MUSE

MUSE
S7 ~ MASA KECIL



MUSE S7


EPISODE 03


S7 \~ MASA KECIL


\~“Aku menolongmu, kau malah menyakitiku! Bagaimana kalau telorku pecah! Ini masa depanku kau tahu!” Levin masih memegang burung kesayangannya baik-baik, untung saja tendangan Leoni tidak terlalu kuat.\~


___________________


Levin dan Leoni sudah saling mengenal sejak TK. Semenjak Leon dan Kanna memutuskan untuk pindah ke kota S.


Saat itu Levin yang berusia lima tahun sering menjambak kuncir kuda Leoni. Namun bukannya menangis Leoni malah membalas jambakan Levin. Keduanya sering bertengkar di sekolahan, berebut mainan sampai perhatian guru.


Begitu pula kehidupan mereka saat SD, selama jenjang kelas satu sampai kelas enam mereka selalu satu kelas. Guru selalu melerai perkelahian Leoni dan juga Levin. Levin terkenal sebagai anak cowok yang nakal, suka berantem, berandalan kecil. Sedangkan Leoni adalah gadis kecil tomboy yang suka menyendiri. Ia tidak cocok berteman dengan anak gadis dengan pembicaraan mereka seputar boneka, fashion, dan kecantikkan.


Benih cinta mereka dimulai saat kelas satu SMP, saat itu sebenarnya mereka belum mengerti rasa cinta. Hanya saja mereka sering bertengkar dan malah akhirnya menimbulkan rasa ketergantungan.


Seperti saat ini, Leoni sedang berjalan malas sepulang sekolah. Dan Levin menyusulnya dari belakang.


“Woi, Singa!” Levin memanggil Leoni dengan sebutan singa, selain namanya yang berunsur nama binatang ini, rambut Leoni yang kasar dan mengembang memang membuatnya terlihat mirip singa.


“Berhenti memanggilku, Singa!” Leoni menghentikan langkahnya, melotot galak ke arah Levin sambil berkacak pinggang.


Levin terkikih, ia menghentikan laju sepeda federalnya di samping Leoni. Memilih untuk berjalan berdampingan dengan gadis itu.


“Kan memang benar, rambutmu mirip singa! Lihat, mengembang dan kasar! Aku yakin tak akan ada cowok yang melirikmu!” Levin kembali menggoda Leoni.


“Hish ... jangan pegang-pegang rambutku!” Leoni menepis tangan jahil Levin. Lagi-lagi ia melotot, Levin kembali terbahak-bahak senang. Sudah menjadi hobinya menggoda gadis itu sejak kecil.


“Hehehe, aku doakan rambutmu semakin mengembang Singa!” Levin mengusik rambut Leoni.


“Hentikan!!” Leoni marah.


“Weekk!!” Levin menjulurkan lidahnya dan kembali mengayuh sepeda.


“Sialan, brandalan brnsek!” Leoni mengumpat sebal, ia mengambil botol air minum plastik dari dalam tasnya. Melemparkannya tepat di kepala Levin.


“Aduh!!” pekik Levin kesakitan, ia mengusap kepalanya. Tangannya hanya satu yang memegang stang sepeda, membuat keseimbangannya oleh. Levin terjungkal dan masuk ke dalam got yang cukup lebar.


Semula Leoni menutup mulutnya, tapi sekejap kemudian tertawa puas. Ia mendekati Levin, duduk berjongkok di pinggir got.


“Rasain! Emang enak?” Leoni terkekeh, Levin bangkit, mencium bau eneg dari saluran pembuangan air itu. Seragamnya berubah kecoklatan, ternoda oleh air comberan.


“Sialan!” umpat Levin.


“Hahaha!! Bye, Levin!” tawa Leoni semakin lantang. Leoni hendak bangkit, namun Levin nekat menarik tangannya, menceburkan Leoni ke dalam got.


“WAAA!!” Pekik Leoni.


Byurr!!! Kini keduanya tercebur sempurna di dalam air comberan. Air membuat rambut mengembang Leoni mengempis, entah kenapa gadis itu terlihat lebih manis dengan rambut kempesnya.


Wajah Levin terperana sekejap, menghangat. Ia bahkan tak keberatan mendengar umpatan demi umpatan yang lolos dari bibir mungil Leoni asal bisa melihat wajah cantiknya lebih lama.


Otakku sepertinya sudah nggak beres! Pikir Levin, ia bergeleng pelan.


“Duh basah semua, bau lagi!!” Leoni mencoba keluar dari got, bajunya yang basah membuat tubuhnya berat. Sepertinya Leoni kesusahan merangkak naik.


Levin mencoba membantunya, ia mendorong pantat Leoni agar gadis itu lebih mudah naik ke daratan. Leoni membeku, Levin adalah cowok pertama dan paling kurang ajar yang berani memegang pantatnya. Apa dia tidak tahu, pantat termasuk bagian pribadi milik wanita.


“Hei, Cowok brengsk!! Apa orang tuamu tak pernah mengajarkanmu menghormati seorang gadis?” Leoni mendengus kasar, ia menceples tangan nakal Levin yang daritadi masih bertengger di atas pantatnya.


“Apa maksudmu? Memangnya kau seorang gadis?” Levin malah terkikih geli, ia menepuk beberapa kali pantat Leoni.


Leoni naik pitam, si singa betina itu murka. Dengan geram Leoni mengayunkan kakinya dan menendang tepat di antara paha Levin. Mengkoyak benda paling pribadi milik seorang pria. Levin berjengit kesakitan. Perutnya langsung terasa mulas.


“Aku menolongmu, kau malah menyakitiku! Bagaimana kalau telorku pecah! Ini masa depanku kau tahu!” Levin masih memegang burung kesayangannya baik-baik, untung saja tendangan Leoni tidak terlalu kuat.


“Kau sendiri kurang ajar! Kau menepuk pantatku berkali-kali!” Wajah Leoni memerah, panas sekali. Baru kali ini ada cowok yang menyentuhnya terang-terangan tanpa rasa bersalah.


“Aku hanya membantumu naik!”


“Nggak gitu juga kali!” Leoni balas berteriak.


“Kalau aku dorong kakimu aku akan melihat celana dalammu! Memangnya kau lebih suka kalau aku melihatnya daripada menyentuh bokongmu?” Levin melipat tangannya di depan dada, rasa mulasnya sudah menghilang.


“Alasan! Cepat bantu aku naik!” Leoni mencoba naik kembali.


“Ogah!” Levin sebal, ia mencoba naik sendiri. Dengan tenaga prianya yang kuat, dengan mudah Levin menaiki got.


“Levin!!!” seru Leoni saat Levin sudah mengambil sepedanya.


“Apa?”


“Tolong aku!”


“Nggak mau!” Levin mendorong sepedanya.


“Please!!!! Levinnn!!!” Leoni menjerit, takut Levin meninggalkannya. Kondisinya sangat mengenaskan, bagaimana kalau ada orang yang lewat, ini memalukan.


“Tolong aku!! Aku akan melakukan apa pun keinginanmu! Tolong aku!!!” Leoni mulai panik, kulitnya juga terasa begitu gatal.


“Apapun?” Levin menyeringai.


“I—iya.” Leoni menelan ludahnya takut. Sepertinya dia sudah salah mengucap janji.


“Oke! Aku akan pikirkan permintaanku besok.” Levin meletakkan sepedanya, kembali untuk menolong Leoni.


“Satu, dua, tiga!!” Levin menarik tangan Leoni, membantu gadis itu naik.


Leoni terengah, ia bergegas menyahut tasnya yang terlepas di bibir got saat ia tercebur tadi. Beruntung tasnya tidak ikut tercebur, atau bukunya pasti akan bau seperti milik Levin besok.


“Thanks.”


“Not for free. Ingat janjimu, Singa!” Levin terkikih.


“Iya iya tahu.” Leoni mencibirkan bibirnya.


“Ayo naik!” Levin memberi kode agar Leoni berdiri di belakangnya. Naik sepeda akan membuat keduanya sampai di rumah lebih cepat. Baju yang basah dan bau pasti akan membuatnya tidak nyaman.


“Sungguh?”


“Udah, ayo cepatan!” Levin menaiki lagi sepedanya dan mulai mengayuh. Leoni berdiri di belakang. Berpegangan pada pundak Levin.


Sepeda mulai menggelinding, menyelurusi jalur lambat. Orang-orang yang terlintasi selalu menutup hidung karena bau comberan. Levin dan Leoni tak peduli, indra penciuman mereka sudah mati rasa. Hanya segera sampai dan keinginan untuk mandi yang ada dalam benak mereka saat ini.


...— MUSE S7 —...