
MUSE
EPISODE
S7 \~ HADIAH
\~Keduanya menikmati lagi angin malam yang membelai wajah. Leoni kali ini melingkarkan lengannya pada leher Levin. Kepalanya bersandar pada kepala Levin. Rasa nyaman yang telah lama tidak ia rasakan.\~
_________
Leoni berlari keluar dari sanggar, ia tak peduli dengan tatapan mata para teman-temannya yang mengaggap Leoni aneh. Bagaimana tidak, ia punya pacar seperti Levin, namun memilih pergi menghindarinya. Dih … kalau aku nih, cowok setampan, sehebat, dan seterkenal Levin bakalan aku simpan di rumah baik-baik. Nggak boleh keluar jadi nggak bakalan ada yang merebutnya dari ku.
Oh, atau mungkin aku simpan saja di lemari kaca supaya cuma aku yang bisa melihatnya. Well … sayang sekali pikiran mereka hanyalah angan-angan, Leoni tetap pemenang di hati Levin saat ini.
“Singa!! Tunggu, kau mau kemana??” Levin menyahut sepedanya dan melaju kencang mengikuti langkah kaki Leoni.
Leoni terisak, menangis bombay. Leoni sempat berpikir bahwa dirinya lebay, sudah besar masih ngambek seperti bayi. Tapi mau bagaimana lagi, Levin membentaknya cukup keras padahal Leoni hanya berharap Levin tidak mengalami hal buruk. Leoni hanya cemas dan tak ingin Levin terluka.
“Maafkan aku Singa bila aku bersalah. Tapi jangan mengacuhkanku seperti ini.” Levin berhasil menyusul Leoni, menyejajarkan sepedanya di samping Leoni.
Leoni masih menunduk untuk menyembunyikan matanya yang merah karena banyak menangis. Semantara kedua kakinya berjalan tanpa arah menyelusuri terotoar jalan.
“Ayo naik. Kita bicara.” Levin mencekal tangan Leoni.
Leoni semula hendak memberontak, namun melihat kerutan dalam du dahi Levin juga sorot matanya yang sendu saat mengiba membuatnya kalah. Leoni mengusap wajahnya dengan kasar dan menurut. Gadis itu naik ke belakang sepeda Levin, berdiri sembari berpegangan pada pundak Levin sama seperti saat remaja dulu.
Yes!! Pikir Levin senang.
Levin mengkayuh sepeda ke arah taman kota, dekat sungai. Tempat favorit Inggrid dan gengnya nongkrong. ( Coba baca di season 4).
Leoni diam saja, ia menikmati udara malam yang dingin. Sesekali aroma shampo maskulin Levin tercium. Leoni melirik ke bawah, ia baru menyadari bahwa bahu Levin begitu lebar, kokoh, dan kencang. Sangat jauh berbeda dengan Levin yang dulu selalu mengantarkannya pulang dengan sepeda ini.
Levin sekarang telah tumbuh menjadi pria dewasa. Pria keren dan gagah yang bisa merubuhkan hati semua wanita yang lewat di depannya.
“Sampai!!” Levin menekan rem, Leoni bergegas meloncat turun dan duduk di tepi sungai. Levin memarkirkan sepedanya sembarangan dan menyusul Leoni duduk.
“Kau masih marah karena aku membentakmu kemarin?” tanya Levin.
“Enggak.”
“Kau marah karena mengacuhkan permintaanmu?”
“Enggak.”
“Kau marah karena aku mengacuhkan pesanmu?”
“Kebalik, aku yang mengacuhkan pesanmu!” Ketus Leoni.
“Ah … iya ya?? Hla terus apa donk?? Kamu marah karena apa?? Karena aku ganteng ya?” Levin narsis, membuat Leoni melirik tajam padanya. Ditengah suasana serius cowok tengil ini nekat bersendal gurau.
“Lantas gara-gara apa? Apa gara-gara aku terlalu mencintaimu, Leoni??” Goda Levin.
“Huh, terlalu mencintai apa?? Kau bohong!! Kau tidak mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu dan impianmu saja.” Leoni berdecih, menyindir ucapan Levin.
“Oh, ayolah!! Jangan begitu galak. Serius aku mencintaimu Leoni, sebesar aku mencintai pekerjaanku juga,” tutur Levin, ia memaksa untuk tidur di paha Leoni.
“Jadi bobotku seimbang dengan impinmu??” Leoni mencibirkan bibirnya.
“Aku tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya kepadamu, Singa. Aku mencintaimu, kau tak perlu meragukan hal itu. Namun aku juga sangat ingin meraih impianku.” Levin mendengus panjang. Ia menggenggam tangan Leoni. Berusaha meyakinkan Leoni bahwa apa yang dilakukan Levin tidak seburuk yang ia pikirkan. Pekerjaannya sungguh tidak berbahaya.
“Jangan merayuku.” Leoni menghela napas panjang.
“Oke. Aku tak akan merayumu, Singa. Tapi aku akan menghujanimu dengan cintaku.” Levin tersenyum, ia berkedip-kedip pada Leoni, membuat gadis itu menahan senyuman. Levin belum menyerah, ia menggelitik perut Leoni dengan kepalanya.
“Masih belum mau tersenyum juga?” Levin menggesekkan kepalanya pada perut Leoni lebih cepat. Leoni menjadi kegelian. Wajahnya memerah, mau tidak mau ia pun tertawa.
“Hahahha ... geli … geli, Levin!!” Leoni terkekeh.
“Nah, gitu donk!!” Levin mengangkat wajahnya dari perut Leoni.
Tanpa sadar mereka berguling di atas rerumputan hijau. Levin menin dih tubuh Leoni.
“Berat.” Leoni menggeliat.
“Hehehe…”
Wajah keduanya begitu dekat. Levin bahkan bisa melihat mata Leoni yang merah karena banyak menangis. Leoni pun bisa melihat bibir Levin yang mendekat untuk mengikis jarak.
Levin mengecup pelan bibir Leoni. Hatinya merasa sakit saat melihat Leoni menangis, namun Levin pun juga enggan untuk menyerah. Benar-benar ia tak mungkin melepaskan apa yang telah diraihnya begitu saja.
“Jangan bersedih. Pokoknya dukung saja aku ya!” Levin mengecupi wajah Leoni. Leoni mengangguk, ia mengaku kalah. Sungguh Leoni tak akan menang bertanding dengan Levin, ia akan meleleh duluan.
“Oh, ya, Aku punya hadiah untukmu.”
“Hadiah??”
“Yup, dua tahun aku melewatkan ulang tahunmu dan hanya memberikan cincin tahun lalu. Tahun ini, aku akan memberikanmu sebuah kado istimewa.” Levin membantu Leoni berdiri.
“Serius?? Kado?! Apaan?” Leoni menjadi bersemangat, tak ada yang menolak hadiah ulang tahunkan.
“Rahasia. Kau akan tahu begitu tiba di rumah.” Levin mengambil sepedanya.
“Pakai rahasia segala.” Leoni mencibirkan bibirnya, tapi tetap naik ke atas sepeda, dan berpegangan di pundak Levin.
Keduanya menikmati lagi angin malam yang membelai wajah. Leoni kali ini melingkarkan lengannya pada leher Levin. Kepalanya bersandar pada kepala Levin. Rasa nyaman yang telah lama tidak ia rasakan.
Levin berkelok, memasukki perumahan dan tiba di depan sebuah rumah mewah yang tampak kosong. Di depannya ada mobil range rover hitam model terbaru.
“Ini hadiah untukmu.” Levin memberikan kunci mobil pada Leoni. Gadis itu melongo melihat hadiah pemberian Levin.
“Su … sungguhkah kau memberikanku mobil??” tanya Leoni gelagapan.
“Juga rumah ini.” Levin menunjukkan rumah mewah yang ia beli dengan gajinya sebagai pembalap.
“Dari mana kau punya uang sebanyak itu??” tanya Leoni, mereka seumuran, dan Leoni bahkan belum bisa menghasilkan uang untuk membeli cilok.
“Tentu saja dari uang gajiku. Dasar, kau pikir yang kulakukan hanya hobby?? Kau pikir aku hanya bermain di track?” Levin mengusap pucuk kepala Leoni.
Leoni masih mengangga tak percaya. Berapa gaji Levin tiap tahun???
...— MUSE S7 —...
Gaji pembalap motor GP rata-rata 1-6 juta euro tiap tahun, katakan gaji Levin 4 juta euro, ia akan dapat 66 Milyar tiap tahun. Kalau terkenal macam rossi atau lorenzo gajinya bisa sampai 15 juta euro hlo!! Wuau!!