MUSE

MUSE
S6 ~ KAULAH CINTAKU



MUSE S6


EPISODE 14


S6 \~ KAULAH CINTAKU


\~ Dengan lembut Ivander mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Gabby. Gabby tak bisa mengelak, tak bisa menolak. Hangat dan basahnya ciuman Ivander memang terasa begitu berbeda kali ini.\~


____________________


Tak ... tak ... tak ...!


Terdengar suara heels tinggi Gabby beradu dengan lantai granite. Gabby berjalan masuk ke gedung perusahan milik Zean. Hari ini dia berjanji dengan Adrian akan datang ke kantornya, yah, tentu saja sekalian untuk membuat Ivander cemburu juga. Ia telah sengaja berdandan cantik siang ini.


Gabby tampak cantik dengan dress midi berwarna ungu gelap, gambar corak bunga anggrek putih mewarnani bagian bawah rok yang mengembang. Gabby menjijing tas kulit kecil dengan sling dari rantai, merk salah satu brand terkenal. Rambutnya yang indah kali ini dikuncir ala pony tail tinggi, terus bergoyang perlahan saat ia melangkah.


Semua mata mengikuti langkah Gabby, terpesona padanya. Gabby memang sangat cantik dan mempesona. Postur tubuhnya memang tinggi seperti Arvin, langsing, dan punya dada dengan ukuran di atas rata-rata seperti Kalila. Ditambah dengan bentuk pantatnya kencang dan bulat, membuat tubuh Gabby semakin terlihat sempurna.


“Hai, aku ada janji dengan Adrian.” Gabby menyapa seorang staff front office.


“Sudah bikin janji?”


“Sudah.”


“Tunggu sebentar, Nona.” Staff wanita itu menghubungi sekretaris Adrian.


“Tuan Adrian sedang meeting, beliau menyuruh anda naik dan menunggu di ruangannya terlebih dahulu.”


“Baiklah.” Gabby tersenyum.


Dari lantai dua, Ivander yang baru saja menyelesaikan istirahat siangnya tersenyum saat melihat Gabby. Ivander tak habis pikir dengan dirinya, ia bisa dengan mudahnya menerima perjanjian dengan Gabby, menurut saja saat wanita cantik itu menjadikannya seorang simpanan.


Ivander memang menuruti permintaan Gabby yang hanya memberinya waktu satu minggu untuk memutuskan hubungannya dengan semua wanita-wanitanya. Lalu setelah itu, Gabby baru mau menerimanya, itu pun sebagai simpanan, sampai Ivander benar-benar tulus mencintai Gabby barulah Gabby akan memberikan hatinya.


Sebenarnya itu syarat yang mudah, syarat yang umum pada tiap hubungan. Namun bagi Ivander yang tak mengenal arti kata cinta dan kasih sayang membuatnya kesusahan untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh Gabby.


“Cantik sekali, kenapa baru sekarang aku bertemu dengannya?” gumam Ivander, dia bersandar pada tralis void sambil mengikuti langkah kaki Gabby.


Mata Ivander terus mengikuti ke mana pun Gabby bergerak. Gabby sempat melirik ke arahnya lalu tersenyum. Ivander mendesah sebal, andai saja ia bisa segera memiliki senyuman itu, pastinya Ivander tak akan mengizinkan siapa pun melihatnya. Ivander ingin memonopoli Gabby, hanya untuknya.


Dia bahkan tak mengizinkanku tertidur semalam. Pikir Ivander, gara-gara melihat Gabby masuk ke dalam kamar Adrian semalaman Ivander tak bisa tidur. Batinnya terus gusar, gusar kalau Adrian bercinta dengan Gabby. Takut kalau Adrian memiliki wanita itu.


“Presdir.” Panggil sekretarisnya.


“Ah, baiklah.” Ivander kembali pada kenyataan, ada setumpuk berkas-berkas yang harus dibaca dan disah kan.





Seorang wanita dengan setengah berlari menerobos masuk bersamaan dengan deraian air mata dan juga rambut kusut. Matanya merah dan nanar, ia bahkan tak mengindahkan peringatn dari sekretaris Ivander.


“Nona, maaf, Nona. Anda harus bikin janji dulu,” sergahnya.


“Minggir sana!” Dorong wanita berrambut merah kecoklatan ini dengan kasar.


BRAK!!


Pintu baja berwarna gelap dibuka paksa olehnya. Amarahnya semakin memuncak karena melihat Ivander duduk santai sambil meneliti setiap dokumen penting yang ada di atas mejanya. Ia sama sekali tak punya rasa kecewa atau pun menyesal telah menelantarkan wanita itu untuk ke dua kalinya.


“B4njingan!” Wanita itu menarik kerah kemeja Ivander, dan memberikan sebuah hujatan pada pria tinggi besar itu tanpa takut.


“Cindy? Mau apa kau kemari?” Ivander sedikit syok melihat kehadiran wanita itu.


“Mau apa??? Kau memutuskanku lagi!! Begitu saja, tanpa persetujuanku?!” Cindy mencengkram kerah Ivander semakin kencang, air matanya terus turun, mendera wajah cantiknya.


Siang ini, saat jam istirahat, dengan santainya Ivander mengirimkan pesan dan memutuskan hubungan mereka begitu saja. Tentu saja hal ini membuat Cindy geram, amarahnya memuncak. Ini bukan pertama kalinya Ivander memutuskan perasaan mereka secara sepihak, sebelumnya karena wanita bernama Krystal, Ivander juga memutuskannya.


“Lepasin, selama ini kita memang tak ada hubungan apapun! Kau sendiri yang masuk ke dalam pelukanku!” Ivander mengelak dan mencoba melapaskan tarikan tangan Cindy pada kerahnya.


“Masih berani mengelak? Kau brengsek!! Kau membuatku mencintaimu!! Kini kau mencampakkanku?! Siapa wanita itu?? Siapa?? Aku akan membunuhnya, menyiksanya sampai mati!!” Ancamnya dengan penuh deraian air mata.


“Dasar gila!! Panggil security!!” seru Ivander geram, ia menampik tangan Cindy sampai ia tersungkur ke samping.


Ivander bangkit, ia langsung membetulkan kemeja dan juga jasnya yang kusut.


“Paksa dia keluar!!” Sekretaris Ivander mengundang seluruh security pada lanati 2 masuk ke dalam ruangan presiden direktur.


Security berwajah sangar dan tubuh besar mencoba menarik Cindy dan menyeretnya keluar dari ruangan, tetapi Cindy terus meronta dan menangis. Ia meraung-raung dan membuat banyak keributan.


“Kau memang b4jingan Ivander!! Aku membencimu!! Aku pasti akan membunuhnya!! Wanita itu akan mati di tanganku!! Akan ku buat kau menderita atas nama cinta!” Butiran kristal air menetes perlahan dari sudut matanya yang merana merah.


“Kau tak bisa membuangku, Ivander!!! Aku mencintaimu! Aku yang paling mencintaimu!! Kau harus tahu itu,” teriaknya lantang.


“Shit!!!” Ivander mengumpat.


“J4lang gila!!” gumam Ivander ketika semua mata tertuju padanya, melihat ada keributan apa di dalam ruangan pemimpin perusahaannya. Membuat pergunjingan.


“Liat apa kalian?? Kembali bekerja!!!” bentak Ivander sebal.





Gabby menatap jalanan raya di depan kantor trading besar ini dari jendela besar pada ruang kerja Adrian. Sudah hampir setengah jam dan Gabby masih belum beranjak. Bahkan kopi yang disuguhkan oleh sekretaris Adrian sudah tak lagi mengepul. Dingin.


Gabby sedang melamunkan hal-hal manis saat bersama dengan Krystal dulu. Juga berandai-andai seputar hidupnya saat ini.


Andai saja ia tak mencintai Krystal, akankah ia kini sedang membina sebuah hubungan juga? Akankah ia bisa merasakan cinta yang sesungguhnya? Yang normal dan bisa diutarakan? Yang tak harus ditahan, yang tak harus disembunyikan, yang tak harus di pendam pada lubang hatinya yang paling dalam?


Tak lama seseorang masuk ke dalam ruangan Adrian, dengan cepat ia melangkah dan mendekati Gabby. Memeluknya dari belakang. Gabby bahkan tak sempat untuk menoleh padanya. Hatinya yang gusar karena masalah yang ditimbulkan Cindy di perusahaan berangsur-angsung tenang. Gabby berhasil memberikan ketenang tersendiri, seperti horoin yang menenangkan syraf-syarafnya dengan buaian manis.


“Adrian?”


“Ssstt ... jangan sebut namanya di depanku.”


“Mau apa kau?? Kan sudah aku bilang kalau aku ini pacaranya Adrian!” Protes Gabby, ia meronta dari dekapan Ivander, namun pria itu tetap mendekapnya dengan erat.


“Sebentar saja, Gabby!” Ivander menghirup dalam-dalam aroma manis dari tengkuk Gabby yang terbuka. Kuncirannya membuat Ivander dengan leluasa meletakkan wajahnya pada cerukan leher Gabby.


“Bagaimana kalau Adrian melihatnya?!” Gabby memutar tubuhnya, kini mereka saling bersitatap.


“Biarkan saja!”


“Aku tidak ingin dia memutuskanku!”


“Aku sudah memutuskan semua wanita-wanita itu untukmu, Gabby!” tandas Ivander.


“Tapi kau belum mencintaiku, Ivander,” tuduh Gabby.


“Aku sudah mencintaimu, Gabby.” Ivander menggenggam tangan Gabby, pengakuan itu mengalir dari mulutnya begitu saja. Benarkan rasa di dalam hatinya yang begitu menggelora ini adalah cinta?


Sesaat Gabby terdiam, ada rasa sedih yang tak terungkapkan pada sorot mata Ivander. Sebenarnya pria ini kenapa?


Gabby tak pernah tahu seperti apa latar belakang Ivander. Seperti apa dan sekeras apa dia tumbuh selama 25 tahun tanpa kasih sayang, tanpa perhatian, tanpa pengakuan. Cara Ivander melampiaskan lara kehidupannya memang salah, caranya mencari kasih memang salah. Tapi jauh di dalam hatinya, ia merindukan sebuah cinta yang tulus.


“Ivander.”


Ivander menarik tangan Gabby, memeluknya dengan erat.


“Lepasin, Van!” Gabby meronta.


“Tidak! Du bist meine Liebe!!” Tatap Ivander, ia mendekatkan wajahnya. (Kaulah cintaku)


“Ivander.”


Dengan lembut Ivander mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Gabby. Gabby tak bisa mengelak, tak bisa menolak. Hangat dan basahnya ciuman Ivander memang terasa begitu berbeda kali ini. Ada desiran pelan yang begitu terasa menggelitik perutnya. Membuat jantungnya berdegup tak beraturan.


Apa yang membuatnya berbeda?


Ah ... Tak ada yang tahu dan bisa menebak perasaan manusia, bukan?


— MUSE S6 —


MUSE UP


LIKE


COMMENT


VOTE


TIPS


RATE


LOVE


❤️❤️❤️