MUSE

MUSE
S5 ~ HATI



MUSE S5


EPISODE 16


S5 \~ HATI


\~Aku memeluk tubuhnya, mendekap erat sambil memejamkan mataku. Aku tak mau kehilangan keindahan ini, aku tak mau kehilangan percikkan cinta yang tengah membara di antara kami saat ini.\~


_____________________


BELLA POV


“Cium aku, Ella! Cium aku seakan-akan ini adalah hari terakhir kita,” pinta Lucas padaku.


“Emph ....” Kukullum bibirnya yang kenyal, sesekali kuberikan sesapan manis yang dalam, membuatnya mengeraang karena rasa nikmat.


“Kau mulai pintar berciuman, Sayang.” Lucas menggodaku, membuatku malu.


“Bukankah kau juga suka?”


“Huum, suka sekali.” Lucas mencium pundakku, namun tangannya masih bekerja di bawah sana.


“Kau siap?” bisik Lucas.


“I-iya,” ucapku singkat sebagai jawaban.


Deruan napas Lucas terasa panas saat menyentuh kulitku.


Irama detak jantung mengiringi cumbuan kami, melaju dengan cepat dan tak terkendali.


Basah, hangat, dan penuh kenikmatan.


Hentakan tubuhnya membuatku terbang entah ke mana, menyakitkan namun sekaligus indah.


Lucas bergerak perlahan saat menyatukan tubuh kami. Membuatku merasakan denyutan pelan yang membawaku pada puncak kenikmatan itu.


Desahan napas dan rancauan pelan mengiringi indahnya persatuan dan manisnya cinta di antara kami.


“Arg ... Lucas, aku merasa aneh!!” rancauku, ada rasa yang tak terlukiskan terjadi di bawah sana.


“Jangan ditahan, Ella. Keluarkan saja!”


“Arg ...!” rancauan kami kembali terdengar merdu, aku menggenggam erat sprei sampai kusut demi menahan hentakan tubuh Lucas.


“Aku mencintaimu, Ella, sangat,” kata Lucas, keringat membasahi rambut hitamnya.


Pandangan matanya yang menatapku dengan penuh cinta membuat hatiku begitu luluh karenanya.


Sungguh, aku juga mencintai pria ini dengan segenap hatiku.


Sungguh, aku menyayangimu dengan segenap tubuh dan jiwaku.


Aku rela melakukan apa pun untukmu Lucas. Aku rela memberikan segalanya demi dirimu, bahkan bila kau meminta nyawaku.


“Aku juga mencintaimu, Lucas,” jawabku di sela-sela desahan kami.


Aku memeluk tubuhnya, mendekap erat sambil memejamkan mataku. Aku tak mau kehilangan keindahan ini, aku tak mau kehilangan percikkan cinta yang tengah membara di antara kami saat ini.


“Arg ...!”


— MUSE S5 —


AUTHOR POV


Di tempat lain, Rony sedang mengguyur tubuhnya dengan air hangat sementara Fransisca menunggunya di luar seperti biasa. Fransisca mengambil ponsel milik Rony, dengan segera ia mencari kontak milik Katerina istri Rony sekaligus penghalang cinta terbesarnya. Entah apa yang sedang ia rencanakan sore tadi, yang pasti kesabarannya sudah habis. Mau tidak mau ia harus campur tangan untuk menyelesaikan segera hubungan Rony dengan Katerina.


“Maaf, umurku sudah 37 tahun, kalau ingin memiliki anak setidaknya aku harus menikah tahun ini,” tuturnya lirih saat memandang foto wanita cantik di atas layar ponsel milik Rony.


Fransisca mengembalikan ponsel Rony ke tempatnya semula setelah berhasil mencatat nomor kontak itu ke ponselnya. Fransisca menyeringai senang, ia lalu menyimpan ponselnya dan menyusul Rony untuk mandi bersama.


Kau harus segera menjadi milikku, Ron, batin Fransisca.


Apa pun akan aku lakukan asalkan kau bisa menjadi milikku seutuhnya.





PYAR!!!


Gelas kaca terjatuh dari genggaman tangan Katerina. Serpihannya berhamburan ke berbagai penjuru. Katerina membeku, ia menutup mulutnya yang mengangga setengah tak percaya. Seseorang dengan nomor yang tak dikenal mengirimkan begitu banyak foto-foto yang memuat kemesraan antara suaminya dengan seorang wanita cantik.


“Nyonya, anda tidak apa-apa?” Seorang pelayan wanita membantu Katerina duduk di kursi.


Katerina kehabisan kata-kata, hatinya dipenuhi dengan tanda tanya dan juga rasa sakit yang mendalam. Setelah 30 tahun hidup pernikahan mereka, suami yang begitu dicintainya telah mengkhianati janji suci pernikahan mereka.


Katerina menitikkan air matanya, kesedihan membuncah dari dalam hatinya. Ia memandang kembali wanita itu, sangat cantik dan masih muda. Berbeda dengan dirinya yang sudah tua dan juga sakit-sakitan. Wajah wanita itu berseri, manis, dan penuh semangat, sedangkan wajahnya pucat dan lesu seperti mayat hidup.


“Kenapa kau tega padaku?” lirih Katerina, air matanya masih mengalir dengan deras.


Katerina sadar betul dalam 10 tahun terakhir pernikahan mereka ia tak bisa memberikan kepuasan biologis pada Rony, namun bukankah ia telah memberikan seorang putra yang pintar dan tampan. Katerina juga telah memberikan kehidupan yang indah, pelayanan seorang istri yang tak pernah mengenal kata lelah, juga doa-doa yang gencar untuk kesehatan dan kesuksesan suaminya.


Masih kurangkah?


Masih kurangkah sampai Rony tega mengkhianatinya dengan mencintai wanita lain?


Katerina menangis, napasnya sesunggukkan. Hatinya hancur, dadanya sesak dan terasa begitu berat. Bahkan bernapas pun seakan menjadi susah.


Deg ... deg ... deg ...


Jantungnya yang lemah berdetak dengan kencang karena kehidupannya seakan berubah 180 derajat, berbanding terbalik begitu saja. Padahal pagi tadi suaminya masih menyuapinya sarapan pagi, padahal pagi tadi ia masih mengecup punggung tangan dan pipi suaminya. Lantas kenapa?


Kenapa malam ini suaminya sudah meninggalkannya untuk memadu kasih dengan wanita lain?


Kenapa malam ini dia sudah harus melihat pahit dan getirnya kehilangan kasih dan cinta dari suaminya?


Padahal rasa cinta dari suaminyalah yang membuat Katerina bertahan selama ini.


Lantas ...


Setelah rasa cinta suaminya itu menghilang, apa lagi yang harus ia pertahankan?


“Akh!!!” pekik Katerina, dadanya sakit seperti diremat-remat. Jantungnya seakan ingin pecah, ada rasa menusuk yang sangat tajam dan membuatnya lemas.


“Da-daku, hah ... sa—kit, hah ...,” ucapannya terbata, dadanya berasa mau pecah, napasnya sulit dan berat.


“TOLONG!!” teriak pelayan itu, semua penghuni rumah langsung bergegas menghampiri mereka dan membawa Katerina ke rumah sakit.


Indahnya cinta dan rasa kasih suami istri itu kian hambar, menyatu dengan hembusan napas yang seakan sudah tak ada artinya lagi.


— MUSE S5 —


Bella berdiri menghadap ke arah jendela kaca besar yang memamerkan keindahan kota di malam hari. Ia mengamati taburan bintang di langit malam dan kerlap kerlipnya cahaya lampu kendaraan di bawah sana. Sedangkan Lucas, pria itu masih terbuai lelap di atas ranjangnya.


Bella mengencangkan tali yang terikat pada kimono mandinya, Bella baru saja selesai mandi setelah perang panasnya dengan Lucas sore tadi. Bella melirik lagi ke arah layar ponselnya, tak ada balasan. Bella meminta izin pada mamanya untuk menginap di rumah teman. Jangankan marah, bahkan mamanya sama sekali tidak membaca chatnya.


“Padahal aku juga ingin dimarahi seperti anak-anak lainnya,” lirih Bella.


Lamunannya terhenti saat tangan kokoh Lucas melingkar pada pinggangnya. Lucas menyandarkan kepalanya pada pundak Bella, menghirup aroma sabun yang sudah tak asing lagi pada indra penciumannya. Bella menaikkan sudut bibirnya, mengullum senyuman.


“Masih sakit?” tanya Lucas, ia mengecup pundak Bella.


“Iya, rasanya sedikit aneh di bawah sana,” jawab Bella.


“Padahal sudah pelan-pelan.” Lucas ikut mengullum senyuman manis.


“Kau lapar? Mau aku masakkan sesuatu?” tawar Bella.


“Tidak, aku hanya ingin memakanmu lagi.”


“Lagi???” Bella syok. Belum hilang rasa perihnya dan Lucas sudah kembali meminta jatah.


“Kemari!!”


Lucas melepaskan tali yang mengikat jubah mandi dari kain satin, padahal Bella sudah berusaha mengikatnya kencang, namun dengan mudah Lucas membuka ikatannya.


Jubah mandi itu melorot pelan dari tubuh Bella, lolos dengan cepat dari permukaan kulitnya yang mulus. Lucas menelan ludahnya, masih terpesona dengan leher jenjang dan punggung Bella yang mulus. Tangan Lucas mengelus punggu Bella, sementara bibirnya terus mengecup perlahan area bawah telinga. Bella menyibakkan rambutnya agar Lucas bisa dengan leluasa menyesap lembut area sensitifnya itu.


“Ssshh ...,” desah Bella.


Lucas tersenyum kembali, melihat rona kemerahan pada wajah Bella membuatnya semakin bersemangat. Lucas tak pernah merasakan gairah seperti ini sebelumnya, bahkan dengan wanita lain yang jauh lebih dewasa dibanding Bella. Tampaknya Bella sungguh punya arti yang sangat luar biasa besar dalam hidup Lucas.


Lucas menginginkan gadis ini sama seperti paru-parunya menginginkan oksigen untuk bernapas. Gairah dan pesona Bella seperti bahan bakar yang membakar hidupnya dengan semangat dan luapan kebahagiaan.


Lucas mengusap lembut wajah Bella dengan jemarinya, menatap lekat wajah sensual Bella tanpa berkedip.


“Kenapa kau begitu menggoda, Ella?”


“Kenapa kau selalu menanyakan hal itu, Lucas?” Bella terkikih.


Lucas tak menjawab, ia bergegas meraup bibir kekasihnya itu. Mellumatnya dengan cepat dan dalam, meningkatkan gairah di antara keduanya. Lucas menautkan lidahnya, bermain dan mengabsen setiap inci rongga mulut Bella. Saling bertukar rasa manis, getaran lembut, dan juga kenikmatan hidup. Gelora api asmara di antara mereka semakin jelas terasa saat indahnya persatuan kembali terjadi.


Triing ... 🎶


Suara deringan ponsel membuat Lucas mengangkat sedikit tubuhnya.


“Siapa yang menghubungiku malam-malam?” Lucas berdecak sebal, ia sudah hampir mencapai puncak kenikmatannya.


“Angkat dulu, Lucas.” Bella masih menahan hujaman tubuh Lucas pada liang paling pribadi miliknya.


“Nanti saja, kita selesaikan dulu.”


“Kalau penting bagaimana?” ujar Bella.


Lucas melepaskan tubuh Bella dan mencium keningnya. Ia bergegas bangkit dan mengambil ponselnya di atas meja nakas.


“Siapa?” tanya Bella, ia keheranan dengan ekspresi Lucas.


“Dari satpam rumahku,” jawab Lucas.


“Hallo,” sapa Lucas.


“Tuan Lucas, Nyo—nyonya,” gelagapnya membuat kerutan jelas di dahi Lucas.


“Mama kenapa???!”


“Nyonya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Nyonya kritis Tuan. Segeralah ke sana!”


BRUK!!


Lucas terduduk, ia seperti merasakan dadanya tertindih sebuah benda padat yang sangat berat.


Bella mendekati tubuh Lucas, wajahnya terlihat bingung dengan guratan cemas yang terpatri di wajah tampan kekasihnya.


“Ada apa, Lucas?” Bella berjongkok di samping Lucas.


“Mamaku masuk rumah sakit, Ella!” jawab Lucas.


“Jangan panik, Lucas! Ayo ganti bajumu, kita ke sana.” Bella memeluk tubuh Lucas, menyalurkan rasa nyaman.


Tangan Lucas bergetar hebat, ia tak bisa menahan reaksi tubuhnya yang mengkhawatirkan keadaan mamanya.


Ya, Tuhan, semoga Mama baik-baik saja, doa Lucas dalam hati.


— MUSE S5 —


SEKILAS INFO


Author : lagi sakit hati nih, gimana rasanya hati Lucas kalau tahu mama kekasihnya yang membuat mamanya sakit?


Inggrid : lagian lo juga sih Thor, ngapain pake bikin cerita nyesek kaya gini? Sakit sndirikan? Nyesek sendirikan?


Author : Iya, Nggrid ;(


Inggrid : dah bikin novel baru aja, kisah cinta yang isinya bucin melulu, pake judul dipaksa menikah gitu hlo biar novelnya laris.


Author : okelah author bikin novel baru.


Inggrid : sip, judulnya apa?


Author : Lelaki w*ria Dipaksa menikahi wanita perkasa. 🤭


Inggrid : auto unfavorit thor! Memperbodoh kehidupan bangsa dan negara aja! 😡


Author : jangan bawa-bawa negara lah. T_T


Inggrid : ya udah gaes lupain aja projek novel baru author rengginan, fokus aja buat bagi like sama comment, jangan lupalah di vote. Biar authornya nggak nambah gila pas mikirin MUSE nggak ada yg baca 🤣🤣🤣🤣