
MUSE S2
EPISODE 70
S2 \~ KENANGAN II
\~ Aku berharap air hujan menghapus semua rasa cintaku padanya. Menghapus semua kenangan indah antara aku dan dirinya. Menghapus setiap jejak yang pernah dia tinggalkan dalam hatiku.\~
•••
Siang itu aku mengantarkan Kalila pulang ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah Kalila turun dan menarik lengan seragamku.
“Angga, bantuin bikin PR.” pinta Kalila manja.
“PR apa?” tanyaku.
“Matematika, aritmatika.” jawabnya.
“Itu kan nggak susah.” Aku heran, soalnya Kalila tergolong cukup pintar di kelas.
“Iya, tapi nggak ngerti.”
“Bohong, bilang aja kamu nggak mau pisah sama aku, bae!!” seruku menggodanya.
“Iya, pisah sama kamu sedetik aja kaya setahun.” kikihannya terdengar menggemaskan.
“Ya, udah, ayo!”
“Ayo masuk.” tarik Kalila. Kami masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan motor.
“Permisi, Tante,” izinku pada Tante Fara. Tante Fara yang duduk di ruang tengah sambil membaca majalah mengangguk sebagai jawaban.
“Permisi, Tante cantik!!” Kalila ikut-ikutan bercanda, membuat Mamanya bergeleng geli.
Kalila menggandengku masuk ke dalam kamarnya. Melewati tangga putar berwarna putih dengan pijakan dari kayu jati dengan plitur yang mengkilap.
Akhirnya aku mengajari Kalila tugas matematikanya. Kalila duduk pada lantai karpet. Kalila duduk di depanku, menghadap ke arah meja lipat. Aku melingkarkan tangan kiriku pada perut Kalila dan menulis dengan tangan kanan. Aku meletakan daguku pada pundaknya.
Kalila memainkan pensilnya, sesekali ia menoleh memandang wajahku. Dasar anak ini, bukannya konsentrasi belajar malah ngajakin bercanda.
“Niat belajar nggak, sih?” tanyaku gemas, aku mencubit hidungnya yang mancung.
“Nggak bisa konsen.” jawabnya.
“Kenapa?”
“Angga terlalu ganteng.”
“Baru tahu?!! Duh, aku emang ganteng kok! Pacar siapa dulu?” godaku senang.
“Pacar Kalila!!” Kalila menciumku pipiku, membuat wajahku memanas.
“Janji, ya. Kita akan saling cinta selamanya.”
“Iya, janji.”
Aku membenamkan wajahku pada punggungnya, melingkarkan tanganku pada perut rampingnya. Aku mempererat pelukkanku. Membuatnya menggeliat geli. Konsentrasiku membuyar seiring dengan gerakan Kalila.
“Haduh, Kalila, pacarmu ini laki-laki normal,” pikirku.
“Kenapa, Ngga?”
“Nggak, kok. Keluar, yuk, kita putar-putar.”
“Oke, aku ganti baju dulu, ya.” izinnya seraya meninggalkanku.
Kalila kembali, dengan kaos lengan panjang putih berpotongan rendah, dipadukan dengan celana jean high weist supaya perutnya tak terlihat. Ada gambar aplikasi kelinci timbul di depan kaosnya. Tak lupa sepatu conv**rs kesayangannya.
“Ayo, Ngga.” ajak Kalila setelah menyahut tas kanvasnya.
“Oke.” Aku beranjak dari tempat dudukku. Untung saja aku memakai dalaman kaos jadi penampilan kami tak terlalu jauh berbeda. Kan nggak lucu kencan masih pakai seragam.
“Ma, pergi bentar, ya. Angga ngajakin cari angin.” pamit Kalila.
“Jangan makan di luar, ya. Mama udah masak.” teriak Tante Fara dari dapur.
“Siap, Tante. Pergi dulu, ya,” pamitku.
“Hati-hati, ya.”
Kami bergegas menaiki motor dan melaju menuju ke taman kota. Rindangnya pepohonan membuat angin selalu berhembus spoi-spoi. Membuat rasa nyaman dan malah kadang mengantuk. Kami duduk pada sebuah bangku dari beton. Kalila langsung mengeluarkan buku sketchnya dan meraut pensil.
“La, mau es krim, nggak?” tanyaku.
“Mau banget.”
“Tungga, ya, aku beliin.”
Aku kembali dengan dua buah es krim, Kalila menerimanya dan langsung melahapnya. Membuatku tersenyum bahagia, padahal hanya sebuah es krim, tapi melihatnya begitu bahagia membuatku ikut bahagia juga.
“Makasih, Ngga. Es krimnya enak banget.”
“Sama-sama, cantik,” ku elus kepalanya.
Kalila duduk dan menggambar, sedangkan aku tiduran pada pangkuannya sambil memainkan game buatan Maxsoft. Rindangnya pepohonan membuat kami betah berlama-lama di taman kota. Mengisi kegiatan siang dengan hobi kami masing-masing.
Kalila kadang menaruh sketchbook nya untuk menutupi wajahku, ia menggodaku yang terlalu asyik bermain game.
“Tunggu, bae, nanggung, nih,” izinku.
“Seru, ya?” Kalila memasukkan buku gambar dan peralatannya ke dalam tas.
“Iya, nih. Tapi udah mau selesai, kok.”
“Menang, nggak?” tanya Kalila.
“Bentar lagi menang.”
Kalila mengelus rambutku, lalu menunduk untuk mengecup bibirku. Rambutnya yang hitam dan panjang menutupi wajah kami berdua.
“Masih mau main?” tanyanya nakal.
Aku mendongak untuk menciumnya balik. Mengecup bibirnya dan melumattnya sedikit dalam dan cepat. Aku meletakkan ponselku dan lebih memilih untuk membagi rasa dengan dirinya.
Mungkin kalah sekali tidak apa-apa, asal aku mendapatkan dirimu.
— MUSE S2 —
•••
Aku menutup file case, setelah kejadian barusan aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Melihat Kalila masuk ke dalam ruangan Tuan Arvin membuat hatiku sakit.
“Lebih baik aku pulang,” pikirku.
Aku berjalan menuruni beberapa anak tangga untuk sampai ke basement parkir mobil.
“Bre**sek!! Kenapa nggak mau hilang!!” Aku mengantuk-antukkan dahiku pelan pada setir mobil. Mencoba untuk menghilangkan bayangan Kalila dan lelaki itu.
Aku masih setengah termenung saat melihat Tuan Arvin menggandeng Kalila masuk ke dalam mobilnya. Kalila tak menolak, bahkan terlihat bahagia. Sebenarnya sudah sejauh mana hubungan mereka saat ini? Masih adakah kesempatan untukku?
Suara mobil sport milik Tuan Arvin terdengar, akupun ikut menyalakan mobilku. Entah kenapa aku begitu penasaran ke mana mereka akan pergi. Aku mencoba untuk membuntuti mereka.
Mobilnya melaju dengan cepat, aku sedikit kesusahan mengejar mereka. Tapi ini lebih baik, kalau terlalu dekat Tuan Arvin mungkin akan mencurigaiku.
“Bukankah ini jalan ke apartemen, Kalila?” Aku mengenalinya, aku pernah mengantarnya pulang sekali.
Aku tepis anganku yang berlebihan. Mungkin Tuan Arvin hanya mengantarkan Kalila pulang. Tak lebih.
•
•
•
Sudah hampir dua jam aku menanti Tuan Arvin keluar dari apartemen lawas itu. Namun tak ada tanda-tanda dia akan pulang. Bahkan lampu pada kamar Kalilapun telah redup.
Apakah ia menginap di tempat Kalila?
Ya, Tuhan. Kenapa hatiku sakit?
Kenapa ketika kau izinkan aku kembali menemukannya, ia telah memiliki laki-laki lain?
Benarkah cintanya padaku telah menghilang begitu saja?
Janjinya telah memudar seiring dengan detik waktu yang terus berjalan selama ini.
Aku seperti orang bodoh dan juga gila. Aku menunggu mereka di dalam mobil semalaman. Aku masih belum mau percaya dengan apa yang aku lihat. Aku masih belum bisa memahaminya.
•
•
•
Aku terbangun di dalam mobilku. Jam telah menunjukan pukul 8 lebih. Sepertinya aku tertidur semalaman di mobil. Badanku sakit semua, aku harus keluar untuk merenggangkan badan.
Aku keluar dari dalam mobil, merenggangkan badanku ke kanan dan ke kiri. Menarik ke dua lenganku panjang-panjang agar rasa kakunya menghilang.
“Mendung? Akhir-akhir ini hujan terus turun, padahal sudah hampir musim panas.” Aku melihat kumpulan awan gelap yang menghiasi angkasa.
Tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Membasahi jalanan dengan cepat, tak butuh waktu lama bagi hujan menghapus semua tanah kering. Aromanya begitu menggelitik memory. Ya, dulu Kalila pernah berkata bahwa bau hujan saat menyentuh tanah kering adalah sebuah keajaiban, sihir yang membuatmu mengingat semua kenangan indah.
Sesaat sebelum aku bergegas masuk kembali ke dalam mobil. aku melihat dua bayangan manusia pada balkon apartemen Kalila. Mereka berdua adalah Kalila dan Tuan Arvin. Mereka terlihat sedang berdansa di tengah derasnya hujan.
Aku mengepalkan tanganku untuk menahan rasa sakit di dalam dada. Ternyata memang benar, laki-laki itu menginap di tempat Kalila semalam.
Aku sudah tahu, dan aku tetap menunggu. Aku sudah tahu, dan aku tetap melihatnya. Aku sudah tahu, dan aku tetap menginginkannya.
Aku bodoh atau memang buta?
Aku menengadah ke langit dan merasakan air hujan menerpa wajahku. Aku berharap air hujan menghapus semua rasa cintaku padanya. Menghapus semua kenangan indah antara aku dan dirinya. Menghapus setiap jejak yang pernah dia tinggalkan dalam hatiku.
“Mungkin kalah sekali tidak apa-apa, asal aku mendapatkan dirimu,” pikiranku sama seperti saat dahulu, aku mengalah sekali untuk mendapatkanmu kembali.
Karena aku belum menyerah....
— MUSE S2 —
Ya ampun Angga.
Sakit hatiku.. pasti nyesek banget ya.
Apa sama aku aja Angga?
Wkwkwkwkwk
Author genit.
MUSE UP
MOHON DI LIKE
MOHON DI COMMENT
MOHON DI VOTE
MOHON BINTANG LIMANYA YA SAYANGKUH
makasih banyak sudah membaca MUSE
Semoga terhibur, ya.
Tetep sehat ya gaes...
Tetep bahagia,
Berjuang pada masa2 sulit di tengah krisis corona.
Luv yu gaes
God bless