
MUSE S5
EPISODE 20
S5 \~ DON’T SAY GOODBYE
\~ Lucas terdiam, sungguh ironi yang luar biasa. Bahkan sampai saat ini Rony belum tahu kalau Lucas mencintai anak dari wanita itu. Bagaimana bisa Lucas memaafkannya atas semua yang telah terjadi.\~
________________
AUTHOR POV
Suasana mulai tampak sepi di rumah duka, malam ini adalah malam terakhir orang-orang bisa memberikan penghormatannya pada mendiang Katerina sebelum besok jenazahnya akan dikremasi.
Lucas tak menguburkan jenazah mamanya karena tak ingin mamanya berada di tempat dingin itu sendirian. Kalau benar papanya akan menikahi wanita itu, tentu kelak ia tak akan dimakamkan bersandingan dengan mantan istrinya.
Lucas duduk bersimpu di depan foto cantik Katerina, di sekeliling foto terdapat hiasan bunga berwarna putih. Di samping bunga ada dua buah lilin besar yang memancarkan aroma bunga lily yang harumnya menenangkan.
“Tuan Lucas, beristirahatlah, sudah dua hari anda begini, tidak makan dan tidak tidur.” Kepala pelayan mendekati Lucas, ia menyelimutkan syal tebal pada pundak Taun Mudanya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Lucas. Sudah tidak ada air mata yang menetes, air matanya sudah kering.
Jam telah menunjukan pukul sepuluh malam saat ini. Seluruh pelayat telah meninggalkan rumah duka. Hanya Lucas dan beberapa orang pelayan yang terlihat sibuk membersihkan sisa-sisa makanan yang disuguhkan pada para pelayat.
Rony, papa Lucas pulang ke rumahnya dua jam yang lalu untuk beristirahat, tubuh tuanya juga terasa lelah, hatinya pun merasa tersiksa karena istrinya akhirnya memilih untuk menyerah demi dirinya. Mengorbankan kehidupannya demi kebahagiaan diri Rony.
Lucas menunduk, tiba-tiba sepasang lengan memeluknya dari belakang. Lengan itu terasa sangat hangat sekaligus membuat batin Lucas tersiksa.
“Lucas,” lirihnya.
Semua pelayan Lucas memilih menghentikan laju tangan mereka dan memberi waktu pada kedua insan manusia itu untuk berbicara dari hati ke hati.
“Lucas, maafkan aku, aku tahu betul kalau hatimu pasti sangat sakit dan menderita. Tapi aku benar-benar membutuhkanmu, Lucas. Aku mencintaimu.” Bella mempererat pelukkannya.
Sudah dua hari ini Bella terus datang dan melayat, ia tak henti-hentinya mencari kesempatan untuk berbicara dengan Lucas. Selama dua hari ini pula Lucas tak pernah mau menjawab ucapannya, ia selalu menyuruh pelayan untuk mengusir Bella.
“Lucas, jawab aku, kumohon!! Beri aku kesempatan Lucas. Aku mencintaimu.” Bella terus terisak pada punggung lebar Lucas. Namun Lucas sama sekali tak bergeming.
“Hiks ... Lucas, apa kau sudah tak lagi mencintaiku??” tanya Bella, “apa kau sudah melupakan semua yang kau katakan? Semua kenangan manis kita?” lanjut Bella.
“PERGILAH!!!” Lucas mendorong tubuh mungil Bella sampai gadis itu jatuh.
“Lucas?” Mata Bella terbelalak, ia tak pernah menyangka bahwa Lucas akan bertindak sekasar itu.
“Pergilah, Ella!! Sebelum aku menyuruh petugas untuk mengusirmu.” Lucas bangkit dan beranjak pergi dari hadapan Bella yang memandang dirinya dengan sayu.
“Hiks ... Lucas, ku mohon, jangan usir aku, jangan tolak aku, jangan katakan kau ingin berpisah dariku.” Bella bergumam sendiri karena Lucas telah pergi dari hadapannya.
Bella bangkit dengan lesu, berjalan keluar dari rumah duka. Ia tak tahu lagi harus bagaimana, mamanya sudah dua hari ini pergi entah ke mana, ponselnya tak bisa di hubungi. Bella tak bisa menyuruh mamanya untuk menjauhi papa Lucas karena semua komunikasi terputus.
“Lucas?” Bella menoleh kembali pada rumah duka, namun Lucas tak mengejarnya, tak ada lagi sosok pria penyayang yang selama ini terus memanjakannya dengan luapan cinta.
Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu, Lucas. Ku mohon jangan lakukan ini padaku, aku lebih baik mati dari pada kehilangan dirimu. Pikir Bella.
Hujan turun saat Bella keluar dari kompleks rumah duka. Ia berjalan masuk dalam derasnya air. Lucas memandang dengan nanar tubuh Bella yang menggigil kedinganan dan menjauh pergi. Hatinya diselimuti rasa kecewa, benci, marah, dan juga kesedihan.
Walaupun keras dan tangguh, Lucas adalah seorang anak yang penyayang, ia begitu mencintai mamanya. Lucas terus merasa berhutang budi karena demi melahirkannya jantung Katerina mengalami kebocoran. Katerina tak bisa menemaninya seperti mama yang lain, namun ia tak pernah absen memberikan kasih sayang pada Lucas. Katerinalah yang selama ini menahan jiwa gelap Lucas, yang menahan dirinya menjadi seorang lelaki yang kejam.
Jangan salahkan aku Ella, salahkan kehidupan kita yang pahit dan getir ini. Pikir Lucas sebelum kembali masuk ke dalam ruangan duka mamanya.
— MUSE S5 —
Lucas berdiri pada sebuah kapal yatch milik keluarganya. Ia menaburkan abu kremasi jenasah Katerina ke lautan luas. Angin membawa pergi jauh butirannya sampai entah ke mana. Lucas menyimpan sedikit sisa abu dalam sebuah kaca dan menjadikannya liontin kalung.
“Terbanglah, Ma. Pergilah sejauh yang kau inginkan, bukankah dulu kau tidak bisa pergi ke mana-mana karena sakit? Kini kau sudah sembuh, sudah bebas.” Lucas bergumam, ia menggenggam liontin yang berisikan sedikit abu.
“Namun juga temani Lucas ke mana pun Lucas pergi.” Lucas memutar tubuhnya, ia menuruni yatch yang telah menepi pada dok dermaga.
Rony menunggunya di bawah, Lucas berjalan melewati tubuh ayahnya begitu saja. Tak ada kata, tak ada hormat, tak ada kasih sama sekali.
“Maafkan Papa, Lucas.” Rony menahan tangan putranya.
Lucas terdiam, sungguh ironi yang luar biasa. Bahkan sampai saat ini Rony belum tahu kalau Lucas mencintai anak dari wanita itu. Jadi, bagaimana bisa Lucas memaafkannya atas semua yang telah terjadi?
“Hiduplah dengan bahagia, jangan sia-siakan pengorbanan Mamaku.” Lucas menepis tangan papanya dan bergegas pergi dari hadapan pria itu.
“Lucas!! Tak bisakah kita bicarakan semua ini baik-baik.”
“Tidak ada hal baik yang dimulai dari sesuatu yang tidak baik.”
Hati Lucas mulai tertutup, ia membenci papanya, membenci hidupnya, membenci kelemahannya.
— MUSE S5 —
Bella mencoba terus menghubungi Lucas, ia tak bisa melupakan cintanya begitu saja. Ia tak bisa menghilangkan rasa rindunya begitu saja. Getaran hebat, kecupan manis, sampai hangatnya tawa Lucas tak pernah hilang. Semuanya terus membayangi malam-malam Bella. Membuat tubuh dan jiwanya tersiksa, hatinya merana, sakit sekali.
Apa kau merasakan hal yang sama, Lucas? pikir Bella, ia terus menangis dan menggenggam erat dadanya yang perih karena tercabik-cabik oleh kejamnya kenyataan.
Aku tak boleh diam saja, aku tak boleh begini, aku harus menemuinya. Bella membulatkan tekat, ia menyahut jaket jeans dan mengambil motornya, melaju kencang menuju ke apartemen Lucas.
•
•
•
Bella menggedor pintu apartemen Lucas. Ia memukul pintu itu dengan kepalan tangannya karena bel pintu seakan tak berarti. Lucas tak membukakan pintu untuknya.
Lucas berdiri, menyandar lesu di balik pintu yang digedor oleh Bella saat ini.
“BUKA LUCAS!!! BUKA!! Aku tahu kau di dalam!!!” Bella berteriak.
“Aku mencintaimu, Lucas!! Kenapa kau tak mau menemuiku?? Semua ini bukan salahku?!!” Bella terjatuh, merosot ke bawah pintu. Dalam tangisannya Bella masih memukul pintu kamar apartemen Lucas.
“Lucas!!! Bukankah kau juga masih mencintaiku??” Hati Bella terasa begitu sakit, Lucas juga.
BRUK!!
Bella terjatuh saat pintu itu mendadak terbuka. Lucas memandang nanar pada Bella, sedangkan Bella memandang Lucas dengan binar cinta dan luapan rindu.
Berbeda dengan Lucas yang diselimuti amarah dan kekecewaan. Bella dipenuhi dengan rasa cinta dan pengharapan. Bella bergegas bangkit dan meloncat ke dalam pelukan Lucas, mendekap tubuh kekarnya dengan erat. Bella tak kuasa lagi membendung rasa rindunya yang membuncah.
“Lucas, aku merindukanmu,” tutur Bella bahagia.
Lucas diam, ia menutup pintu apartemennya. Lalu berpaling dan masuk ke dalam kamarnya, merebahkan diri ke atas ranjang empuk. Bella bingung, ia tak tahu harus bagaimana? Harus berkata apa? Bella hanya bisa mendekat dan berdiri tidak jauh dari Lucas.
“Lu ....” Belum sempat Bella memanggil nama Lucas, Lucas sudah lebih dahulu bangkit dan memotong ucapannya.
“Kita sudah bukan lagi kekasih, Ella. Jangan temui aku lagi!”
“Tidak, jangan Lucas!! Kumohon!!” Air mata kembali menetes, hati Bella kembali terluka dengan penolakan Lucas.
“Tak ada yang perlu kita katakan lagi, Ella. Kau akan segera menjadi adikku.” Lucas duduk pada sisi tepi ranjangnya.
“Lucasss!!!!” Bella tidak terima.
“Aku kehilangan segalanya karena Mamamu, Ella.” Lucas tersenyum kecut.
“Tidak, Lucas. Kau belum kehilangan diriku. Aku rela melakukan apa pun untukmu Lucas. Demi cintamu.” Bella mendekati Lucas, perlahan-lahan.
“Siapa yang tahu, mungkin ku akan mengkhianatiku seperti Mamamu yang menjual dirinya,” hina Lucas.
“Tidak, Lucas. Aku setia padamu.”
Lucas menyeringai, amarah yang membuat hatinya buta kembali hadir. Kegeraman akan sosok wanita pel4cur yang merusak kehidupan keluarganya yang sempurna kembali hadir. Lucas memanggil Bella dengan menggerakan jari telunjuknya.
“Merangkaklah seperti anjiing, Ella!! Datanglah padaku seperti anjiing yang setia pada majikannya.” Perintah Lucas.
Bella terkejut, air matanya meleleh turun, namun ia melakukannya. Kalau mati saja Bella rela melakukannya, apalah artinya merangkak seperti anjiing agar Lucas mau menerimanya kembali?
Bella menurunkan tubuhnya, merangkak dengan perlahan-lahan, mendekati Lucas yang duduk santai pada tepi ranjang. Lucas kembali menyeringai, ia menunggu Bella sampai kepadanya dengan sabar.
“Lucas. Apa kau mau menerimaku kembali?” Bella mendekat, ia sampai pada sela-sela kaki Lucas.
“Kita akan menjadi kakak beradik, Ella!!” Lucas menjambak rambut panjang Bella sampai gadis ini meringis kesakitan.
“Kau bilang kalau aku merangkak kau mau menerimaku lagi?” Bella memegang rambutnya yang terikat kencang dalam cengkraman Lucas. Hatinya menelangsa, air mata memenuhi wajah cantiknya, hari ini Bella merasa menjadi manusia yang berada dititik terrendah dalam kehidupannya. Bella tak menyesal, ia melakukan demi pria yang dicintainya.
“Baiklah, mari kita saling menerima malam ini.” Lucas menjujung tubuh Bella dan melemparkannya kasar ke atas tempat tidur.
Bella mencoba untuk bangkit, namun Lucas telah mengunci tubuhnya. Menindih kaki Bella dan mencengkram erat kedua tangannya. Dengan berangasan, Lucas menyesap leher Bella. Bella meronta, ia menggelengkan kepalanya mencoba untuk menghindari ciuman Lucas.
“LUCAS HENTIKAN!!” teriak Bella dalam kesesakkan.
“Kau bilang mau melakukan apapun untukku?! Apa ucapanmu itu juga bohong?” Lucas melepaskan cengkraman tangannya.
“Tidak, Lucas. Aku tidak bohong!!” Isak Bella, ia menutup kemejanya yang sedikit terbuka karena gerakan kasar Lucas.
“Kalau begitu pergilah dariku!!! Enyahlah!!”
“Kau tahu aku tidak bisa!!” sela Bella.
“Kalau begitu menurutlah!!” Lucas merobek paksa kemeja Bella, ia lalu mendekap tubuh gadis itu, tak meloloskan barang sejengkalpun kulitnya dari sesaapan panas yang membekas pada kulit mulusnya.
Lucas membuka paksa kaki Bella, ia melepaskan semua kesesakan di dalam hatinya dengan menjadikan Bella bulan-bulanan nafsunya.
Lucas mendorong tubuhnya masuk dan menghujam jauh ke dalam tubuh Bella. Bella hanya bisa menangis merasakan rasa perih dan panas yang ditorehkan oleh Lucas saat mereka bersatu.
“Hiks ...! Hiks ...!” tangis Bella.
“Jangan menangis, sebagai seekor anjiing kau bahkan tak berhak untuk menangis!!” sergah Lucas, ia mencengkram pipi Bella dengan tangannya dan memaksa gadis itu menciumnya. Bella meronta, mencakar, bahkan memukul dada Lucas, tapi Lucas tak bergeming ia tetap menyatukan tubuhnya dengan Bella. Menyemburkan kenikmatan di dalam hangatnya rahim Bella.
“Argh ...!” Setelah puas dengan tubuh Bella, Lucas bangkit.
“Jauhi aku Ella!! Kita tak di takdirkan bersama.” Lucas memakai kembali pakaiannya dan bergegas pergi dari sana.
“Lucas, jangan!! Jangan pergi!!” Bella meringkukkan badan yang luluh lantah karena hentakan tubuh Lucas yang kasar.
Menyesakkan? Tentu saja.
Menyakitkan? Tentu saja.
Mengecewakan? Tentu saja.
Memafaakan? Tentu saja, karena Bella punya cinta yang terlampau besar untuk Lucas.
“Don’t say goodbye, Lucas.”
— MUSE S5 —
Pokoknya harus di like comment sama vote!!
Aku sudah tak bisa berkata-kata.. terlalu sesak gaes.
😭😭😭😭