
MUSE
EPISODE 16
LENNA
\~Benarkah aku mulai menyukai Lenna. Bukan sebagai adik tapi sebagai seorang wanita?\~
Aku nggak nyangka kalau candaanku akan menyakiti dirinya. Aku melihat kulit Lenna memerah karena terbakar sinar matahari. Harusnya aku menjemputnya naik mobil saja.
“Maaf, ya,” ucapku lirih.
“Nggak apa-apa kok.” Lenna menarik tangannya.
Kami hanya berbincang sedikit tentang kontrak kerja dan foto-foto editan yang akan dipasang di baliho-baliho dan poster iklan.
“Kenapa kamu nggak jadi model profesional saja sekalian?”
“Bisakah?”
“Pasti bisa.” Aku hanya memberikan masukan, tapi diluar dugaan ternyata dia menanggapinya dengan ekspresi yang begitu bahagia.
“Baik akan ku coba.”
Aku sangat menyukai ekspresinya, gadis polos ini membuatku terus ingin melindunginya. Membuatku ingin membantunya meraih segala impinnya.
“Mau aku bantu?”
“Bisa?
“Tentu saja.”
Perbincangan kami terhenti saat Darren datang.
“Ini lotionnya, Tuan.”
“Terima kasih.”
“Kemarilah aku oleskan.”
“Aku bisa sendiri, Kak.”
“Oke.” Aku memberikan botol hijau itu pada Lenna.
“Trims.”
“Perih, ya?” Aku penasaran.
“Nggak terlalu.”
Aku mengamati Lenna yang mengoleskan lotion di seluruh kulit yang memerah. Terlihat di pergelangan tangannya ada beberapa bekas luka.
“Bekas luka apa itu, Len?”
Lenna terdiam sesaat, ia menutup pergelangan tangannya.
“Kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa kok.”
Aku sudah bisa menebaknya, itu seperti bekas luka sayatan. Apakah Lenna pernah mencoba bunuh diri?
“Maaf nggak seharusnya aku bertanya.” Aku bangkit dan meninggalkan Lenna.
Ekspresinya berubah pilu saat aku mengungkit bekas luka itu.
Kenapa gadis yang baik bisa ingin membunuh dirinya sendiri?
—MUSE—
.
.
.
1 bulan kemudian
“Respon penjualannya bagus, Pak.” Yoan menyodorkan sebuah laporan. Terlihat grafik penjualan bulan ini yang mengalami banyak kemajuan.
“Bagus.” Aku tersenyum puas.
“Muse yang bapak pilih memang bagus.”
“Kerjamu juga bagus.” Aku mengembalikan laporan pada Yoan dan menyuruhnya meninggalkan ruanganku.
Aku beranjak dan berdiri di dekat jendela, karena ruang kantorku yang cukup tinggi aku bisa melihat wajah cantik Lenna yang terpampang di baliho gedung sebelah.
“Kau sudah selesai latihan? Di mana sekarang?” Aku menelfon Lenna untuk menanyakan kabarnya.
“Mau bertemu di cafe dekat kampusmu?”
“Oke aku ke sana sekarang.” Aku menutup telfon, bergegas turun dan berangkat menemui Lenna.
Beberapa hari ini aku benar-benar merindukan Lenna, merindukan untuk memotret dirinya. Entah sejak kapan aku sungguh menyukai figurnya sebagai seorang foto model.
Aku memarkirkan mobilku di area parkir depan cafe dan berjalan masuk. Memesan segelas americano dingin. Menyuruh pelayan menyajikannya di dalam tumbler yang kubawa. Saat menunggu pesanan mataku berputar mencari sosok Lenna, nggak butuh waktu lama untukku menemukannya karena dia memang terlalu mencolok.
“Dia ngobrol dengan siapa?” Aku melihat Lenna sedang asyik mengobrol dengan seorang pelayan cafe.
“Tunggu sepertinya aku pernah melihatnya.” Aku merasa pernah bertemu dengan cowok ini sebelumnya, tapi di mana ya?
“Oh iya aku ingat, teman kampus Lenna. Alex bukan ya namanya?” Aku berusaha mengingat-ingat namanya.
Kenapa Lenna bisa tersenyum dan tertawa seperti itu di depan Alex? Apa Lenna menyukainya?
“Silahkan pesanannya, Kak.”
“Trima kasih.”
Aku berjalan mendekati Lenna. Lenna yang mulai menyadari keberadaanku melambaikan tangannya padaku.
“Kak, di sini.”
Aku membalasnya dengan lambaian dan berjalan lebih cepat.
“Hallo, lama menunggu?” tanyaku memulai basa basi.
“Nggak kok, lagian ada Alex yang menemaniku ngobrol.” Lenna memandang Alex dengan mata berbinar.
“Halo.” Alex menjulurkan tangannya mengajakku bersalaman.
“Halo, Julius, kita pernah bertemu sebelumnya.”
“Iya aku ingat.”
“Kau teman kuliah Lenna?”
“Betul. Silahkan dinikmati kopinya, aku akan kembali bekerja.” Alex tersenyum pada Lenna dan meninggalkan kami.
“Ih imut banget sih.” Lenna bergumam lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Apaan? Siapa yang imut?”
“Yang pasti bukan anda.”
“Dasar, kalau gitu bulan ini nggak gajian.”
“Wa.. ampun..”
“Kau begitu mencintai uang?!” Aku mencubit hidung Lenna.
“Adududuh..”
“Bagaimana latihannya? Kau menikmatinya?”
“Nggak ada yang instan Lenna. Nikmati perjuangannya dan kau akan merasakan manis dari hasilnya.”
“Kenapa kau sangat bijak? Apa karena sudah tua?” Lenna meledekku. Dia tertawa keras.
“Dasar bocah nakal!” Aku menguryitkan alis tanda sebal padanya.
“Sory, Kak, bercanda.”
Aku masih membuang muka, perpura-pura ngambek. Entah kenapa bersama Lenna aku bisa menjadi seorang yang kekanak- kanakan seperti ini.
“Oh iya, kenapa mau ketemu aku hari ini?” Lenna menyeruput pelan hot latte di depannya.
“Aku kangen denganmu!” kataku jujur.
“Apa?” wajah Lenna memerah, aku sangat geli melihatnya.
“Hahahahaha...”
“Kau bercanda??”
“Tapi bener kok, aku kangen denganmu. Kangen ngefoto kamu tapi.”
“Dasar Om Om maniak!”
“Hei jangan panggil aku Om!”
“Om Om mesum.”
“Hei!”
“Om Om ganjen.”
“Sekali lagi kau panggil aku om, gajimu aku tahan 6 bulan.”
“O...m...maaf, ya, Kak.” Lenna langsung tersenyum dengan kaku.
“Dasar mata duitan.”
“Kamu suka dengan cowok itu, ya?” Aku menunjuk ke arah Alex.
“Ba.. bagimana kakak bisa tahu????”
“Bener, ya?”
“Huum.” Lenna mengagguk malu.
“Kau membuatku patah hati.”
“Jangan bercanda!” Lenna terdengar sebal.
“Aku nggak bercanda.”
“Kak??”
“Hahahaha.. ketipu deh.”
“Iihhh...”
Lenna cemberut, aku tertawa. Aku nggak ada perasaan apapun dengan Lenna, bagiku dia sudah seperti adik sendiri. Tapi entah kenapa saat melihatnya tersenyum kepada Alex ada sesuatu yang berdesir di dalam hatiku. Rasa yang nggak menyenangkan tiba-tiba muncul, dan itu terasa begitu menyebalkan karena aku nggak bisa mengontrolnya.
—MUSE—
Aku mengatur pencahayaan sebelum memulai sesi foto bersama dengan Lenna. Hari ini dia tampil anggun dan apa adanya, tanpa riasan, tanpa gaun mewah, tanpa assesoris apapun. Hanya sebuah gaun panjang model tank top berwarna putih.
“Pertahankan posisimu Lenna, senyum sedikit saja.Good.”
“Kau malah membuatku ingin tertawa, Kak!” Lenna cekikikan.
“Dasar, katanya mau jadi model profesional?”
“Ih bawel.”
“Ayuk lanjutin.”
“Ok.”
Setelah kurang lebih 2 jam kami menghentikan sesi foto dan melihat-lihat hasilnya. Lenna terlihat begitu antusias.
“Wah.. wajahku terlihat bintik-bintik, ya?” Lenna mengamati fotonya.
“Malah memberi aksen yang bagus.”
“Kok bisa?”
“Menurutku sih begitu.” Aku men-zoom in wajah Lenna.
“Aku sangat lelah, ternyata menjadi model bukan sesuatu hal yang mudah.” Lenna merebahkan diri di sofa.
“Nggak ada pekerjaan yang mudah,” sahutku.
“Bener juga sih.”
“Bagaimana pendapat Papamu?”
“Yah begitulah, awalnya dia sangat marah dan menentang.”
“Lalu?”
“Lama-lama mengijinkan juga. Mungkin karena melihatku berjuang dengan sungguh-sungguh.”
“Begitu, ya?”
“Yup.”
“Pakai baju sana, nanti masuk angin!” Aku menyuruh Lenna memakai luaran.
Dengan malas Lenna beranjak mengambil bajunya dan bergegas ganti.
—MUSE—
.
.
.
Hujan membangunkanku dari tidur. Leherku terasa begitu pegal, entah sudah berapa lama aku tertidur di depan laptop. Aku merenggangkan badanku dan menarik otot- otot lenganku agar tidak terasa kaku. Aku masih menguap, sepertinya aku terlalu bersemangat mengedit foto-foto Lenna semalam.
Aku melirik jam dinding, kulihat angka 3 dan 10, masih jam 3 dini hari.
“Lenna,” entah kenapa aku membisikan nama itu.
Melihat fotonya yang terpampang besar memenuhi layar laptopku membuat dadaku sesak.
Kenapa aku merasa seperti ini?
Bayangannya masih terus terbayang memenuhi benakku. Caranya tertawa, tersenyum, dan caranya cemberut membuatku senang.
Tanpa ku sadari aku senyum-senyum sendiri mengingatnya.
Benarkah aku mulai menyukai Lenna, bukan sebagai adik tapi sebagai seorang wanita?
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^