MUSE

MUSE
S4 ~ FAJAR



MUSE S4


EPISODE 28


S4 \~ FAJAR


\~ Kedua cincin itu memang tidak sempurna kalau aku melepaskan salah satunya. Keduanya hanya akan menjadi setengah lingkaran saja. Tapi kalau aku tetap mempertahankan keduanya, cincin itu membentuk sebuah lingkaran yang utuh dan penuh.\~


__________________


Ra menciumku dengan paksa, menyalurkan rasa gemasnya terhadap tingkahku barusan. Tangannya menggerayaang masuk ke dalam jaket dan menggelitik perutku.


“Hahaha ... geli Ra!!”


“Hahaha ...!” Ra ikut tertawa nyaring.


Matahari semakin tenggelam, masuk ke dalam kaki cakrawala, menghilang di belahan bumi yang lain.


Ra mengambil cincin dengan batu berbentuk setengah lingkaran berwarna jingga itu dan menyematkannya di jari manisku. Aku benar-benar bahagia, entahlah, aku tak bisa mendeskripsikannya. Yang pasti hatiku begitu senang dan berbunga-bunga.


Namun ....


Tiba-tiba hatiku terasa nyeri, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati nuraniku, sesuatu itu adalah keberadaan Ken. Walaupun Ra bilang kalau mereka berdua sudah bersepakat untuk saling mengalah, namun aku masih merasa bersalah padanya. Aku tak enak karena lebih memilih untuk bersama Ra dan mengabaikan tahun-tahun penuh kebersamaan juga kebahagian yang telah kami lalui berdua.


“Kenapa menangis?” Ra menghapus lelehan air mata dari wajahku.


Aku merasakan tetesannya terasa begitu dingin karena tertiup angin malam. Ra menciumnya, menghapus tetesan itu.


“Ra, hatiku sakit saat mengingat Ken.”


“It’s OK, girl. Ken berarti banyak bagi kita, kalian punya kenangan yang jauh lebih banyak, wajar kalau hatimu sakit saat mengingatnya.” Ra memelukku erat.


Aku menangis dalam dekapannya, tak terasa malam telah larut. Dan kami harus bergegas kembali ke tenda.





Nyala lidah api bergoyang-goyang, menari karena hembusan angin dari berbagai arah. Kayu bakar terlihat begitu mengangga, sesekali meletikkan bunga api. Berbunyi dengan indah bersamaan dengan dentingan gitar yang di mainkan oleh Nael.


Aku dan Ara sibuk mempersiapkan daging untuk makan malam. Kami akan membuat tusukan BBQ. Karen dan Momo mempersiapkan sayuran untuk rebusan. Sedangkan para cowok mempersiapkan peralatan makan dan ada yang mendirikan tenda. Hanya Nael yang terlihat asyik memetik gitar untuk menyemangati kami.


“Tusuk dagingnya diselingi dengan paprika dan daun bawang.” Ara memberikan arahan padaku.


“Oke, siap,” jawabku.


“Cincinmu bagus, apa Kak Keano melamarmu?” Ara berbinar saat melihat cincing yang melingkar pada jari manisku.


“Iya,” jawabku malu-malu.


“Wah, selamat ya! Tak kusangka kau akan menikah Kak. Yang pertama di antara kita.” Ara tertawa kecil.


“Jangan bilang-bilang dulu, OK!” pintaku.


“Ah, siyap!” Ara memberikan jempolnya.


Tak butuh waktu lama saat makan malam kami tersaji. Ada rebusan sayur dan dengan fish cake, uap panas kaldu dan baunya yang sedap membuat perut kami keroncongan. Pendakian panjang dan dinginnya cuaca membuat tubuh tak berhenti kelaparan.


Belum lagi bau daging bakar yang begitu nikmat. Baunya adalah parfum ciptaan alam yang paling luar biasa. Air liurku sampai tak berhenti keluar saat menghirup aromanya. Baluran bumbu dan rempah, lalu saus barbeque yang gurih, asin, manis, dan sedikit pedas akan menggoyang lidahmu dengan rasanya.


Saat ini Ra dan Kak Daffin sedang berlomba siapa yang membakar daging lebih banyak. Kami semua menyemangati mereka, terbentuklah tim Daffin dan Tim Keano.


“Ayooo!!! Semangat!!”


“Bakar dagingnya!!”


Keseruan ini membuat guratan bahagia terus terpajang di wajah kami semua. Apa lagi setelah dagingnya matang.


“Horee pemenangnya Kak Daffin!!” seru Momo setelah menghitung jumlah tusukkan, terpaut dua tusuk dengan Ra.


“Nggak usah kecewa Ra! Yang penting hasilnya nikmat.” Aku memeluknya dan memberi semangat.


“Senikmat dirimu?” Ra berbisik di telingaku. Wajahku menghangat padahal udaranya sangat dingin.


“Kau ngomong apa sih?” Aku mencubit perutnya.


Kami menyantap daging bersamaan dengan kentang bakar dan juga jagung kukus. Melingkari api unggun yang masih menari-nari sembari memancarkan kehangatan.


Daging sapi wagyu ranking A5 yang di bawa Ara sukses menggoyang lidahku dengan kelembutannya. Daging sapi diurutkan menjadi 5 ranking, A1, A2, dst, sampai A5. Harga daging A5 bisa berkisar puluhan juta. Sapi memang sengaja diberikan treatment khusus agar dagingnya tebal dan berlemak. Tak jarang peternak sapi A5 memijit mereka dan memutar music klasik agar sapinya tidak stress. Bahkan mereka harus membius sapinya sebelum memotongnya, hal ini berfungsi agar sapi tidak ketakutan dan otot sapi tidak menegang saat di sembelih. Rasa daging sapi ini memang yang terbaik, apa lagi saat dipadukan dengan paprika bakar dan juga saus BBQ.


“Seumur hidup aku nggak mau jadi vegetarian,” ucap Nael dan Niel.


“Benar aku juga nggak mau!” seruku, siapa yang menolak daging sapi selembut ini?


“Rebusan juga enak!” Karen mengaduk mangkoknya, uap panas mengepul di depan wajahnya.


“Tim Vegan versus tim Karnivor!” Kak Daffin tertawa.


“Benar juga, tapi kalau Momo pilih tim ind*mie aja!” Momo terkekeh.


“Kenapa?” tanya Kak Daffin.


“Karena kau seleraku.”


“CIYYEEE!!!” ledek kami barengan.


Wajah Kak Daffin dan Momo memerah, padahal Momo hanya main-main, namun nyatanya telah berhasil membuat kak Daffin tersipu malu.


Setelah makan malam kami kembali menikmati udara dingin dan saling bertukar cerita. Karen membawakan cerita horor yang membuat bulu kuduk kami semua merinding. Niel mendekap Ara yang ketakutan. Aku melirik ke arah Ra, dia diam saja dan menikmati cerita Karen. Aku mendengus kasar, kecewa mengharapkan perhatian dari Ra. Lupa kalau cowok ini bukan cowok yang lembut seperti Ken! Dia sama sekali nggak peka.


“Ra!” Aku mendekatinya, duduk semakin mendekat padanya.


“Kenapa? Kebelet pipis? Mau aku anterin?!” tanyanya.


Bloonn emang ni cowok! Bikin gemesh aja! Nggak tahu apa kalau malam dingin dan cerita horor paling pas di nikmati sambil berpelukan?!


Aku mengkode Ra, mengerling padanya. Mencoba untuk menyuruhnya memandang ke arah Niel dan Ara yang asyik berpelukkan.


“Matamu sakit?” tanyanya, iiiih, sebel deh!


“Huft ...!” Sekali lagi aku menghela napas kasar.


Malam semakin larut, para ladies yang penuh dengan ritual khusus sebelum beranjak tidur menuju ke kamar kecil umum. Untung saja tidak kotor karena airnya terus mengali dari mata air asli pegunungan.


Kami membasuh wajah, menyikat gigi, memakai krim malam sambil sesekali bermain air. Tak lupa mengganti pakaian dengan sweater hangat yang jauh lebih tebal.


“Aku mau tidur dengan Niel! Tukar dengan Kak Keano, OK?!” tanya Ara.


“OK,” jawabku cepat.


“Kak Karen juga tidur dengan pacarnya!! Lalu aku tidur dengan siapa??!” tanya Momo sewot.


“Kau tidur denganku dan Keano,” sahutku.


“Obat nyamuk, donk,” selanya sebal. Aku dan Ara hanya terkikih.


Momo berjalan lesu, tiap Tenda memang berisikan 3 orang. Dan kami tepat bersembilan. Nael, Niel, Ara. Aku, Keano, dan Momo. Daffin, Karen, dan pacarnya. Kalian jangan berpikir macam-macam, kami tidur dalam kantong tidur tebal, jadi nggak mungkin melakukan hal yang macam-macam. Walaupun aslinya pengen baget masuk dalam dekapan tubuh hangat Ra.


Kami bergegas tidur. Masuk kedalam kantong tidur kami masing-masing. Selain Niel yang menemani Ara, para cowok masih asyik mengobrol sambil meminum bir mereka. Termasuk Ra, cowok nggak peka itu masih membiarkanku sendirian. Kedinginan, dan menggerutu di dalam tenda.


“Kau tidak tidur?” tanya Momo.


“Sebentar, nungguin Keano.”


Aku pun akhirnya mengantuk, mencerna daging butuh tenaga ekstra jadi rasa kantuk yang melanda tak bisa ku tahan lagi. Aku merebahkan tubuhku menyatu dengan alam dan segera tidur.





Kenapa rasanya basah? Dan membuatku mendesah pelan?


Aku terbangun saat merasakan sesuatu yang aneh menyentuh telingaku. Ternyata Keano sedang menggigit pelan telingaku, berusaha untuk membangunkanku.


“Ra, apaan sih?!” Aku menampiknya, menyebalkan sekali karena mengganggu tidur nyenyakku.


“Bangun, girl!! Sudah hampir fajar.”


“Memang kenapa?!” tanyaku.


“Ayo gantian melihat sunrise bersamaku.”


“Ken???” Aku langsung membalik tubuh untuk melihatnya. Pandangan lembutnya menyiratkan bahwa Keano telah berpindah menjadi Ken.


“Ayo!” ajaknya lagi.


Aku mengucek mataku dan juga merenggangkan badan beberapa kali. Setelah memakai sepatu dan jaket tebal aku menyahut syalku. Ken tengah bersiap juga, Ia membawa senter dan sebuah termos.


Ken kembali membawaku menelusuri jalanan setapak yang terjan dan curam sama seperti kemarin. Namun kali ini jalanan semakin licin karena embun pagi yang turun telah berubah menjadi titik-titik air. Membasahi tiap tunas rerumputan dengan kemurniaannya.


“Hati-hati licin!” Ken terus menggandengku, tangannya menggenggam erat tanganku. Aku merasakan rasa yang tak kalah bahagia saat bersama dengan Ra.


Beberapa orang pendaki lain juga terlihat sedang mendaki kaki gunung. Mencoba mencari matahari pagi yang muncul dari balik belahan dunia yang lain. Merasakan hangatnya mentari pagi yang bercampur dengan udara dingin penuh kesegaran.


“Sampai.”


Ken mengajakku duduk di tempat yang sama. Bedanya saat ini kami menanti fajar menyingsing, bukan senja yang menguning.


“Ken, aku merindukanmu.” senyumku, aku memang merindukannya, ada rasa sedih yang terus berdesir sama seperti saat aku kehilangan Ra dulu.


“Aku juga, girl.”


“Apa kau kesepian di dalam benak Keano?”


“Tidak, aku masih bisa mendengar suaramu dan tawa riangmu dari benak Keano. Itu cukup bagiku, girl.” Ken terus tersenyum, membuat hatiku semakin ketakutan. Aku tak ingin Ken menghilang juga, tak ingin Ra menghilang juga. Katakan saja aku bodoh, naif, serakah, dan lainnya. Nyatanya tiap degupan jantungku berisi nama keduanya.


“Melihatmu tersakiti dan menyadari betapa lemahnya aku membuatku tahu kalau kau lebih membutuhkan Ra dibanding diriku.”


“Tidak, Ken! Kelembutan dan perhatianmu sangat berarti besar bagiku.”


“Aku pecundang, Inggrid. Aku bahkan tak bisa melindungimu.”


“Tapi kau memberiku banyak cinta Ken.”


“Ra jauh lebih baik untukmu.”


“Kumohon jangan pergi, Ken.” pintaku, air mataku mengalir.


“Aku tidak pergi, Inggrid. Aku hanya akan bersatu dengan Ra, berusaha menjadi Keano yang seutuhnya.” Ken mengusap wajahku, menghapus lelehan air mata dan juga rasa dingin.


Hembusan angin pagi menerpa wajah, membuat kulitku terasa kaku. Langit fajar berwana biru kelabu, mentari belum mau menampakkan mahkotanya.


Ken tersenyum, lalu ia merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan kotak beludru berwarna maroon. Di dalamnya ada cincin juga, setengah lingkaran dengan batu berwarna biru kelabu. Ken mengeluarkannya dan menyematkannya pada jari manisku. Menyatukan warna biru dan jingga membentuk sebuah lingkaran yang utuh.


“Menikahlah dengan Ra, Inggrid. Namun, jangan pernah lupakan aku. Jangan pernah lupakan aku yang selalu mencintau, girl.” Ken mengecup dahiku.


Air mata menetes dengan deras, mendengar malaikatku ingin pergi membuat debaran jantungku melaju dengan cepat.


“Aku juga mencintaimu Ken!” Aku menggenggam kedua cincin itu di depan dadaku. Ken tersenyum dan merangkulku.


Matahari pagi mulai menyingsing, cahaya kuning keemasnya menerpa wajahku. Aku merasakan hangatnya matahari dan juga dekapan Ken.


Aku memandang kedua cincin itu, perlambang dari Ra yang selalu keluar setelah senja, dan Ken yang selalu keluar setelah fajar. Keduanya bertolak belakang, keduanya punya sisi yang bersebrangan.


Yang satu lembut yang satu kasar


Yang satu lemah yang satu kuat


Yang satu penuh cinta dan perhatian


Yang satu penuh gairah dan cinta


Yang satu malaikat.


Yang satu iblis.


Namun ....


Bukankah mereka sama-sama Keano?


Bukankah mereka sama-sama pria yang ku cintai?!


Kedua cincin itu memang tidak sempurna kalau aku melepaskan salah satunya. Keduanya hanya akan menjadi setengah lingkaran saja. Tapi kalau aku tetap mempertahankan keduanya, cincin itu membentuk sebuah lingkaran yang utuh dan penuh.


Biarlah berbeda warna


Biarlah berbeda rasa


Biarlah berbeda jiwa


Biarlah berbeda gambar


Bukankah mereka tetap Keano milikku.


“Jangan menghilang, Ken!” Aku mengecup pelan bibirnya. Membagi kehangatan akan gairah yang tersulut karena geliat rasa yang membuncah di dalam hatiku.


Aku melumatt bibir Ken, perlahan namun penuh luapan kasih dan pengharapan. Semoga Ken tidak menghilang, semoga Ken dan Ra bisa bersatu.


— MUSE S4 END —


Wah, MUSE S4 end


Tapi tenang, masih ada epilog dan beberapa ekstra part tentang kegemshan dan kebuncinan mereka berdua.


MUSE UP


YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE


VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.


Suport saya dengan dukungan point dan koin.


Jangan lupa juga buat like dan commentnya.


Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭


Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang


Jangan lupa cintai alam


Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri


Jangan lupa kalau saya cinta kalian