
MUSE S5
EPISODE 5
S5 \~ RONY
\~ Bella berjengit ke belakang saat tanganku menyentuh jemarinya, tanpa ragu aku menggenggam tangannya dengan erat. Seperti tak rela membiarkannya terlepas dariku.\~
___________________
LUCAS POV
Aku terdiam sesaat, masih terpaku pada deretan huruf yang tertulis di atas kertas bill. Alamat rumah Bella, aku membacanya berulang-ulang, namun pikiranku melayang pada hal lain.
Sebenarnya apa yang telah terjadi pada masa lalu gadis itu?
Kenapa juga dia menangis di depan pria asing hanya karna pria itu memanggilnya Ella?
Kenapa dia juga dia terlihat bingung dan sedih?
Lalu uang itu? Siapa yang mengambilnya?
Dengan cepat aku bangkit, masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju ke alamat yang tertulis pada secarik kertas lusuh itu.
Terbayang kembali wajahnya yang menangis sendu dan juga senyumannya yang begitu indah.
Hah, gadis itu benar-benar menakutkan! Dia telah berhasil menyihirku dengan pesonanya, membuatku begitu penasaran padanya.
Aku ingin tahu lebih jauh dan mengenal dirinya.
Aku ingin tahu mengenai kehidupannya yang terlihat begitu getir.
Bahkan, aku ingin tahu ekspresi apa lagi yang bisa disuguhkan oleh wajah cantiknya itu.
Tak butuh waktu lama, hanya lima belas menit dari cafe, ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku mengamati rumah itu, sederhana, jauh dari kata mewah. Catnya telah banyak mengelupas, dan tralis pagarnyapun ada yang bengkok. Lampu garasi dan teras tidak menyala, hanya lampu dari dalam rumah yang menyala.
BRAKK!!!
Terdengar suara benturan yang dibarengi dengan suara-suara keras dan bentakan kasar. Sepertinya penghuni rumah itu tengah bertengkar akan sesuatu. Aku mendekat agar bisa mendengar pembicaraan itu dengan lebih jelas. Sayup-sayup terdengar isakan tangis Bella dan kata-kata kotor keluar dari mulut mamanya.
Aku mendengus sebal dengan diriku sendiri, seharusnya aku tidak meminta uang itu kembali jadi Bella tidak perlu bertengkar dengan mamanya.
Aku menyesal sampai detik aku mendengar bahwa mamanya menyuruh Bella untuk menjual diri. Sudah gilakah dia menyuruh anaknya sendiri menjual diri?
Aku jadi merasa gusar, ingin rasanya mendobrak pintu itu dan bergegas masuk. Namun, siapa aku?? Yang ada mamanya malah akan melaporkan aku ke polisi karena masuk secara paksa. Lagi pula Bella pasti bakalan sangat terkejut melihatku ada di sini. Membuntutinya diam-diam.
BRAK!!
Seorang wanita dengan celana jeans panjang dengan tank top hitam dan outer jaket kulit keluar. Ia membanting pintu rumahnya dengan keras. Aku tak bisa melihat wajahnya, namun sepintas ia terlihat cukup cantik untuk wanita seusianya.
Aku kembali ke dalam mobil, sepertinya sudah tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Pertengkaran interen antara Bella dan mamanya sudah pasti bukanlah urusanku dan aku tidak bisa ikut campur begitu saja.
Sebelum sempat aku menghidupkan mobil, Bella keluar dari rumahnya. Wajahnya kacau seperti habis menangis. Hidungnya terlihat memerah karena sembab. Ada bekas lupa pada pelipisnya. Bella masih memakai baju yang sama dengan tadi, belum berganti pakaian. Dia berjalan perlahan menelusuri trotoar jalan. Aku keluar dari dalam mobil dan berjalan mengekor di belakangnya.
Bella masuk ke sebuah minimarket, membeli se-cup mi dan memakannya sendirian di bangku taman. Aku berdiri jauh di belakangnya. Mengamatinya dalam diam. Terus menatap wajahnya yang sendu, segetir apa kehidupan yang dia alami sampai makan saja terlihat begitu sedih.
Bella sesunggukkan sambil memakan mi instannya. Sesekali ia menghapus air mata yang turun dengan deras.
Oh, Bella, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Ingin rasanya aku berlari dan mendekapmu saat ini. Membisikkan kata-kata indah yang bisa menanggalkan semua bebanmu.
Tapi, akankah kau mengizinkan-ku untuk melakukan semuanya itu??
Akhirnya aku memutuskan untuk meneleponnya.
“Ha—halo,” sapanya.
“Kenapa suaramu sengau? Kau habis menangis?” tanyaku sembari berjalan mendekatinya.
“Tidak kok,” sanggah Bella, kenapa masih saja menyelak kesedihannya?
“Apa ada yang menyakitimu?”
“Tidak ada,” jawabnya
“Apa kau baik-baik saja, Ella?” Aku berjalan semakin mendekatinya.
“I-iya, aku baik-baik saja.”
“Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja.” Aku telah berdiri tepat di belakangnya, mata Bella melebar, kami bersitatap, seakan saling berbicara lewat pandangan mata. Menyiratkan rasa ingin tahu di dalam benak kami masing-masing.
“Lu—Lucas ...,” lirih Bella.
Yah, benar, aku ingin tahu ada hal buruk apa yang membuatnya bersedih sampai seperti ini?
Dan, pasti Bella juga ingin tahu kenapa aku berada di sini? Berdiri di depannya sambil memandang wajahnya dengan iba.
“Bella,” panggilku.
“Bagimana bisa kau di sini? Dan sejak kapan?”
“Sejak kau pulang dari cafe, aku terus mengikutimu.” Aku mengaku telah membuntutinya.
“Jadi kau juga mendengar semuanya?” Bella menutup mulutnya.
“Iya, maaf, aku hanya penasaran dengan kehidupanmu. Aku tak sengaja mendengarnya.”
“Kenapa kau penasaran dengan kehidupanku?” Bella bangkit, mundur beberapa langakah ke belakang, ia terlihat begitu takut padaku.
“Aku sendiri tidak tahu kenapa aku membuntutimu, Ella? Kenapa aku begitu penasaran terhadapmu?” Aku mendekatinya, sampai tepat berada di depan Bella.
“Kenapa aku begitu sakit saat melihatmu menangis?” Aku memberanikan diri untuk menggenggam tangannya.
Bella berjengit ke belakang saat tanganku menyentuh jemarinya, tanpa ragu aku menggenggam tangannya dengan erat. Sepertinya aku tidak rela membiarkan tangannya terlepas dariku.
“Sepertinya aku telah jatuh cinta padamu, Ella.”
— MUSE S5 —
AUTHOR POV
Fransisca memasuki sebuah bar di kawasan pinggir kota. Bar itu tidak besar dan tidak penuh hiruk pikuk keramaian. Hanya music jazz lembut yang mengalir menemani kesendiriannya bersama dengan sebotol kecil vodka.
Asap rokok mengepul dari bibirnya yang merekah sangat merah karena polesan lipstik. Sesekali fransisca menenggak vodkanya sambil mendesis pelan kerena mengecap aroma kuat alkohol.
Fransisca sama sekali tak ada niatan untuk menjual dirinya malam ini. Rasa sebal dan kemarahannya pada Bella membuat moodnya rusak.
Fransisca membenamkan kepalanya pada tekukan siku saat rasa pegar mulai datang.
“Sendirian?” Suara seorang laki-laki membuat wanita itu mengangkat kepalanya.
“Jangan sok kenal!” Fransisca menenggak kembali cairan kecoklatan di dalam gelasnya, pandangannya lurus. Tak melirik sedikitpun pada pria itu.
“Namaku Rony. Aku mengamatimu dari tadi, sepertinya kau sendirian dan sama frustasinya denganku.” Lelaki separuh baya itu memutar badannya menghadap Fransisca.
“Sok tahu,” kikih wanita itu, ia memandang sayu ke arah pria berumur hampir 50 tahunan itu. Walupun berumur, nyatanya wajahnya masih terlihat tampan dan menarik di mata Fransisca.
“Kenapa kau frustasi?” tanyanya sembari memesan minuman yang sama.
“Aku bertengkar dengan putriku.”
“Ah, masalah anak-anak. Aku juga sama, anak laki-lakiku tidak mau meneruskan bisnis yang ku rintis selama ini dan malah memilih menjadi konsultan keuangan. Mengemis pada orang-orang, memutarkan uang dengan nominal kecil.” Rony mendengus kasar saat menceritakan tentang pemberontakan anak semata wayangnya.
“Sepertinya kau orang kaya?” Fransiska menyangga kepalanya dengan telapak tangan dan memandang lekat ke arah Rony.
Pria tua itu juga memandang ke arah Fransisca, wajah cantik wanita ini ternyata mampu membuat seorang Ronny terpaku. Rony menelan ludahnya sembari mengendurkan dasinya.
“Berapa umurmu?” Rony malah balik bertanya.
“37 tahun ini, kau?”
“49 tahun ini.”
“Ah, haruskan aku memanggilmu Kakak atau bahkan mungkin Paman?” goda Fransisca sambil terkikih.
“Panggil nama saja, walaupun umur kita jauh namun sepertinya kita bisa saling mengakrabkan diri.” Rony mengangkat gelasnya.
“Oke, Rony, namaku Fransisca, kau bisa memanggilku, Sisca.” Fransisca mengangkat gelasnya. Bunyi dentingan terdengar saat mereka melakukan tos perkenalan.
Mereka berdua berbicara panjang lebar sambil sesekali tertawa bersama. Rony menceritakan tentang kehidupannya, dia memiliki seorang istri yang cantik bernama Katerina, namun Katerina sakit-sakitan, ia semakin lemah setelah melahirkan anak mereka. Jadi Rony hanya memiliki seorang putra saja.
“Siapa namanya? Dia pasti sangat tampan seperti Ayahnya?” Senyum Fransisca.
“Namanya Lucas,” jawab Rony.
“Nama yang bagus.”
“Kau sendiri bagaimana? Kenapa wanita sepertimu keluar semalam ini? Du mana suamimu?” Rony nampaknya juga mulai penasaran dengan kehidupan Fransisca.
“Suamiku sudah lama meninggal. Aku hanya hidup berdua dengan putriku yang cantik.” Fransisca kembali menyalakan sebatang rokok, “kau mau?”
“Boleh, sudah lama aku tidak merokok.”
“Hanya rokok mentol kecil, tidak terlalu berasa.” Fransisca menyalakan api untuk Rony.
“Kau sepertinya begitu ahli menghadapi seorang lelaki.” Senyum Rony sambil meniup asap rokoknya ke samping.
“Benar, memang itulah pekerjaanku. Apa kau tidak jijik padaku?” Fransisca menghisap rokoknya dan meniupkannya ke wajah Rony.
“Tak ada alasan bagiku untuk merasa jijik pada wanita secantik dirimu.” Rony memandang wajah Fransisca lekat, membuat semburat kemerahan menghiasi tulang pipi Fransisca.
Fransisca membuang muka, ia menenggak kembali vodka, memilih menenangkan hatinya yang berdebar tak karuan. Padahal sudah banyak lelaki yang merayunya demi harga terbaik untuk melewatkan satu malam bersama dengan dirinya. Tapi kenapa kali ini ia begitu berdebar hanya karena sebuah kalimat? Yang bahkan belum tentu itu adalah ucapan yang tulus.
“Tuan, Nyonya menelepon.” Tiba-tiba seorang lelaki seumuran Fransisca mendekati Rony, memberikan ponselnya kepada pria itu.
“Baiklah, ayo kita pulang.” Rony bergegas mematikan rokoknya dan bangkit berdiri.
“Sudah mau pulang?” tanya Fransisca.
“Iya, biar aku yang bayar minumannya.” Rony melambai pada petugas bar dan mengeluarkan kartu tanpa limit yang membuat mata Fransisca tak berkedip.
“Terima kasih.”
“Ini kartu namaku. Hubungi aku kalau kau butuh sesuatu.” Rony memberikan kartu namanya pada Fransisca, sepertinya pria ini juga mengharapkan hal yang sama dengan apa yang ada di dalam hati Fransisca.
Yah, mereka ingin saling mengenal lebih dekat. Walaupun obrolan singkat mereka hanya berkisar pada hal-hal umum tanpa rayuan apa pun, namun nyatanya bisa membekas dalam hati keduanya. Fransisca yang telah lama tak pernah mendapat perhatian seorang pria, dan Rony yang telah lama kehilangan cinta istrinya. Mereka diam-diam saling bersimpati dalam hati masing-masing.
“Baiklah. Sampai ketemu lagi, Rony. Salam untuk istri dan anakmu.” Lambai Fransisca.
“OK. Bye, Sisca.”
Fransisca terus menatap punggung Lelaki tua itu sampai menghilang. Ia lalu membaca kartu nama di tangannya. Mulutnya membuka setengah tak percaya. Pria itu adalah Rony, pemilik sebuah grup besar yang bergerak di bidang properti dan perumahan.
Pria ini pasti sangat kaya, pikir Fransisca dalam hatinya.
Aku harus mendekatinya, siapa tahu kehidupanku bisa berubah? Fransisca tersenyum, moodnya kembali membaik.
— MUSE S5 —
MUSE UP
Love
Like
Comment
Vote
Dukung author rengginan jadi author femes 🤣😝🥰