
MUSE S2
EPISODE 69
S2 \~ MUSE
\~ Saat ini, hujan memang tidak turun terlalu deras, namun nyatanya, ia bisa menghapus semua rasa sakit dan kesedihan di dalam hatiku.\~
•••
Arvin menautkan bibirnya pada bibirku, kembali meluumatnya begitu dalam. Aku menikmatinya, gerakannya seakan menyiratkan rasa cintanya yang begitu besar. Benarkan aku layak mendapatkannya? Benarkan apa yang dia katakan? Bahwa ia mencintaiku begitu dalam?
Air mataku kembali menetes, turun perlahan dari sudut mataku, menetes masuk ke dalam bibir. Menimbulkan rasa sedikit asin pada ciuman kami. Aku tak lagi menangis karena sedih, aku menangis karena bahagia. Aku sepertinya tak lagi bisa menahannya, tak lagi bisa menghilangkan perasaanku yang terus mengakar dengan dalam setiap harinya. Aku membutuhkannya, aku menginginkannya.
Suara speaker bluetooth terdengar samar.
(Picture-perfect, you don't need no filter
Gorgeous, make 'em drop dead, you a killer
Shower you with all my attention
Yeah, these are my only intentions
Stay in the kitchen, cooking up, cut your own bread 🎶)
“Aku mencintaimu, Kalila. Aku akan membawamu menikmati indahnya dunia ini berdua. Selamanya, setiap hari.” Arvin menggenggam tanganku.
(Heart full of equity, you're an asset
Make sure that you don't need no mentions
Yeah, these are my only intentions 🎶)
“Aku akan berterima kasih pada orang tuamu, karena mereka membesarkan seorang wanita secantik dirimu untukku.” Arvin menyatukan dahi kami, napasnya begitu panas dan berat.
(Shout out to your mom and dad for making you. Standing ovation, they did a great job raising you 🎶)
“Aku juga mencintaimu, Kak. Selamanya kau akan selalu menjadi inspirasiku. Kau akan selalu menjadi Muse di dalam setiap gambarku.” Aku merangkul lehernya. Memejamkan mataku, menikmati saat-saat mendekap erat tubuhnya.
(When I create, you're my muse
The kind of smile that makes the news
Can't nobody throw shade on your name in these streets 🎶)
“You’re my MUSE,” bisikku.
(Triple threat, you a boss, you a bae, you a beast. You make it easy to choose
You got a mean touch I can't refuse 🎶)
—JUSTIN BIEBER, INTENTION—
Arvin tersenyum, aku menunduk untuk memandang wajahnya. Aku tersenyum melihatnya begitu bahagia. Pria inilah yang selalu menjadi pusat perhatianku belakangan ini. Yang membuatku menjadi orang bodoh, membuatku menjadi orang gila, membuatku senang dan sedih pada saat bersamaan. Kini keberadaannya bukan lagi Muse yang tak sempurna dalam setiap goresan tanganku.
“Yes, I’m your MUSE, baby.”
— MUSE S2 —
•••
Arvin menghubungi Aleina dan membatalkan semua jadwalnya hari ini. Aku pun meminta izin pada Melody dan Caca untuk tidak berangkat ke cafe. Aku tak menyebutkan alasannya, mereka pasti akan mencerca dan menggodaku habis-habisan. Lagi pula kalau Caca mendengar hal ini, dia akan menari kegirangan karena memenangkan taruhan, dua loyang pizza dari Melody.
Arvin masih membelakangiku karena dia sedang melakukan panggilan. Aku menggigit kuku ibu jariku, aku masih terdiam dan mengamati punggungnya yang lebar. Masih tak percaya bahwa kami sudah resmi pacaran.
JREEESSS...
Tiba-tiba hujan turun cukup deras.
“Hujan!” seruku seraya bangkit untuk menengok ke luar balkon.
Lantai kayu pada dasar Balkon mulai basah. Aku mengamati pepohonan yang bergoyang pelan akibat angin. Nampaknya hujan angin, aku harus segera menutup pintu gesernya atau airnya akan masuk ke dalam kamar.
“Hujan, ya?” Arvin ikut membantuku menutupnya.
“Iya, kebetulan sekali, ya?” kataku.
“Kenapa kebetulan?”
“Setiap kali kita bertemu pasti sedang hujan,” kikihku.
“Benar juga, saat pertama kali kita bertemu kau kehujanan. Lalu waktu aku menemukanmu kembali juga sedang hujan deras.” Arvin menghentikan gerakannya dan menggenggam tanganku.
“Dan kini, saat kita mengungkapkan cinta juga hujan turun,” senyumku.
“Aneh, ya?”
“Waktu orang tuaku meninggal juga hujan turun begitu deras.”
“Iya, aku jadi bingung harus memandang hujan dengan sedih atau bahagia?”
“Mau tahu?”
“Eh...?”
Arvin membuka pintu geser, lalu menggandengku keluar balkon. Air hujan membasahi tubuh kami berdua. Arvin mengajakku memandang hujan dengan cara yang berbeda.
Arvin mengangkat kepalanya, menikmati tiap tetes air hujan yang membasuh wajahnya. Aku ikut mencobanya, mengangkat kepalaku, menikmati tetesannya. Aku juga mengangkat tanganku untuk menengadah ke arah langit. Percikan air hujan menari di atas tanganku. Menggelitik geli. Hujan di pagi hari memang berbeda dengan hujan di malam hari, rasanya lebih menyegarkan.
Arvin menggenggam erat tanganku, mengajakku menari di tengah hujan. Ia melingkarkan tangannya pada pinggangku, dan aku menggelayut pada pundaknya. Kami bergerak pelan, ke depan, belakang, kanan, dan ke kiri. Sesekali Arvin membantuku berputar pelan, lalu membawaku kembali masuk dalam dekapannya.
Dulu dalam derasnya hujan aku pernah berharap agar hujan menghapus semua rasa sakit, kesedihan, dan juga penderitaanku.
Saat ini, hujan memang tidak turun terlalu deras, namun nyatanya, ia bisa menghapus semua rasa sakit dan kesedihan di dalam hatiku.
“Bahagialah, Kalila.”
Bagaimana mungkin aku tak bahagia? Aku memilikimu di sampingku.
“Tentu saja.” Aku menciumnya dalam rintihan suara hujan.
— MUSE S2 —
•••
Kami kembali masuk ke dalam, pakaian kami basah dan mengotori lantai. Aku berjinjit pelan untuk mengambil haduk bersih dari dalam lemari. Aku bergegas kembali dan mengeringkan rambut Arvin. Aku tertawa saat melihat rambutnya begitu acak-acakan.
“Kau juga harus mengeringkan rambutmu.” Arvin merebut handuk dan membantuku mengeringkan rambut.
“Aku bisa sendiri, kok,” rebutku lagi.
Arvin tersenyum dan membiarkan diriku melakukannya sendiri.
Arvin melepaskan kaosnya yang basah, aku tersipu melihat kelakuannya. Bagaimana tidak? Lagi-lagi tubuh telanjangnya terlihat tepat di depan mataku. Belum lagi mimpiku semalam terlalu panas! Dengan spontan aku membalikkan diriku.
Arvin mengambil handuk dari tanganku, ia kembali membantuku mengeringkan rambut. Tangannya yang sedikir kasar mengelus tengkukku saat mencoba mengumpulkan semua rambut. Arvin terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memeluk pinggangku.
“Ayo kita lakukan, Kalila. Aku merindukanmu.” Arvin mengecup pundakku yang terbuka, membenamkan wajahnya pada cerukan leherku.
Aku memejamkan mataku sebelum berputar. Aku mulai memandang rupa dirinya yang begitu mempesona.
“Aku juga merindukanmu...,”
Arvin kembali memelukku, menciumku dengan begitu hangat. Dinginnya tubuh berangsung-angsur berubah menjadi hangat saat kulit kami bersentuhan.
Bisa ku rasakan napasnya yang panas kembali merasukki tiap jengkal kulitku.
Bisa ku rasakan peluh kami yang menetes secara bersamaan.
Bisa ku rasakan degupan jantungnya yang melaju seirama dengan jantungku.
Bisa ku rasakan desahan suaranya yang membuat hatiku bergetar.
Bisa ku rasakan hentakan tubuhnya saat masuk ke dalam tubuhku.
Bisa ku rasakan betapa rasanya begitu dasyat saat kau melakukannya dengan penuh rasa cinta.
“Arg..., Arvin.” Aku mengelus rambutnya sambil merancau.
“Baby....”
— MUSE S2 —
Yo MUSE UP
Kasih LIKE
COMMENT
VOTEE...!!!
Banyakkan ya.. lap yu readers..
Author mau promo novel author yang judulnya DINDA
Bantu baca ya Readers, sepi banget soalnya. Hiks hiks..
NOVEL DINDA saya buat waktu sama masih kuliah, jadi bahasanya belum bagus. Tapi cukup menyentuh hati kok.
Bercerita tentang kisah cinta Erza dan Dinda. Penuh lika liku kehidupan dan rasa cinta yang mendalam.
Terima kasih.