
MUSE S
EPISODE 53
S2 \~ TAKUT
\~ Pandangan kami bertemu, rambutnya yang hitam turun menutup dahi. Membuatnya terlihat kacau namun juga begitu tampan. Garis tegas yang tergambar jelas pada wajahnya membuatku kembali terpesona. \~
•••
Sekejap kemudian bibirnya menempel pada bibirku. Basah dan hangat, membuat desiran halus pada perutku.
Rasa manis yang ku rindukan...
Rasa manis yang ku dambakan...
“Kalila..., aku menginginkanmu.” bisiknya..
“Kak Arvin...”
Tangan Arvin masih menahan tubuhku, mengunci pinggangku untuk mengikis jarak di antara kami.
Tanpa sadar aku kembali menerima ciumannya... mengikuti alunan irama gerakannya yang pelan dan dalam.
Ciuman itu begitu hangat, manis, dan setiap gerakannya begitu menggairahkan. Aku memejamkan mataku, menikmatinya.
Tangannya yang lebar dan hangat menyentuh wajahku, mencoba mengatur irama lumattan bibir kami berdua.
Irama denyut jantungnya bisa terdengar di telingaku, cepat dan begitu mendebarkan. Iramanya terdengar merdu. Jantungkupun berlomba untuk mengejar laju denyutannya, terdengar saling bersahutan.
Aku melingkarkan tanganku pada lehernya, mengelus rambutnya yang hitam dan sedikit kasar.
Napasnya begitu hangat menyentuh kulit, membuatku berpeluh. Arvin mencium inci demi inci permukaan leherku. Mulai dari bawah telinga sampai ke tulang selangka. Tanpa bertanya ia mendorong tubuhku rebah, menatapku dengan matanya yang tajam.
“Kak Arvin.. jangan begini,” tolakku lirih.
“Kalila...,” panggilnya, aku menyukai caranya memanggil namaku.
Pandangan kami bertemu, rambutnya yang hitam turun menutup dahi. Membuatnya terlihat kacau namun juga begitu tampan. Garis tegas yang tergambar jelas pada wajahnya membuatku kembali terpesona.
Lengannya masih terpatri kokoh di samping kepalaku. Menahan tubuhnya. Melihatnya dalam posisi seperti ini membuat bayangan kelam dua tahun lalu kembali membayangiku.
“Tidak... tidak.. jangan!!” tangisanku pecah.
Aku takut, aku takut...
Aku kotor, aku kotor...
Aku hina dan aku berdosa...
Ini mengerikan, ini menakutkan...
“Kalila, Kalila...!” Arvin menarik tubuhku.
Bisa ku lihat wajahnya begitu cemas melihat keadaanku saat ini. Dengan lengan kokohnya Arvin memelukku erat, mengelus rambut panjangku dari pangkal sampai ke ujungnya. Membawaku masuk dalam pangkuannya.
“Ssst... jangan menangis!” Ia berusaha menenangkanku.
Aku tak menjawabnya, aku hanya bisa menangis dan terisak.
“Maafkan aku,” pintanya lirih.
“Aku takut... malam itu begitu menakutkan,” lirihku, hati yang pernah terluka begitu dalam membuatku trauma.
“Bodohnya aku, Kalila. Aku menyakitimu, aku membuatmu menangggung rasa sakit itu sendirian.” pelukkannya begitu hangat, dan suaranya membuat hatiku nyaman.
“Hiks...,” tangisku masih menggema.
“Aku tidak bisa.” Aku bergeleng.
Arvin menyatukan dahinya pada dahiku, “aku akan membantumu, Kalila. Sedikit demi sedikit, sampai hatimu pulih, dan kau bisa mencintaiku.”
Aku menggelengkan kepalaku lagi, “bisakah sampai gambar itu tergambar sempurna?”
“Ya.. sampai gambar itu tergambar sempurna.” Arvin mengecup keningku.
— MUSE S2 —
•••
Tak lama setelah isak tangisku reda Keano terbangun. Mungkin dia merasa terganggu dengan obrolan kami. Padahal kami sudah berkata-kata dengan lirih.
“Mami... au Mama, Mama...” Keano mulai mencari Mamanya.
Sudah aku duga sebelumnya, dia pasti merindukan Melody. Padahal hari ini baru hari ke dua. Entah apa yang akan terjadi bila harus menunggu seminggu lagi?
“Aku akan menyuruh Aleina mencarikanmu pengasuh untuk, Keano.” ucap Arvin.
“Tidak usah, Kak. Aku bisa merawatnya bergantian dengan Caca,” tolakku.
“Kau akan kelelahan, aku tak mau melihatmu jatuh sakit!”
Tanpa kembali menanti jawabanku, Arvin menelepon seseorang. Ia menyuruh mencari seorang baby sitter yang bisa mengasuh Keano saat aku bekerja.
“Kemarikan!” Arvin meminta Keano.
“Jangan, Kak.”
“Sudah, kemarikan dia!” Arvin merebut Keano dari tanganku.
Arvin menyandarkan kepala Keano di pundaknya. Dengan lembut ia menepuk punggung bayi itu sampai dia kembali tertidur. Aku mengangga heran. Bagaimana bisa Keano lebih nyaman bersama dengan Arvin yang baru saja ia temui dua jam belakangan? Wah.. jiwa keibuanku terjatuh, aku kalah.
“Dia sudah tidur lagi.” Arvin kembali merebahkan Keano ke atas ranjang.
“Thanks, Kak.”
“Pengasuhnya akan datang besok pagi.”
“Maaf aku merepotkanmu, Kak.”
“Tidak, Kalila. Aku senang bisa membantumu. Aku pun akan sangat bahagia kalau kau mau membagi kesulitanmu denganku.” Arvin mengelus lagi wajahku.
Ah.. kenapa tatapan pria ini bisa membuatku selemah ini?
— MUSE S2 —
Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.
Caranya gampang;
•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.
•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.
•Masuk ke Grup Chat Author.
•Di tutup 15 Mei 2020.
•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!
3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s.
Luv yu readers ❤️❤️❤️