MUSE

MUSE
S5 ~ SIAPA?



MUSE S5


EPISODE 6


S5 \~ SIAPA?


\~ Senyuman terkembang di wajah tampan Lucas, sedangkan rona kemerahan muncul pada wajah cantik Bella.\~


____________________


AUTHOR POV


“Sepertinya aku telah jatuh hati padamu, Ella,” ucap Lucas. Bella menatapnya dengan mata terbelalak, pupilnya mengecil.


“Tolong lepaskan tanganku.” Bella menarik tangannya, merasa kikuk dengan pernyataan cinta Lucas yang terdengar begitu lugas di telinganya.


Bella tak pernah mendapatkan pernyataan cinta dari laki-laki sebelumnya. Bukan karena tidak laku atau pun kurang cantik, tapi memang Bella cenderung menutup diri. Ia lebih memilih untuk menghabiskan jam istirahatnya dengan tidur, mengumpulkan energi untuk bekerja setelah pulang sekolah.


“Kita baru bertemu kemarin Lucas! Bagaimana bisa kau menyatakan cinta? Kita bahkan tak saling mengenal,” sanggah Bella, ia semakin mundur karena takut pada Lucas.


“Aku sendiri juga heran, kenapa aku bisa semudah ini jatuh dalam pesonamu? Mungkinkah aku menyukaimu pada pandangan pertama?” Lucas menatap wajah Bella yang syok dan ketakutan.


Lucas berdesis dalam hatinya, harusnya dia bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan perasaannya. Siapa wanita yang tidak kaget dan takut mendengar penuturan cinta dari pria yang baru saja dikenalnya kemarin malam?


“Maaf, aku harus pulang.” Bella membuang semua sampah sisa makanan dan bergegas melarikan diri dari Lucas.


“Bella!! Tunggu!!!” Lucas mengejar Bella, menarik siku tangannya, membuat tubuh gadis muda itu berputar dan menabrak dada bidangnya.


Sialan dadanya keras sekali, pikir Bella sambil meringis karena hidung terbentur.


“Tolong jangan takut padaku!” lirih Lucas.


Wajah Bella bersemu merah, detak jantungnya berloncatan, aroma parfum tercium maskulin dari outfit yang dipakai oleh Lucas. Bau yang woody dan hangat.


“Kau belum mengenalku, Lucas. Kehidupanku rumit dan penuh masalah. Aku juga bukan wanita baik seperti yang kau bayangkan, aku bahkan tak bisa mengembalikan uangmu.” Bella mendorong tubuh Lucas yang hampir menempel pada tubuhnya.


“Tak perlu dikembalikan. Aku tak memerlukan uang itu. Aku hanya menggunakan uang itu sebagai alasan karena ingin bertemu denganmu kembali, Ella.”


....


Bella terdiam, merasa aneh. Perasaannya terus berdesir, seakan-akan ia memang begitu merindukan sebuah ungkapan cinta kasih dari seseorang. Bella tumbuh dengan berkekurangan kasih sayang, tentu saja ia begitu mendambakan rasa sayang dan juga cinta. Walaupun begitu, akal sehatnya tak berhenti mengingatkan Bella untuk terus berhati-hati.


Lucas itu pria macam apa? Bella tak tahu sifat dan juga latar belakangnya. Lagi pula tak mungkin ada cinta pada pandangan pertama, itu hal terkonyol yang pernah Bella dengar.


“Aku tidak percaya, Lucas. Hentikan omong kosongmu. Cinta pada pandangan pertama itu tidak eksis!” Bella kembali melanjutkan langkahnya, berjalan pulang ke rumah.


“Setidaknya ijinkan aku mendekatimu, Ella,” pinta Lucas. Bella menghentikan langkahnya, wajah cantiknya bersemu kemerahan.


Namun Bella tidak kunjung menjawabnya. Memilih untuk pulang dan mengabaikan semua perkataan Lucas. Ish ...! Lupakan perasaan Lucas, pertemuan mereka ini terlalu cepat untuk dianggap cinta. Mereka bahkan hanya bertemu tak lebih dari dua jam.


Cinta? Jangan konyol, Lucas. Pikir Bella sambil berdecis sebal.





Bella menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Ia terus membolak-balikkan badannya gusar karena tak kunjung terpejam. Ucapan Lucas dan bayangan wajah tampannya tak mau pergi dari dalam benaknya. Bella mengambil napas sepanjang-panjangnya dan menghembuskannya juga dengan kasar. Ia menggoyang-goyangkan kakinya ke atas ranjang karena sebal.


TING!


Sebuah chat membuat Bella mendudukkan badannya. Mengambil ponsel di atas nakas dan membacanya.


TASYA:


Sudah aku daftarin.


Besok Sabtu kita bekerja.


Mulai jam 3 Sore.


Universitas GR


BELLA:


OK.


Thanks Sya.


TASYA:


Aku akan menjemputmu.


Kita harus sedikit berdandan.


BELLA:


OK.


Aku akan menunggumu.


Bella kembali menaruh ponselnya dan merebahkan diri. Masih berjuang untuk melupakan ungkapan cinta dari Lucas dan mencoba untuk tertidur.


— MUSE S5 —


Sudah tiga hari ini Bella menghindari chat dan juga panggilan telepon dari Lucas. Setiap pagi Lucas selalu mengirimkan kata-kata sapaan dan juga menunjukkan perhatian. Bella sama sekali tidak menjawabnya, ia hanya membaca pesan dari pria itu dan mengacuhkannya.


Namun hal aneh mulai terasa di dalam hati Bella, sejak pagi ini Lucas tak mengirimkannya pesan. Sudah hampir jam tiga sore dan Lucas tetap tidak ada kabar.


“Kenapa denganku? Harusnya aku lega karena dia tak lagi menghubungiku?” Bella menggeser-geser layar ponselnya sambil bergumam sebal. Menyelak hatinya yang mulai merindukan pria macho itu.


Bella mengdengus kasar, tuh-kan, tak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama, bahkan baru tiga hari saja Lucas sudah menyerah untuk mendekatinya. Mana mungkin perasaannya tulus, paling-paling Lucas hanya mencari wanita untuk bermain.


“Bel!!” pintu kamar Bella terbuka, menampakkan cengiran lebar di wajah sahabatnya. Bella membalasnya dengan cengiran yang tak kalah lebar.


“Udah siap? Yuk, berangkat! Kita dandan di sana,” ajak Tasya.


“Yuk, aku sudah mandi kok.” Bella bergegas menyahut sling bag dan juga sepatu kets putih.


Mereka berdua menaiki MRT menuju ke universitas GR. Hendak memulai pekerjaan mereka sebagai SPG penjual minuman isotonik. Gajinya cukup menggiurkan dan pekerjaannya mudah, hanya menjual minuman pada para penonton pertandingan.


“Sebenarnya pertandingan apa sih? Aku nggak baca blosurnya dengan jelas kemarin,” tanya Bella di sela-sela perjalanan mereka.


“Boxing.”


“Oh, boxing.”


“Terbuka untuk para mahasiswa, tiap tahun kok itu acaranya. Banyak mahasiswa dari berbagai kampus yang ikutan.”


“Kamu malah tahu banyak, Sya.” Bella dan Tasya membersihkan wajah mereka dengan tooner ringan.


“Dulu pacarku pernah ikutan.” Tasya mengeluarkan BB cream dan mengoleskannya ke wajah.


“Hah? Serius? Mario-kan kerempeng?” kikih Bella sambil melakukan hal yang sama.


“Kerempeng tapi dia kuat tahu!! Walaupun KO di babak pertama.” Tasya tergelak.


Mario adalah pacar Tasya, senior mereka. Setelah lulus dan berkuliah, ia mengikuti kelas eskul boxing di universitas. Dia pernah menjadi salah satu peserta kompetisi ini mewakili universitasnya.


“Kali ini agak beda katanya.”


“Kenapa?” Bella masih sibuk memasang bulu mata palsu.


“Wah, mahasiswanya bisa kalah donk.”


“Di bagi dua kategori, kelas amatir sama kelas berat keknya.” Tasya membantu Bella memasang bulu mata.


“Thanks, Sya,” ucap Bella sembari mengerjapkan matanya.


“Ada satu peserta yang sering di ceritain sama Mario. Dia kuat sering menangin penghargaan boxing juga, walaupun bukan petinju profesional.”


“Oh ya, hebat donk. Siapa namanya? Ntar aku pasang taruhan biar menang lotre.” Bella terkikih, dia hanya bercanda.


“Lucas, kalau tidak salah namanya Lucas.” Tasya menjawab pertanyaan Bella sembari mengoleskan lip tint.


“Siapa??” Bella tertegun.


“Lucas.”


“Siapa?” tanya Bella lagi.


“LUCAS!!” jawab Tasya agak keras.


“Siapa?” Bella belum percaya.


“Bell!! Budegg beneran apa pura-pura, sih?” gerutu Tasya sebal.


“Sory, hanya merasa nama itu nggak asing.” Bella menurunkan bahunya, ada banyak nama pasaran di dunia ini, dan nama Lucas juga bukan hanya milik pria itu.


“Ayo turun!” Tasya menarik tangan sahabatnya, mereka berhenti di stasiun MRT paling dekat dengan universitas GR.


Mereka berdua bertemu dengan supervisor yang mengurusi masalah penjualan. Ada 6 orang gadis lain selain Bella dan Tasya. Rencananya mereka akan di bagi menjadi 2 kelompok, kelompok pertama menjual di bagian sisi sebelah kanan stadion indoor, dan yang satunya di sebelah kiri. Supervisor memberikan beberapa arahan dan bagaimana cara menjual minuman. Banyak tersenyum dan bersikap ramah adalah kuncinya.


“Ini seragamnya, sudah kami buat sesuai ukuran yang kalian kirimkan,” ucap supervisor mengakhiri briefingnya.


Tasya, Bella, dan gadis-gadis lain mengambil seragam berwarna biru itu dan bergegas memakainya di kamar mandi.


“Gilla!!” jerit Bella waktu keluar dari dalam bilik, membuat para gadis lainnya menoleh.


“Kenapa, Bel?” tanya Tasya.


“Kenapa roknya pendek banget?” Bella melihat tampilan dirinya. Pakaian ini lebih mirip dengan baju para pemandu sorak di pertandingan basket dari pada SPG minuman.


“Ya, ampun kirain kenapa?” Seorang gadis lainnya bergeleng sebal.


“Memang begini seragamnya! Konsepnyakan minuman isotonik, penuh semangat dan juga keringat!” lanjutnya ketus.


“Hoo, di iklannya juga pakai baju kek ginikan! Berlari dengan baju pemandu sorak.” terang yang lainnya.


“Tapi ini terlalu pendek.”


“Kami juga pakai rok yang sama pendeknya! Duh, Dek! Jangan cupu-cupu amatlah! Namanya juga jualan, kalau pakai baju norak mana bisa laku?”


“Iya, jangan bikin kelompok kita nggak berhasil capai target penjualan karena kenorakanmu!” ancam yang lainnya.


“Iya, Bel, bener kata mereka. Tahan ya, cuma 6 jam.” Tasya menenangkan sahabatnya.


“Iya, Sya.” Angguk Bella.


Bella menghela napas, menyerah dengan keadaan. Bella tahu kalau SPG selalu berdandan cantik, tapi Bella tak pernah menyangka harus memakai pakaian yang cukup seksi juga.


Mereka semua membetulkan riasan wajah masing-masing sebelum akhirnya menghambur keluar dari kamar mandi. Hanya Bella yang terlihat tidak begitu nyaman dengan pakaiannya.


Harusnya bawa celana short pendek, pikir Bella dalam hati.


“Sudahlah, Bel, nggak pendek-pendek amat kok.” Tasya menenangkan Bella. Sebenarnya Tasya benar, rok mereka hanya berkisar 15 cm di atas lutut, hanya saja Bella terbiasa memakai celana jeans panjang, jadi ukuran ini termasuk sangat terbuka bagi Bella.


Tiap pria yang berpapasan pasti melirik ke arah Bella, terkesima dengan kecantikan dan wajah sensualnya. Bella lama-lama menjadi risih juga, namun tetap bertahan demi rupiah-rupiah untuk biaya sekolahnya. Bella harus mulai mengumpulkan semuanya kembali dari enol karena ulah mamanya.


“Semangat, Bel!!”


“Iya!!”


“Minumannya!! Silahkan!” Bella dan Tasya mulai berkeliling untuk menjual minuman.


Tak susah menjual minuman mereka. Apa lagi dengan padatnya penonton yang di dominasi oleh kaum adam. Mereka terpesona dengan kecantikan Bella dan rela memberi beberapa botol sekaligus. Bella juga mulai lebih relaks, dia terus tersenyum agar penjualannya semakin laris.


“Boleh minta nomor ponselnya nggak? Nanti aku beli satu karton deh.” Bahkan ada yang tanpa malu-malu menanyakan kontak Bella. Bella harus tetap santun, ia menjawabnya dengan santai, memberikan nomor palsu, bukan nomor aslinya. Hal ini sudah biasa terjadi, Tasya sudah menyuruhnya mempersiapkan nomor palsu bila di tanya.


Cantik sekali, manis sekali, imut sekali, boleh kenalan? Boleh tukar nomor? Pacaran dengan salah satu dari kami! Semacam itulah godaan yang dilontarkan para adam pada Bella. Tanpa malu mereka mengaggumi wajah dan tubuh Bella yang terlihat begitu rupawan sore hari ini. Tak dapat dipungkiri, Bella mewarisi semua ini dari mamanya.


Akhirnya acara di mulai, babak pertama, ada dua pertandingan sekaligus. Mereka akan saling beradu kemampuan dan kekuatan dalam balutan olah raga penuh kekerasan ini. Peserta pemenang terakhir berhak menantang juara bertahan pada tahun lalu.


Untuk kelas berat, karena baru di buka tahun ini, maka panitia acara telah menyiapkan seorang petinju dengan prestasi yang gemilang. Yang tak terkalahkan dalam pertandingan-pertandingan persahabatan. Petinju yang satu ini lebih suka menjadikan bakatnya sebagai hobi dibandingkan menjadi seorang altlet profesional.


Bella tanpa lelah terus berkeliling, ia berhasil menjual lebih dari 500 botol minuman isotonik. Tasya menyuruhnya beristirahat dan menjaga stand mereka di depan pintu masuk.


“Istirahat dulu, Bel!” Tasya mengambil alih ice box yang menggelantung di bahu Bella.


“Oke, thanks, Sya.”


Bella kembali ke pos mereka, membuka salah satu botol minuman dan menenggaknya dengan cepat. Tak terasa pertandingan telah memasukki babak final. Target penjulan mereka sudah hampir tercapai, tinggal kurang lebih dua ratus botol lagi.


“INILAH JUARA BERTAHAN KITA!!” Teriakan yang berasal dari pemandu acara membuat Bella tertegun, lebih tertegun lagi saat melihat pria yang masuk dari arah pintu utama.


Pria itu memakai sarung tinju dan celana boxer berwarna hitam. Ia bertelanjang dada, memamerkan otot-otot tubuhnya yang kekar. Di lengan kirinya ada tatto bergambar naga sampai di depan dada. Ada kilatan optimisme pada matanya yang berwarna coklat.


Pantas saja dadanya sangat keras! Pikir Bella dalam hati.


Pria itu meloncat bebeapa kali untuk memanaskan dirinya. Menunggu pembawa acara mempersilahkannya naik ke atas Ring.


Bella terpaku, ia mengamati wajah Lucas yang tampan. Wajah itu yang memenuhi benaknya beberapa hari belakangan ini. Wajah itu jugalah yang membuatnya rindu setengah mati karena tidak ada pesan apapun hari ini.


“LUCAS!!!” teriak pemandu acara.


Sorakan penonton langsung terdengar riuh memenuhi gedung olah raga indoor milik universitas itu. Mereka menyuarakan nama Lucas dalam tiap teriakannya.


Lucas berjalan ke arah ring, sepintas ia menoleh ke arah penonton dan menemukan sosok gadis yang begitu cantik. Berada di tengah-tengah kerumunan manusia, sedang memandangnya dengan heran.


Lucas menyeringai, ia mendekat ke arah pada Bella.


“Hallo, Ella! Apa kau kemari untuk mendukungku?” tanya Lucas.


“Jangan Ge-eR!” sanggah Bella.


Senyuman terkembang di wajah tampan Lucas, sedangkan rona kemerahan muncul pada wajah cantik Bella.


Bagaimana kisah mereka selanjutnya, ya?


Next episode readers.


— MUSE S5 —


MUSE UP


LOVE


LIKE


COMMENT


VOTE


TERIMA KASIH SUDAH MENDUKUNG DENGAN POIN ATAUPUN KOIN ❤️❤️