
MUSE S6
EPISODE 2
S6 \~ PROLOG
\~ bearing with one another and, if one has a complaint against another, forgiving each other; as the Lord has forgiven you, so you also must forgive. \~ Colossians 3:13
______________________
Bagaimana bila rasa cinta ini begitu membuncah di dalam hati namun tak bisa tersalurkan?
Bagaimana bila rasa ingin memiliki itu ada namun tak bisa saling memiliki karena norma dan aturan?
Bagaimana bila rasa itu terus menderu di dalam hatimu namun kau tak bisa mengungkapkannya?
Sesakkah?
Sakitkah?
Menderita?
Mungkin iya, tapi rasa itu tetap terlalu indah untuk ditinggalkan begitu saja.
— MUSE S6 —
KLUTUK!!
Ponsel yang terselip pada telinga Gabby jatuh, tangannya yang bergetar hebat tak bisa menahan benda tipis itu lagi. Layarnya pecah saat membentur lantai marmer pada area ballroom sebuah hotel.
Gabby masih berbalut dengan gaun indahnya saat berlari keluar dari ballroom hotel, berlari sekuat tenaga ke arah lift dan menekan cepat pada lantai 1405, kamar suit termewah dihotel itu.
Ting!
Lift terbuka, Gabby menjijing gaun merah bertabur batu gemerlapan, melepaskan heelsnya, terus berlari pada koridor lantai 14. Rambut hitam lurusnya basah karena keringat, kerongkongannya kering dan tercekat, bahunya bergerak naik turun karena napasnya yang berat dan tak teratur.
“Kumohon, katakan itu tidak benar, Krys!” Gabby terus bergumam, sampai akhirnya langkahnya terhenti pada sebuah kamar yang telah dikerumuni oleh begitu banyak orang.
Gabby menghentikan langkahnya, menelan salivanya dengan berat. Bahuanya naik turun, dengan berat Gabby memejamkan matanya dan melangkah maju. Mendekati kerumunan pegawai hotel dan juga polisi.
“Hei kau tak boleh masuk kemari!” sergah seorang petugas kepolisian.
“Nona!! Kami sedang melakukan olah TKP! Kau tak bisa masuk kemari.”
Gabby tak menghiraukan larangan mereka, air matanya terus menetes seiring dengan derap langkahnya yang begitu berat. Seorang lelaki tampan menghentikan langkah Gabby saat dia baru saja masuk ke kamar, ia memeluk Gabby.
“Jangan dilihat!” tukasnya.
“Tidak, Adrian!! Lepaskan aku.” Gabby meronta.
“Siapa dia?! Dia tak boleh masuk ke TKP!”
“Tolong izinkan dia, Pak! Dia adalah satu-satunya saudara korban.” Adrian merengkuh pundak Gabby saat menjelaskan situasinya pada polisi yang bertugas.
“Kau bilang korban adalah wanita yatim piatu?! Dia hidup sebatang kara.”
“Benar, Gabby sudah seperti saudara kandung bagi, Krystal,” jawab Adrian.
“Baiklah, jangan sentuh apapun, Nona.” Polisi memberi peringatan, “lagi pula ini terlalu kejam untukmu!”
Gabby menutup matanya dalam pelukkan Adrian, terisak sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri untuk kembali melangkah maju. Masuk ke dalam kamar. Seperti kamar type suite pada umumnya, kamar dipisah dari ruang tamu dan pantry.
Gabby tercekat, ia langsung membungkam mulutnya sendiri, syok. Tak kuasa melihat pemandangan mengerikan yang terpampang di hadapannya saat ini.
Gadis itu, tubuhnya terlentang terbalik di atas sandaran sofa, rambut merahnya terurai berantakan, sekujur tubuhnya lebam, ada beberapa tikaman pisau pada perut dan juga dadanya, sebuah pisau tertancap tepat di tengah-tengah dada sintalnya.
Gadis itu hanya mengenakan pakaian dalam yang warnanya berubah merah karena darahnya sendiri. Paling menyeramkan adalah matanya mendelik ke arah Gabby, seakan kematiannya memang tidaklah wajar.
“Tii ... tidak!! KRYSSTALL!!!” jerit Gabby pilu. Ia terjatuh, Adrian bergegas membantunya agar tidak terprosok dalam kesedihannya.
“Gabby, tenang! Jangan menangis!” Adrian menenangkan Gabby.
Gabby memandang nanar ke arah Adrian, rasa kehilangan, sedih, marah, dan kecewa terus berbaur menjadi satu. Menggelayuti hatinya dengan emosi yang meluap.
“Katakan Adrian bagaimana kau bisa menemukan Krystal?” teriak Gabby, ia mencengkram kerah Adrian.
“Kakakku menyuruhku mengantarkan dokumen penting padanya! Dia bilang sedang bersama Krystal di hotel ini,” ucap Adrian ragu-ragu.
“Ivander??”
Gabby langsung teringat sesuatu, sebelum ia tampil malam hari ini pada acara ulang tahun sebuah perusahaan, Krystal sempat berpamitan padanya akan menemui Ivander di hotel yang sama. Gabby tahu bahwa Krystal sangat tergila-gila pada pria macho itu. Gabby tak bisa melarangnya, ia hanya bisa berkata akan menjemput Krystal begitu performnya berakhir. Namun, lagi-lagi Krystal menolaknya.
“Saat aku mengetuk pintu, tak ada jawaban. Aku menghubungi mereka berdua dan tetap tak ada jawaban. Lalu ...,” jeda Adrian.
“Lalu apa?” Mata Gabby berkilat ingin tahu.
“Lalu saat aku tak sengaja bersandar, ternyata pintunya tak tertutup rapat, dan ....” Adrian tak tega melanjutkan kejadian berikutnya.
“Dan kau menemukan Krystal sudah tak bernyawa?” tandas Gabby.
“Benar.” Angguk Adrian, ia lantas menundukkan wajahnya.
“Ivander, sialan kau!! B4jingan!” Gabby memukul dada Adrian.
“Maafkan, Kak Ivander, Gabby!”
“Laporkan dia ke polisi!! Laporkan dia!!” Gabby terus memohon agar Adrian melaporkan kakaknya sendiri ke kantor polisi.
“Bagaimana bisa? Dia kakakku!”
“Bukankah kau membencinya? Kau terus mengatakan kepada kami kalau kau begitu membencinya?!” Gabby mencengkram kerah kemeja Adrian sampai lelaki jangkung itu seakan tercekik.
“Apa kata Papa saat aku menjebloskannya ke dalam penjara, Gabby?!” Adrian menggoncang balik lengan Gabby.
“Kalau begitu aku yang akan melaporkannya.” Gabby bangkit dan bergegas menemui tim penyelidik, melaporkan semua kejadian sesuai cerita Adrian.
Pihak kepolisian mengangguk dan menyimpan informasi dari Gabby. Sampai akhirnya tepat pukul 4 dini hari polisi memindahkan mayat Krystal dan akan melakukan otopsi.
Gabby menangis pilu, air matanya terus mengucur dengan deras. Dia begitu mencintai sahabatnya itu, tulus dan sepenuh hati. Ia tetap mencintainya walaupun perasaannya tak pernah terbalaskan. Gabby sadar betul, mencintai Krystal adalah sebuah kesalahan, sebuah penyimpangan, sebuah ketidakseimbangan dalam hidupnya. Namun ia tak bisa menahan dirinya untuk tak mencintai gadis itu. Gabby tak bisa menahan hasratnya untuk menjaga dan melindungi Krystal.
“Istirahatlah dengan tenang, Krys.” Gabby mengelus wajah cantik Krystal, dengan gemetaran ia menutup mata Krystal yang membelalak lebar.
Setelahnya, semua anggota kepolisian dan tim forensik mendorong bangkar yang berisi mayat Krystal pergi dari hadapannya.
“Ayo, Gabby, kita pulang!” Ajak Adrian, ia menyelimutkan jas pada pundak Gabby.
“Baiklah!” Gabby mengangguk.
Adrian mengantarkan Gabby pulang ke apartemennya. Selama perjalanan Ganny terus menatap ke luar jendela mobil. Berpikir, cara apa yang paling ampuh untuk menghukum Ivander.
Membunuhnya? Itu terlalu ringan, Bahkan bila Gabby mencincangnya pun Ivander hanya akan kehilangan nyawa. Tak akan pernah menderita seperti Krystal yang menderita karenanya.
“Kenalkan aku pada Kakakmu.”
“What?? Why?” Adrian langsung mengerem mobilnya, menepikannya ke tepian jalan. Membelalakkan mata selebar mungkin, merasa heran, kenapa Gabby masih berusaha menghubungi Ivander? Lelaki itu adalah tersangka utama atas kejadian hari ini.
“Akan aku balas kematian Krystal, aku akan buat dia mencintaiku! Lalu mati di tanganku, sama seperti Krystal. Aku ingin dia merasakan rasa sakitnya mati di tangan orang yang paling ia cintai!” geram Gabby.
“Kau jangan gila! Serahkan saja semuanya pada pihak yang berwajib,” hardik Adrian gugup.
“Mereka sudah pasti akan membebaskan Kakakmu! Papamukan kaya raya! Uang membeli segalanya,” sergah Gabby.
“Gab ...,” ucapan Adrian tersela oleh Gabby.
“Kau mau membantuku tidak?!” tanya Gabby, sorot matanya berkilat begitu tajam.
“Baiklah, aku akan mengatur waktunya agar kau bisa bertemu dengan Ivander.” Adrian menghela napas, tak bisa membendung amarah Gabby.
“Thanks, Adrian.”
Mereka berdua diam tanpa kata. Malam ini begitu panjang dan berat. Gabby perlu menata hatinya, ia masih harus menguburkan mayat sahabat yang dicintainya setelah otopsinya selesai.
— MUSE S6 —
Brrum ...!
Suara motor sport hitam memasuki area parkir motor pada hotel milik keluarga Zean. Heels hitam setinggi 12 cm menopang motor besar itu. Gabby melepaskan helm racing yang sembari tadi mengukung rambut hitam panjang lurusnya yang indah. Di belakang punggungnya bertengger sebuah biola.
Gabby melirik arloji di balik lengan jaket kulit hitam yang dipakainya. Ia harus bergegas karena waktunya tampil tinggal setengah jam lagi.
Sialan sudah tak ada waktu! Pikir Gabby sebal, ia bergegas menyahut tasnya dan melangkah ke belakang panggung, lewat dapur.
Gabby melemparkan tasnya pada sebuah nampan dorong. Membuat semua mata tertuju padanya. Gabby hanya menyeringai, tanpa ragu Gabby menurunkan resleting jaket kulitnya, lalu memelorotkan celana ketat berwarna hitam glossy yang dikenakannya saat ini. Semua penghuni dapur, mulai dari chef sampai pelayan melongo, menatap tubuh indah Gabby yang hanya tertutup pakaian dalam tanpa berkedip.
“Awas iler kalian menetes pada soup.” Gabby bergeleng saat memperingatkan mereka semua.
Balutan dress press body gemerlapan berwarna hitam membuat lekukan tubuh Gabby terlihat dengan jelas. Menggiurkan bagi siapa pun yang memandanganya.
Gabby bergegas mengambil biolanya, mengoleskan sedikit getah damar pada rambut busur biolanya agar kesat. Setelah itu, Gabby menyetel sedikit pasak pada kepala biola untuk mencocokkan nadanya.
“Hei, kau pria tampan yang di sana! Help me! Simpan tasku baik-baik, aku akan mengambilnya nanti,” ujar Gabby sambil mengerling ke salah satu pelayan.
“Ba—baik,” jawabnya cepat.
Gabby melangkah masuk ke belakang panggung, menemui petugas EO, mereka sudah menghubungi Gabby sembari tadi. Gabby terlambat karena harus mengurus penyerahan mayat Krystal di kepolisian setempat.
“Maaf, aku terlambat.”
“Kita tak bisa cek sound karena acaranya sudah dimulai.”
“Tidak apa-apa, aku yakin dengan biola dan kemampuanku.” Senyum Gabby.
“Baiklah, lima menit lagi giliranmu tampil. Ini microphonenya.”
“Thanks.”
Tim backstage mempersiapkan Gabby, mereka merapikan mic dan juga sambungan cable wireless pada biolanya agar suara biola bisa masuk ke dalam sound sistem.
“Ready, Gabby?”
“Heem.”
Gabby naik ke atas panggung, menampilkan musik lembut yang harmonis dengan band yang mengiringinya. Gabby terus menggesek alat music itu, penampilannya memukau banyak orang. Para tamu undangan tersenyum puas, termasuk Zean, ia memberikan tepuk tangan dan juga memuji kepiawaian Gabby memainkan biolanya.
Gabby terus tersenyum manis saat bermain, ia menyapu ruangan dengan pandangan matanya, mencari sosok Ivander.
Ketemu! Seru Gabby dalam hati saat melihat seorang pria bersandar pada dinding, menikmati sampaye-nya seorang diri. Wajahnya yang tampan terus tertuju ke arah Gabby, mengamati gadis itu dalam diam.
Gabby menatapnya, sesekali ia mengedipkan mata dan menggesek biolanya membentuk nada yang lebih tinggi. Lebih menyayat hati, seakan ingin menyita perhatian dari pria berjas hitam itu. Seakan lagu itu memang ditunjukan untuknya.
Netra keduanya bertemu, alis tebal Ivander menyatu, ia mengelus bibirnya pelan, menatap tak kalah tajam pada wajah dan turun pada tubuh indahnya. Gabby ikut menatapnya semakin intens, menyiratkan hasrat yang tak kalah besar pada pria itu.
Lihat aku, B4jingan! Lihat aku!! Milikki aku malam ini! Pikir Gabby dalam hati.
— MUSE S6 —
“Silahkan masuk, Nona. Tuan Ivander menunggu anda di dalam,” ucap seorang anak buah Ivander.
Sesuai yang Gabby harapkan, Ivander mengundangnya ke kamar hotel malam itu. Mencoba untuk saling mengenal atau menawarkan imbalan besar dan berakhir pada cinta satu malam.
Tapi Gabby tidak bodoh! Dia tak datang hanya karena uang dan cinta satu malam yang bisa ditawarkan Ivander padanya. Dia datang untuk merayu pria itu sampai bertekuk lutut padanya.
Ivander menatap lekat tubuh Gabby yang berbalutkan gaun malam berwarna hitam. Belahan pada satu sisi kakinya membuat kesan sexy yang begitu mendalam di mata Ivander. Gabby tersenyum, memamerkan deretan gigi rata yang tersembunyi dibalik bibirnya yang merekah merah.
“Halo, Tuan. Ada apa memanggil saya?” Gabby berjalan, sedikit melenggok anggun, jemarinya terus menyapu dinding saat mendekati Ivander.
Ivander masih tetap duduk pada kursi malas, ia mulai mengendurkan sedikit dasinya. Sepertinya kesan sensual yang dihasilkan Gabby membuat dadanya semakin sesak. Penuh dengan luapan nafsu dan gairah.
“Sebutkan hargamu!” tanpa basa basi Ivander menarik Gabby dalam dekapannya.
“Kenapa kau terburu-buru sekali, Tuan?” Gabby tersenyum, dengan perlahan ia menarik dasi Ivander sampai pria kekar ini bangkit berdiri.
Gabby mengelus naik tangannya pada dada bidang Ivander, ia mengendus aroma parfum mahal yang dikenakan Ivander, bebauan spice yang sedikit tajam dan juga kesegaran white musk yang sporty.
“Siapa namamu, Tuan?” Gabby bertanya.
“Ivander. Siapa namamu?”
“Gabby,” jawab Gabby, ia mendekatkan wajahnya, berbisik pada telinga Ivander, “aku yang akan bekerja, Tuan. Aku yang akan memuaskanmu.”
Jemari lentik Gabby melucuti satu persatu kancing kemeja lengan panjang yang dipakai oleh Ivander malam itu. Menampilkan otot dada dan abs Ivander yang atletis, hasil dari olah raga keras yang dijalaninya.
“Kau begitu menggiurkan, Tuan.”
Ivander tak berkata-kata, ia mengelus bibir Gabby dengan ibu jarinya sebelum melumatt bibirnya, lidah mereka saling bertaut, bermain sangat panas di dalam rongga mulut Gabby. Gabby mendesahh pelan, merancaukan kata-kata pujian akan kepintaran Ivander saat bermain lidah. Panggutan mereka semakin panas dan dalam.
Gairah Ivander semakin memuncak tak kala Gabby mulai melucuti pakaiannya sendiri, menampilkan kembali tubuhnya yang begitu indah dalam balutan pakaian dalam
bruklat hitam. Gabby kembali melingkarkan lengannya pada leher Ivander, membisikkan kata-kata manis dan sanjungan yang membuat semua pria melambung tinggi.
“Aku tak pernah memanggil wanita sebelumnya, mereka selalu masuk ke dalam pelukkanku dengan suka rela. Jadi kau yang pertama!” ucap Ivander, ia kembali tersenyum sebelum menyesap perlahan leher Gabby, memepetkan erat tubuhnya pada dinding.
“Argh ... kau membuatku tersanjung, Tuan!” rancau Gabby.
“Jangan panggil aku Tuan, panggil Ivander atau Ivan saja.” Ivander masih menyesaap cerukan leher Gabby, sementara tangannya terus bermain pada dua buah keindahan yang tersuguh di depan matanya.
“Tanganmu nakal sekali?” Gabby menarik dasi dari kerah Ivander dan melilitkannya pada pergelangan tangan kekarnya.
“Kenapa mengikat tanganku?” Protes Ivander.
“Aku yang akan bekerja dan memuaskanmu!” Gabby mendorong tubuh Ivander sampai rebah ke atas kasur. Dengan segera Gabby naik ke atasnya, menggerakkan pelan tubuhnya, merayap naik. Gabby mengikat tangan Ivander pada kabel lampu nakas.
Dengan perlahan Gabby mengecup perut kencang Ivander dan naik ke dadanya yang bidang, membuat lelaki tampan itu mendesahh pelan.
“Lepaskan celanaku, baby! Aku sudah tidak tahan.” Pinta Ivander.
“Jangan terburu-buru, Ivan.” Gabby tersenyum, ia bangkit dari tubuh Ivander dan memakai kembali pakaiannya.
“Hei!! Kau mau ke mana?”
“Maaf, jam malam.” Gabby mengetuk arlojinya.
“Kau akan meninggalkanku begitu saja?!”
“Hihihi, Bye! Sampai ketemu lagi.” Gabby tersenyum puas dan keluar dari kamar Ivander.
Ivander bangkit untuk mencegah Gabby keluar, namun tangannya yang terikat kabel lampu membuat lampu itu terseret dan jatuh. Pecah. Ivander terpaksa menghentikan langkahnya, tak ingin terluka oleh serpihan kaca. Ia mengumpat geram dalam hatinya.
“Sialan!! Sialan!! Lihat saja! Aku pasti akan mendapatkanmu kembali!” teriak Ivander dengan geram.
•
•
•
Gabby tersenyum puas saat menaiki motornya. Ia berhasil menorehkan rasa penasaran pada jiwa Ivander. Gabby yakin, lelaki itu pasti akan kembali mencarinya.
Tenang di surga Krystal, akan aku balaskan dendammu. Janji Gabby dalam hati.
— MUSE S6 —
Vote
Like
Comment
Yang banyak gaes!!
❤️❤️❤️