MUSE

MUSE
S3 ~ BULIMIA



MUSE S3


EPISODE 117


S3 \~ BULIMIA


\~ Duh, Aku seperti wanita yang haus pujian saja. Andai saja aku mendengarnya dari mulut seorang Leon! Aku pasti akan mati kegirangan saat ini. \~


_______________


Isak tangis masih menemani istirahat siangku hari ini. Semua ini gara-gara si singa bodoh itu! Kenapa dia tak bisa mengerti sedikit saja perasaanku. Leon sepertinya tak pernah peduli kalau aku kini adalah seorang Kanna yang cantik, yang punya banyak penggemar, yang dicintai oleh banyak orang. Aku bukan lagi Kanna yang dulu, jelek, gendut, dan dilecehkan.


Triiing... 🎶


Nada dering terus terdengar, Leon terus meneleponku. Ia juga mengirimkan beberapa chat padaku.


Leon:


Kanna, kau kenapa?


Apa kau marah?


Leon:


Kanna angkat teleponnya


Apa salahku?


Leon:


Kanna kalau aku salah


aku minta maaf


Tolong jangan begini.


Leon:


Kanna, maafkan aku


Please jangan marah.


Aku mematikan ponselku. Jujur aku sama sekali tak ingin menjawab panggilannya saat ini. Aku masih merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri. Aku tak ingin memperpanjang konflik, jadi lebih baik aku mendinginkan kepala dan menata hatiku.


Aku membuka lagi buku jurnal kecantikkan milikku. Aku merasa begitu bahagia saat menulisnya dulu. Aku merasa begitu hidup, saat itu aku merasa punya tujuan, untuk pertama kalinya aku merasa hidupku ada artinya.


Aku tak pernah memungkiri bahwa semua yang aku lakukan ini bukanlah hal yang baik. Aku diet dengan cara yang salah, aku terlalu ingin cepat-cepat kurus. Demi tubuh indah itu aku sampai mengidap bulimia. Walaupun sekarang aku berusaha diet dengan lebih sehat, berolah raga, dan meminum suplemen kesehatan. Tetap saja aku masih sering muntah karena pencernaanku tidak sehat.


Dulu diejek dan dihina...


Begitu cantik malah sakit-sakitan...


Mana pacar nggak mendukung lagi.


Aku tak ingin kembali menjadi Kanna yang jelek, tapi juga takut dengan efek jangka panjangnya pada kesehatanku. Menstruasiku saja tak pernah lancar selama setahun ini.


Aku menaikkan kakiku ke atas kursi dan memeluk keduanya. Aku kembali menangis dan mengasihani diri sendiri.


Oh, Poor Kanna, Kenapa hidupmu bisa begitu menyedihkan?


•


•


•


Hish..., padahal aku sedang marah pada Leon, tapi dalam kesedihan ini, aku malah merindukan sosok tengilnya itu. Aku merindukan tangannya yang mendekapku dengan hangat. Ternyata tanpa dukungan Leon aku merasa segalanya begitu sia-sia. Sepertinya hatiku begitu mencintainya, aku begitu tergantung padanya. Aku memang tak bisa hidup tanpanya.


“Leon.”


— MUSE S3 —


•••


Hari sudah sore saat aku terbangun, aku terlalu lelah menangis sampai tertidur. Entah sudah berapa miss call dan chat yang ada saat aku menghidupkan ponselku nanti. Tapi alih-alih menghidupkan ponsel aku lebih memilih menghidupkan laptopku.


Aku menghidupkan benda elektronik tipis mirip buku itu. Sudah lima hari aku di Rs, berarti sudah 5 hari pula aku tak mengupload foto ataupun video.


“Hmm, ada DM?” Aku melirik ke arah kotak inbox pada jejaring sosial.


FRESH LIP TINT:


To Miss Kanna,


Bagaimana dengan endorse kami?


Batasnya minggu inikan?


Anda harus melakukan 2x lagi story menggunakan liptint dari kami.


Love from,


Fresh Lip Tint.


Ah, sialan, aku hampir melupakan perjanjian ini. Bulan lalu aku mengambil kontrak endorse dengan Fresh Lip Tint, aku dibayar 15 juta untuk 8x story, dan 2 feed yang bertengger pada wall selama 15 hari. Lumayan bukan?


Aku sudah mengupload di feed, tinggal story aja, dan aku belum mengupload 2 story terakhir karena sakit. Aku juga tak mungkin melanggar kontrak, bisa-bisa aku dituntut dan kehilangan kepercayaan, atau bahkan sampai kehilangan semua pekerjaanku. Lagi pula uang siapa yang akan ku gunakan untuk membayar pinaltinya?


“Gawat, wajahku bengkak begini, bagaimana caranya siaran?! Mana yang terakhir harus live!” Aku menurunkan bahuku lemas. Saat live aku tentu saja tak bisa mengedit wajahku. Aku juga belum terlalu ahli membuat kesan tirus pada dagu, pipi bawah, dan juga leher dengan make up.


Aku terpaksa mengupload dulu story yang bukan live, dan rencananya story live akan aku upload pada hari Minggu, hari terakhir masa kontrak. Aku masih punya waktu tiga hari untuk berolah raga dan mengecilkan lagi badanku.


“Semangat, Kanna!! Kau bisa,” tanganku mengepal di atas kepala, mencoba kembali bersemangat. Aku bidadari Kanna, aku wanita yang imut dan penuh semangat! Tak mungkin aku mundur hanya karena hal seperti ini!


Aku kembali pada ponsel dan juga kameraku. Mengeset tatanan kamar, lalu mensetting kamera di atas tripod. Terakhir lampu lingkaran sebagai tambahan pencahayaan. Tak lupa menata dengan cantik lip tint yang akan di endores. Rencananya aku ingin membuat video yang menonjolkan kesan tetap fresh dan cantik walaupun hanya dengan lip tint. Jadi make up ku tak boleh terlihat lebih menonjol di bandingkan lip tintnya.


Aku bergegas mandi, mengompres mata, lalu memilih pakaian santai yang terlihat menyembunyikan tubuh gemukku. Akhirnya aku meminjam kemeja putih milik Kak Rezzi, kemeja kebesaran akan menyembunyikan lemak di perutku. Aku sengaja membuat 2 buah kancingnya tak terkait, lalu menarik kemejanya ke belakang, menonjolkan sebelah pundakku.


Aku mengeblow naik rambutku seakan-akan aku sedang bangun tidur. Aku membuat rambutku sedikit acak namun tetap berkesan mengkilat. Aku mengoleskan sedikit wet look pada bagian ujung rambut agar berkesan sexy.


Ku poleskan sedikit fondation khusus untuk make up syuting, sehingga terlihat glowing saat di depan kamera. Aku juga hanya memakai face powder tipis warna pink agar menimbulkan rona alami pada wajah. Untuk bagian mata aku menggunakan eye shadow berwarna merah bata agar menambah kesan kuat pada lipatan matanya. Aku tak memakai bulu palsu tambahan, bulu mataku sudah lentik karena eye lash extension.


“Oke, persiapan done. Saatnya take!”


Aku memposisikan diriku, berlenggok alami agar terlihat tak terlalu dibuat-buat. Aku mengoleskan pelahan lip tint berwarna pink fusia. Mengecapnya beberapa kali, dan memanyunkan sedikit bibirku agar mereka bisa melihat hasil terbaik pada tintnya. Tak lupa beberapa ulasan singkat yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Aku selalu mengetik dialog mengenai produk yang aku review agar tidak lupa.


“Oke, cut!” seruku bahagia.


Aku mengambil kamera dan melihat hasilnya, cukup memuaskan. Aku hanya tinggal melakukan 2 kali take lagi dengan angle yang berbeda. Hal ini dilakukan agar saat pengeditan, kalau ada scan yang jelak masih bisa diperbaiki dengan scan lainnya.


Setelah dua kali take lainnya aku segera menghapus make up dan mulai mengedit video. Saat ada angel yang menonjolkan sisi wajahku yang gemuk aku menukarnya dengan angel yang lain. Sampai akhirnya video berdurasi kurang lebih 2 menit itu selesai dan siap diupload.


Aku mengirim kontennya terlebih dahulu pada pihak marketing Fresh liptint, meminta pendapat mereka, aku harus memastikan isi kontennya tidak ada yang merugikan pihak klien sebelum video itu di upload.


“Bagaimana, Bu?” tanyaku via telepon.


“Ok, Miss Kanna. Silahkan diupload.”


“Maaf agak sedikit lama, saya sakit minggu ini.”


“Tidak apa-apa, Miss Kanna. Anda tidak melanggar kontrak. Semoga lekas sehat dan tetap berkarya.”


“Terima kasih.”


Setelah pembicaraan singkat aku mengupload video itu pada jejaring sosial. Begitu terunggah, langsung banyak tanggapan yang muncul. Mereka yang menontong memberikan penilaian pada penampilanku, tak jarang yang juga bertanya di mana bisa membeli lip tint yang ku gunakan. Kekuatan media sosial untuk promosi memang menakutkan.


Ada satu DM yang menyita perhatianku. Terkirim dari akun milik Zean.


@Zean: kau sangat cantik bidadariku.


Aku langsung tersipu, kenapa membaca pujian Zean aku merasa bahagia? Duh, Aku seperti wanita yang haus pujian saja. Andai saja aku mendengarnya dari mulut seorang Leon! Aku pasti akan mati kegirangan saat ini. Sayangnya pacarku itu tak pernah memuji dan mendukung perubahanku. Pujiannya yang ku dengar selalu saja,


Aku cinta kamu apa adanya Kanna.


Kau cantik meski gemuk.


Kau yang tercantik dimataku bagaimanapun keadaanmu.


Tak bisakan dia merubahanya? Kata-kata pujian itu menjadi seperti ini,


Kanna kau sangat cantik sekarang.


Wah..., tubuhmu sangat indah sekarang Kanna.


Kau luar biasa, Kanna. Aku akan selalu mendukungmu.


“Dasar singa nggak peka!” Aku kembali membanting diri di atas kasur.


“Tapi aku rindu,” dasar wanita, selalu saja lemah dengan perasaannya.


Aku menyalakan kembali ponsel khusus pribadi. Ponsel yang hanya aku pakai untuk keluarga, pacar, dan teman-teman dekat saja. Kalau ponsel yang lain untuk upload dan sesekali berinteraksi dengan penggemar.


Benar saja, ada banyak chat masuk begitu aku menghidupkan ponsel itu. Semuanya dari Leon. Yang paling membuatku kaget adalah chat terakhirnya.


Leon:


Aku kembali ke kota J


Malam ini.


Bukannya dia masih beberapa hari tinggal di desa? Kenapa malah jadi kembali kemari? Apa karena aku tak membalas chatnya?


Kanna:


Maaf Leon


Aku seperti anak kecil


Moodku sedang buruk


Kau tak perlu kembali


Keluargamu pasti


Leon:


Aku sudah diperjalanan


Tunggu aku ya


Kanna:


Baik hati-hati, ya


Aku kembali menatap langit-langit. Plafon putih itu kini sedikit kecoklatan karena termakan usia. Mungkin aku harus kembali memulasnya dengan cat agar kembali putih. Aku menguap, terlalu lelah mengambil video, tanpa sadar aku kembali tertidur.


•


•


•


Aku membuka perlahan mataku. Ada sentuhan lembut yang membelai rambutku. Siapa? Siapa yang membelaiku? Aku terkejut dan langsung menjerit karena kaget.


“WWA..emph!!!” namun tangannya yang sedikit kasar membungkam mulutku.


“Ini aku, Kanna.”


“Leon?!” mataku terbelalak. Bagaimana Leon bisa ada di kamarku?


“Kenapa jendelanya nggak di tutup? Kan bahaya kalau ada yang masuk!” Leon menunjuk ke arah jendela.


“Kau masuk dari jendela?” tanyaku.


“Huum, aku rindu padamu, Kanna.” jawab Leon sembari memelukku.


“Aku juga merindukanmu, Leon. Maaf ya, aku seperti anak kecil siang tadi.” Aku membalas pelukkannya.


“Kenapa kau marah padaku, Kanna?”


Aku terdiam sebelum akhirnya menjawabnya dengan helaan panjang, “hah..., sudahlah Leon. Kau tak akan mengerti,”


“Belum bilang alasannya kok sudah menganggapku tak mengerti.” ekspresi wajah Leon sedikit menegang.


“Kau sudah makan?” Aku mengalihkan pembicaraan.


“Sudah.” angguk Leon.


“Papa Mamamu pasti tak suka padaku? Karena aku anaknya harus kembali cepat-cepat kemari.” Aku tertunduk malu.


“Tidak, mereka tak seperti Papamu.”


“Hah?? Ada apa dengan Papaku?”


Leon cerita panjang dan lebar, ternyata saat aku pingsan dulu, Papa mengangkat telepone dari Leon. Dia marah dan mencaci maki Leon karena terus menghubungiku. Dia bilang Leon tak tahu malu, belum menghasilkan uang saja berani berpacaran denganku. Dia juga bilang agar Leon menjauhiku, karena Leon tak akan pernah bisa membahagiakanku.


“Maafin Papaku, ya, Leon.” Aku tertunduk malu. Papa tak pernah tau betapa anaknya mencintai pria di depannya ini.


“Aku tidak masalah, Papamu tidak salah, ucappannya malah memacuku untuk semakin giat belajar dan bekerja.” Leon mengelus pucuk kepalaku.


“Maaf, Leon.” Aku memeluknya.


Leon tak menjawab, dia hanya mengelus punggungku dengan lembut. Detak jantungnya dan aroma tubuhnya yang manis membuatku nyaman. Ah, aku suka dengan perasaanku ini. Perasaan yang tak pernah bisa lepas darinya. Aku mencintainya, mencintai Leon-ku.


“Sudah malam, aku pulang, ya.” Leon pamit.


“Jangan!!” Aku menarik lengan bajunya.


“Kanna? Kau baru saja sembuh.” kata Leon.


“Apa hubungannya? Aku kan minta kau menemaniku malam ini.” tanyaku heran.


“Aku takut tak bisa menahannya.” wajah Leon tersipu, merah dan menggemaskan, membuatku ikut tersipu juga.


“Than do it!” Aku tersenyum dan mengalungkan lenganku pada lehernya.


“Kanna??!!”


“Hahaha, aku juga menginginkanmu Leon.”


Aku mendaratkan sebuah ciuman pada bibir indahnya. Menciumnya dengan rakus, tak terbendung lagi perasaan rindu yang meluap dari dalam hatiku. Benar kata orang, setelah bertengkar pasti akan semakin mesra. Aku menjambak pelan rambutnya, membuka kasar kaos hitam yang dikenakannya. Sekejap kemudian Leon sudah berhasil memanjat tubuhku, aku mendessah merasakan kenikmatan dari sentuhan dan cumbuan Leon.


“Argh...,” rancauku.


— MUSE S3 —


•••


Aku berlari mengelilingi kompleks perumahan sebelum akhirnya berhenti di depan rumah. Leon keluar dari dalam rumahnya, masih dengan bertelanjang dada. Ada bekas kiss mark di dekat pusarnya. Hasil kenang-kenangan dari percintaan kami semalam.


“Kenapa keluar nggak pake baju?” protesku.


“Cuma di teras.”


“Tetep nggak boleh! Kalau ada cewek lain yang lewat trus lihat gimana?” cekalku lagi.


“Iya, aku pake baju.” Leon menurut dan kembali masuk ke dalam rumah. Aku menghapus keringatku dan mengikutinya masuk.


“Kau sudah makan?”


“Eeee...,” bingung harus berkata apa? Aku tak berani menjawab kalau sedang diet demi video live.


“Aku masakin, ya.”


“Baiklah.” Aku tak berani menolaknya, Leon pasti marah kalau aku tidak makan dengan teratur.


•


•


•


Tak butuh waktu lama saat sup ayam beserta lauk dan juga sambal tersaji di depanku. Baunya sungguh menggiurkan, masakan Leon memang yang terbaik. Duh, perutku keroncongan! Bagaimana ini? Makan atau tidak?


“Makanlah, Kanna!” Leon melepaskan apronnya dan menata meja makan.


“Iya,” senyumku simpul.


“Makan yang banyak biar cepat pulih.” Leon mengambilkan nasi lebih banyak dari biasanya.


“Jangan banyak-banyak, Leon!” protesku.


“Kau itu terlalu kurus! Jadi gampang sakit.” Leon menaruh piring di depanku. Ia menungguku menghabiskan semuanya.


Mau tidak mau aku kembali melahap semua makanan di depanku. Memasukkan semuanya ke dalam mulutku. Memasukkan semuanya ke dalam tubuhku.


“Nah, gitu donk!” puji Leon.


“....” Aku hanya bisa diam.


Tak lama kemudian, kami telah selesai makan. Leon berpamitan untuk mandi, “aku mandi dulu, Kanna.”


“Iya, mandilah,” jawabku.


Leon naik ke atas, mandi di lantai dua. Aku menunggunya beberapa saat. Setelah memastikan bahwa Leon sudah masuk ke kamar mandi, aku pun berlari menuju toilet di lantai bawah. Aku harus segera mengeluarkan semuanya sebelum susah untuk keluar. Aku menusukkan dua buah jariku, merangssang mulutku agar memuntahkan semua makanan yang ku makan tadi.


“Ugh..., Hoek...! Hoek...!” Aku mengeluarkannya dengan selirih mungkin agar Leon tak mendengarnya.


Aku kembali memasukkan jariku, memancing rasa mual agar semua makanan itu tumpah tak tersisa.


“Kanna???! Apa yang kau lakukan?!” tiba-tiba Leon berteriak padaku.


Gawat! Sejak kapan dia berada di sana? Sejak kapan Leon melihat semua ini? Kenapa dia harus kembali turun di saat aku sedang seperti ini?


“Leon? Aku bisa jelaskan semua ini.” Aku menyiram closet, mencoba untuk menyembunyikan kesalahanku.


“Kenapa kau muntahkan semua makananmu?” Leon mendekat, ia mencengkram pergelangan tanganku.


“Leon...,” mataku tertuju padanya, cara Leon memandangku sangat mengerikan.


“Sejak kapan kau melakukannya?”


“Aku...,”


“Sejak kapan kau mengidap bulimia???!” Leon semakin meninggikan suaranya.


— MUSE S3 —


Pemenang voter terbanyak


SRY YANTI


ZARA


WEN CHAN


Masuk ke dalam Grup chat milikku, pilih ukuran dan warna kaos. Lalu kirimkan nama, alamat, dan juga nomor yang bisa di hubungi.


Terima kasih semua readers tercinta atas partisipasinya untuk mengikuti event give away dari author.


Nantikan event berikutnya ya


Jangan lupa like comment dan terus vote Muse setiap hari SENIN!! Biar rankkingnya melejit.


Makasih


Saya suka saya suka


Saya cinta saya cinta


Love, dee


❤️❤️❤️❤️