
MUSE S3
EPISODE 93
S2 \~ EXTRA PART II
\~ Tentu, kami membuatnya dengan 90% cinta, lalu 5% teriakan Mommy, dan 5% keringat Daddy \~
•••
Bruk!!! Brukk!!!
“Mommy!!!”
“Bangun, Mommy!!”
Anak-anak langsung meloncat ke atas ranjang dan menagganggu tidur Kalila. Mereka mencium wajah Kalila sampai ia terbangun. Sedangkan aku menggendong Gabby dan berjalan membawa sebuah kue.
“Hai, Inggrid, Nick.” Kalila masih mengucek matanya saat menyapa si duo nakal yang meloncat-loncat di atas kasur.
“Happy B-day, Mom!!!” teriak mereka seraya memeluk Kalila erat.
“Thanks, sweety.” Kalila mencium mereka dan bangkit berdiri.
Aku melepaskan Gabby di atas ranjang dan mendekati Kalila. Memberikannya ucapan selamat juga sebuah kue ulang tahun. Kue berwarna warni pastel dengan angka 28 tahun menghiasi bagian permukaannya.
“Happy B-day, baby,” bibirku mendarat pada kening dan juga bibirnya.
“Thanks, Kak.” Kalila mengalungkan lengannya pada leherku.
“Kau mau hadiah apa?”
“Liburan berdua. Babymoon?” pinta Kalila.
Benar juga, kami sudah lama tidak pergi berduaan. Menikmati waktu kami berdua seperti saat-saat belum memiliki 3 orang krucil yang mengekor kami kemana-mana.
“Baiklah, mau ke mana? Tidak boleh ke Luar Negri, kan sudah 8 bulan lebih,” ucapku, aku mengelus perut istriku yang terlihat semakin besar.
“Ke pantai?”
“As you wish my baby, sekarang tiup dulu lilinnya!” ku kecup lagi bibirnya yang merekah penuh.
“Baik.” Kalila mengambil ancang-ancang untuk meniup.
“Berdoa dulu! Buat permintaan,” kataku padanya.
“Oke.” Kalila memejamkan matanya dan berdoa.
“Tiup lilinnya, Mommy!!!” teriak mereka bertiga lantang.
“Oke!!” Kalila meniup lilinya.
“Yeeee!!!!” tepuk tangan terdengar riuh, lalu disambung dengan gelak tawa mereka saat memeluk dan mencium Mommy -nya.
Inggrid mencolek cream dan mengoleskannya pada wajah Kalila. Kalila membalasnya dan mengoleskannya pada Inggrid dan Nick. Nick mengoleskan cream juga pada Kalila dan aku. Aku ikut dengan keseruan mereka. Kami berperang dengan cream dari kue tart.
“Daddy, kau curang! Masa kau mengoleskan cream pada bibir Mommy dan memakan creamnya?!” Nick menunjuk kami dengan tangan kecilnya.
“Hei, jagoan! Ini namanya cinta! Kelak kau juga akan menemukannya.” Aku mencubit hidung Nick.
“Inggrid sudah punya cinta juga, Dad!” teriak Inggrid antusias.
“Apa?!” Aku dan Kalila saling pandang. Anak sekecil Inggrid sudah mengerti tentang percintaan rupanya, membuat kami syok.
“Siapa?” tanya Kalila antusias.
“Ken!! Kak Keano!!” Inggrid tersipu malu.
“Ah, si monster kecil!” pekikkanku langsung disambut pukulan sebal oleh Inggrid.
“Dia bukan monster, dia ganteng!!”
“Puft...,” kami menahan tertawa melihat Inggrid begitu membela Keano dengan sepenuh hati.
Tapi harus ku akui, si monster kecil berubah menjadi anak yang tampan dan juga pandai. Ia selalu rankking satu di sekolahan.
“Jangan terlalu dekat dengannya, Ok! Daddy belum rela!” Aku memeluk Inggrid dan berpura-pura sedih.
“Ah, kalau Daddy memohon aku akan mempertimbangkannya.” Inggrid melipat tangannya di depan dada.
“Ck, mirip banget denganmu, Kak.” decak Kalila sambil memincingkan matanya padaku. Seakan menghakimi kalau salahku sampai Inggrid terlalu mirip denganku.
“Padahal bikinnya berdua!” balasku, enak aja nyalahin Daddynya doang. Bikinnyakan bareng-bareng.
“Apa yang dibikin berdua, Dad?” tanya Nick penasaran.
“Apa, ya?” Aku bingung mejelaskannya.
“Waw, termasuk adik bayi diperut Mommy?” tanya Inggrid.
“Tentu, kami membuatnya dengan 90% cinta, lalu 5% teriakan Mommy, dan 5% keringat Daddy,” penjelasanku membuat mereka semakin bingung.
“ARVIN!!” Kalila menutup mulutku dengan gemas.
“Kenapa Mommy harus berteriak?” Inggrid membuatku kehabisan kata-kata. Aku kira mereka tak akan mengerti akan hal ini.
“Oh, karena saat itu kami sedang berjuang memasukkan bayi ke dalam perut Mommy!”
Mereka berdua menatapku dengan serius sampai alis mereka bertaut dan mulutnya mengangga. Kalila juga menatapku dengan sebal dan sedikit keheranan. Aku jadi bingung bagaimana caranya memperbaiki persepsi mereka tentang cara membuat bayi.
“OK!! Kalian keluar dulu, ya! Ikut Oma Rose!” Aku mengusir ke tiga anak itu keluar supaya pembicaraan ini tidak semakin menuju ke arah yang salah, dan tentu saja karena aku ingin berdua dengan Kalila.
“Kenapa?” ck, kenapa mereka tak bisa pasrah begitu saja saat melihatku menggusir mereka, sih?
Mereka bertiga berdiri di depan pintu kamar kami dan memandangku dengan wajah memelas. Sorot mata mereka masih mencoba untuk membuatku iba dan mengijinkan mereka tetap tinggal. Terpaksa deh aku menjawabnya dengan ngawur.
“Daddy mau menengok adik kalian!” Aku mengangkat alisku.
“ARVIN!!!” Kalila melemparkan bantal tepat di belakang kepalaku.
“Melihat adik bayi?”
“Benar, agar dia bisa mudah keluar dari perut Mommy kelak.”
“Uum....”
“Oke!!” aku mengangkat telapak tanganku sebelum mereka kembali merajuk.
“Oke!!” jawab mereka serempak sambil ber high five.
Mereka bertiga menuruni tangga untuk mencari Mama Rose. Inggrid menggandeng tangan Gabby sementara Nick berlari di depan mereka berdua. Aku mengawasi mereka sampai hilang dari pandanganku.
Aku mengunci pintu dan memandang istriku yang cantik. Ia masih menguryitkan alisnya karena sebal padaku. Aku mengajarkan hal-hal aneh pada anak-anak hari ini dan itu membuatnya keki.
“Kau cantik kalau sedang marah, baby!” Aku memaksa dirinya membuka lengannya agar aku bisa memeluk erat tubuhnya. Akhirnya Kalila menyerah dan memilih untuk mengelus rambutku.
“Bagaimana kalau anak-anak salah mengartikannya?” protes Kalila.
“Hehehe...,” kekehku tanpa rasa berdosa.
“Jangan kau ulangi lagi, Kak!”
“Oke, aku tak akan mengatakan hal aneh-aneh lagi pada mereka.” Aku bangkit dan mencium bibirnya.
“Tubuhmu membuatku sangat menginginkanmu, Kalila,” ciumanku mendarat pada tengkuknya yang mengeluarkan aroma manis.
“Arvin!”
“Aku kangen, baby!” Aku memeluknya dan merebahkannya kembali sebelum menyerangnya.
“Jangan kasar-kasar, Oke!” Kalila tak bisa berdalih kalau dia juga merindukanku. Kehamilannya membuat kami jarang melakukan hal ini.
“You’re on TOP, baby!” Aku mengangkat tubuhnya naik ke atasku.
“Dasar nggak sabaran!!!”
“Sst, don’t talk. Let’s do it, Baby!!” Aku menyumpal mulutnya dengan bibirku. Membungkamnya dengan penuh cinta.
— MUSE S2 —
Ni saya tambahin lagi extra partnya..
Biar happy..
Banyak yang belum bisa move on dari Arvin katanya..
Wkwkwkwkwkw...
LOVE YOU READERSKUH.
VOTE VOTE VOTE VOTE
VOTE VOTE VOTE VOTE
VOTE VOTE VOTE VOTE
VOTE VOTE VOTE VOTE
MAKASIH YA... LIKE DAN COMMENTNYA.
❤️❤️❤️