MUSE

MUSE
S2 ~ HAPUS



MUSE S2


EPISODE 81


S2 \~ HAPUS


\~ Dengan kedua tanganku aku merobek gambar itu. Gambar dirinya, aku ingin kembali menghapus semua ingatanku tentang dirinya. Tentang cinta dan perasaan, tentang kasih dan pengharapan.\~


•••


Aku mengedipkan mataku beberapa kali sebelum benar-benar sadar. Memandang ke arah langit-langit kamar yang ku kenal. Sepertinya aku sudah kembali ke dalam kamarku sendiri.


Aku mencoba menggerakkan tanganku, namun seseorang menggenggamnya dengan erat. Aku melirik ke samping dan melihat Arvin tertidur di sampingku.


Kembali terlintas dalam benakku betapa kasarnya perlakuan Arvin malam ini. Aku tidak menyangka Arvin bisa berlaku sekejam itu! Padahal sebelumnya dia begitu lembut. Ah, benar kata Melody dan Caca, aku baru mengenalnya beberapa hari. Baik dan buruk sifatnya aku masih belum tau.


Aku begitu ketakutan semalam, hatiku hancur, kepercayaanku padanya langsung luntur begitu saja. Aku membencinya, aku juga membencu diriku karena aku terlalu mencintainya.


Dalamnya rasa cintaku membuat luka yang ditorehkannya terasa semakin dalam.


Aku menarik tanganku perlahan dan berusaha untuk bangkit. Bisa kurasakan kebas dan perih pada seluruh tubuhku. Kepalaku terasa pening dan berkunang-kunang. Ternggorokkankupun kering.


Dengan perlahan aku melangkah menuju pantry, meminum segelas air untuk membasahi tenggorokkanku. Segarnya air membuat perasaanku jauh lebih baik saat ini. Setidaknya aku harus menata hati dan perasaanku agar siap untuk menghadapinya nanti.


Aku kembali menuju ke ranjang. Bersandar pada headboard, menunggu pagi, sampai matahari menyingsing. Namun hujan masih turun dan mendung kelam menutupi matahari. Hanya semburat sinar keemasan yang masuk melalui kaca pada pintu geser.


Arvin terbangun saat matahari mulai meninggi. Dia kembali menggenggam tanganku, duduk di samping ranjangku. Aku takut melihatnya. Aku mengatupkan bibirku untuk menghilangkan rasa takut, amarah, dan juga air mata.


“Maafkan aku, baby!” itulah kalimat yang diucapkan oleh Arvin berulang-ulang kali.


Aku tidak menjawabnya. Aku terdiam membisu. Tak ada kata-kata yang ingin aku sampaikan.


Bisa kulihat sorot matanya yang penuh rasa penyesalan dan juga kekhawatiran. Aku tak memungkiri bahwa akupun menyesal dengan situasi yang tengah kami rasakan saat ini.


“Aku sakit Kalila!! Jiwaku sakit.”


Arvin akhirnya berkata jujur, dia membuka semua aibnya di masa lalu. Mengatakan kepadaku bahwa akulah obatnya, penawar jiwanya yang rusak. Akulah satu-satunya wanita yang tidak pernah ia siksa. Tapi bukankah kemarin dia menyiksaku?! Berarti aku bukan obatnya. Aku bukan wanita yang dicintainya.


“Kalau cinta kau tidak akan menyakitiku,” jawabku padanya.


“Kalila!! Baby, kumohon!!” Arvin terus memohon padaku, namun aku tak mengindahkannya. Aku tetap memilih untuk putus dengannya.


Besarnya cintaku membuat hatiku begitu menderita.


Besarnya pengharapan yang ku taruh di atas hubungan kami membuatku kecewa.


Besarnya kasih sayangku padanya membuat hatiku menjerit kesakitan.


Kenapa? Kalau cinta ia tak akan tega?! Kalau cinta ia pasti melindungiku, bukan malah menyiksaku seperti ini!!


Aku marah padanya, namun memilih untuk memaafkan.


Aku benci pada kelakuannya, namun memilih untuk memaafkan.


Aku cinta pada Arvin, namun akhirnya memilih untuk berpisah.


Aku mencium bibirnya sebagai tanda perpisahan. Aku tahu setelah ini aku pasti akan kembali merana, bahkan mungkin merindukannya disetiap malam-malamku. Namun biarlah keputusanku ini menjadi yang keputusan yang terbaik bagi kami berdua.


Setidaknya kami tak akan saling menyakiti lagi...


Tak lama setelah adu mulut yang penuh dengan limpahan air mata aku melihat Arvin ambruk. Tubuhnya limbung ke kanan dan tak sadarkan diri.


“Arvin!!!” pekikku saat Arvin terjatuh ke lantai.


Benar juga, baru aku sadari, kami bahkan tidak sedekat itu.


Akhirnya aku memutuskan untuk menelefon ambulan. Meminta bantuan dari rumah sakit terdekat. Berharap Arvin bisa segera mendapatkan pertolongan pertama.


“Arvin bertahanlah!!” Aku menggoyangkan tubuhnya, air mataku kembali menetes.


Kenapa kita jadi seperti ini?


“Jangan mati, Kak!! Kalau kau mati kau akan menyesal!!!” ancamku, padahal aku tau dia tak bisa mendengarnya.


Tak butuh waktu lama untuk ambulan sampai ke apartemen. Mereka mengecek keadaan Arvin dan segera melarikan dirinya ke rumah sakit. Suhu tubuhnya mendekati 40 derajad dan tekanan darahnya sangat rendah.


“Hiks,” menangis, hanya itulah yang bisa aku lakukan.


“Namanya Arvin, tolong hubungi Maxsoft. Mereka tahu identitasnya.”


“Kau tidak ikut Nona?”


“Tidak, dia hanya tetanggaku.” Aku berbohong, hatiku sakit saat mengucapkannya. Tapi aku tak punya pilihan, aku sudah tak bisa lagi bersamanya. Aku hanya tak ingin memberikan harapan palsu kepadanya. Kami telah berpisah dan itulah yang terbaik.


Aku berlari menuju balkon untuk melihat iring-iringan perawat yang membawanya pergi. Dalam hati aku berharap dia akan baik-baik saja.


“Maafkan aku, Arvin. Mungkin benar, dunia kita berbeda.”


Aku memandang gambar dirinya yang telah tergambar sempurna. Aku meletakkannya di atas meja kemarin. Dia begitu tampan dan mempesona. Ia benar adalah iblis yang berwujud malaikat.


Aku mengangkat gambaran dirinya. Tetesan air mataku turun membasahi kertas gambar. Memimbulkan noda-noda bulat di beberapa tempat.


Lantas, untuk apa aku berhasil menggambarnya?


Untuk apa aku berhasil mengingat wajahnya?


Dengan kedua tanganku aku merobek gambar itu. Gambar dirinya, aku ingin kembali menghapus semua ingatanku tentang dirinya. Tentang cinta dan perasaan, tentang kasih dan pengharapan. Aku ingin menghapusnya!!! Semuanya!!!


Aku terduduk pada lantai yang dingin. Menangisi kisah cintaku yang tak bertahan lama. Menangisi kisah cintaku yang tak memiliki akhir yang bahagia.


Aku meremas semua serpihan kertas dan mencampakkannya ke dalam sampah.


— MUSE S2 —


Jadi bagaimana? Pilih Arvin/ Angga nih??!!!


Yoo Muse up readers


Jangan lupa like dan commentnya. Juga votenya baby.


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;


• lBaca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


• Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


• Masuk ke Grup Chat Author.


• Di tutup 15 Mei 2020.


• Pengumuman pemenang di Grup Chat!!


3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s