MUSE

MUSE
S2 ~ ULANG TAHUN



MUSE S2


EPISODE 37


S2 \~ ULANG TAHUN


\~ Aku tak bisa mendeskripsikan keindahan dalam rupa dan raganya. \~


Seminggu kemudian...


Tak terasa satu minggu terlewati, hari ini aku berulang tahun.


Happy sweet seventeen, Kalila!


Harusnya ucapan itu yang akan aku dengarkan sepanjang hari ini. Tapi nyatanya tidak ada seorangpun yang mengingatnya.


Tak ada ucapan selamat..


Tak ada lilin..


Tak ada kue..


Tak ada hadiah..


Tak ada senyuman..


Yang ada adalah tagihan rumah sakit yang terus membengkak. Angkanya hampir mencapai seratus juta.


Foto yang dipasang oleh agen Melody juga masih bertengger di blog. Tapi benar kata Melody, tak ada yang tertarik kalau fotonya terlalu polos. Tak ada yang membeliku dengan harga tinggi.


Aku sendiri masih tak mau menerima penawaran mereka karena uangnya tak sesuai dengan biaya nominal tagihan rumah sakit saat ini. Bukan tanpa alasan aku menolak. Aku hanya ingin melakukannya satu kali saja. Naif sekali, ya? Seakan-akan aku sombong, menilai diriku terlalu tinggi. Padahal yang namanya pe**cur, ya, tetap pe**cur. Mau dibayar satu milyarpun tetap saja title-nya wanita mu**han.


— MUSE S2 —


Triiing.. 🎶


Angga:


Happy Bday Kalila.


Aku berangkat, ya.


DEG...


DEG...


DEG...


Sebuah chat biasa dari Angga bisa menggoyahkan hatiku sampai seperti ini. Debaran di dalam hatiku ternyata masih begitu menyala untuknya. Oh God.., Kenapa di saat aku hampir melepaskan semuanya dia kembali hadir? Tak tahukah betapa sakitnya hatiku saat memikirkannya?


Aku memejamkan mataku, mencoba menahan emosi yang tertumpuk di dalam hatiku. Aku ingin membalas chatnya, aku ingin mengucapkan salam perpisahan yang tak sempat aku ucapkan.


Aku ingin mengatakan padanya kalau aku masih mencintainya.


Tapi tanganku ragu..


Hatiku nggak siap..


Takut kembali perih..


Sungguh rasa ini sangat menyiksaku, sesak, dan menyebalkan. Rasa pahitnya sampai membuatku mual. Aku benci diriku. Aku benci keadaanku.


— MUSE S2 —


“Kalila.. Kalila..” Melody menggoyangkan tubuhku yang tertidur di atas kursi tunggu.


“Hei, Mel,” sapaku, aku masih mengumpulkan kesadaranku.


“Ih.. aku hubungin nggak bisa ternyata tidur di sini! Nggak takut masuk angin?” Melody berdecak sebal. Memang sih aku tak mengindahkan panggilan masuk dari ponsel dan memilih untuk tidur.


“Kenapa, Mel?” tanyaku.


“Akhirnya ada yang mau nih. 100 juta. Gimana? Ambil, nggak?”


“Hah?? Beneran?” Aku syok, ada juga yang memberikan uang sebanyak itu untuk satu malam.


“Iya bener. Mau nggak?”


“Iya deh mau,” jawabku seketika, aku sudah nggak peduli lagi dengan keadaanku saat ini. Yang penting hutangku lunas.


“Oke, aku hubungi mommy dulu. Kau lebih baik mandi, berdandan, dan berangkat.”


“Bajuku habis. Cuma tinggal seragam sekolah. Pakai ini aja, ya?”


Benar saja, sudah seminggu aku nggak pulang ke rumah. Bajuku menipis, tinggal baju seragam yang rencananya akan aku pakai besok untuk mengambil raport kenaikan kelas.


Melody memandangku keheranan, mana ada wanita yang melayani pelanggan dengan kaos oblong yang sudah di pakai seharian.


“La, pake seragam aja deh. Mendingan dari pada bau.”


“Yah.. masa seragam sih?” protesku.


“Pake jaketku, La. Tutupin seragamnya.” Melody melepaskan jaket hoodie birunya.


“Cepetan! Dia udah nungguin hampir dua jam gara-gara kau nggak angkat telfonnya!” omelan Melody membuatku segera beranjak dari kursi tunggu.


“Tapi, Mel?” Aku masih menolak, masa iya harus pake seragam sekolah.


“Udah, biasanya juga seragam malah bikin halu para cowok ba**ngan itu.” dorong Melody.


Setelah menghela napas aku masuk ke kamar mandi. Sekedar membersihkan diri dan memulas bibir pucatku. Tak ada keraguan sama sekali. Aku memang sudah membuang semuanya.


Masa depanku..


Harga diriku..


Cintaku..


Yah.. anggap saja uang seratus juta ini hadiah dari Tuhan untuk ulang tahunku.


Happy Bitter Seventeen, Kalila.


Ucapku pada bayangan diriku yang terpantul cantik di atas cermin wastafel.


Orang bilang seorang gadis akan menjadi dewasa saat berumur 17 tahun. Makanya setiap gadis akan merayakan ulang tahunnya yang ke-17 dengan birthday party yang mewah. Bahkan sampai bersaing dengan teman-teman sebaya lainnya. Bersaing menggelar pesta terbaik dan termegah.


Dan aku akan benar-benar menjadi seorang gadis dewasa saat ini. Bagaimana tidak? Aku akan menghabiskan malam pertama dengan lelaki hidung belang yang wajah dan namanyapun aku tak tahu. Tepat di hari ulang tahunku yang ke-17.


“How pathetic!!” seruku, lalu tertawa sendiri.


— MUSE S2 —


Hujan menetes pelan dan lama-lama berubah menjadi lebih deras. Jalanan langsung sepi karena pengendara motor mulai menepi. Mereka memakai jas hujan agar bajunya tidak basah.


Aku menyelusuri trotoar jalan raya, menuju ke hotel tempat pria itu menginap. Melody memberikanku ongkos untuk taxi, tapi aku memilih berjalan kaki. Aku memang bodoh, aku terus mengulur waktu supaya tak segera bertemu dengan pria itu.


Aku menaikkan tudung jaket hoody dan berlari kecil. Derasnya hujan mulai terasa membasahi tubuhku. Angin yang dingin merasuk sampai ke dalam tulang.


“Permisi,” sapaku pada petugas di front desk resepsionis.


“Ya, bisa saya bantu?” sapa wanita muda itu lembut.


Aku diam tanpa kata dan hanya menunjukan no kamar yang ingin aku tuju.


“Ah, Tuan Arvin sudah menunggu anda. Ini kartu kamarnya. Suit room no 1405.” sebuah kartu berwarna emas disodorkan kepadaku. Aku menerimanya dan berlari secepat mungkin masuk ke dalam lift.


Hatiku berdebar tak karuan, tanganku gemetaran. Padahal aku sudah menetapkan hati juga tubuhku. Tapi tetap saja rasanya sangat menakutkan. Entah pria macam apa yang menantiku di sana.


Klik..


Pintu terbuka saat aku menempelkan kartu ke sensor handle. Aku melangkah masuk perlahan-lahan. Tak ada jawaban saat aku mengetuk pintu atau pun saat aku masuk memberi salam.


Hening...


“Di mana dia?!” batinku galau. Kenapa kamar itu kosong?


Aku melangkah masuk lebih dalam lagi. Mataku terus berputar mengamati tiap sudut ruangan. Sebuah ruang tamu dan pantry menyambutku, di samping sofa ada lubang penghubung dengan bingkai kusen dari kayu merbau. Kusen berplitur gelap itu langsung menghubungkan ruang tamu dengan bagian kamar tidur. Interior kamar itu terlihat minimalis tapi mewah.


Aku berjalan ringan, mencoba untuk tidak bersuara. Bau menyengat bunga kenanga tercium menggelitik saat aku melewati kamar mandi. Sepertinya pemilik kamar ini sedang mandi.


Bajuku sedikit basah dan aku kedinginan. Ac di dalam kamar dipasang dengan suhu di bawah normal tentunya. Aku duduk dan memeluk lututku di sisi paling ujung ranjang. Mencoba mencari kehangatan dari tubuhku sendiri.


Aku masih bertanya-tanya pada diriku, bagaimana aku bisa berada di sini? Duduk di tempat ini, bahkan dengan tenang dan tanpa penyesalan. Apa benar nuraniku mulai mati dan hatiku mulai keras?





Aku masih tak menyadari kehadiran pria itu karena hawa dingin semakin membuatku gemetaran. Bajuku basah dan aku merasa lengket.


“Ehem..” dehemannya sontak membuatku menoleh kaget. Pria itu sudah berdiri, bersandar pada kusen pintu, mengamatiku dengan lekat.


Hal pertama yang kulakukan adalah memandang wajahnya, aku tercengang, tak kusangka ternyata pria ini sangat tampan. Aku kira pria-pria yang suka jajan itu adalah pria yang jelek dan tua.


Tapi dia.. entahlah, aku tak bisa mendeskripsikan keindahan dalam rupa dan raganya. Aku terpesona padanya...


Sekejap kemudian aku sudah berada di dalam pelukannya.


— MUSE S2 —


Wow..


Up ya..


Pliss berikan dukungan kalian untuk cinta Arvin, Kalila, dan Angga.


Berikan like, comment, dan vote bila berkenang.


Maacih..


❤️❤️❤️


— — — — IG. dee.Meliana — — — —