
MUSE S4
EPISODE 3
S4 \~ MUNCULNYA RA
\~ Ken juga tak pernah marah saat ada anak lain yang menghinanya atau bahkan menjahilinya. Dia malah lebih memilih tersenyum dan mendoakan anak itu. \~
____________________
Pagi itu udara terasa begitu dingin. Embun masih melekat pada kelopak bunga dan juga tunas-tunas daun. Lautan manusia membanjiri tanah makan pahlawan, semuanya bersedih, semuanya menangis. Namun ada dua orang yang terlihat paling sedih dan seakan dunia akan berakhir.
Dia adalah Mami Melody dan Keano. Saat itu aku baru berumur 9 tahun, dan Keano 11 tahun. Aku terlalu kecil untuk bersimpati, namun aku juga seakan tau rasanya kehilangan. Aku tak bisa menyalahkan air mataku yang turun saat melihat air mata Keano. Bagiku Keano adalah sahabatku, kekasihku, masa depanku. Aku sudah bersamanya sejak lahir karena orang tua kami bersahabat.
Mommy terus memeluk erat Mami Melody, menyalurkan rasa nyaman dan kehangat. Aku melepaskan diri dari gandengan Daddy dan menghambur masuk ke dalam kerumunan manusia untuk mendekap Keano.
Keano menangis, ia juga memelukku. Aku tak tau harus berkata apa saat itu. Aku hanya bisa ikut menangis dan mengelus punggungnya.
“Ken! Berhentilah menangis, kau harus menjaga Mami.”
“Benar, Inggrid. Aku harus menjadi pengganti Papa.”
Tatapan Keano yang biasanya lembut dan hangat saat itu berubah menjadi tajam dan dingin. Aku tak menyadarinya, saat itu Keano mulai membentuk sebuah jati dirinya yang baru.
— MUSE S4 —
•••
6 tahun berlalu, aku kelas X dan Keano kelas XII. Kami bersekolah di satu sekolah yang sama. Keano adalah seorang siswa teladan, murid terpandai dan juga berprestasi. Dia melakukan semua pencapaiannya demi beasiswa, jadi uang sekolahnya tak membebani Mami Melody.
Keano adalah cowok yang tampan, hidungnya macung. Matanya tidak terlalu lebar, namun lirikkannya begitu menggoda iman. Apa lagi ditambah dengan kacamata yang membuatnya tampak begitu Nerd! Ah, Si Nerd yang tampan.
Rambutnya sedikit panjang, hitam, dan lurus. Ken selalu menjatuhkan poninya ke depan, mungkin untuk menutup jidatnya yang selebar lapangan golf.
•
•
•
Hari ini hari pertamaku masuk SMA. Aku membonceng Keano pergi ke sekolahan, “Ken, tunggu!” Aku melompat ke belakang motornya.
“Inggrid? Apa-apan bajumu itu?!” Ken bingung dengan dandananku.
“Style!” jawabku sambil tersenyum.
Aku memang sengaja mengecilkan seragamku hingga menempel pada bodyku membuat lekukan tubuhku lebih menonjol. Aku juga melipat rokku agar terlihat lebih pendek dari rok biasanya. Well, kalian pasti taulah model anak cabe-cabean di sekolahan kalian dulu. Harus aku akui, saat itu aku masih masa puber, jadi gitu deh, suka cari sensasi.
“Ini nggak perlu!!” Keano melepaskan tekukkan rokku dan membuatnya kembali memanjang, tepat dilutut.
“Cupu donk!!” gerutuku sebal.
“Biarin, dari pada ntar ada yang liat.” Keano memutar tubuhku, mengamati lagi apakah masih ada yang bisa diperbaiki dari penampilanku.
“Ken!” protesku.
“Oke, beres. Tinggal pake ini, tutupi dadanya!” Ken memberikanku blezer seragamnya, anak kelas satu memang belum mendapat blezer karena ini hari pertama kami masuk sekolah.
“Omo...!” ucapku tak habis pikir.
“Pake donk, Nggrit.” Ken masih kekeh menyerahkan blezernya. Aku menyahut blezer itu dengan sebal dan memakainya.
“Nah, gitu donk.” Ken mengelus pucuk kepalaku, ah, aku menyukainya. Ken sangat lembut dan itulah nilai plusnya. Senyumannya membuatku tak bisa marah padanya.
Kalau ada malaikat di dunia ini, sudah pasti dialah Ken. Ken tak segan-segan memberikan uang jajannya pada pengemis. Dia juga sering membantu bapak penjual kardus dengan mendorong sepedanya saat menaiki jembatan. Keano juga bahkan sering membeli susu botol dari seorang Nenek tua, padahal aku tahu setiap pagi Mami Mel membuatkannya susu.
Ken juga tak pernah marah saat ada anak lain yang menghinanya atau bahkan menjahilinya. Dia malah lebih memilih tersenyum dan mendoakan anak itu. Pribadinya terlalu lembut, terlalu penuh kasih. Kadang aku sampai heran, hatinya terbuat dari apa, ya? Apa mungkin benar-benar ada malaikat bersemayam di dalam hatinya?
“Sana masuk! Semangat MOS-nya.” Ken menepuk pantatku.
Sialan!! Dia pikir aku kambing congek yang mesti dipukul pantatnya dulu biar mau masuk ke kandang.
“Ken!” teriakku sebal. Ken hanya membalas lirikanku dengan senyuman manisnya.
— MUSE S4 —
•••
MOS yang menyebalkan. Banyak kakak senior yang menggodaku, sepertinya mereka belum pernah lihat cewek secantik aku. Aku sebal dengan kelakuan mereka yang kekanakan. Disuru nulis surat cintalah, ngerayu kakak tingkatlah, ngobrol sama tiang listrik, diputer-puterin, ah, pokoknya bikin sebel.
“Kok lemes?” tanya Ken saat melihat wajahku tertekuk sampai kusut.
“Ck, sebel aja.” Aku meletakkan tas ke atas motor vespa Ken.
“Banyak yang godain ya?” tanya Ken.
“Hallo, cantik.” beberapa senior menyapaku di depan Ken. Salah satunya merangkul pundakku, membuatku risi.
“Ngapain rangkul-rangkul?!” Aku menghempaskan tangannya.
“Ya ampun cantik-cantik jutek!”
“Hei, jangan ganggu, Inggrid.” Ken turun dari motornya.
“Hei cupu!! Kutu buku, nggak usah sok pahlawan. Nggak ada urusannya sama kamu?!” Senior itu mendorong bahu Ken.
Tingkah senior muka badak bikin aku marah. Boleh deh hina aku, godain juga aku nggak masalah, tapi aku nggak terima kalau dia ngehina Ken. Ken itu milikku, cuma aku yang boleh jahilin dia.
“Hei muka badak!” panggilku seraya menendangnya tepat di antara paha. Membuatnya jatuh terseungkur dengan lemas. Perutnya pasti sangat mulas karena tendanganku barusan.
“Iuh...!” Aku ikutan miris melihatnya meringkuk kesakitan.
“Cewek sialan!!!” teriaknya, duh, kawan-kawannya jadi ikutan marah, deh.
But it’s OK, kecil-kecil begini aku ahli berantem kok. Akukan anaknya Arvin, jiwaku sedikit Syco juga, makanya aku suka berantem.
“Inggrid kau pergilah!” Ken berdiri di depanku. Berusaha menahan aksi mereka.
“Ken!! Jangan bodoh! Kaukan nggak bisa berantem.” Aku mencegahnya menghadang kakak senior yang mulai terlihat tak sabaran.
“Cepetan pergi!” Ken tetap kekeh. Membuatku sebal.
Buk!!
Tiba-tiba sebuah bogem mentah mengenai wajah tampan Ken. Membuat kaca matanya terlempar ke bawah.
“KEN!!” teriakku.
Aku mengepalkan tanganku marah. Aku hendak membalas kakak senior itu, namun tangan Ken menahan tubuhku. Ken mengangkat wajahnya, sorot matanya terlihat berbeda. Ia menghapus sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Dengan seringai pada sudut bibirnya Ken maju dan membalas pukulan senior lainnya. Ken menahan pukulan musuhnya, saat ia hendak memukul Ken, lalu menghantamkan pukulannya sebanyak tiga kali.
“Daebak!!” seruku, sejak kapan Ken begitu ahli berantem?
Ken mengangkat kerah baju si senior badak sampai terangkat, lalu memandangnya dengan pandangan kejam. Sesaat kemudian tubuh senior itu sudah melayang sampai menghantam dinding parkiran motor. Semua orang bergerombol melihat pemandangan barusan. Mereka bersorak untuk kemenangan Keano atas tiga orang senior tadi.
“Ken!” Aku berseru memanggilnya dan mendekati dirinya. Merangkul manja pada lengannya, “kau hebat sekali?! Sejak kapan kau begitu pintar berantem?”
“Lepasin!!” ucapannya membuatku kaget, tak biasanya Ken mengacuhkanku.
“Ken?”
“Berhenti memanggilku Ken! Aku bukan Ken!” ucapannya membuatku semakin keheranan. Dengan wajah dan tubuh Ken dia memandangku dengan pandangannya yang tajam dan dingin. Membuatku sedikit takut.
“Hah???”
“Dan kau cewek s*nting!! Lain kali jangan buat masalah yang ngerugiin orang lain! Ngerti nggak!!” bentaknya.
“Ken?! Kenapa jadi galak?!” Aku bingung, kenapa Ken berubah, apa dia marah padaku?
Keano bergegas mengambil kaca mata, menaruhnya pada saku seragam dan berjalan menuju ke arah motor vespanya. Tanpa menungguku dia menghidupkan mesin motornya.
“Ken tunggu aku!!”
“Aku bukan Ken!” bentakannya membuatku berjengit.
“Lalu kamu siapa?” tanyaku keheranan.
“Aku Ra!! Ingat!! Namaku Ra!!”
“Hahaha....,” tawaku keras.
“Kenapa ketawa?” tanyanya heran.
“Kau s*nting!!” jawabku.
— MUSE S4 —
MUSE UP
YUK LIKE COMMENT
VOTE!!!
Biar author rengginan femes
Masih ada kesempatan buat voter terbanyak tiap minggunya dpt hadiah pulsa.. kapan lagi ngevote dapet hadiah?