MUSE

MUSE
DUNIAKU



MUSE


EPISODE 26


DUNIAKU


\~Cinta bukanlah sebuah hal yang remeh, Lenna. Karna dunia ini dibangun oleh cinta\~


“Ba*****n, sialan!!” Aku terus mengumpat sebal setibanya di apartemen Lenna.


Aku membanting pintu apartemen Lenna dengan keras, menyalurkan sedikit emosi yang memuncak.


“Maafin aku.” Lenna menangis.


“Sejak kapan kalian kembali bertemu??” Aku menggoncangkan tubuh kecilnya.


“Seminggu ini, Kak.”


“Sudah berapa kali???” suaraku mulai meninggi.


“3x kak, sumpah aku mau cerita kepadamu.” Lenna menatapku dengan takut.


“Kenapa???”


“Pekerjaan.” jawab Lenna.


“Kurang uangkah kamu sampai menerima pekerjaan dari dia?? Ataukah kamu memang masih ingin bersamanya??” Aku sangat marah mendengar Lenna mengutarakan alasannya.


“Aku hanya ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik. Tanpa menyakiti semuanya.”


“Kenapa kau begitu naif??! Apa wajahnya terlihat akan melepaskanmu???” Aku kembali menggoncangkan tubuhnya.


Lenna membuang muka dan menundukan kepala, butiran air mata keluar dari matanya yang bulat. Menetes dan jatuh ke lantai.


“Maafkan aku.” Aku memeluk tubuh Lenna. Kelihatannya aku sudah keterlaluan.


“Huhuhuhu..” suara tangisannya semakin menjadi-jadi.


“Aku terlalu emosi, aku cemburu.” Aku mengangkat dagu Lenna agar dia memandangku.


Lenna masih terus menangis. Apa yang harus aku lakukan agar dia mau berhenti menangis??


“Hah... sudahlah.” Aku menyerah dan memeluk erat tubuhnya.


—MUSE—


“Kosongkan semua jadwalku hari ini. Aku akan mengantar Lenna.” Aku menelfon sekretarisku agar membatalkan semua jadwal pekerjaan hari ini. Lenna ada peragaan busana dan aku akan mengantarnya.


Setelah apa yang terjadi kemarin aku belum tega meninggalkan Lenna sendiri. Melihat laki-laki itu kemarin membuatku sebal dan marah. Pandangan dinginnya saat menatapku dan obsesi yang terlihat di matanya saat memandang Lenna sungguh memuakkan.


Setidaknya aku tidak mau Lenna kembali tersakiti karena dirinya. Aku harus menjaga Lenna dari Alex.


“Sudah siap?” Lenna menghampiriku.


“Ayo berangkat.” Aku menggandeng tangan Lenna.


Kami sampai di sebuah hotel berbintang 5 di pusat kota. Jessi sudah menunggu Lenna, lengkap dengan tim make up. Aku tersenyum setelah Lenna melambaikan tangannya dan berlalu bersama Jessi.


“Aku harus mencari sebuket bunga,” pikirku.


Aku kembali mengendarai mobilku menuju sebuah florist untuk membeli sebuket bunga. Rencananya aku akan memberikannya kepada Lenna saat dia selesai tampil di catwalk.


“Tolong, rangkaian yang paling cantik.” Aku mengeluarkan kartu dari dompetku.


“Dia suka lavender.” Aku menoleh kaget ke arah suara itu, seorang laki-laki dengan jaket hitam, topi dan tertutup masker memesan bunga lavender.


Dengan emosi aku menarik pundak laki-laki itu, aku mengira dia adalah Alex, karena Alex sering mengirim bunga lavender kepada Lenna.


“Alex!!” seruku.


“Siapa??” pria itu membuka maskernya, dia bukan Alex.


“Maaf, aku kira kenalanku.” Aku melepaskan cengkramanku.


Entah kenapa aku jadi sedikit ketakutan. Aku takut Alex akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Lenna. Merebut Lenna dariku. Aku tahu jauh di dalam hatinya Lenna masih menyimpan kenangan akan sosok Alex yang pernah dicintainya.


Aku keluar setelah mendapatkan buket bunga, menghela napas beberapa kali sebelum menyetir kembali ke hotel.


“Semoga dia suka.” Aku mencium bunga di tanganku.


Aku berjalan dan memilih tempat duduk di barisan paling depan. Hari ini perasaan busana dari Viannie, seorang disainer baju dan perhiasaan yang sedang naik daun. Suaminya Andre adalah temanku saat kuliah di luar negri.


Satu per satu model maju dan memeragakan busana, mereka melenggak lenggok dengan luwes. Tak terkecuali Lenna, aku tersenyum saat dia tampil. Lenna terlihat sangat anggun dengan balutan dress panjang berwarna kream.


Setelah dress masih ada baju casual dan baju musim dingin yang diperagakan Lenna. Semuanya terlihat cantik di tubuh Lenna.


“Aku harus membeli semua koleksi yang Lenna pakai,” pikirku, semuanya terlihat sempurna di tubuh Lenna, membuatku bingung memilihnya.


“Thanks.” Lenna membalasnya dengan kecupan ringan.


“Capek?”


“Huum.” Lenna menyisir rambutnya kebelakang telinga.


“Kenapa wajahmu murung.”


“Apalagi kalau buka nyinyiran.” Lenna terlihat cemberut.


“Mau aku balaskan?”


“Nggak usah.” Lenna menggengkan kepalanya.


“Angkat kepalamu Lenna, buktikan kau nggak menyerah hanya karena suara sumbang mereka.” Aku menyentuh kedua pipinya.


“Jangan tunjukan kekesalanmu, kalau perlu hina mereka balik! Caci maki mereka! Aku akan selalu ada untuk membelamu.” Aku kembali mendorong semangatnya.


“Iya bawel. Cium saja aku agar kembali semangat.” Lenna mendekatkan wajahnya, aku menyambut dengan sebuah ciuman mesra.


“Ah kalian, tiap ketemu pasti bermesraan.” Jessi mendekat.


“Hahahaha.. kebetulan aja kales.” Lenna melepaskan pelukanku.


“Ini, dari Alex.” Jessi memberikan seikat bunga lavender.


“Apa??” Lenna kaget dan memandangku bergantian dengan buket bunga itu.


Aku merebutnya dari tangan Jessi dan membuang bunga itu.


“Ih kenapa, sih??” Jessi terlihat kesal.


“Bagaiamana dia tahu jadwal Lenna??” Aku terkejut.


“Betul juga, dia tahu aku di sini?” Lenna memucat.


“Iya, ya.. kok dia bisa tahu? Jangan-jangan dia selalu membuntutimu?” Jessi mengatakan hal yang kutakutkan.


“Sialan!!”


—MUSE—


Malamnya aku kembali menginap di apartemen Lenna. Sudah beberapa hari ini aku menemani Lenna. Aku terlalu takut dan khawatir Alex berbuat nekat padanya.


“Jangan keluar sendiri tanpa ditemani Jessi atau aku.” Aku mengelus lembut lengan Lenna.


“Iya.” Lenna mengangguk.


“Kenapa dia bisa berubah seperti itu? Dulu dia pria yang lucu dan lembut.”


“Aku tidak suka kau memuji cowok lain.” Aku mencubit kedua pipi Lenna.


“Auch.. aku jadi takut, padahal dulu kita tidak pacaran. Aku juga baru tahu dia mencintaiku.” Lenna menunduk resah.


“Cinta bukanlah sebuah hal yang remeh, Lenna. Karena dunia ini dibangun oleh cinta,” ucapku.


“Berarti duniaku dibangun oleh cintamu donk?” ledek Lenna, bisa-bisanya dia bercanda saat aku ngomong dengan serius.


“Iyalah.. akan aku isi duniamu dengan penuh cinta. Mau pembuktian?” Aku mendorong tubuh Lenna sampai rebah di atas sofa.


“Hahaha.. lepasin!! Stop!! Aku belum mandi.” teriak Lenna.


“Nggak perlu, kau sudah cantik..!” Aku mencium dan ******* lembut bibirnya yang ranum.


Desahan demi desahan keluar dari mulutku dan mulutnya. Berirama dengan lembut dan nyaman, beradu ciuman mesra.


Sesekali aku menyentaknya dengan lebih keras, dan peluhpun menetes membasahi tubuh kami berdua.


Cinta membuatmu buta, membuatmu selalu haus akan aroma manis dari tubuhnya, membuatmu selalu menantikan saat-saat bertemu dan bersatu.


Sebenarnya aku bisa memaklumi perubahan pada diri Alex yang menggila karena cinta. Kalau aku yang di posisinya mungkin akupun akan gila karena merindukan Lenna. Lenna sungguh gadis yang spesial, dia pantas untuk dicintai dan menerima banyak cinta.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^


Bagi Vote buat Muse