MUSE

MUSE
S3 ~ SEUTUHNYA



MUSE S3


EPISODE 110


S3 \~ SEUTUHNYA


\~Aku bergerak sepelan mungkin karena ini adalah pengalaman pertama bagi kami berdua. Aku tak ingin menyakitinya, juga ingin menikmatinya. Bagi kami tiap detiknya begitu berharga, begitu indah, dan begitu luar biasa.\~


_______________


(Warning mengandung konten 21+, bagi yang belum cukup umur mohon dilewatkan saja. Tidak akan berpengaruh pada jalan cerita. Mohon bijak dalam membaca dan menyikapi, ya readers.❤️ )


•••


Meja terus berputar perlahan saat aku menaruh sebongkah tanah liat putih yang berwarna sedikit ke abu-abuan. Aku mengguyurkan sedikit air ke atas bongkahan itu, melumatnya perlahan-lahan. Teksturnya mulai lembek dan lebih basah. Setelah lembut dan siap untuk dibentuk, aku memutar meja sedikit lebih cepat.


Tanganku bergerak mengikuti irama perputaran meja dan membuat cekungan pada badan tanah liat. Aku memasukkan sebelah tanganku agar cekungannya semakin dalam. Tak butuh waktu lama saat tanah liat itu membentuk badan dari sebuah guci. Setelah terbentuk, aku mengambil sundip untuk membuat bentuk garis sebagai penghalus dan juga hiasan. Setelah itu aku meratakan permukaan bibir guci dengan ujung jari telunjukku.


Setelah semuanya selesai, aku mengambil sebuah alat seperti skop pipih namun sangat kecil dan mengukir permukaan guci dengan hiasan dedaunan. Membuat cerukkan juga tonjolan pada karya seni buatanku itu.


“Ehem...!” deheman Kanna menyadarkanku. Ia bersandar pada kusen pintu masuk ke ruang kerja Papa ini.


“Ka..., Kanna? Sudah lama?” Aku kaget dengan kehadirannya. Aku memang sengaja mengalihkan fokusku dengan berkarya. Hanya berdiam diri membuatku terus memikirkan hal-hal kotor bersama dengan Kanna.


“Hanya sekitar 5 menit.” Kanna mendekat. Ia mengelus pundakku. Ia memeluk tubuhku dari belakang.


“Maaf, ya, aku tak segera menyadari kehadiranmu,” kataku.


“Waw...! Badanmu sekarang berotot, Leon.” Kanna memandang tubuhku yang sedang bertelanjang dada.


“Emangnya dulu enggak?”


“Hahaha, dulu lebih kecil.”


“Mungkin karena saat aku kerja sebagai kuli bangunan, aku sering mengangkat bahan bangunan, jadi lebih terbentuk ototnya.” Aku kembali fokus untuk menyelesaikan karyaku itu.


“Huruf apa ini, Leon?” tanya Kanna sembari memegang tatto pada punggungku. Sebuah huruf dengan aksara cina.


“Zen,” jawabku.


“Ah, apa artinya?”


“Artinya sangat luas, sih. Namun arti yang paling aku sukai adalah ‘Kasih’.”


Selain kebaikan, ajaran Zen mengajarkan kita tentang cinta kasih, kebajikan, kebijaksanaan, keseimbangan dalam hidup, juga berbagai ajaran lain yang bersifat grounding.


Aku kembali memandang Kanna, kini ia berdiri tepat di depanku. Kanna tampak cantik hanya dengan berbalutkan kaos kedodoran berwarna biru langit dan celana jeans pendek. Aroma manis dan sensual keluar dari tubuhnya. Aroma Kanna seakan membangkitkan naluriku agar segera memilikinya.


Kanna melihatku sambil tersenyum manis, ia seakan tau apa yang sedang aku pikirkan. Kanna langsung duduk pada pangkuanku, mengalungkan tangannya pada leherku. Manik matanya yang berbinar indah sedang memandangku dengan begitu lekat, membuatku salah tingkah.


“Kanna...,” panggilku lirih, berusaha memberontak dari pesonanya.


“Sssttt...!” Kanna menaruh jari telunjuknya di depan bibirku. Memberiku isyarat agar tidak terlalu banyak bicara.


“Aku merindukanmu, Leon! Tiap detiknya begitu menyiksa bagiku.” begitu Kanna menyelesaikan kalimatnya, ia langsung mendaratkan sebuah ciuman hangat di atas bibirku.


Mataku terpejam saat menikmati alunan gerakan bibirnya yang semakin cepat dan dalam. Sesekali Kanna menyesap dan menautkan lidahnya dengan lidahku. Entah dari mana dia belajar berciuman, yang pasti aku sangat menikmatinya. Ciuman Kanna sangat enak, nikmat, dan juga menggairahkan. Ciuman itu bagaikan candu, bahkan membuat kami berdua lupa untuk sekedar mengambil napas.


“Kau tak memelukku?” tanya Kanna saat ada jeda pada ciuman kami.


“Tanganku kotor, Kanna. Berdirilah! Aku akan mencucinya.”


“Wah, aku lupa.” kikih Kanna, tapi dia tak beranjak dari pangkuanku. Kanna malah melepaskan kaosnya.


“Kanna?!” seruku syok, dua buah keindahan terpampang nyata di depanku. Masih terbungkus indah pada pakaian dalam broklat berwarna biru.


“Biar kaosnya nggak kotor kena tanganmu, Leon.” tawa Kanna. Ia memutar kaosnya bak tari lasso di atas kepala dan membuangnya ke sisi lain kursi yang lebih bersih.


“Kau nakal sekali?”


“Aku belajar darimu?!” Kanna terkikih lalu kembali menciumku.


Ia meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala, mengatur jalannya ritme ciuman kami yang semakin panas dan menggebu-gebu. Tanganku menyentuh pinggangnya yang begitu ramping. Bekas tanah liat basah membekas berbentuk tangan pada punggungnya. Semakin lama bentuknya semakin tak beraturan.


Tangan Kanna berjalan pelan mengelus lenganku dan berakhir dengan menggenggam jemariku. Ia membawa tanganku ke dapan dadanya. Kanna melepaskan sisa pakaian yang menempel menutupi tubuh bagian atasnya. Aku hanya bisa diam dan terpana, Kanna sangat cantik, tubuhnya sangat indah.


“Apa kau akan diam saja, Leon?” Kanna tersenyum, ia kembali menyesap bibirku.


Aku meletakkan tangkupan tanganku di atas dadanya. Memainkannya dengan lembut, juga cepat. Aku terus mengelus setiap permukaan kulitnya. Sesekali Kanna melengguh saat aku menyesap perlahan bagian sensitif di balik telinga dan juga cerukan lehernya. Ciumanku terus berjalan turun sampai ke atas perutnya.


“Urgh..., Leon.” desaahan merdunya semakin membangkitkan gairahku. Aku ingin memilikinya, seuntuhnya, membuatnya merasa menjadi wanita milikku seorang.


Noda kotor tanah liat semakin mengering, dan membuatnya terlihat kacau.


“Pindah ke kamar?”


“Oke.”


Aku menggendongnya ala-ala princes di depan dada. Lengannya bergelayut manja pada pundakku. Kanna menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu di balik dadaku. Aku hanya bisa melihat tingkahnya yang menggemaskan dengan geli. Padahal baru saja dia bertingkah bak wanita penggoda yang menggodaku dengan nakal. Ck, Kemana perginya keberanian Kanna tadi?


Aku menurunkannya di depan kamar mandi, menyuruhnya untuk membersihkan diri sebelum melahapnya sampai habis. Kanna menurut, ia membuka sisa pakaiannya dan masuk ke dalam guyuran air hangat.


Tak lama Kanna keluar dengan balutan handuk putih. Rambutnya yang ikal basah, membuatku terpana pada kecantikkannya. Aku langsung menarik tangan Kanna, menyerang tubuhnya tanpa jeda dan merebahkannya di atas ranjang.


Ciuman demi ciuman...,


juga


Rasa cinta yang begitu meluap.


Oh, Kanna,


Suara detak jantungmu membuatku semakin bersemangat...


Oh, Kanna,


Deruan napasmu menyiratkan betapa kau menikmati cumbuan manisku...


Aku menghabiskan setiap jengkal kulitnya yang putih dengan ciumanku. Menghujaninya dengan keringat dan juga kenikmatan. Kanna terus melengguh kasar dan menggaruk punggungku dengan kuku-kuku cantiknya. Perutnya yang ramping bergerak naik turun karena deruan napas kami yang semakin kencang. Gerakan dan sentuhannya terasa begitu sensual saat Kanna menggesekkan pahanya pada pinggangku. Membuatku semakin menggila. Aku tak bisa menunggu lagi dan melakukan penyatuan dengannya.


“Argh...!” rancaunya saat kami mulai bersatu.


“Sakit?” tanyaku panik.


“Nggak sakit! Tapi sakit banget!” teriak Kanna.


“Duh, aku keluarin, deh!”


“Jangan, Leon!”


“Katanya sakit.”


“Masih bisa aku tahan! Lagi pula sudah lama aku memimpikan saat ini. Aku sudah siap!” Kanna tertawa ringan, padahal sudut matanya mengeluarkan air mata.


“Maafkan aku, Kanna.” Aku menghapus air mata Kanna dengan punggung tanganku.


“Kenapa?”


“Aku tak bisa menahannya. Aku memang brengs*k.”


“Leon....” Kanna langsung menarik tubuhku untuk memeluknya. Kulit kami kembali saling bersentuhan, berbagi rasa hangat yang begitu nyaman.


“Jangan salahkan dirimu! Karena aku tak pernah menyesalinya. Malam ini terlalu indah untuk kita sesali, Leon.” Kanna mengucapkannya dengan lirih tepat di samping telingaku.


Aku bergerak sepelan mungkin karena ini adalah pengalaman pertama bagi kami berdua. Aku tak ingin menyakitinya, juga ingin menikmatinya. Rasa hangat terus menyeruak saat kami sedang berbagi rasa juga perasaan. Tiap gesekkannya begitu bermakna. Bagi kami tiap detiknya begitu berharga, begitu indah, dan juga begitu luar biasa.


Aku mencium telinganya, lagi-lagi Kanna merintih. Kanna begitu sensitif dan itu membuatku semakin bergairah.


“I love you, Leon. Argh....”


Deg...


Hatiku berdesir panjang mendengar penuturan cinta Kanna barusan.


“I love you too, Kanna. So much...!” Aku mencium lagi bibirnya, melumattnya terus dan terus, pecahan rasa manisnya menari di dalam mulutku, membuatku semakin lupa diri.


Aku semakin bersemangat untuk menjadikannya milikku!!


Yeah, Kanna. Kita sekarang telah menjadi satu. Kau kini adalah milikku, seutuhnya milikku!! Kau adalah milikku yang paling berharga. Jangan pernah tinggalkan aku, karena aku tak akan pernah merelakanmu pergi.


“Ah, Leon...!”


— MUSE S3 —


Leon ckckckck...


Si singa ganas ah, wkwkwk..


😍😍


Enaknya besok di ulang versi Kanna nggak?!


Author ngarep, noh..!


Oh iya,


Met sahur gaes..


Met melaksanakan ibadah Ramadhan,


Jangan lupa kasih like dan commentnya.


Jangan lupa kasih vote tiap hari senin. Kumpulin dulu poinnya selama satu minggu buat vote MUSE.. wkwkwkw... authornya ngarep.


Makasih juga buat yang sudah setia Vote MUSE!! Kalian luar biasa!!! ❤️❤️❤️❤️


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️