MUSE

MUSE
S3 ~ DENDAM



MUSE S3


EPISODE 96


S3 \~ DENDAM


\~ Aku mengaggumi karya Leon. Dia selalu membuat ditail keramiknya begitu indah. Sentuhan tangannya memang luar biasa. \~


_______________


HOEK!! HOEK!!


Aku memuntahkan semua makanan yang baru saja aku makan ke dalam closet kamar mandi. Setelah semuanya selesai aku terduduk pada lantai toilet. Mencari udara dan melemaskan otot.


“Hah..., hah,” napasku tersengal-sengal karena proses memuakkan ini memang menguras banyak energi. Membuat napas dan juga detak jantungku menjadi begitu cepat.


TOK TOK TOK....


Terdengar seseorang mengetuk pintu cubicle toiletku saat ini, “Kanna, apa kau baik-baik saja?”


Ah, ternyata Orela, senior satu kampusku dulu, kini dia adalah sekretaris tunanganku, Zean. Aku langsung bergegas bangkit dan berteriak untuk menjawabnya, “aku baik-baik saja!”


Setelah menyiram semuanya aku keluar untuk menemui Orela, dia memandangku dengan wajah iba. Aku tak suka dengan pandangan itu.


“Apa kau masuk angin? Atau mungkin hamil?” tanya Orela, is terus mengekorku dengan penasaran.


Huh, sialan, kenapa dia harus datang saat aku baru saja memuntahkan semua isi perutku? Aku jadi tak bisa menyikat gigi agar napasku tidak bau.


“Jangan mengada-ada Orela, aku masih mau menyelesaikan kuliah dan meneruskan cita-citaku, lagi pula aku hamil dengan siapa?” akhirnya aku putuskan hanya mencuci tangan. Aku menatap wajah Orela dari cermin di atas deretan wastafel.


“Siapa lagi? Tuan Zeanlah! Kaliankan sudah bertunangan.”


“Ck, aku hanya nggak enak badan!”


“Jadi kau masuk angin?”


“Iya, kembung, mungkin maag-ku kumat,” jawabku, tak mungkin aku mengatakan padanya kalau aku seorang bulimia*.


“Kenapa kau kemari?”


“Tuan Zean mencarimu.”


Kami berdua kembali menyelusuri koridor gedung perkantoran milik Zean. Gedung itu sangat besar dan punya banyak departemen. Zean adalah pria yang sukses, dia membangun sendiri sebuah perusahaan trading yang cukup besar di kota J. Aku baru bertunangan dengannya enam bulan belakangan ini. Zean adalah seorang pria yang kaya dan mapan, dia langsung melamarku saat satu bulan pertama kami berpacaran. Dia pikir tak ada salahnya mengikat hubungan terlebih dahulu. Hal ini langsung disetujui oleh orang tuaku.


“Bukankah dia sudah mapan dan kau sudah cukup umur?” kata Papa dulu saat beliau memaksaku menerima lamarannya.


Akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamarannya, aku mengajukan syarat agar kami menikah saat aku sudah lulus kuliah. Nanggung rasanya, karena kuliahku sudah hampir selesai.


KLEK!


Setelah mengetuk beberapa kali. Pintu ruangan Zean dibuka oleh Orela, ia mempersilahkanku masuk dan mengangguk sebelum pergi.


“Dari mana kau, sayang?” tanya Zean ditengah-tengah kegiatannya memeriksa dokumen.


“Aku dari toilet,” jawabku sembari mendekati jendela kaca besar di ujung ruangan. Aku bisa melihat hiruk pikik kendaraan di depan kantor, kemacetan yang selalu terlihat di slusur jalanan ibu kota.


“Lama sekali?”


“Aku memperbaiki make up -ku.”


Aku melihat pantulan Zean dari kaca. Wajahnya tampan dan sedikit kebarat-baratan. Dia memang masih memiliki darah keturunan eropa. Entah dari kakek atau neneknya. Manik matanya berwarna coklat hazel, sudut matanya tajam dan hidungnya mancung. Rambutnyapun juga berwarna coklat seperti matanya, berpotongan model undercut yang membuatnya terlihat begitu manly.


Zean meletakkan bolpoinnya dan menghampiriku. Ia memeluk pinggangku dari belakang, tanpa ragu ia mengecup leherku. Napasnya yang terrasa panas pada tengkuk kepala membuatku bergetar. Zean memang ahlinya membuatku merasa dikagumi dan juga menginginkan dirinya.


“Tidak, jangan di kantor, Zean. Orang bisa melihat kita,” tolakku, aku menggigit kuku-kuku cantikku. Pantulan bayanganku dan dirinya terpampang pada kaca tampred biru laut di depan kami.


“Nope, sayang. Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu.” Zean mengangkat tangannya, dan sebuah kalung rantai jatuh menjuntai.


“Zean?!” Aku menutup mulutku tak percaya, sebuah kalung dari VCA yang baru saja launching. Kalung itu paling tidak berharga hampir 500 juta. Dan Zean memberikannya untukku.


Aku langsung memutar tubuhku dan memeluk erat dirinya. Zeanpun melakukan hal yang sama. Ia tersenyum dan memasangkan kalung dengan model pendant semanggi empat bertahtakan butiran berlian disekelilinganya, pada leherku.


“Kau terlihat begitu menawan, Kanna. Kau wanita yang sempurna.” puji Zean, pujiannya malah membuatku kehilangan ekspresi. Aku bukan wanita yang sempurna, aku penuh kekurangan. Zean tidak pernah tahu wujud asliku, dia hanya mengenal sosokku yang sudah berubah.


“Kanna? Kanna? Kenapa kau diam?” Zean mengibaskan tangannya di depanku. Ekspresinya ikut kebingungan.


“Maaf, Zean. Aku hanya teringat akan masa lalu,” senyumku simpul.


“Oh, kenapa dengan masa lalumu?”


“Aku teringat saat-saat menyedihkan karena aku miskin, jadi banyak yang menghinaku. Sekarang bahkan di leherku ada kalung senilai ratusan juta, begitu ironi,” dalihku, aku tak ingin dia tahu bahwa dulu aku adalah seorang wanita gedut yang buruk rupa.


“Siapa yang menghinamu, Kanna? Aku akan membuat mereka membayarnya.” Zean menautkan alisnya.


Ah, kenapa dia begitu baik padaku? Membuatku merasa bersalah karena telah membohonginya seperti ini. Bahkan perasaankupun belum sepenuhnya tulus padanya.


“Aku sudah memaafkan mereka, Zean.” Aku kembali memutar tubuhku dan melihat pantulan diriku pada kaca jendela.


Siapa wanita itu? Siapa yang berdiri di depanku saat ini? Wanita dengan kemolekan tubuh, kecantikan wajah, juga penuh dengan barang-barang mewah.


Apakah itu diriku?!


Apakah dia masih, Kanna? Kanna yang miskin dan bab1 gendut yang dilecehkan oleh orang-orang?


“Aku sendiri bahkan sudah tak mengenali siapa diriku?” pikirku hina.


“Kanna, kau melamun lagi?!” Zean sedikit meninggikan suaranya agar aku tersadar.


“Maaf, Zean. Entah kenapa hatiku sedikit kalud?!” Aku melangkah mendekati Zean yang sudah kembali pada meja kerjanya.


“Apa sebaiknya kita berbelanja agar hatimu lebih enak?” Zean bangkit, meletakkan bolpoinnya kembali dan menyahut kunci mobil.


“Belanja?”


“Yah, ada pameran porcelain. Bagaimana kalau kita melihat-lihat? Kalau kau suka, Kita bisa membelinya untuk mengisi interior rumah baru kita.” Zean menggandeng tanganku.


“Baiklah,” kataku bersemangat.


Kami mengitari ruas jalan ibu kota, sedikit legang karena jam makan siang telah berakhir. Zean menyetir sendiri mobil sport mewahnya sampai kami berhenti pada sebuah gallery seni. Zean bilang ada pameran pottery yang cukup besar, artisnya baru naik daun belakangan ini berkat bantuan pemilik gallery.


“Kata Paman Julius, dia sangat berbakat. Keramik dan porcelain yang dibuatnya begitu indah.” Zean terus memuji seniman yang direkomendasikan oleh Pamannya.


Seni keramik, ya? Sudah lama sekali aku tak melihat seni keramik. Dulu Leon adalah seorang seniman keramik juga, dia masih amatir. Walau menurutku karyanya begitu indah, tapi sayangnya keluarga Leon terlalu sederhana untuk membantunya mengembangkan bakat.


“Sudah lama aku tak bertemu dengan Leon, bagaimana kabarnya, ya? Apa dia masih marah padaku?” pikirku dalam hati.


Zean memarkirkan mobilnya dan membantuku keluar. Heels 10 cm ini memang membuatku kesusahan menuruni mobil sport karena body mobilnya yang pendek.


“Thanks, Zean.”


“Welcome,dear .”


Kami masuk dan melihat-lihat, gallery seni itu dipenuhi oleh banyak orang yang juga penasaran dengan karya seniman baru ini. Aku kira suasananya akan sedikit tenang seperti kebanyakan gallery seni pada umumnya. Tapi ternyata cukup riuh, beberapa kolektor dan wartawan terlihat mengaggumi hasil karya seniman itu.


“Wah, ramai juga ternyata.” Zean mengajakku masuk lebih dalam.


Kami melihat-lihat vas bunga, gucci, tea pot set, piring, hiasan dinding, dan sebagainya. Aku berjalan lebih lambat di belakang Zean. Sesekali aku memutar jariku yang lentik pada bibir gucci, merasakkan ke-rataan permukaannya. Leon pernah bilang, semakin rata dan halus bibir gucci maka semakin bagus pula hasilnya.


“Siapa nama senimannya?” Aku mengitari karya-karyanya berharap mendapatkan notes bertuliskan nama senimannya. Namun semuanya kosong, hanya nama karya dan juga cap simbol kepemilikkan.


Tunggu!! Kenapa cap simbol kepemilikkan karya itu bergambar singa? Simbol berwarna merah itu berbentuk kepala singa dengan surainya yang mengembang.


Jangan bilang kalau seniman muda itu...,


“Hallo, Tuan. Nama saya Leon.”


DEG...,


Bisa ku rasakan degupan jantungku yang berdetak tak beraturan. Ternyata benar dugaanku, Leonlah seniman itu.


Aku memutar tubuhku perlahan-lahan, memastikan bahwa bukan dirinyalah yang berdiri di sana. Namun ternyata lagi-lagi doaku tak terkabul. Leon sudah berdiri di depan Zean, ia didampingi oleh Julius, Paman dari Zean.


“Aku, Zean.” Zean menjabat tangan Leon yang terjulur padanya.


Aku terdiam membeku, menyaksikan keberadaannya seakan menguliti nuraniku. Aku pernah mengecewakan laki-laki itu.


“Kanna!! Kanna, kemarilah, sayang!!” Zean membuatku terkejut. Dengan berat aku melangkah mendekati mereka bertiga.


“Kanna.” Aku masih merasa bergetar dan berdegup kencang.


“Kau sangat cantik, Kanna. Pantas Zean tergila-gila padamu.” puji Julius.


“Terima kasih, Paman.”


“Aku sangat pintar mencari calon istrikan, Paman?” Zean tersenyum bangga.


“Ini Leon. Seniman jenius yang membuat semua karya indah ini.” Zean mengalihkan pandangannya pada Leon. Ia terus memuji keahlian Leon. Ia mengenalkanku padanya.


“Hallo, Kanna. Namaku Leon.” ucapnya dengan santai, ia bisa mengulurkan tangannya seakan-akan tak pernah terjadi hubungan apapun di antara kami.


“Ka..., Kanna,” jawabku dengan terbata-bata.


“Bagaimana bisnismu, Zean?”


“Cukup baik, Paman.”


“Diana apa kabar?”


“Kakak ke luar negeri, meneruskan karirnya.”


“Sudah 4 tahun sejak ia mengenal Arvin. Aku kira Diana tak akan pernah bisa move on.” Julius menghela napasnya dengan berat.


“Dia sudah baik-baik saja sekarang, Paman.” Zean mengangguk.


Aku terdiam, mengalihkan fokusku pada pembicaraan mereka. Namun aku merasa roaming dengan pembicaraan itu. Yang aku tahu hanya nama Diana, dia adalah kakak perempuan Zean. Creator make up, aku pernah bekerja dengannya satu kali. Sudah lama Diana dirawat jalan oleh psikiater karena karir dan cintanya kandas. Kini sepertinya dia sudah pulih dan memilih meneruskan hidupnya di negeri orang.


“Oh, ya, Zean. Aku ada sebuah bisnis baru. Bisa kita bicara sebentar? Aku ingin memakai jasa trading milikmu.” Julius menepuk pundak Zean dan mengajaknya menepi ke sisi lain gallery.


“Baik, silahkan lanjutkan pembicaraannya, saya akan kembali ke kantor.” Leon pamit pada kami bertiga, Julius dan Zean mengangguk seraya memberikan senyuman santun, hanya aku yang terdiam.


Kepergiannya membuat hatiku lega, aku tak tahu harus berkata apa padanya. Salahku sampai hubungan kami menjadi rusak seperti ini. Bukan salahnya kalau menganggap tak pernah mengenalku sebelumnya. Mungkin juga aku malah merasa lega karena Leon tak akan mengusik hubunganku dengan Zean.


“Berputar-putarlah, Kanna. Kau bisa membeli semua yang kau inginkan.” Zean berbisik dan mengecup pipiku lembut.


“Baik, Zean,” jawabku.


Aku meninggalkan mereka berdua yang saat ini sedang asyik membicarakan bisnis mereka. Aku sendiri memilih pergi karena tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Bisnis bukanlah passion -ku.


Aku mengitari gallery seni itu. Vas-vas indah, peralatan keramik yang cantik, juga berbagai macam foto karya terpajang begitu rapi. Aku mengaggumi karya Leon. Dia selalu membuat ditail keramiknya begitu indah. Sentuhan tangannya memang luar biasa, dia benar-benar pria yang penuh bakat.


SRET!!!


“Ach...!” Aku hendak terpekik karena kaget, namun sebuah tangan menutup mulutku.


“Diam, Kanna! Ikut aku!” bisik seseorang dari belakang.


Aku mulai ketakutan, apa lagi saat mengetahui bahwa Leonlah yang menyeretku ke dalam koridor sepi di belakang gedung gallery.


Kami masuk pada sebuah ruangan bertuliskan staff only. Sebuah tempat di mana para seniman membetulkan karyanya yang terluka saat perjalanan. Selain pemilik karya, tidak mungkin ada orang yang berani masuk kemari.


“Leon?!!” seruku meminta penjelasan begitu ia melepaskan cengkramannya.


“Hallo, Kanna. Lama tak berjumpa.” seringai menakutkan tergores pada wajahnya yang tampan.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyeretku kemari?”


“Wah, wah, Kanna sepertinya tak suka dengan keberadaan seorang Leon sekarang.” Leon berjalan mendekatiku.


Aku semakin melangkah mundur, sampai akhirnya terpepet pada dinding dingin di belakangku. Langkahku habis, Leon semakin mendekat. Sampai akhirnya napasnya terasa panas menyentuh kulit wajahku. Aku memejamkan mataku dan menunduk untuk menghindari pandangannya yang menusuk hati.


“Kenapa kau setakut itu saat bertemu denganku, Kanna?” Leon mengelus wajahku.


“Leon, tolong jangan begini!”


“Kau takut aku membongkar hubungan kita dulu di depan pacar kayamu?” Leon mengangkat daguku agar pandangan kami bertemu.


“Leon, tolong, maafkan aku.”


“Kau membuangku demi pria itu. Kau membuangku karena kau kini cantik dan terkenal.” Leon semakin mendekatkan wajahnya, ia mencium pipiku. Rasa basah dan hangat menempel cukup lama di sana.


“Leon, please. Seseorang mungkin akan melihat kita,” pintaku, aku mencoba mendorong tubuhnya menjauhiku.


“Kanna, tak taukan betapa menderitanya aku tanpamu?” Leon mencium leherku, kini tangannya mengusap pundak dan turun di depan dada, dengan cekatan ia membuka kancing blusku.


“LEON!!!” bentakku, aku meronta untuk melawan tindakkannya.


Apa yang ingin Leon lakukan? Aku tak bisa berteriak minta tolong karena Zean akan mengetahuinya. Aku tak bisa mempermalukan Zean di depan banyak orang.


“Leon!! Berhenti!! Kau mau apa??!” Aku mencoba mendorong dan menarik tangan Leon, mencoba menghentikan aksinya melucuti kancing bajuku.


Tapi tenaga Leon jauh lebih besar, ia mengunci kedua tanganku di atas kepala. Wajahnya yang tampan terlihat puas dengan apa yang dia lakukan. Membuatku bergidik ketakutan.


Setelah sebuah seringai tajam, Leon menyesap belahan dadaku. Meninggalkan beberapa kiss mark berwarna biru kemerahan.


“Leon!!! Berhenti!!!” Aku berteriak padanya, aku merasa jijik dengan perlakuannya.


“Bukankah tubuh indahmu ini adalah aset untuk menggodanya?” Leon bangkit, ia melepaskan cengkramannya.


Dengan segera aku menutup kancing bajuku juga menghapus keringan dan air mata yang mulai membasahi sudut mataku.


“Kau brengsek!!” umpatku padanya.


“Aku meninggalkan bekas padamu, Kanna. Kini lihat apakah hari ini kau bisa melayaninya dengan tubuhmu yang kau banggakan itu?!” Leon mendekatiku.


PLAK!


Tanpa ragu aku menampar pipinya. Aku merasa marah dan geram. Aku bukan wanita murahan!! Aku bukan pel4cur! Aku tak melayani Zean karena uangnya, aku mulai belajar mencintainya.


“Kau memang baj1ngan, Leon!”


Leon tak merasa bersalah, ia malah kembali mendekatiku sampai aku kembali terpojok. Aku semakin ketakutan, keringat dingin keluar dari pelipis dan seputar wajahku.


“Kita lihat saja, Kanna. Dia pasti akan membuangmu setelah tahu wujud aslimu. Dan dengan kedua kakimu, kau akan memohon untuk kembali ke sisiku. Meminta maaf akan semua kelakuan busukmu itu!!” Leon menahan sebelah bahuku, rasanya sangat menyakitkan.


“Leon!!”


“Kau tak akan bisa hidup tanpaku, Kanna! Kau yang paling tahu itu!” Leon melepaskan cengkramannya dan meninggalkanku.


Aku terperosot ke bawah dan menangis. Sepertinya aku memang telah menyakitinya begitu dalam. Aku memang meninggalkannya karena Zean. Seluruh keluargaku menentang hubungan kami. Mereka bilang Leon tak akan bisa menjamin hidupku, kebahagianku, juga keluargaku. Sedangkan Zean adalah pria yang mapan, dia pasti bisa membahagiakanku.


Saat itu Leon terus memperjuangkan hubungan kami, ia terus mengasah kemampuannya dan berharap bisa memberikan kemakmuran padaku. Tapi aku malah meninggalkannya begitu Zean datang dalam kehidupanku. Aku meninggalkannya begitu saja, Oh, poor Leon, dia pasti terluka.


Aku menangis menyesali kebodohanku.


Ah, Mungkin Leon benar!!


Aku memang pel4cur, aku wanita yang hina.


— MUSE S3 —


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama.


Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya.


Love,


Dee ❤️❤️❤️


NOTED:


Bulimia adalah sebuah ganggaun pola makan. Dapat dialami oleh siapa saja, terutama wanita dewasa dan remaja, yang merasa tidak puas dengan berat badan atau bentuk tubuhnya. Penderita bulimia cenderung melakukan cara yang tidak sehat untuk menurunkan berat badannya, yaitu dengan mengeluarkan makanan secara paksa, baik dengan memuntahkannya atau menggunakan obat pencahar.