MUSE

MUSE
S5 ~ ANOTHER RAINY DAY



MUSE S5


EPISODE 15


S5 \~ ANOTHER RAINY DAY


\~ Kasih sayang yang diberikan Lucas membuat Bella mencintainya. Cintanya yang dalam membuat Bella semakin terobsesi pada Lucas.\~


_________________


AUTHOR POV


Sudah hampir dua bulan berlalu sejak Fransisca dan Rony memadu kasih, namun Rony tak kunjung memperjelas hubungan mereka. Ia selalu saja menggunakan nama istrinya yang sedang sekarat sebagai alasan. Lama-lama Fransisca mulai jenuh, ia mulai mempertanyakan keseriusan hubungannya dengan Rony.


Hari ini hujan kembali turun dengan deras, Rony duduk di sebuah kedai teh sambil menunggu seseorang.


“Hallo, Kak Ron, lama tak bertemu,” sapa seorang pria yang tak lain adalah Arvin.


“Hallo, Vin. Lama tak berjumpa, kenapa kau tiba-tiba mencariku?” tanya Rony setelah menjabat tangan Arvin.


“Ingin membangun sebuah gedung untuk bisnis baru,” jawab Arvin, ia membuka buku menu dan memilih oloong tea panas dengan gula batu.


“Sudah tua tapi ambisimu tak pernah berkurang, ya, kau tetap bersemangat.” Rony memuji semangat kerja Arvin.


“Bukankah kau juga sama, Kak.” Arvin tertawa.


Mereka menikmati obrolan ringan sambil mengenang masa lalu. Arvin adalah adik tingkat Rony, dua tahun di bawahnya. Berbeda dengan Arvin yang terlambat menikah, Rony menikahi Katerina saat umurnya 23 tahun, saat itu dia baru saja lulus kuliah.


“Aku punya empat orang anak, Kak. Setidaknya aku harus meninggalkan sesuatu yang berarti untuk mereka semua.” Arvin menghirup aroma tehnya.


“Ironis juga, aku menikah muda tapi hanya punya seorang anak.” Rony mengelus dagunya.


“Apa kabar Katerina?”


“Hah ... dokter memvonisnya tidak akan bertahan melewati tahun ini.” Mata Rony berubah sayu.


“Aku ikut bersedih, Kak.” Arvin mengucapkan rasa ibanya.


Mereka melanjutkan obrolan, bahkan sampai ke ranah yang lebih serius. Rony menceritakan semua kehidupan keluarganya pada Arvin. Melepaskan semua penat yang meluap dari dalam hatinya, hanya berharap untuk mendapatkan sedikit kelegaan.


“Sebenarnya aku memiliki seorang kekasih di luar, Vin. Aku tahu ini salah, namun aku tak bisa menahan perasaanku. Aku sudah tidak lagi mencintai Katerina, sekarang aku hanya menganggapnya sebagai bagian dari keluargaku.” Rony menceritakan kegalauannya, Arvin mendengarkan dengan seksama sampai alisnya bertaut.


“Selama ini aku bertahan hanya demi Lucas.” Hela pria tua itu, sepertinya masalah perasaan lebih menyiksanya dibanding dengan bisnis bernilai ratusan juta.


Arvin dulu seorang pria petualang sedangkan Rony adalah tipe lelaki setia. Namun disaat mereka tua malah kehidupan seakan berbalik. Arvin menjadi budak cinta sedangakan Rony mengkhianati istrinya.


Arvin tak bisa menyalahkan Rony, hidupnya pasti sangat hambar karena Katerina tak pernah bisa memuaskannya bertahun-tahun. Tapi dia juga tak habis pikir kenapa Rony bisa mengkhianati wanita yang telah menemaninya selama 30 tahun.


“Jangan kecewakan Katerina, Kak.” Hanya itu yang bisa Arvin ucapkan.


“Aku tahu, Arvin. Makanya aku akan menunggu dan merawatnya sampai ajal menjemput. Aku akan menjadi suami yang baik untuknya disisi umurnya ini.” Mata Rony berkaca-kaca, perasaannya tulus untuk istrinya, namun hati dan cintanya sudah bukan untuk wanita itu.


— MUSE S5 —


Berbeda dengan Rony yang menanti dengan sabar dan penuh perhitungan, Fransisca mulai kehabisan kesabarannya. Hatinya tak kuat membagi cinta dengan wanita lain.


Fransisca juga tak berani memprotes keputusan Rony, takut kalau pria ini akan kembali meninggalkannya dan membuat Fransiska kehilangan semua kemewahan serta perhatian. Fransiska tak mau kembali ke neraka itu lagi, tak mau menjual dirinya lagi.


Fransisca mengamati hujan yang turun dengan deras, ia sedang menunggu, hendak berkumpul dengan teman-teman satu ganknya untuk bermain mahjong.


“Sisca, kau cantik sekali hari ini!!” seru seorang wanita, ia datang bersama dua orang wanita lainnya. Penampilan mereka sangat glamor, make up tebal, dan menjijing tas branded dengan harga selangit. Bersaing antara satu dengan yang lain, padahal tak ada yang tahu apakah tas itu asli atau tidak. Hanya milik Fransisca yang asli karena Rony baru saja membelikan minggu lalu.


“Bagaimana kabar pacarmu? Kapan kalian akan menikah?” tanya salah seorang temannya sembari memutar bidak mahyong bersama-sama.


“Entahlah,” jawab Sisca acuh, dia sedang malas membahas tentang hubungan gelapnya dengan Rony.


“Apa kau yakin dia mencintaimu?” tanya yang lain, Fransisca mendelik marah, namun sekejap kemudian ia memilih untuk menghela napasnya. Tak ada yang salah mempertanyakan hal itu, Rony memang sepertinya tidak serius dengan hubungan mereka.


“Sudah main saja, tak usah bahas hal lainnya.” Fransisca mengambil sederet kartu dan menatanya dengan rapi.


“Rokok?” tawar yang lain.


“No, aku sudah berhenti,” tolak Fransisca.


“Puft ... yang benar saja,” gelak mereka.


“Seriuslah, aku ingin punya anak lagi.” Fransisca menata kartunya.


“Kapan dia akan menceraikan istrinya? Kalau kelamaan, kau bakal keburu tua untuk hamil tahu!” cerca mereka.


“Hei, kenapa tidak kau buat ia segera berpisah dengan istrinya?” Usul yang lain.


“Apa maksudmu?” tanya Fransisca, ia mengambil lagi kartu di tengah meja lalu menukarnya dengan miliknya.


“Kau bisa segera membuat mereka berpisah, masuklah ke tengah-tengahnya. Tunjukan pada wanita itu kalau Rony lebih mencintaimu.” Dorong temannya.


“Benar katanya, memangnya kau mau seperti ini terus? Di madu tanpa ada kejelasan?”


“Jangan bodoh Sisca, jangan mau ditipu, iya kalau memang umurnya tinggal sebentar, kalau ternyata dia sehat walafiat bagaimana?”


“Kalian benar.” Fransisca mengepalkan tangannya gemas.


“Kalau memang Rony serius mencintaimu dia pasti akan meninggalkan istrinya,” ujar yang lain.


“Benar!” seru mereka.


“Kalian benar, aku harus membuat wanita itu meninggalkan Rony segera.” Fransisca tersulut dengan bisikan para sahabatnya. Ia jadi memiliki ide untuk memisahkan Rony dengan istrinya. Seringai muncul pada wajah cantiknya. Ia harus segera menjadi nyonya di kediaman itu.


— MUSE S5 —


Berbeda dengan hubungan kedua orang tua mereka yang penuh lika liku. Hubungan Bella dengan Lucas sangat hangat dan semakin mesra. Bella semakin mencintai Lucas dan Lucas semakin mencintai Bella. Cinta mereka mengakar begitu dalam setiap harinya, bahkan Bella tak pernah absen menemani Lucas ke mana pun pria itu membawanya.


Tak terasa sudah dua bulan mereka memadu kasih, tak terasa pula Bella telah menyelesaikan ujiannya. Tinggal menunggu hasil kelulusan dan Bella akan resmi menanggalkan seragam putih abu-abunya.


“Congrat, Sayang!” Lucas datang dengan seikat besar bunga mawar merah yang cantik.


“Kenapa bawa bunga? Ini bukan kelulusan.” Bella kaget melihat bunga di tangan Lucas tapi menerimanya juga.


“Kau sudah berusaha keras, Ella. Aku harus memberimu hadiah bukan?” Lucas mengecup kening Bella, membuat Bella merasa terbang ke awan-awan.


“Masa hadiahnya cuma bunga?” renggek Bella manja.


“Terus apa lagi? Aku sudah menciummu barusan.” Lucas mengusik pucuk kepala Bella.


“Ajak aku berlibur, Lucas!! Menghilangkan penat setelah sebulan lebih belajar untuk ujian.” Bella masuk ke dalam mobil sport hijau milik Lucas.


“Baiklah, kau mau ke mana?” tanya Lucas.


“Pantai OK, gunung juga asyik.”


“Menginap?”


Mendengar pertanyaan Lucas membuat wajah Bella berwarna merah. Entah apa yang terjadi saat mereka menghabiskan waktu semalaman berdua.


“Apa?”


“Sepertinya kau berharap.” Lucas tergelak.


“Ng—nggak kok.”


Lucas tersenyum melihat wajah Bella yang malu-malu, sudah sebulan lebih mereka hanya bisa bertemu sekejap mata karena Bella sibuk belajar.


“Ke apartemenku? Kita bisa bermesaraan di sana.” Ajak Lucas, Bella menerima ajakannya dengan mengangguk antusias.





BRAK!!


Pintu apartemen tertutup otomatis.


Lucas mendorong tubuh Bella yang tampak kecil saat bersanding dengan tubuhnya. Lucas memepetkan tubuh Bella pada daun pintu kayu sampai pintunya tertutup.


“Aku ingin menelanmu, Sayang! Sampai tak tersisa!” Lucas menggendong Bella di depannya, Bella mengalungkan lengannya pada leher Lucas.


Bella tak melawan bahkan sampai saat Lucas merebahkannya di atas tempat tidur.


“Emph ...,” desah Bella seketika menerima ciuman panas dari Lucas.


“Aku rindu padamu, kau tahu!!” Lucas mendekap Bella, mencium tengkuknya.


Lucas tertawa kecil sebelum melanjutkan aksinya. Ia mencium leher, turun ke tulang selangkanya, lalu ke arah dada, bergerak semakin turun ke perutnya yang ramping. Kelakuan Lucas membuat napas Bella terus bergerak naik turun dengan deruan yang tak beraturan.


Rasanya begitu aneh, namun Bella menyukainya. Padahal Bella masih memakai seragam, apa jadinya kalau Lucas melakukannya pada permukaan kulitnya yang polos.


Tring ... 🎶


Bunyi ponsel Lucas menghentikan cumbuan mereka.


Lucas mengangkatnya, ia berbicara beberapa saat dengan wajah serius. Bella hanya melihatnya, wajah tampan Lucas sesekali berkerut saat memberi jawaban, seakan sedang menganalisa sesuatu.


“Ella, aku kerja sebentar, ya. Harga saham yang ku beli sedikit turun, aku harus mengangkatnya atau keruginya akan semakin besar.” Lucas meninggalkan kamarnya dan duduk di depan layar komputer.


“Baiklah,” jawab Bella.


“Ganti bajumu, makan, atau mandi. Kita lanjutkan nanti.” Kedip Lucas.


Bella mengamati Lucas yang tengah sibuk mematau pergerakan harga-harga di pasar uang. Ia memang seorang konsultan keuangan, ia memainkan uang klientnya dan melipat gandakan dalam bentuk nilai saham.


Lucas menatap 6 layar besar di depannya, sesekali tangannya bergerak untuk mencatat sesuatu. Bella pusing melihat banyaknya angka berjajar urut dan rata, belum lagi grafik yang terus bergerak naik turun seperti rumput hijau di taman kota.


Bella akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih nyaman. Alih-alih memakai pakaiannya, Bella mengambil kaos putih kebesaran milik Lucas dan memakainya.





Dua jam berlalu, Bella mulai bosan menunggu. Ia sudah melakukan banyak hal, bahkan sampai jungkir balik di atas sofa saat meninton TV. Bella memandang tubuh kekar Lucas dari belakang, rasanya ingin mendekap tubuh itu dan mencium bibirnya. Tapi Lucas belum selesai bekerja, ia masih duduk di depan layar tanpa berkedip sama sekali.


“Lucas!” Panggil Bella, ia merangkak di bawah meja dan menyembul di sela-sela kaki Lucas.


“Ella??” Lucas kaget melihat kelakuan pacarnya, mirip kucing yang butuh belaian manja pemiliknya.


“Aku bosan!” keluh Bella.


“Maaf, ya, sebentar lagi selesai,” jawab Lucas.


Bella naik ke atas pangkuan Lucas, mendekap erat tubuh kekasihnya. Ia mengalungkan lengannya pada leher Lucas. Lucas mendekap tubuh Bella dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya bekerja. Lucas sesekali mengelus rambut Bella dan menciumnya. Ia masih sibuk bekerja membuat Bella mencari perhatian dengan menggigit pelan telinga Lucas.


“Hei, dasar nakal!” Lucas mempererat pelukkannya karena gemas.


“Hehehe ...,” kekeh Bella.


“Baiklah, aku sudah selesai. Saatnya memperhatikan Tuan Putriku yang cantik.” Lucas menghentikan pekerjaannya.


Lucas melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Bella sementara Bella menaruh ke dua tangannya di atas pundak Lucas. Bella tersenyum sebelum mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Lucas.


Kecupan-kecupan pelan diiringi senyuman ringan membuat Bella bahagia. Ia menempelkan dahinya pada dahi Lucas, merasakan hembusan napas Lucas yang panas dan teratur menyentuh wajahnya.


“Ck, dulu kau begitu malu saat kita berciuman. Sekarang tanpa diminta pun kau nyosor duluan.” Lucas mencubit pipi Bella.


“Auch ...! Jahat!”


“Coba julurkan lidahmu, Ella.” Pinta Lucas.


“Untuk apa?” tanya Bella.


“Aku akan mengajarimu french kiss.” Lucas tertawa kecil. Bella belum mau berciuman dengan menggunakan lidahnya, kini saatnya mengajari Bella arti kenikmatan dari sebuah deep kissing dengan pasangannya.


“Apa itu french kiss??” tanya Bella bingung.


“Berciuman dengan lidahmu, Sayang.”


Lucas menjulurkan lidahnya, Bella sedikit malu namun akhirnya memilih untuk mengikutinya, “gerakan saja lembut seperti ini, pelan dan masuk ke dalam mulut. Lalu kau rasakan getaran pelan dan rasa manis saat keduanya tertaut.”


Bella memejamkan matanya, menikmati alunan pelan gerakan lidah Lucas yang mengabsen rongga mulutnya. Sesekali lidah mereka bertemu, Lucas meminta Bella untuk menirukannya.


“Bagaimana?” Lucas menghentikan ciuman mereka.


Wajah Bella memerah, panas sekali, keringatnya sampai bercucuran semua. Baru kali ini ia merasakan dahsyatnya ciuman Lucas.


“E-enak,” jawab Bella kikuk, dia masih bingung bagaimana cara menjawabnya.


“Benarkan, mau coba lagi?”


“Bo—leh.”


Kali ini Lucas yang diam dan Bella yang bekerja, ia memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Lucas, saling bertukar rasa manis dan kecapan lembut. Bella menyukai sensasinya, tiap-tiap gerakannya selalu terbayang rasa cintanya yang dalam.


“Ya, begitu, Sayang. Lakukan lebih dalam.”


Bella menurut, ia melakukan perintah Lucas. Membuat desahan pelan keluar dari mulutnya, napasnya terasa semakin berat karena Lucas tak memberi jeda pada ciuman mereka.


Tangan Lucas mengelus masuk ke dalam kaos Bella, mengelus hangat punggung Bella. Bella melakukan hal yang sama, melepaskan kaos yang dipakai Lucas. Bella membuang muka saat melihat tubuh indah Lucas.


“Kau nakal sekali, Ella.” Lucas menghentikan aksinya, memandang Bella yang entah kenapa bisa senekat itu melepaskan pakaian Lucas.


“Eerm ....”


“Baiklah kalau itu maumu, aku tak akan mengizinkanmu pulang malam ini! Tak perlu berlibur, menginaplah di sini, Ella. Aku akan memuaskanmu semalam penuh!” Lucas melepaskan kaos kedodoran yang di pakai Bella. Gadis manis itu menurut saja, sepertinya rasa cintanya pada pria maskulin ini telah membuatnya menjadi kehilangan akal.


Bunyi hujan menemani sore hari mereka yang indah. Rinainya membuat perasaan menjadi lebih nyaman. Kenangan manis yang baru saja mereka ciptakan seakan tersimpan dalam luapan air hujan dan aromanya yang khas.


Lucas menggendong Bella masuk ke dalam kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya lembut ke atas kasur empuk dengan seprei berwarna toska.


“Jangan salahkan aku OK!”


Bella mengangguk, ia kembali mendekap tubuh kekar Lucas. Lucas mencium leher Bella dan turun pada dua buah keindahan yang membuat semua lelaki lupa daratan. Bella menggeliat pelan saat sentuhan Lucas mulai terasa menggetarkan seluruh tubuhnya.


“Lu-Lucas.” Panggil Bella.


“Heum?”


“Pelan-pelan saja.”


“Baiklah, pelan-pelan saja.”


Lucas melepaskan seluruh pakaiannya dan pakaian Bella. Lucas menatap lekat wajah kekasihnya dengan luapan cinta. Rasa ingin memiliki tergambar jelas pada sorot matanya yang sayu. Lucas mengusap lembut pipi Bella dengan punggung tangannya. Sedangkan Bella mengecup lembut pergelangan tangan yang menahan kokoh tubuh Lucas.


Ah, Lucas kau membuatku menjadi gadis yang nakal, batin Bella.


Ah, Bella, kau membuatku menjadi pria paling beruntung di dunia, batin Lucas.


Bella tak ingin kehilangan rasa ini. Tak ingin juga kehilangan dekapan ini.


Lucas tak ingin kehilangan rasa ini. Tak ingin juga kehilangan dekapan ini.


Bella telah begitu mencintai Lucas dengan seluruh tubuh dan jiwanya. Jangankan menyerahkan tubuhnya, mati untuk Lucas pun Bella rela melakukannya. Kasih sayang yang diberikan Lucas membuat Bella mencintainya. Cintanya yang dalam membuat Bella semakin terobsesi pada Lucas.


— MUSE S5 —


SEKILAS INFO


Author : bintang tamunya ganti lagi kah?


Leon : belum Thor.


Author : masih bersama si singa? 🦁


Leon : gantian gw yang nanya donk Thor.


Author : boleh.


Leon : hobi thor?


Author : ngupil sama rebahan.


Leon : asek banget itu ya. Kalau udah dapet sekilo mau di apain thor?


Author : di bagi sama readers. Hahahaha...🤣


Leon : hoek!! Udah gaes lupain hobi Author rengginan yang teramat menjijikan. Kalian mending jangan lupa Like, terus Vote, terus comment yang banyak. Jangan lupa kasih semangat buat author ya. Kasihan itu nulis sampe jerawatan mikirin hubungan Lucas sama Bella mau dibawa ke mana.


Author : hiks, makasih Leon. Sini peluk dulu.


Leon : ga mau thor, ntar di leletin upil.


Author : 😭😭😭