
MUSE S6
EPISODE 18
S6 \~ MENYERAH
\~Rancaun demi rancaun lolos dari bibirnya yang merekah penuh. Bukti cinta dan gairah yang begitu panas. Bara asmara membuat kedutan puncak kenikmatan terasa semakin indah. \~
_________________
Gemericik air sedingin es yang mengalir membasahi kepala Gabby bercampur dengan air matanya, menghapus rasa asin dan merubahnya menjadi rasa manis. Mineral alam membuat penukaran saliva di dalam rongga mulut mereka semakin terrasa menggairahkan.
“Ich liebe dich, Schatz,” lirih Ivander pada telinga Gabby.
(Aku mencintaimu, Sayang.)
Gabby menangis, meletakkan wajahnya pada dada bidang Ivander. Terisak pelan, menangisi cinta yang muncul pada tempat dan orang yang salah. Sudah dua kali ia merasakan cinta, dan keduanya adalah hal yang SALAH!
“Kenapa kau menangis?” Ivander mengangkat dagu Gabby agar menatap wajahnya.
“Aku benci dengan perasaan ini, Van.”
“Kenapa? Aku kira cinta adalah hal yang indah? Tiap manusia menginginkannya, bukan?”
“Andai saja cinta tak salah memilih tempatnya, Van. Mungkin tak akan membuatku semenderita ini.” Gabby meremat dadanya sesak.
“Hei, Schatz. Apa kau khawatir pada perasaan Adrian?”
“Mungkin.” Gabby berbohong, ia tak mungkin menceritakan kesesakkannya karena Krystal telah mati di tangan Ivander dan Gabby malah bermain perasaan dengannya.
“Sudahlah, aku akan menunggumu putus dengannya. Tapi tolong cepatlah, karena aku tak tahu sampai kapan bisa memendam rasa cemburu ini.” Ivander memeluk Gabby.
Gabby mendesah pelan, ia harus segera membunuh perasaannya, ia harus membunuh rasa cintanya terhadap Ivander sebelum tumbuh lebih besar dan mengakar lebih dalam lagi.
“Sudah, jangan menangis. Kau membuatku menderita karena harus melihat air matamu.” Ivander mengecup lelehan air mata Gabby.
Segarnya air pegunungan berubah semakin dingin. Angin juga semakin kencang karena hujan mulai turun rintik-rintik.
“Hujan?” Gabby menengadah ke atas, memandang langit yang mulai gelap karena mendung.
“Pegunungan memang sering hujan, Gabby. Ayo kita sudahi main airnya.” Ivander menggandeng Gabby untuk kembali ke dalam vila.
Mereka berdua berlari menembus hujan yang semakin turun dengan deras, udara dingin keluar membentuk kabut tipis. Membuat tubuh keduanya menggigil kedinginan.
“Cepat masuk dan keringkan tubuhmu.” Ivander menyahut handuk kering dari tangan Icha dan langsung melilitkannya pada tubuh Gabby sebelum melilitkan yang lain pada tubuhnya juga.
“Dingin sekali, Van.” Bibir Gabby bergetar.
“Kemari, aku bantu mengeringkannya. Icha bisa kau buatkan kami minuman hangat, tolong bawa ke kamar, ya.” Pinta Ivander.
“Siap, Tuan.”
Gabby dan Ivander sudah berganti dengan pakaian hangat. Ivander mengeringkan rambut Gabby agar tak semakin kedinginan, rambutnya yang panjang menyimpan banyak air dan itu bisa membuatnya masuk angin kalau tidak segera kering.
“Bagaimana, Gabby? Masih dingin?” Ivander meniupkan napasnya pada telapak tangan Gabby, ia juga menggosoknya perlahan dengan jemarinya, berbagi kehangatan.
“Iya, masih, dingin sekali Ivander.” Badannya menggigil, Ivander memberinya minuman hangat dan manis. Gabby meminumnya dengan cepat, padahal minuman panas itu mengepul, tapi tidak terasa panas pada lidah Gabby yang beku.
“Lebih baik?” Ivander kembali mengeringkan rambut Gabby.
“Sedikit.” Gabby memeluk dirinya, mendekapkan selimut tebal pada tubuhnya.
“Maaf, ya, aku membuatmu kedinginan.” Rasa khawatir membuat wajah tampan Ivander berkerut. Gabby membalasnya dengan tatapan lesu.
“Kemarilah, Gabby!” Ivander mendekap tubuh ramping Gabby, mendekapnya dengan sangat erat, Ivander terus mengelus lengan Gabby agar ia merasa hangat.
“Ugh,” desah Gabby.
“Küss mich, Schatz. umarme mich, aku akan membuatmu hangat dengan suhu tubuhku.” Ivander melepaskan sweater abu-abu miliknya.
(Cium aku, Sayang! Peluk aku.)
Gabby mengangguk saat Ivander melepaskan sweater pink yang dipakainya. Gabby bergegas masuk dalam pelukan Ivander, Ivander langsung mencium bibir ranum Gabby, melumattnya. Rasa manis dan hangat mulai merebak ke seluruh rongga mulut, hasrat dan gairah yang muncul dari panggutan itu membuat suhu tubuh keduanya menghangat.
Ivander menarik selimut menutupi tubuh keduanya, dalam gelap dan hangatnya selimut, Ivander meneruskan ciumannya, membuat Gabby tak lagi menggigil karena dingin. Napas Ivander yang semakin panas berpindah, turun pada leher Gabby yang sensitif. Gabby mendesahh pelan, menahan rasa nikmat yang dihasilkan oleh kecupan-kecupan basah dari bibir Ivander.
“Sudah hangat?” Ivander kembali memeluk Gabby, mengelus wajah cantiknya dengan punggung tangan.
Terlihat gelap di dalam selimut, namun samar-samar Gabby masih bisa melihat wajah Ivander yang tampan, wajahnya terlihat hangat, penuh perhatian dan begitu mempesona. Kini Gabby tahu, kenapa Krystal bisa tergila-gila dengan pria di depannya ini.
“Sudah.” Senyum Gabby, wajahnya ikut menghangat, cepat-cepat tangannya mendekap kedua dadanya, memberi jarak aman dengan tubuh Ivander. ia baru menyadari bahwa kini tubuh bagian atasnya benar-benar polos.
“Warum schüchtern?” Ivander terkikih melihat respon Gabby yang terlihat begitu manis baginya.
(Kenapa malu?)
“Menurutmu??” Gabby mencibirkan bibirnya. Ivander tersenyum, ia mengelus bibir manyun Gabby dengan ibu jarinya.
“Du bringst mich dazu, dich zu haben, Schatz! Persetan dengan janjiku yang tak akan menyentuhmu sampai kau mencintaiku, Gabby.” Ivander bangkit, menindih Gabby, lengan kekarnya berada di samping wajah Gabby, menyangga kokoh tubuh Ivander. Membuat otot-ototnya semakin menegang kencang.
(Kau membuatku ingin memilikimu, Sayang.)
“Ivander!” Gabby mendorong dada Ivander. Ia terus membuang muka, memandang Ivander hanya akan membuatnya ikut menyerah.
“Tatap aku, Gabby!” Ivander mengecup pergelangan tangan Gabby, membuat getaran menjalar ke seluruh tubuh Gabby. Membuat gadis itu kembali jatuh dalam pesona dan hasrat yang dipercikkan oleh Ivander.
(Kau menang, aku menyerah.)
Ivander melucuti semua pakaian Gabby, membuatnya polos tanpa sehelai benangpun. Tangan hangat Ivander menggerayang naik dari paha ke arah pantat. Gabby mendesahh pelan, gerakan sensual keduanya menimbulkan uap panas dari peluh yang menetes.
“Bagaimana? Perutku lebih keras dari milik Adrian, bukan?” Ivander membanggakan dirinya saat Gabby mengecup otot perutnya.
“Mana aku tahu?!” Gabby mengangkat bahunya.
“Kau tidak pernah tidur dengan Adrian?”
“Apa bagimu semua wanita bisa tidur dengan sembarangan pria?” Gabby sewot.
“Jadi kau ... kau masih gadis??” Ivander berbinar bahagia, tak terlukiskan lagi rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya tak kala mengetahui bahwa dia yang pertama bagi Gabby.
“Lanjut atau tidak?”
“Tentu saja!” Ivander kembali melancarkan serangannya ke tubuh Gabby, membuat wanita kesayangannya itu mengerang penuh irama.
“Aaachhh!!!” Gabby merancau, ia mencakar bahu Ivander, melampiaskan rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang aneh.
“Sakit?!” tanya Ivander.
“Menurutmu?!” Gabby menggigit bibir Ivander karena sebal.
“Auch.”
“Baiklah, aku akan melakukannya sepelan mungkin, Gabby! Nikamatilah, nikmati cinta dan hangatnya persatuan yang terjadi di antara kita.” Ivander mencumbu leher Gabby yang jenjang, jemari mereka tertaut, Ivander menggenggam erat tangan Gabby.
Gabby memejamkan matanya saat tubuh mereka berdua mulai bersatu. Ivander menepati janjinya, menghentak sepelan dan senyaman mungkin di dalam tubuh Gabby.
Rasa panas dan perih menjalar ke sekujur tubuhnya, membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Peluh menetes semakin deras, membasahi tubuh keduanya. Rancaun demi rancaun lolos dari bibirnya yang merekah penuh. Bukti cinta dan gairah yang begitu panas. Bara asmara membuat kedutan puncak kenikmatan terasa semakin indah.
“Argh!!” Ivander merebahkan tubuhnya di atas tubuh Gabby setelah mencapai puncaknya.
Air mata Gabby menetes perlahan, menyesal pun sudah terlambat. Ia menyerahkan segalanya pada pria yang telah menbunuh Krystal, sahabat dan juga wanita yang pernah dicintainya.
Maafkan aku Krystal, maafkan aku yang menyerah atas nama cinta.
“Jangan menangis, aku tak akan pernah membuatmu menyesal telah memilihku.” Ivander mengecup daun telinga Gabby. Pria berambut coklat itu tak tahu kalau Gabby menangisi kelemahannya, menangisi rasa bersalahnya kepada Krystal. Kembali terbayang jelas gambaran kematian Krystal, betapa mengerikannya kondisi mayatnya saat Gabby masuk.
“Kenapa, Ivander?” Gabby semakin terisak, masih tak tahu kenapa pria yang memperlakukannya dengan sangat lembut ini bisa tega membunuh Krystal?
“Gabby??” Ivander mengangkat wajahnya, keheranan memandang wajah cantik Gabby yang bersimba keringat dan juga air mata.
“KENAPA?!!” Gabby meraung, ia memutar tubuh Ivander, menindihnya. Kini Gabby yang duduk di atas tubuh Ivander.
“Apa maksudmu??” Ivander menyipitkan matanya.
“Kenapa kau membunuhnya??” tanya Gabby, ia memberikan beberapa pukulan pada dada bidang Ivander.
“Gabby?!” Wajah Ivander memucat.
“Dia begitu mencintaimu! Dia hanya menginginkan secuil cinta darimu!! Dia hanya butuh dirimu.” Gabby menangis, akhirnya ia mengutarakan isi hatinya, sederas air matanya.
Sebilah pisau buah tergeletak tak jauh dengan minuman hangat yang disuguhkan oleh Icha di atas nakas. Gabby melirik, dengan segera ia menyahut pisau yang dipakai Ivander mengupaskan apel untuknya pagi tadi.
“Gabby?? Kau mau apa?” Ivander terlihat syok dengan tingkah Gabby yang mendadak berubah.
“Katakan padaku alasannya?! Katakan kenapa kau begitu kejam padanya?!” Gabby terus menjerit.
“Gabby, aku sungguh tidak tahu apa maksudmu?” Ivander mencegah Gabby, namun Gabby sudah mengangkat pisaunya lebih tinggi di atas kepala.
“Jangan pura-pura Ivander. Kau yang membunuhnya, kau yang menyiksanya sebelum ia menghembuskan napasnya. Kau merenggutnya dariku, kau menyia-nyiakan segala yang ia korbankan untukmu!” Air mata Gabby turun dengan deras.
“GABBY!!!” hardik Ivander.
“KENAPA???” balas Gabby.
“Siapa?? Siapa yang kau maksud?” Ivander semakin kebingungan, cemas, dan takut.
“KRYSTAL!! Kenapa kau membunuhnya?? Kenapa kau membunuh Krystalku??” Gabby berteriak, ia mengayunkan pisaunya.
“TIDAK!!” jerit Ivander.
Suara guruh membungkam jeritan demi jeritan yang berasal dari dalam kamar itu.
— MUSE S6 —
Waduh ...?!
Ivanderkah yang membunuh Krystal?
Terus Gabby membunuh Ivander?
Tamat donk ya?? 🤣🤣🤣
Dah ah, see yu next episode gaes
Jangan lupa di vote!! Di like!! Di comment!!
Lop lop lop
ich liebe dich, baby!! othor berbisik pada readersnya!!! Ahahahahaha...