
MUSE S2
EPISODE 46
S2 \~ MENDUNG II
\~ Aku begitu merindukannya sampai aku ingin mencakar dan menggaruk hatiku yang terasa perih dan gatal. Aku terlalu rindu sampai rasa gelinya terasa begitu menyiksaku. \~
Aku terbangun dengan tubuh penuh keringat. Sudah berhari-hari aku merasa hampa, aku merasa jiwaku semakin hancur.
Sebenarnya apa itu CINTA? Kenapa rasanya sangat aneh? Kenapa rasanya begitu menyesakkan? Bukankah harusnya cinta terasa begitu membahagiakan dan juga terasa begitu manis?
Kenapa begitu aku mengetahui kalau aku mencintainya hati ini bukannya tenang malah terasa semakin gundah?
Aku meringkuk dan mencengkram baju di depan dada, entah kenapa hatiku terasa begitu sesak.
Aku merindukannya, aku ingin melihatnya, aku ingin memeluknya.
Aku begitu merindukannya sampai aku ingin mencakar dan menggaruk hatiku yang terasa perih dan gatal. Aku terlalu rindu sampai rasa gelinya terasa begitu menyiksaku.
— MUSE S2 —
Esoknya di kantor...
“Tuan, Tuan Arvin?!” suara Aleina memanggilku. Sepertinya dia sudah mengulangi panggilan yang sama berkali-kali, namun aku tidak kunjung mengindahkannya. Aku lebih memilih sibuk dengan lamunanku sendiri.
“Ah.., ya? Ada apa?”
“Ini laporan hasil launching karakter baru kemarin, Tuan. Banyak feedback. Tim Programer dan CS sampai kualahan menjawab laporan para gamers.” lapor Aleina.
Yah.. memang sih, pasti banyak yang akan mengaku mirip dengan karakter baru itu. Karena memang hadiahnya cukup menggiurkan. Aku sendiri juga sudah mengatisipasi hal ini sebelumnya.
“Suru Noah mencocokkan tiap foto dengan program biometrik wajah, Na. Hanya laporkan padaku wajah yang punya tingkat kecocokan di atas 90%.” Aku bangkit dan menyahut jasku.
“Anda mau berangkat sekarang, Tuan?” tanya Aleina.
“Iya, aku masih harus menjemput Arron sebelum berangkat ke kota S,” jawabku singkat.
“Baik, hati-hati, Tuan. Semoga perjalanan anda lancar. Dan semoga anda segera mendapatkan apa yang anda cari.” Aleina membantuku untuk membukakan pintu.
“Hubungi aku kalau ada yang mirip dengannya!” pintaku.
“Tentu, Tuan.”
•
•
•
“Hallo, Uncle.” sapa bocah di depanku dengan sumringah. Arron adalah anak Kak Lenna dan Julius. Usianya terpaut 13 tahun denganku. Dia benar-benar mirip dengan Ayahnya, kecuali hidungnya. Hidungnya sangat mirip dengan Kak Lenna.
“Hallo, Ron.” Aku ber high five dengan Arron.
“Wah.. Kau membelinya, Paman? Bukankah mobil ini keluaran terbaru?” Arron antusias melihat mobil sport oranye milikku.
“Kau mau menyetirnya?” tanyaku.
“Tentu saja.”
Aku menyengir dan melemparkan kunci mobil sebelum masuk ke dalam. Arron juga ikut masuk dan mulai terkagum dengan interior mobilku. Padahal Papanya pengusaha kaya raya, tapi menyuruh Arron untuk mencari segalanya sendiri dari enol. Tak heran anak ini begitu menggebu-gebu melihat mobil baruku.
“Let’s go!” serunya bahagia.
Kami menikmati pemandangan alam yang indah selama perjalanan menuju ke Kota S. Kota tempat kelahiranku ini cukup maju, walaupun sebenarnya kota itu hanyalah kota kecil bila dibandingkan dengan ibu kota tempatku menetap saat ini.
Butuh 6 jam untuk kami sampai ke sana. Belum terhitung kalau kami beristirahat di rest area tol. Namun nyatanya kami bisa menempuhnya hanya dalam waktu 5,5 jam perjalanan. Entah berapa kecepatan yang telah di raih oleh Arron saat sedang berada di jalan tol. Ternyata anak ini benar-benar hebat dalam menyetir.
“Sampai, Paman.”
“Dasar anak gila,” umpatku sambil tertawa.
“Rekor bukan?” senyumnya senang.
Kami turun dari dalam mobil dan menuju ke rumah utama. Papa dan Mama serta Kak Lenna sudah menunggu kami di depan pintu. Arron langsung memeluk Mamanya kemudian Opa dan Omanya. Mereka sangat menyayangi Arron.
“Arvin.. ayo masuk!” Mama menyuruhku untuk tidak hanya berdiam diri saja.
“Kalian pasti lelah. Istirahat dulu sana!” perintah Mama.
Aku memang lelah, ingin rasanya merebahkan diri dan mandi air hangat. Tanpa menunggu lagi aku menaiki tangga menuju ke kamarku. Kamar itu sama sekali tak berubah dari sejak terakhir kali aku meninggalkannya. Masih tertata rapi dan juga bersih. Aku melihat foto-foto juga deretan piagam penghargaan yang pernah ku dapatkan selama bersekolah. Ternyata aku cukup perprestasi juga.
Tok tok tok..
“Arvin, boleh Mama masuk?” suara Mama terdengar di balik pintu.
Mama masuk, lengkap dengan nampan berisi teh hangat dan juga camilan. Sepiring penuh kudapan manis, eugh.. aku paling benci makan makanan manis karena membuat otot-ototku terlihat tak lagi kencang. Tak tahukah Mama kalau butuh perjuangan ekstra melelahkan untuk membentuk semua otot-ototku saat ini?
“Tumben Mama langsung kemari? Biasanya sayang-sayangan sama cucu kesayangan Mama dulu.” Aku semakin penasaran dengan maksud Mama.
“Hehe.. Mamakan juga kangen sama anak Mama.” ucapan Mama semakin membuat bulu kuduku merinding.
“To the point deh, Ma? Mama pengen apa? LV? D**r? Chan*l? Hermes? Apa mobil baru?” tanyaku dengan heran.
“Nope. Mama mau cucu, Arvin.” senyuman Mama melingkar begitu sempurna membentuk bulan sabit. Sedangkan bibirku langsung merespon ucapannya dengan melengkung ke arah yang berlawanan.
Aku menghela nafasku panjang, pertanyaan horor yang semula tak terdengar kini kembali muncul.
“Kan ada Arron,” jawabku singkat.
“Mama mau cucu lagi!!”
“Suru Kak Lenna buat lagi.” Aku membuka pakaianku, bertelanjang dada di depan Mama.
“Mama maunya dari kamu, Arvin!!” suara Mama mulai meninggi.
“Arvin belum menikah, Ma. Bagaimana bisa kasih Mama cucu?” Aku meminum teh pemberian Mama sebelum bergegas untuk mandi.
“Makanya, Mama sudah siapin istri buat kamu.” jawaban Mama langsung membuat air teh di dalam mulutku muncrat keluar.
“Apa?”
“Mama sudah atur kencan buta buat kamu besok. Anaknya cantik dan juga dari keluarga baik-baik.” Mama menepuk punggungku dengan lembut.
“Arvin nggak mau, Ma,” tolakku.
“Nggak bisa!!! Kamu harus datang!”
“Ma.. Tapi...,” belum sempat aku meneruskan kalimatku.
“Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya sebelum Mama mati, Mama mesti lihat kamu MENIKAH!!!” Mama berteriak, kalau Mama sudah berteriak begini, sudah nggak ada lagi kesempatan buat ngelawan ucapan Mama.
“Iya.. iya..,” akhirnya aku menurut. Kini aku tahu kenapa dia menyuruhku pulang. Bukan karena kangen, tapi karena ingin menyuruhku untuk pergi kencan buta.
Aku menggosok-gosok dahiku dengan telapak tangan. Pusing memikirkan ucapan Mama. Sekali lagi, aku bukannya nggak mau menikah. Tapi bagaimana kalau setelah menikah aku malah akan menyakiti istriku? Menyiksanya secara fisik juga batin. Mama ada wanita baik-baik yang mau di cambuk terlebih dahulu untuk memuaskan nafsu suaminya?
Lagi pula aku sudah punya wanita yang aku cintai. Walaupun aku masih belum bisa menemukannya.
Aku mencintai wanita itu. Dan walaupun orang bilang aku hanya membual tentangnya, atau membuang-buang waktuku untuknya, bahkan membuang tenaga juga membuang uang dan pikiran.
Namun bagiku perasaanku ini terasa begitu nyata untuknya. Aku mencintainya juga merindukannya.
— MUSE S2 —
Pagi ini aku mengebut untuk menyelusuri jalanan di kota S. Sedikit mencari udara segar untuk mengusir rasa penat. Lagi pula sudah lama aku tidak pulang dan aku merindukan kampung halamanku. Sepinya jalanan pada pagi hari terlihat begitu kontras dengan hiruk pikuk kehidupanku selama berada di ibu kota.
Jalanan terlihat becek dan penuh dengan genangan air. Mungkin karena semalam hujan turun dengan deras. Pagi inipun mendung sudah mulai hadir dan menyelimuti pagi dengan rasa dingin yang menusuk tulang.
Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan. Aku melipat siku di atas kemudinya dan membenamkan wajahku. Aku begitu sebal dengan perasaanku yang tak mau berhenti barang sekejappun dalam memikirkannya. Yup... Another night dengan rasa sesak dan hati yang hancur.
Belum ada hasil laporan dari Noah maupun Aleina. Berarti mereka belum menemukan wanita yang mirip dengannya. Aku kira aku akan segera berhasil menemukannya lewat bantuan gamers. Nyatanya tidak.
Ya, Tuhan sampai kapan aku harus menunggu agar aku bisa bertemu dengan dirinya lagi?
Ucapan Mama semalm juga begitu terngiang jelas. Dia ingin aku segera menikah dan memiliki anak, melengkapi setiap tahapan proses kehidupan yang harus aku jalani.
Akibat desakkan Mama, waktuku untuk menemukannya menjadi semakin sempit, karena cepat atau lambat Mama pasti akan kemabali memaksaku untuk segera menikah.
So, Aku harus segera menemukannya...
Aku kembali menginjak pedal gas, menyelusuri jalanan dengan kecepatan penuh. Awan pekat terlihat membumbung tinggi di angkasa. Mungkin sebentar lagi akan ada hujan deras.
— MUSE S2 —
Baca kisah Aarron di novel saya yang berjudul JAKA!!!
Lucu dan menggemaskan..
Yeeee.. MUSE UP
like dan comment
Jangan lupa di vote. biar Muse tambah femes. Ikut grup chatku yuk. Chat denganku.
MUSE juga lagi ada event berhadiah buat seru seruin lebaran.
Makanya VOTE MUSE!!
❤️❤️❤️❤️