MUSE

MUSE
S4 ~ KUMOHON RA!



MUSE S4


EPISODE 26


S4 ~ KUMOHON RA!


~ Aku menghapus lagi air matanya dan memberikan seulas senyum agar Inggrid ikut tersenyum. Dengan tatapan penuh gairah aku kembali ******* bibirnya dan memainkan setiap jariku pada tubuhnya.~


_____________________


KEN POV


"TOLONG!!!!” Jeritan Inggrid terdengar menyayat hatiku, bahkan kali ini lebih keras dari yang pertama.


Sial!! Kenapa tidak ada orang yang lewat?!


PLAK!!!


B*jingan sialan itu menampar wajah Inggrid! Kenapa? Kenapa jadi begini?!


Sebenarnya apa yang telah terjadi? Sebenarnya ada masalah apa?


BUK!!


“ARGH!!!” Aku berteriak kesakitan, meludahkan lagi darah yang bercampur dengan air liur. Mereka memukul dan menendangku tanpa ampun.


Untung saja tubuh ini telah terlatih, untung saja Ra begitu suka berolah raga. Setidaknya aku masih bisa menahan serangan mereka.


BRREETTT!!!


Bunyi robekan terdengar nyaring, aku terkejut, mereka merobek baju Inggrid. Menampilkan bagian depan tubuhnya. Inggrid menangis dan tertunduk lesu. Wajah cantiknya terlihat mengenaskan, dan rambutnya acak-acakan.


Mereka beralih yang semula mengerumuniku dan kini mengerumuni Inggrid. Mereka menonton tubuh wanita yang ku cintai dengan pandangan mesum. Brengsek!!! Apa mereka pikir itu sebuah tontonan yang menarik?


Ra!! Kumohon bangun!!


Ra ku mohon dengarkan aku!!


Inggrid membutuhkanmu, Ra!!


RAAAA!!! KUMOHON!! Mereka bisa melecehkan Inggrid.


Aku terus berteriak memanggil nama Inggrid dan memaksa Ra untuk keluar.


Benakku tetap hening.


“Inggrid!!” panggilku lagi, dengan sempoyongan aku berdiri. Aku harus mengalihkan. Perhatian mereka dari tubuh Inggrid.


Para b*jingan itu mengalihkan pandangannya, dia kembali menyuruh temannya untuk mencengkram lenganku, lalu melayangkan sebuah pukulan bertubi-tubi di wajah dan tubuhku.


BUK!!


Bunyi pukulan yang beradu.


“Tidakk!!!!” teriakan Inggrid terdengar lagi.


RAAA!!! Di mana kau??! Di mana kau saat Inggrid membutuhkanmu?!!


Keluarlah Ra!! Bantu kami!! Lakukan untuk Inggrid, aku tak bisa melindunginya!! Lindungi Inggrid, aku rela pergi asal kau menyelamatkannya!


KUMOHON RA!!!


Aku memang lemah, aku pencundang, aku tak bisa melindungi Inggrid. Ra, aku minta maaf padamu, bukan salahmu marah padaku. Kau bisa memukulku kalau bisa, kau bisa menekanku kembali kalau mau. Aku rela Ra!! Tapi tolong selamatkan Inggrid! Aku yang akan bersembunyi di dalam benak kita selamanya. Aku akan menghilang dari Keano. Ku mohon Ra!! Inggrid membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu, Keano membutuhkanmu.


“Inggrid!!” lirihku. Aku tersungkur lemas di atas tanah, debunya membuat tubuhku semakin kotor.


Kepalaku begitu pening, dan pandanganku mulai kabur. Anyirnya darah terus terkecap, perihnya luka mulai menghilang seiring dengan kesadaranku.


“Panggil Ra Inggrid!! Panggil dia!!” Aku berusaha berteriak dengan sisa kesadaranku.


Tidak!! Lepasin kalian menjijikan!


Ken!!!


Bangun!!!


Raaaa!!!


Tolong aku!!!


Ra!! Tolong Aku! RAAA!!!


Suara Inggrid, teriakan Inggrid, menggema di seluruh relung hatiku, menggema di seluruh jiwaku. Menutup kesadaranku dan menggantinya dengan Ra ....


RA POV


“Hei!!” Aku mencengkram bahu lelaki b*jingan yang menjadi pemimpin para brandalan ini.


Ketujuh orang berandalan itu memandangku dengan heran. Bagaimana mungkin aku masih bisa bangkit setelah menerima semua serangan mereka? But, sorry gaes, aku bukan Ken yang lemah.


BUK!!!


Aku memberikan sebuah pukulan langsung pada wajahnya. Sekuat tenaga yang ku punya, sekuat tenaga yang tersisa. Sayangnya satu, tenagaku masih full karena aku baru saja bangun, Duh, pasti dia merasa sangat kesakitan.


Lelaki itu tersungkur ke bawah, memegang wajahnya yang peot. Mengerang kesakitan, aku menatapnya dengan bahagia. Aku yakin telah mematahkan hidungnya.


Aku beralih pada kedua orang yang memegang tubuh Inggrid. Melihat Inggrid tertunduk lesu dan hampir tak sadarkan diri membuat amarahku semakin tak terkendali. Aku berlari dan menendang dada b*jiang itu sampai terpental. Lalu menarik tubuh Inggrid dari yang lainnya.


“Ra ...?” lirih Inggrid.


“Maaf, Inggrid.” Aku mengelus wajah cantiknya yang kacau. Pipinya memerah, bekas tamparan dari cecunguk muka badak. Aku pastikan akan mematahkan tangannya untukmu Inggrid.


“Aku yang harusnya minta maaf.”


“Sstt ... jangan banyak bicara.” Aku menutup mulut Inggrid dengan jari, pandangku tertuju pada kelima orang yang masih berusaha mengerumuniku.


Aku melepaskan kaosku dan memakaikannya pada Inggrid. Walaupun kotor dan penuh darah setidaknya bisa menutupi tubuhnya yang terbuka. Aku tak rela siapapun melihat tubuh rampingnya.


“BRENGSEK!!!” mereka langsung bergegas menyerangku.


“Tunggu di sini, Inggrid.” Aku ikut maju, meninggalkan Inggrid yang masih terduduk lemas di tanah.


Buk!! Bak!! Bukk!!


Dua kali zap, satu kali hook keras pada wajah, dan terakhir upercut. Oke satu tumbang. Ada yang menahan tubuhku dari belakang, dan seorang hendak memukulku, aku membalik tubuhnya sehingga orang yang memukulku jadi memukul punggung temannya. Tak lama aku berhasil meloloskan diri, dengan segera aku menendang wajahnya sampai ia tersungkur ke bawah, darah menetes dari hidungnya.


“K*parat!!” Teriak mereka.


“Maju kalian!! Dasar lemah!!” Aku meludahkan darah bekas pukulan mereka tadi. Pandanganku sedikit kabur karena tubuh ini memang telah terluka sebelumnya.


“Hiyya!!!”


Aku menunduk, lalu memberikan zap pada perutnya. Cukup keras sampai berhasil membuatnya memuntahkan isi perutnya.


“Sial!! Ayo kabur saja!!!” Sebagian yang lain ketakutan dan membantu temannya kabur.


Kini hanya tinggal tiga orang yang tersungkur ke bawah. Meringkuk kesakitan.


Aku memang sengaja membuat mereka bertiga merasakan pukulan yang menyakitkan. Ketiganya adalah lelaki yang menyentuh Inggrid dengan tangan kotornya.


Aku mendekatinya!! Memulai balas dendamku demi wanitaku. Dimulai dari pecundang paling brengsek ini dulu, si muka badak.


“Arrgghh!!!” Teriaknya saat aku menjambak rambutnya.


“Kau mencari lawan yang salah!!” bisikku.


“Tolong ampuni aku!” lirihnya. Wajahnya ketakutan, Ya ampun, kenapa dia jadi begitu pengecut? Kemana kepercayaan diri dan ucapan sombongnya tadi?


“Hah, dasar bodoh!! Sory, aku sudah berjanji untuk mematahkan tanganmu!” Aku bangkit dan menginjak tangannya, menghancurkan pergelangan tangannya dengan sekali injakan.


“AAAAKKKHHH!!!!” teriakan pilu dan rasa sakit terdengar merdu.


Keringat membanjiri wajahnya, air mata dan lengguhan sakit terus terdengar. Aku menyeringai puas, kini tinggal dua orang lainnya. Mereka mundur ketakutan, memohon ampunanku.


“Maafkan kami, kami hanya mengikuti kemauannya.”


Aku menarik kerahnya. Membuatnya kembali tersungkur, aku mengambil segenggam tanah dan menggunakan tanah itu untuk mengusap wajahnya.


“Ini untuk tamparanmu dan air mata Inggrid!!” Aku bangkit, lalu menginjak lagi pergelangan tangannya dengan sekuat tenaga.


“AAAKKHHH!!!” rintihan kesakitan kembali terdengar.


“Kurang satu!!”


“Tolong jangan!! Jangan patahakan tanganku.” ibanya.


“Apa kau tadi menghentikan tindakanmu saat Inggrid memohonnya??!” Aku kian mendekat, lelaki itu mundur, sekejap kemudia dia pipis di celananya.


Aku berjongkok di depannya. Mengeplak kepalanya beberapa kali. Menyalurkan rasa benci dan amarah yang belum sepenuhnya menghilang.


“Kemarikan tanganmu!!” Aku memaksanya menyerahkan tangannya.


Dengan sekuat tenaga aku menarik tangannya dan menindihnya dengan lututku. Lalu memukul persendiannya dengan sekali pukulan telak. Bunyi tulang yang bergeser terdengar ngilu.


“AKKHH!!!” Sekali lagi teriakan rasa sakit itu terdengar.


“Beruntunglah kalian aku hanya mematahkan tangan kalian. Sampai aku melihat kalian mengganggu Inggrid lagi. Aku pastikan nyawa kalian pun akan menghilang!”


Aku menghela napas, mengatur napasku yang kelelahan. Aku bergegas menuju ke Inggrid yang terduduk lemas. Ia masih menangis dan tertunduk lesu.


“Inggrid. Sudah selesai, tidak apa-apa.” Aku mengusap wajahnya, membersihkannya dari debu dan keringat.


“Kau terluka, Ra?” Inggrid mengelus wajahku, membuatku meringis karena luka-lukanya berdenyut perih.


“Ayo kita pulang!” Aku membantunya berdiri.


Inggrid mencoba berdiri, namun kakinya lemas dan ia terjatuh lagi.


“Naik ke punggungku, Inggrid.” Aku berjongkok dan memberikan punggungku padanya.


“Ra, kaupun terluka.”


“Naik saja. Tenagaku masih lebih banyak di banding dirimu.”


Inggrid naik ke atas punggungku. Mendekapku dengan erat. Aku bangkit dan mulai berjalan, merasakan kehangatan lengannya yang melingkar di leherku.


Sepanjang perjalanan pulang Inggrid terus menangis dan menangis. Aku tak tahu harus berbuat apa.


“Pulang ke rumahku?” tanyaku.


“Iya, Ra.”


Aku sendiri tak bisa membiarkan papi Arvin melihat kami pulang dengan keadaan seperti ini, bisa-bisa ia membunuhku tanpa bertanya terlebih dahulu. Untung saja Inggrid tidak terluka, hanya wajahnya yang memerah akibat tamparan tadi. Semoga besok tidak bengkak.


“Maaf Ra.”


“Kenapa terus meminta maaf?”


“Aku bersalah padamu. Aku mau membuatmu menghilang, aku bodoh karena tak bisa mengerti maksud dan perasaanmu.”


“Sudahlah, semua juga keputusanku.” Aku mempercepat langkah kakiku.


Kami berjalan kembali dalam diam, bisa ku rasakan air matanya yang basah turun mengguyur punggungku. Isakan lirih Inggrid membuat perasaanku sakit. Ternyata keputusan yang ku ambil pun membuatnya juga terluka. Ternyata perasaan begitu rumit, rasa cinta itu begitu aneh.


“Sampai.” Aku menurunkan Inggrid di depan pintu rumahku dan menggandengnya masuk.


“Mama sudah tidur.” Aku melirihkan suara dan mengendap-endap masuk ke dalam rumah.


“Iya.”


“Naiklah Inggrid. Aku akan mengambil es untuk mengopres wajahmu,” kataku. Inggrid mengangguk sebagai jawaban.


Lauknya di kulkas


Panasi saat kau pulang.


Aku membaca pesan memo dari mama yang tertempel pada pintu kulkas. Aku menghela napas dan mengambil segelas penuh es batu, menaruhnya dalam kantong plastik dan membungkusnya dengan handuk tipis.


Aku bergegas naik, Inggrid sedang memeluk lututnya di atas kursi belajar. Aku mendekatinya dan mengopreskan es pada wajahnya yang cantik. Inggrid menyentuh tanganku. Ia menatapku lamat-lamat dan akhirnya kembali menangis.


“Jangan menangis lagi, nanti matamu ikutan bengkak.” Senyumku.


“Aku takut Ra. Kalau kau tak muncul entah bagaimana nasibku.” ujar Inggrid. Aku bisa mengerti ketakutannya, tak mungkin dia tak takut dengan keadaan tadi, semua orang melihat tubuhnya, menyentuh tubuhnya.


“Mandilah Inggrid, bersihkan tubuhmu dari tangan para ******** itu!” Aku bangkit dan mengambil baju bersih dan juga handuk.


“Baik, Ra.”


“Aku akan mandi di kamar mandi bawah.”





Aku telah selesai membersihkan tubuhku dari debu, darah, dan keringat. Mengobatinya dengan obat merah pada luka-luka yang terbuka. Kurang di bagian punggung, tanganku tak bisa menjangkaunya.


“Kau sudah selesai?” tanyaku saat masuk ke dalam kamar.


“Iya sudah.”


“Mau aku antar pulang sekarang?”


“Aku nggak mau pulang, Ra.”


“Papi akan membunuhku Inggrid.”


“OK, ijinkan aku menenangkan diri sebentar.” pintanya.


“Baiklah.”


Aku duduk di bibir ranjang, Inggrid duduk di belakangku. Masih memeluk lututnya, tangannya bahkan masih terlihat gemetaran. Aku menyerahkan sebotol obat padanya, “tolong oleskan pada bagian belakang.”


“Baik, Ra.” Inggrid dengan cepat mengoleskan obat merah pada punggungku, sesekali aku meringis karena rasanya sangat perih.


Tiba-tiba sebuah kecupan hangat dan sentuhan lembut Inggrid bersarang pada punggungku. Inggrid melingkarkan tangannya diperutku dan kembali mencium punggungku.


“Hiks ...! Aku takut Ra! Aku takut.”


“Kemari.” Aku langsung memutar tubuhku dan memeluknya.


“Rasanya begitu kotor!! Mereka menyentuh tubuhku dengan tangan kotornya.” Inggrid terisak.


Aku mengepalkan tanganku geram. Ken si pecundang ini!! Bagaimana dia bisa selemah ini dan tak bisa melindungi Inggrid. Aku sendiri juga salah, kenapa tak segera mendengar mereka dan keluar?!


“Maaf Inggrid.”


Inggrid mengangkat wajahnya, aku melihat pandangan matanya yang begitu sayu dan terluka. Aku tak bisa menahan diriku lagi. Aku ingin menghapus segala rasa takut dan juga kotor dari tubuhnya.


Sekejap kemudian aku menempelkan bibirku di atas bibirnya. ********** dengan lembut, dalam, dan penuh rasa manis. Alunan gerakan kami saling bersahutan, Inggridpun tampak begitu menikmatinya.


“Aku akan menghapusnya, Inggrid! Rasa kotor itu.”


Aku mengelus wajahnya, mengusap lembut tiap-tiap jengkal tubuhnya dengan sentuhan lembut. Menyapu setiap sentuhan ********-******** itu dengan ciuman manis.


Aku menciumnya, mengelus hangat perut dan naik ke arah punggung. Mengusap dan mengalirkan suhu tubuh kami masing-masing. Tanganku melucuti setiap pakaiannya.


“Aku mencintaimu, Inggrid.”


“Aku juga, Ra.”


Aku menghapus lagi air matanya dan memberikan seulas senyum agar Inggrid ikut tersenyum. Dengan tatapan penuh gairah aku kembali ******* bibirnya dan memainkan setiap jariku pada tubuhnya.


“Arg ...!” rancauan kembali terdengar.


Gairah panas terpercik di antara kami berdua. Menutup malam dengan indahnya persatuan dan desahan penuh cinta. Tak pernah ku rasakan betapa kelembutan bisa terasa begitu indah.


— MUSE S4 —


Wah, Ra yang pertama!! 🥰😍🥰


MUSE UP


YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE


VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.


Suport saya dengan dukungan point dan koin.


Jangan lupa juga buat like dan commentnya.


Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭


Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang


Jangan lupa cintai alam


Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri


Jangan lupa kalau saya cinta kalian