MUSE

MUSE
S2 ~ KEPUTUSAN



MUSE S2


EPISODE 36


KEPUTUSAN


\~ Meski aku harus jatuh terperosok ke dalam lubang yang paling hitam dan gelap sekalipun.\~


Pip pip pip..


Bunyi peralatan medis di dalam ruangan Papa dan Mama terdengar menyesakkan. Aku dulu meremehkan suara itu saat sinetron di TV menayangakan adegan pemain yang sedang kritis. Aku pikir itu hanya settingan suara yang membentuk suasana tegang pada setiap adegan menjelang kematian.


Tapi, setelah mendengarnya sendiri secara langsung. Ternyata bukan hanya ketegangan yang terus terasa, tapi juga kecemasan dan ketakutan.


Aku takut alat-alat itu berhenti menggambarkan pergerakan naik turun, berubah menjadi satu garis lurus. Atau mendadak nada alaramnya menjadi cepat sebagai tanda oksigen atau detak jantung orang tuaku sedang mengalami penurunan.


Aku bahkan masih bisa mendengar suara itu terngiang-ngiang saat aku mencoba untuk tidur. Entah kenapa aku sering bermimpi buruk akhir-akhir ini, aku sering ketakutan, aku takut pada suara itu.





Aku terduduk di bangku panjang dari besi. Ruang tunggu ICU itu terlihat sepi karena memang malam telah larut. Dalam kesepian ini hatiku terasa semakin sesak. Dentingan jam terdengar memekakkan telinga. Aku mencoba mengalihkan fokusku pada amplop coklat yang telah ku remat sampai lusuh.


Aku menyobek bagian ujung amplop dan mengambil kertas print out tagihan rumah sakit. Aku membuka lipatannya perlahan, kertas sebesar hvs A4 itu terlipat rapi menjadi 4 lipatan.


Delapan puluh tujuh juta enam ratus ribu rupiah.


Ah.. hatiku langsung ambles, dari mana lagi aku dapat uang sebanyak itu?


Apa benar kata Melody harusnya aku jual diri saja? Melody bilang cukup dengan memejamkan mata maka semuanya akan segera berakhir.


Aku sudah tak lagi menangis, air mataku kering. Sudah cukup aku kehilangan cintaku hari ini, aku nggak mau kehilangan orang tuaku. Aku harus mengusahakan apa pun agar mereka bisa bangun dan kembali tersenyum padaku. Meski aku harus jatuh terperosok ke dalam lubang yang paling hitam dan gelap sekalipun.


Saat ini aku memang gadis yang naif dan bodoh. Putus asa dan tak punya pegangan. Saudara satu-satunya dari pihak Papa pun sudah membodohiku, kabur dengan uang terakhir yang ku punya. Menyisakan hutang menumpuk pada pihak bank. Kini aku sebatang kara.


“Halo Melody..”


Akhirnya aku putuskan menelfon Melody.. mencari secerca harapan semu. Menyerahkan diri sepenuhnya pada dosa. Karena bagiku sekarang sudah tak ada lagi nama Tuhan.


Mungkin juga bukan itu alasanku..


Satu hal yang pasti...


Aku lelah...


— MUSE S2 —


Esoknya..


Melody datang menghampiriku di rumah sakit. Sudah lama aku tidak masuk sekolah, aku malas belajar karena memang tak ada satupun pelajaran yang bisa masuk ke otak. Otakku jauh lebih memilih memikirkan keadaan orang tuaku atau meratapi kesialanku.


“Liat ini!” Melody menunjukan sebuah video, aku menontonnya dengan jijik. Bukannya aku sok suci, tapi aku sungguh tak pernah menyukai hal-hal berbau sexx sebelumnya.


“Euh.. bisa kau matikan? Aku mual,” pintaku.


“Oke.” Melody mematikan videonya dan memandang padaku dengan iba.


“Yakinkan? Nggak bisa mundur hlo.”


“Huft.. aku tak menyangka akan menjadi dekat denganmu dengan cara seperti ini.” Melody tersenyum simpul, aku tahu dia mencoba mengasihaniku.


“Kau sendiri kenapa bisa terjun ke dunia seperti ini?” tanyaku penasaran.


“Sama, ekonomi. Kaukan tahu aku anak yatim. Papaku penjudi dan pemabuk. So, dari pada di hajar tiap hari aku kabur dari rumah. Ya jadi gini deh jadinya, cari kerjaan yang nggak jelas demi menyambung hidup.” Melody meletakkan tasnya pada bangku ruang tunggu, nampaknya dia mulai lelah berdiri.


“Kau nggak nyesel?”


“Nyesel awalnya doang.. Lama-lama udah mati rasa.” Melody terkikih, memang banyak yang bilang kalau sekali kau mengenal hubungan intim kau akan terus menginginkannya.


“Cuma tinggal buka baju dan tidur terlentang sajakan?” Aku menanyakan hal yang cukup aneh kelihatannya. Terlihat dari cara Melody menatapku dengan alis yang terangkat sebelah.


“Semacam itulah. Sedikit centil juga biar tips-mu banyak.”


“Ah.. begitu.”


“Apa kau tidak punya foto yang lebih cantik dari ini?” Melody menunjuk ke arah layar ponsel, foto yang ku kirim memang terlalu formal. Pas foto saat aku melamar kerja sambilan minggu lalu. Tapi aku tak diterima karena belum punya KTP.


“Kenapa?”


“Yah siapa yang tertarik dengan foto polosan begini? Kau tak akan bisa terjual mahal.” Melody menggelengkan kepalanya.


“Biarlah, tak perlu mahal yang penting cukup untuk membayar biaya RS.”


Melody terdiam sejenak, ia mengatur nafasnya, memberi jeda pada ucapannya. Tak biasanya dia sebawel ini. Entah kenapa cewek yang biasa bertengkar denganku bisa menjadi sedekat ini karena masalah yang sama.


Aku masih mengamati wajah cantik Melody saat dia memberikan sesuatu padaku, “apa ini?”


“Obat, biar nggak hamil.” Melody bangkit. Aku memandang obat pemberiannya dengan pilu.


“Ke mana? Mau pulang?” tanyaku saat melihat Melody kembali bangkit dan menyandang tasnya.


“Iya pulang. Jangan lupa belajar kaya yang di video tadi! Cowok suka kalau ceweknya punya inisiatif.”


“Oke.”


Melody mencengkram pundakku, “kalau kamu mau mundur, masih belum terlambat, La.”


“Iya,” jawabku lirih.


Ya.. saat ini mungkin aku akan menyesali keputusanku ini..


Mungkin juga tidak..


— MUSE S2 —


Berikan like dan commentnya ya readers..


Vote untuk dukung kisah cinta Arvin, Kalila, dan Angga.


❤️❤️❤️


See yu next episode..


Buang sampah pada tempatnya.


Pray for IND dan Dunia. Semoga corona cepat ditemukan obatnya ya.


God bless us..