
MUSE S2
EPISODE 45
S2 \~ HUJAN
\~ Wajahnya yang semula begitu buram kini perlahan-lahan menjadi jelas dan nyata. MUSE yang tak pernah tergambar sempurna itu kini kembali hadir dalam hidupku.\~
Aroma mentega yang meleleh dalam pemanggangan membuat mulutku penuh dengan air liur. Melody membuat roti keju dan ham hari ini. Roti dengan tipe asin dan gurih sangat cocok untuk menikmati hot latte pada cuaca dingin seperti saat ini. Manisnya caramel dan pahitnya kopi berpadu dengan asin dan gurihnya keju bercampur ham asap. Benar-benar menimbulkan karya seni yang indah saat harmoninya pecah di dalam mulutmu.
Aku dan Caca menanti dengan sabar di depan oven. Kami sudah tak sabar ingin menyicipi roti buatan Melody. Selain roti asin, Melody juga membuat croisant polos. Biasanya kami menuangkan selai coklat, nanas, madu, ataupun lemon butter ke atasnya. Semua cake, cookies dan pastry buatan Melody memang sungguh tak ada duanya di dunia.
“Ini aku bikin biskuit coklat agak banyak, terus gingger bread, pie kering, brownis panggang kering, juga selai.” Melody mengeluarkan semua toples dari bungkusan-bungkusan yang dibawanya tadi. Tak heran barang bawaannya begitu banyak, dia sudah menyiapkannya dari rumah.
“Selama aku nggak ada, kalian bisa beli cake di ujung jalan, rasanya hampir mirip cake buatanku.” ujar Melody.
Iya juga, sih, selama Melody cuti kami tetap harus menjual kudapan sebagai teman minum kopi.
“Siap, Kak.” seru Caca semangat.
“Susu Keano, 3 sendok per 150 ml. Air hangat, 3x sehari, 2x malam.” Melody beralih padaku.
“Oke. Siap, Mel,” jawabku dengan segera.
“Benar nggak apa-apa, nih, La?” Melody menyatukan alisnya.
“Iya. Aku pasti akan menghubungimu kalau ada sesuatu dengan Ken-Ken, Mel. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Kau bisa tenang.” Aku berusaha membuat tenang hati Melody.
“Aku sudah menyiapkan segala obat-obatan bila dibutuhkan. Obat demam, pilek, batuk, diare, bla.. bla.. bla...” oceh Melody.
Yah.. Namanya juga seorang Mama, pasti mengkhawatirkan anaknya bukan? Apa lagi Keano masih berusia 13 bulan. Dan Melody harus meninggalkannya dalam waktu yang lama.
“Oke. Aku tinggal, ya, La. Bye, Ken.” mata Melody berkaca-kaca, ia masih terus menciumi sekujur tubuh dan juga wajah Keano.
“Bye, Mommy.” Aku memainkan tangan Keano agar ia mau melambai pada Melody.
“Aku akan menelfonmu begitu sampai di sana.” Melody menggledek kopernya keluar.
“Hati-hati, ya. Mendungnya gelap sekali.” Aku menepuk pundak Melody.
“Oke. See you, La.”
“See you, Mel,” ucapku berat.
Melody memasuki taxi sesaat setelah mencium kening Keano. Keano hanya diam dan menikmati camilan yang tergenggam erat dalam kedua tangan mungilnya. Dalam hati aku bersyukur bayi ini tidak menangisi kepergian Mamanya.
“Masuk, ya, Ken. Kita bermain di dalam,” ucapku, bayi itu membalasnya dengan seulas senyuman yang sangat lucu dan menggemaskan.
“Oh.. Mami jadi ingin sekali menggigit pipi gembulmu, Ken.”
Kriinncingg kling... 🎶
Bunyi lonceng kembali terdengar. Beberapa orang masuk ke dalam cafe dan berhigh five dengan dua pemuda tadi. Mungkin mereka satu kelompok dan akan mabar bersama. Aku menyerahkan Keano pada Caca dan menuju ke mesin kasir.
“Pesan apa, Kak?” aku bertanya pada gadis manis di depanku.
“Caramel latte and hot chocolate.” pintanya.
“Atas nama?”
“Rere dan Nael.”
“65.000, mau E-money atau cash?”
“Cash.”
“Oke, ini buzzer -nya.”
Gadis itu telah menerima buzzer, namun tak kunjung pergi dari depan kasir. Membuatku kembali bertanya sebenarnya kenapa dengan orang-orang hari ini?
“Kak, boleh aku berfoto denganmu?” tanyanya sesaat sebelum aku mencoba beranjak pergi untuk menyiapkan pesanannya.
“Untuk apa?” Aku keheranan.
“Kau sangat cantik. Mirip sekali dengan tokoh game yang sedang ku mainkan.” Lagi-lagi aku mendengar hal yang sama.
“Oke, sekali saja, ya.” Akhirnya aku menyerah. Kalau bukan karena mereka adalah pelanggan tetap, aku pasti sudah menolaknya dari tadi.
“Yes, thanks, Kak.” katanya setelah berhasil berfoto selfie denganku.
Gadis itu kembali pada kelompoknya dan mulai mengutak atik ponsel mereka masing-masing. Sesekali mereka berteriak, tertawa, bahkan mengumpat saat pemain mereka terluka ataupun hampir kalah. Aku hanya tersenyum dan bergeleng pelan.
— MUSE S2 —
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah hampir pukul 7 malam, Caca juga sudah pamit dari jam 3 sore tadi karena ada ujian mid semester. Aku terpaksa mengurus Keano dan cafe seorang diri. Beruntung Keano tidak terlalu rewel atau menangis mencari Mamanya.
“Lebih baik aku tutup lebih awal.” gumamku. Badanku memang terasa sangat letih.
Akhirnya aku bangkit dan memutar papan tanda OPEN menjadi CLOSE pada pintu masuk. Pengunjung yang semula bersantaipun berangsur-angsur mulai menghilang dengan perlahan, meninggalkan area cafe.
Aku menghela napas dalam-dalam dan mulai bangkit untuk menidurkan Keano. Aku harus menidurkan bayi ini sebelum mengelap semua meja dan mencuci semua peralatan dapur. Oh Gosh.. Tugasku masih banyak dan menggunung.
•
•
•
Ternyata tak butuh waktu lama untuk menidurkan Keano, mungkin dia benar-benar kecapean karena harus mengikutiku bekerja seharian. Begitu susu dalam botolnya habis dia langsung tertidur dengan nyenyak. Pelan-pelan aku merebahkan tubuh mungilnya di atas kasur. Aku menyalakan Ac dan menyelimutkan selimut lembut bergambar teddy bear kesayangannya. Setelah menghidupkan lampu kamar aku bergegas meninggalkan Keano untuk membersihkan cafe.
JREEESSS...
Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Sepertinya langit sudah tak sanggup lagi menahan tangisannya. Air hujan tercurah begitu deras. Membuat bunyi gaduh saat terjatuh di atas atap.
Aku tak mempedulikan hujan yang turun dengan deras dan lebih berfokus pada pekerjaanku. Aku mengelap semua meja lalu membalik kursinya di atas meja. Mencuci semua peralatan brewing, kemudian menyapu dan mengepel lantai. Aku menyeka keringat yang menetes dari pelipisku. Aku tersenyum puas, aku begitu menyukai pekerjaanku ini. Aku sangat menyukai setiap hasil yang kuraih.
“Ah, hujannya deras sekali.” Aku celingukan memandang ke luar jendela, meja-meja outdoor belum aku lipat kembali.
Aku berlari kecil menuju ke area outdoor di depan cafe. Ada dua meja lipat dan 4 buah kursi besi yang harus aku amankan. Tanpa menggunakan payung aku mencoba membereskan semuanya. Bukannya tanpa pertimbangan, sih. Setelah semua ini selesai aku akan segera mandi, jadi basah sedikit juga nggak apa-apakan? Lagi pula membawa payung malah akan membuat pekerjaanku menjadi lebih sulit. Aku butuh kedua tanganku untuk melipat mejanya.
Aku mencoba melipat meja terakhir, namun engselnya stuck. Membuatku harus berlama-lama dalam guyuran air hujan saat mencoba untuk melipatnya. Rambutku kini mulai basah, begitu pula pakaianku. Aku mulai kedinginan, tiba-tiba sebuah payung meneduhkanku dari derasnya air hujan.
Aku berjengit kaget. Siapa? Siapa yang memberikan payungnya padaku?
Dalam derasnya air hujan dan dinginnya malam. Aku masih bisa mencium aromanya yang hangat. Wangi parfum mahalnya begitu menggelitik indra penciumanku. Aroma laut dan citrus yang begitu maskulin, aroma itu mulai membangkitkan kenangan yang telah lama terkubur di dalam benakku.
Membangkitkan kenangan akan dirinya.
Membangkitkan kenangan akan malam itu.
Membangkitkan kenangan saat aku melepaskan segalanya untuk bersatu dengan dirinya.
Membangkitkan kenangan yang perih, menyakitkan, namun juga sekaligus manis.
Wajahnya yang semula begitu buram kini perlahan-lahan menjadi jelas dan nyata. MUSE yang tak pernah tergambar sempurna itu kini kembali hadir dalam hidupku.
“Baby...” panggilnya lirih.
— MUSE S2 —
OMG Akhirnya...
Arvin ❤️
Kalila ❤️
Dukung kisah cinta mereka ya gaes
Like commen dan juga vote..
Biar MUSE tambah femes..
Ikut GC author yuk..
Biar bisa ngbrol ama author.
😘😘