MUSE

MUSE
S7 ~ MAAFKAN AKU.



MUSE S7


Episode


S7 \~ MAAFKAN AKU


Hari itu cinta mereka kembali diuji. Tidak hanya jarak dan waktu, namun justru karena perasaan yang begitu lekatlah yang membuat keduanya menjadi semakin takut saling menyakiti.


_____________


Setelah pertandingan itu berakhir. Levin keluar menjadi juaranya, mencetak rekor baru sebagai pembalap termuda dan juga kuda hitam yang disegani. Banyak tawaran dari pihak sponsor dan bahkan ada pula yang ingin meminta Levin bergabung dengan merk motor lain.


Levin cukup sibuk menanggapi permintaan itu. Membuat fokusnya terpecah. Padahal tingga dua hari lagi Leoni akan kembali ke Indonesia. Urusan pekerjaan membuat Levin terpaksa mengesampingkan masalah mereka yang terus memanas.


Masalah yang semula kecil menjadi besar karena tak kunjung diperbincangkan. Mereka berdua memilih bergelut dalam pikiran masing-masing, memilih utuk menetapkan ego di atas perasaan pasangannya. Baik Levin dan juga Leoni sama-sama mengeraskan hatinya.


Berkutat dengan pikiran masing-masing membuat waktu berjalan dengan cepat. Tanpa terasa, siang hari ini Leoni sudah harus berangkat ke bandara.


.


.


.


Keheningan yang payah, membuat hati terasa sesak dan juga perih. Hm ... desirannya bahkan tidak mau hilang dari dalam dada Leoni. Meski sepanjang jalan mulai dari apartemen sampai ke bandara Levin terus menemaninya, namun tak ada yang mencoba untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu dan itu membuat atmosfirnya menjadi canggung.


“Sudah sampai.” Sopirlah yang justru memecahkan keheningan. Membuat Leoni terperanjat dan bergegas membuka pintu mobil.


Levin ikut membuka pintu mobil dan membantu Leoni menurunkan kopernya.


“Aku bisa sendiri,” tandas Leoni yang semakin kesal karena Levin tak mencegahnya pulang sama sekali. Justru seakan memintanya lekas pergi dari sana.


“Baiklah kalau memang itu maumu.” Levin mendengus, ia tak akan peduli bila memang Leoni tak mau dipedulikan.


Leoni mendorong kopernya dengan kasar memasukki pintu keberangkatan. Hanya pemilik tiket yang bisa masuk ke dalam untuk cek in. Levin sebenarnya ingin bergegas mendampingi Leoni. Namun sikap acuh Leoni membuat Levin mengurungkan niatnya.


Siang itu … tak ada kata perpisahan, atau ciuman mesra, atau pelukan yang hangat. Yang ada hanyalah kegelisahan dan kegundahan hati, seakan keduanya akan putus begitu Leoni berhasil melewati pintu masuk bandara.


“Tunggu!!” Pekik Levin.


Tubuh Leoni tertarik dalam pelukan Levin. Masuk ke dalam dekapan hangat. Leoni terbelalak, tiba-tiba saja Levin memeluknya.


“Maaf, maafkan aku.” Levin memeluk Leoni lebih erat sampai Leoni terasa sesak, namun kali ini bukan sesak yang berdesir-desir nyeri. Namun sesak yang begitu nyaman.


“Maafkan aku juga. Aku … aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk menimpamu.” Leoni sesunggukan dalam pelukan Levin.


“Tapi sungguh aku tak bisa menyerah pada impianku.” Levin melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Leoni yang berair.


“Aku tahu.” Leoni tertunduk. “Maka itulah aku pulang. Aku tak bisa melihatnya Levin. Aku tak bisa melihatmu terluka atau mengalami hal yang buruk.”


“Aku tak akan terluka, aku berjanji akan selalu berhati-hati. Aku berjanji akan selalu menang dan kembali dalam pelukanmu.” Levin menggenggam tangan Leoni, ia memasukkan sesuatu ke jari manis Leoni yang membuat mata Leoni terbelalak dan langsung mendongakkan kepalanya.


“Vin??”


“Aku akan melamarmu saat ulang tahun. Tapi sepertinya itu tidak akan terwujud karena kau akan pulang hari ini. Maafkan aku Leoni. Aku titipkan cincin ini padamu. Sebagai bukti dan pengikat bahwa aku serius dengan perasaanku kepadamu. Aku pasti akan kembali kepadamu dan saat itu, aku akan mengatakannya dengan lebih jelas.” Tutur Levin, Leoni terisak dan kembali memeluk Levin.


Leoni merasa menjadi wanita paling egois di dunia. Padahal Levin begitu memikirkannya namun Leoni justru ngambek dan bahkan pulang sebelum waktunya. Namun … perhatian Levin inilah yang justru membuat perasaan Leoni menjadi semakin berat. Terus mencintai Levin itu berarti Leoni harus siap sedia bertaruh dengan maut tiap kali Levin terjun ke sirkuit balap.


Begitu berat …


Levin mengelus pipi Leoni dan turun untuk mencubit dahunya supaya Leoni mengangkat wajah. Levin mengecup bibir Leoni, menguulumnya dengan lembut. Menyesap madu manis yang begitu memabukkan sebelum melepaskan sang empunya pergi.


“Hubungi aku begitu tiba di indonesia. Aku akan merindukanmu, Singa.”


“Iya, Vin. Aku juga akan merindukanmu.” Leoni melepaskan dekapannya dan tersenyum selebar yang ia bisa. Namun kegetiran dan ketakutan tetap menghantui Leoni.


Dengan berat hati Levin melepaskan Leoni untuk masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan. Levin menghela napas panjang begitu punggung Leoni menghilang dari hadapannya.


Hari itu cinta mereka kembali diuji. Tidak hanya jarak dan waktu, namun justru karena perasaan yang begitu lekatlah yang membuat keduanya menjadi semakin takut saling menyakiti.


...— MUSE S7 —...