
MUSE S7
EPISODE 21
S7 \~ HUKUMAN
Kalila melirik sekejap ke arah putranya yang tertunduk lesu pada ujung ruangan. Hatinya juga sakit melihat pemandangan ini, tapi yang namanya didikan tetaplah didikkan, tak boleh lembek. Masa remaja adalah masa paling rentan terjerumus pergaulan yang salah.
__________________
Belum sempat polisi itu menutup mulutnya, tiba-tiba saja ada kendaraan dari arah berlawanan. Pengemudinya kaget. Dengan kebingungan ia membanting setir mobil agar tidak menabrak mereka berdua. Suara dencitan rem terdengar melengking. Mobil itu semakin tak terkendali.
“AWAS!!!” Leoni menjerit kaget.
“ARGH!!” Levin juga. Mereka terserempet mobil dan jatuh terpental. Leoni terseret dua meter pada aspal jalan.
“TIDAK!! Leoni!! SINGA!!! SINGA!!” Levin menjerit, melihat Leoni tergeletak dua meter di depannya.
Levin bangkit dengan sekuat tenaga, tertatih-tatih menuju ke tempat Leoni tersungkur. Leoni terseret aspal jalan sepanjang dua meter, bahu kiri sampai pada pangkal pundaknya terluka, lecet parah. Darah terkucur membasahi pakaiannya yang koyak. Levin tercengang, dengan perlahan ia duduk di samping Leoni dan menjadikan pahanya sandaran kepala bagi Leoni.
"Sakit, Vin,” rintih Leoni.
"Tu ... nggu! A-aku akan memanggil ambulan." Dengan gemetaran tangan Levin memencet nomor darurat, tapi polisi menghentikannya.
"Aku sudah memanggil ambulan, Nak," katanya tegas.
Tak lama, sirine ambulan membuat keduanya menoleh. Levin bisa bernapas sedikit lega karena Leoni akan segera mendapatkan pengobatan. Keduanya naik didampingi oleh seorang polisi wanita dan perawat ambulan menuju ke rumah sakit terdekat.
"Berapa nomor telepon wali kalian?" tanya polwan pada Levin.
"Ya?" Levin membelalak, apa mereka akan menelefon kedua orang tuanya?
"Orang tuamu, dan juga orang tua gadis itu? Aku harus menelefon mereka. Kalian masih di bawah umur, tak seharusnya berkeliaran tengah malam pada area balapan liar," sergah wanita berpotongan bob dengan tegas. Levin hanya bisa tertunduk, ia menyerahkan ponselnya, ada nomor ponsel Arvin dan juga Leon.
"Kalian bahkan tak lebih tua dari anakku." Geleng polwan itu tak habis pikir.
"Umur tak menentukan tingkat kedewasaan seseorang," celetuk Levin.
"Tapi bukan berarti dengan gaya sok dewasa keluyuran, bahkan sampai membahayakan nyawa temanmu ini." Polwan itu menunjuk Leoni yang sedang meringis menahan sakit, Levin lagi-lagi terbungkam. Ucapan orang dewasa itu benar, mereka hanya anak-anak. Anak-anak nakal yang tak tahu tempat dan keadaan, hanya menginginkan kesenangan semata tanpa tahu resikonya. Kini Levin menyesal, harusnya ia tak pernah mengajak Leoni, harusnya ia tak pernah melibatkan gadis itu dalam bahaya.
Saat Levin merenungkan nasibnya, Polwan itu menelefon kedua orang tuanya dan juga orang tua Leoni. Menjelaskan keadaan keduannya. Saat ini mereka ada di rumah sakit, menunggu Leoni mendapatkan pengobatan.
...— MUSE S7–...
Hanya butuh waktu setengah jam bagi dokter untuk membersihkan luka dan menjahitnya. Leoni sudah tidak merasakan kesakitan karena obat anastesi yang diberikan dokter —sebelum menjahit lukanya. Levin terus berdiri di samping ranjang, menanti dokter menyelesaikan tindakan medis.
"Kalian anak-anak pemberani ya!" Entah itu pujian atau sindiran, Levin sedang tak ingin mendengarnya saat ini.
"Untung saja lukanya tidak dalam dan parah! Hasil rotgennya juga tidak enunjukkan adanya fraktur atau kelainan tulang. Kalian berdua patut bersyukur. Tapi ada satu hal yang disayangkan, kau akan menerima bekas luka itu seumur hidupmu, Nona kecil." Dokter muda itu meletakkan peralatan pada nampan steenlist. Levin terdiam, hatinya begitu menyesal.
"Selesai, kau bisa beristirahat. Dan kau Bocah Tengil, lebih baik cuci muka dan tanganmu, jorok sekali." Sebelum pergi Dokter itu memberi peringatan pada Levin, tangannya kotor karena darah Leoni yang mengering bercampur debu dan keringat.
"Bersihkan dirimu, Vin." Leoni menatap ke arah Levin.
"Aku minta maaf, Singa. Maaf ...! Andai saja aku tak mengajakmu, andai saja aku menuruti kata-katamu dan menyerahkan diri. Mungkin semua ini tak akan terjadi." Levin mengepalkan tangannya, geram pada diri sendiri.
"Ayolah, Vin. Jangan merasa bersalah, semua ini juga karena keinginanku. Aku yang pertama kali minta ikut, dan yah, tak ada noda maka kita tak akan belajar." Leoni menampik tangan Levin dengan tangan kanannya yang tidak sakit.
"Aku lebih takut pada amarah Papaku." Leoni memucat saat teringat Leon, papanya.
"Itu juga yang sedang ku pikirkan ..." Levin menelan ludahnya dengan berat.
.
.
.
Levin telah selesai membersihkan diri. Tak ada luka yang berarti pada tubuhnya, hanya lecet kecil pada telapak tangan dan juga lutut. Tidak parah seperti Leoni karena gadis itu terseret cukup jauh. Levin menggenggam tangan Leoni yang tertidur pulas karena obat tidur di atas ranjang UGD, sesekali Levin mengelus punggung tangannya.
Maaf, Leoni. pikir Levin dalam hati.
Tak lama kemudian kegaduhan menyelimuti area UGD. Suara Leon terdengar keras, mencari keberadaan anak gadis semata wayangnya. Kanna juga berlari, mengekor Leon dengan raut wajah sama paniknya.
Wajah Leon terlihat garang, amarahnya membuncah saat melihat Levin dan juga Leoni. Pemandangan Leoni yang mendapatkan perawatan sungguh membuat hatinya miris. Leon menganggap semua ini adalah pengaruh buruk dari Levin. Andai saja Levin tak pernah mengajak Leoni keluyuran di malam hari, semua ini tak akan terjadi.
"Bocah Brengsek!!" umpat Leon, ia hendak memukul Levin. Orang tua mana yang tidak marah saat mengetahui anaknya terkapar di atas ranjang rumah sakit? Melihat Leoni tidak lagi baik-baik saja sungguh membuat hati Leon hancur.
"Jangan, Leon! Dia hanya anak-anak!" Kanna berusaha menghentikan amarah sang suami.
"Anak-anak bisa ikut balapan liar? Yang benar saja, Kanna!! Dia bahkan menggajak putriku dan membuatnya terluka!!" Leon menatap tajam Levin, wajah Levin terlihat pucat pasi.
"Maaf, OM," lirih Levin.
"Lepaskan aku, Kanna! Setidaknya aku harus memukulnya satu kali agar dia merasakan juga rasa sakit yang di alami Leoni!" Leon menghempaskan tangan istrinya, hendak memukul Levin.
Suasana UGD menjadi rincu, semua mata melihat ke arah pertengkaran itu. Perawat berusaha memanggil sekurity untuk menghentikan amarah Leon.
Leon mengayunkan tangannya, mata Levin terpejam menunggu esekusi yang diberikan Leon. Ia siap menerimanya karena memang semua itu adalah kesalahannya. Namun beberapa detik berlalu, tangan Leon tak kunjung mendarat ke atas wajahnya tertahan oleh tangan lain yang sama kokohnya.
"Dad?" Levin terkesiap saat mendapati Arvin menahan tangan Leon.
"Kak Arvin, Papanya Levin?" Leon menatap Arvin dengan tajam.
"Benar," ucap Arvin.
"Anakmu membuat putriku terluka!" Leon menghempaskan tangan Arvin.
"Maafkan kami, Leon. Aku tahu putraku bersalah, tapi sebagai ayah, aku tak bisa melihat orang lain menyakitinya bahkan sampai memukulnya." Arvin memohon kebaikan hati Leon. Arvin menatap Levin dengan pandangan marah, ia menyuruh putranya mendekat. "Minta maaflah pada Om Leon dan Tante Kanna!"
"Maafkan Levin, Om, Tante."
"Apa menurutmu permintaan maaf saja cukup?" Leon berdecis sebal.
"Maaf, akulah yang gagal mendidiknya, Leon. Sebagai gantinya kau bisa memukulku," pinta Arvin.
"Tidak Dad, No!! Maafkan, Levin, Om Leon. Bukan salah daddy, semua salah Levin." Levin menangis, merenggek pada Leon, bocah yang tak pernah menangis semenjak SD itu menangis memohon maaf karena kesalahannya. Ia tak mau Papanya memanggung pukulan karena kesalahannya.
"DIAM LEVIN!!" Arvin menampar pipi Levin, membuat Levin terdiam.
"Kalau tahu itu adalah hal yang salah kenapa kau melakukannya?" Arvin melotot galak pada Levin.
"Sebagai pria harusnya kau tahu konsekuensi dari tindakanmu itu!!! Daddy mengajarkanmu menjadi orang yang bertanggung jawab atas setiap tindakkan yang kau lakukan!! Berpikir dua langkah ke depan sebelum melakukan sesuatu!!" bentak Arvin. Levin memegang pipinya yang bengkak karena pukulan Papanya. Leon memejamkan matanya, merasa iba juga pada Levin.
"Jangan terlalu kasar padanya, Kak. Dia hanya anak-anak." Kanna memeluk Levin, sedangkan Kalila menahan tangan suaminya yang mulai kembali terangkat, hendak memukul Levin.
"Lebih baik daddy yang memukulmu dari pada orang lain. Juga lebih baik daddy yang menerima pukulan dari orang lain daripada dirimu. Kau tahu kenapa Levin? Karena itulah bagian dari tanggung jawabku sebgai orang tuamu!!" Arvin menurukan tangannya.
Levin terus menunduk, tak berani memandang satu pun manusia yang berad adi sana. Ia merenungkan ucapan ayahnya. Benar, seorang pria harus mempertanggung jwabkan semua tindakannya, mempertanggung jawabkan kesalahannya.
"Maafkan Levin, Om. Levin tak akan berteman lagi dengan Leoni. Levin akan menjauhi Leoni." Levin menunduk.
"Baiklah, kali ini aku maafkan!! Ada baiknya kau jauhi anakku!" jawab Leon.
"Terima kasih, Om."
Levin berjalan pelan, duduk pada deretan kursi besi di ruang tunggu. Semua mata yang menyaksikan kejadian itu berangsur-angsur membubarkan diri. Ternyata hanya kenakalan remaja dan bagaimana orang tua mendidik mereka.
"Sungguh maafkan aku, Leon. Aku akan mendidiknya lebih keras." Arvin menepuk pundak Leon.
"Sudahlah, Kak. Dia sudah meminta maaf, kau juga sudah memukulnya. Dan yang pasti, Leoni baik-baik saja." Amarah Leon telah surut, Kanna ikut mengagguk membenarkan ucapan suaminya.
Kalila melirik sekejap ke arah putranya yang tertunduk lesu pada ujung ruangan. Hatinya juga sakit melihat pemandangan ini, tapi yang namanya didikan tetaplah didikkan, tak boleh lembek. Masa remaja adalah masa paling rentan terjerumus pergaulan yang salah.
"Temui, Levin, Kak. Dia pasti membutuhkanmu. Aku akan membeli minuman hangat untuk kita semua." Kalila berbisik pada telinga Arvin.
"Baiklah." Angguk Arvin.
Setelah berbicang beberapa saat dengan Leon dan Kanna, Arvin meninggalkan mereka untuk menemui putranya. Levin masih tertunduk lesu, wajahnya terlihat menahan rasa malu, kecewa, dan juga sedih.
“Hei, Boy." Arvin berjongkok di depan Levin. Levin tetap diam, tak berani berkata apapun.
"Sakit?" Arvin mengelus pipi Levin yang merah bengkak. Pukulannya ternyata sangat keras.
"Apa kau sudah belajar dari kejadian ini? Kau tahu di mana letak kesalahanmu?' tanya Arvin, Levin mengangguk.
"Good Boy, Daddy juga minta maaf karena memukulmu terlalu keras." Arvin tersenyum, masih mengelus wajah Levin.
"Levin pantas menerimanya, Dad."
"Apa kau menyukainya?" tanya Arvin, kini dia duduk di samping Levin.
"Menyukai apa?" Levin menoleh pada Arvin.
"Balap motor, kau menyukainya?"
"Iya, Dad. Levin menyukainya. Sensasi saat mengitari track, sensasi saat berhasil menyalip lawan, dan juga sensasi saat ledakan andrenalin memenuhi otakku. Aku sangat menyukainya, Dad." Levin tersenyum, mengingat rasanya balapan selalu membuatnya bahagia.
"Sudah berapa lama kau melakukannya?"
"Hampir satu tahun."
"Recor kemenangan?"
"Satu kali kalah, selalu menang." Levin terkikih.
"Pertandingan hari ini?"
"Tak ada yang menang, kami bubar karena digerebek polisi." Levin menghenyakan punggungnya pada sandaran bangku besi.
Arvin diam sesaat, lalu mengelus pucuk kepala Levin dan menciumnya. "Fokus sekolahan dahulu sampai lulus SMP, Vin. Setelah itu daddy akan mengirimmu ke Spanyol untuk belajar menjadi pembalap profesional."
"Sungguhkah?" Mata Levin membulat sempurna. Arvin mengangguk.
...—MUSE S7–...
...Wah ya kasihan Levin dipukul papanya....
...Nakal sih...
...Leoni pake acara molor segala, jadi nggak bisa jelasin ke Papa Mamanya....
...Ah, jangan lupa di like sama komen ya. Yang banyak....
...makatih...
...💋💋💋...