternyata wajah dan tubuhnya editan.
Xxxx : luar biasa berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk semu kepalsuan itu?
Cccc : semangat Kanna, kami tetap mendukungmu.
Xxxx : jelek! Menyesal aku mengidolakannya.
Aku tak peduli dengan popularitasku lagi, aku menangis karena melihat ejekan mereka. Tak berbeda dengan teman-teman masa SMA ku yang sering melakukan body shamming kepadaku. Semua follower yang tak menyukaikupun melakukan hal yang sama.
Yah, mereka membullyku, tak taukan mereka dengan apa yang aku hadapi demi mendapatkan tubuhku saat itu? Aku sadari semuanya tak lepas dari campur tangan dokter ahli medis kecantikkan, tapi tak sepantasnya mereka berbicara seperti itu. Semua wanita ingin tampil cantik, bahkan rasanya yang menyiksapun harus kami tahan agar hasilnya sempurna.
Body shamming adalah kejahatan yang fatal. Mereka tak tau betapa mental seseorang bisa hancur hanya karena ucapan yang bagi mereka merupakan sebuah penghiburan. Mereka mengejek seseorang sebagai bahan candaan. Tak taukah mereka bahwa orang itupun sebenarnya tak ingin terlahir dengan wujud seperti ini?
— MUSE S3 —
•••
Esoknya, aku memutuskan untuk kembali membangun hidupku.
KLEK!
Pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Papa berdiri dan berkacak pinggang di hadapanku. Aku menghapus air mataku karena kaget.
“Menangis lagi?”
“Tidak.”
“Mau sampai kapan kamu di rumah ini? Sedih boleh! Tapi jangan berlarut-larut,” kata Papa.
“Maksud Papa apa?”
“Kembali ke rumahmu sendiri. Kau punya suami yang harus kau perhatikan.” lanjut Papa, ah, benar dia belum tau aku telah bercerai.
“Aku dan Zean sudah bercerai, Pa. Kami memasukkan berkasnya seminggu yang lalu,” jawbaku datar.
“Apa kau bilang??” Papa tampak kaget, dia syok. Ayah mana yang tidak syok melihat putrinya bercerai.
“Aku bercerai dengan Zean.”
“KANNA!” bentak Papa, “belum terlambat untuk mencabut berkasnya! Jangan bercerai!”
“Aku tak pernah mencintai, Zean. Hubungan kami tak bisa berlanjut. Aku hanya memanfaatkan cintanya selama ini. Dan aku akan mengakhirinya agar dia bahagia!!” nada suaraku tak kalah tinggi.
“Memang kenapa kalau memanfaatkan! Kau istrinya! Kau wanita! Sudah sepantasnya dia memanjakanmu, memberimu segalanya.” Papa mencengkram lenganku agar aku mau mendengarkannya.
“Aku memanfaatkannya demi keluarga ini!! Dan aku muak! Aku muak dengan semua sifat di keluargaku yang begitu mencintai uang ...!” geramku marah.
PLAK!!
Papa menamparku.
“Ada apa ini?” Mama masuk dan langsung memeluk erat tubuhku, melindunginya dari amarah Papa.
“Lihat bagaimana kau membesarkan anak-anakmu. Yang pertama pembohong, yang ke dua pencuri, dan yang ketiga pembangkang!!” Papa menegur Mama dengan keras, Mama yang terlalu memanjakan kami membuat hidup kami semua berantakkan.
“Ada apa ini, Kanna?” tanya Mama sembari melepaskan pelukkannya.
“Kanna akan bercerai dengan Zean,” jawabku mantab.
“KANNA!” bentak Mama, kini dia satu suara dengan Papa.
“Lepaskan aku!” Aku menarik tubuhku menjauhi Mama. Aku bergegas mengambil tas. Ada uang senilai lebih dari 50 juta di dalamnya.
Rencananya uang itu akan aku gunakan untuk menyewa apartemen kecil di dekat kampus dan juga menyelesaikan kuliahku. Aku akan hidup mandiri karena aku memang tak membicarakan masalah perceraian ini dengan orang tuaku.
“Ini ambil semuanya.” Aku menyebar uang itu memenuhi seluruh kamarmu.
“Karena kalian hidupku hancur!!! Karena Papa aku berpisah dari Leon!!” Aku berteriak seperti orang gila, air mataku tercurah deras, tak tertahankan.
“Kanna!!” panggil Mama.
“Cinta tak bisa disamakan dengan uang!!” teriakku histeris.
“Aku pergi!! Tak perlu mencariku!” Aku menepis tangan Mama.
“Tapi kau baru saja sembuh, Nak!” Mama mencegahku, tapi tekadku sudah bulat. Dan aku tak akan pernah menyesalinya.
“Biarkan dia!!” Papa menyahut tangan Mama.
“Anak tak tau diri!! Kita lihat saja sejauh mana dia bisa bertahan.” Papa melanjutkan ucapannya.
Aku tertawa sumbang, memang selama ini siapa yang memberi kalian uang? Memang selama ini siapa yang kalian andalkan saat ada masalah? Siapa? Hanya aku! Hanya aku! Kalianlah yang memerasku! Harusnya kalian yang bekaca! Bisa apa tanpa diriku?!
Aku melangkah keluar dari rumahku, berjalan gontai entah ke mana. Aku tak punya tujuan saat ini. Aku juga sudah tak lagi punya uang. Semua uangku aku buang begitu saja di depan orang tuaku. Yang aku punya hanya beberapa pakaian dan juga tas. Walaupun bermerk tidak mungkin ada yang langsung membelinya.
Aku terduduk lesu pada bangku taman, tempat biasa aku menunggu dengan bahagia kepulangan Leon dulu. Dulu aku begitu minder sampai harus menunggunya di luar gerbang sekolahan.
Aku melihat beberapa anak sekolahan berjalan, mereka nampak ceria. Bahagia, juga tanpa ada masalah apapun. Aku merindukan saat-saat itu, saat hanya ada aku dan Leon.
“Leon, apa kau juga merindukanku?” gumamku lirih.
Aku meringkuk di atas bangku taman, setiap luka bekas oprasiku berdenyut perih. Terutama dibagian bekas luka sesar. Walaupun sudah mengering namun rasa sakitnya masih sering muncul. Nyeri dan berdenyut.
Aku terlalu lelah menangis, dan tanpa sadar aku tertidur.
— MUSE S3 —
•••
Tetesan air hujan membangunkanku. Aku tersentak kaget, hujan turun perlahan dan menjadi semakin deras. Cepat-cepat aku mengambil koperku dan kembali berjalan. Mencari tempat untuk berteduh.
Bisa ku rasakan wajahku begitu dingin dan kaku. Mungkin karena aku tidur di bangku taman padahal saat ini udaranya begitu dingin. Aku terseok-seok, tenyata kakiku sangat lemas. Aku baru ingat, aku sama sekali belum makan seharian ini.
Akhirnya aku menyerah, memilih hujan mengguyurku dengan deras. Perihnya terasa menyayat kulit. Terpaan angin dan curahan hujan menghujamiku dengan rasa dingin yang menyakitkan. Saat ini tanpa sadar aku terus mem- flash back kenangan-kenangan akan kisah hidupku.
Aku mulai teringat semuanya,
Kisah kami,
Cinta kami,
Pengkhianatanku,
Air mata,
Juga Amarah Leon.
Oh, Tuhan.... Aku berharap bisa kembali memeluknya dipengujung hidupku nanti.
Kepalaku terasa begitu berat. Aku tak lagi bisa merasakan tanganku karena mati rasa. Bibirku terus bergetar karena rasa dingin. Langkah kakiku terhenti, aku menyangga tubuhku dengan tarikan koper. Berpegangan pada benda yang sama rapuhnya denganku saat ini.
Aku tak kuat lagi, Tuhan.
Aku ambruk ke bawah, namun sebelum sempat menyentuh kerasnya aspal sebuah tangan menangkapku.
Dalam deras dan dinginnya hujan, tangan itu tetap terasa hangat seperti biasanya.
Wajahnya memandangku dengan rasa khawatir dan juga penyesalan yang sama besarnya denganku.
“Leon ...,” sempat ku panggil namanya lirih sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
— MUSE S3 —
LEON!!!
Saya suka saya suka ❤️❤️❤️
Wah tinggal dua episode lagi tamat
Nantikan terus ya..
Body shamming is a serious crime!!!
STOP BULLYING!!
STOP BODY SHAMMING!!
Semua orang terlahir sempurna di mata Tuhan.
Apalagi wanita, semuanya cantik dari lahir.
Love from me, girls.
Bagi cinta untuk banyak orang
Bagi like dan comment
Bagi vote bila berkenang
Share link di fB kalian donk!
Wkwkwkwk
Love,
Dee