
MUSE S7
EPISODE 25
S7 \~ REMATCH
-Farel tak peduli, begitu pula Levin. Mereka mengenakan Helm dan menaiki motor masing-masing. Kali ini mereka tidak bertanding pada tanah berpasir, atau pun tanah kosong. Mereka akan bertanding di jalan raya, membelah hiruk pikuk kota dan kembali lagi ke bangunan itu.-
__________________
Leoni mengepas baju, mematur diri di depan cermin. Hari ini dia tampil fresh dengan pullover t shit berwarna pink dengan gambar flaminggo dan high weist jeans berpadu dengan sepatu kets putih setinggi mata kaki.
Leoni juga menyemprotkan minyak wangi, mengoleskan bedak dan juga tint warna coral. Setelah mengalami datang bulan Leoni memang terlihat lebih mementingkan penampilan, walaupun tidak terlalu mencolok seperti Jeska dan Anya. Di tambah dengan embel-embel akan bertemu Levin, tentu saja Leoni harus tampil lebih cantik dari biasanya.
“Ma, keluar dulu.” Pamit Leoni.
“Kemana?” Kanna menyembulkan kepalanya dari dalam dapur, masih memasak.
“Ke toko buku, mau cari buku untuk latihan soal.” Leoni berbohong.
“Mau Mama temenin?”
“Nggak usah, Ma. Cuma sebentar kok.” Leoni keluar dari pintu utama menuju ke ujung jalan.
Farel terlihat bertengger santai pada motor sportnya. Biru metalik dengan boncengan penumpang lebih tinggi dari pada pengendaranya. Farel menghisap rokok elektrik, kepulan asap putih keluar membentuk lingkaran, Farel sengaja bermain-main dengan uapnya.
“Kau merokok?” Leoni mendelik galak pada Farel.
“Iya.”
“Kaukan masih di bawah umur,” tukas Leoni.
“Jangan membuatku salah paham lagi dengan perhatianmu, Singa. Kau mau aku menciummu lagi?” Farel menyeringai, mengerling nakal ke arah Leoni.
Leoni spontan langsung menutup mulutnya dengan tangkupan tangan. Teringat kembali tentang first kissnya yang ternoda oleh Farel beberapa hari yang lalu.
“Ayo naik, langit mulai gelap.” Farel menghidupkan mesin motor.
Motor itu mengeluarkan suara nyaring yang menderu-deru. Leoni bergegas membonceng Farel. Sempat dilihatnya langit malam ini, tak ada bintang yang bersinar. Bulan pun bersembunyi di balik awan gelap. Sudah pasti malam ini akan turun hujan. Leoni acuh, karena ia tak pernah tahu dengan apa rencana Farel malam ini.
“Kalian sudah baikkan?” tanya Leoni sedikit berteriak karena suara bising lalu lintas dan juga angin.
“Apa? Tidak dengar!” seru Farel, suara Leoni tertelan oleh angin.
“Kalian sudah baikkan?”
“Sudah!! Kami bahkan berjanji untuk bertemu. Terimakasih Leoni, karenamu kami akhirnya bertemu kembali,” jawab Farel.
“Karenaku??” Leoni sedikit bingung, memangnya apa yang telah ia lakukan? Leoni bahkan belum berbaikkan dengan Levin sejak kejadian malam itu. Para orang tua seenaknya saja memutuskan hukuman bagi anak-anaknya.
“Sudah ayo berpegangan, aku akan mengebut.”
— MUSE S7 —
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Levin menengok ke arah ponselnya. Alisnya yang tebal mengerut tak ayal melihat foto yang terpapang pada inbox aplikasi chat miliknya.
“Leoni?!”
Foto itu merupakan foto Leoni, terikat pada kursi dengan mulut tersumpal kain. Mata Leoni mendelik tajam dalam foto itu, seakan-akan memang begitu benci pada sosok yang mengambil fotonya.
FAREL:
AYO KITA BERTANDING ULANG
KALAU KAU TIDAK DATANG
JANGAN SALAHKAN AKU
BERBUAT KEJAM PADANYA.
“Farel brengsek!!!” umpat Levin.
Hati Levin begitu gundah. Tangannya bergetar karena rasa takut. Levin punya janji pada Arvin untuk tidak balapan liar lagi sebelum lulus SMP. Levin punya janji pada Leon untuk tidak melibatkan Leoni dalam bahaya lagi. Tapi kini, Levin harus melanggar kedua janji itu bila ingin membebaskan Leoni.
Tanpa menunggu lagi Levin mengambil jaket dan juga sepatu kets hitam. Sepatu yang nyaman untuk menaikki motor. Levin keluar dari kamarnya, menyahut kunci motor milik Nick dan berlari menuruni tangga. Dua tiga anak tangga sekaligus.
“Bang pinjam motornya!!”
“Mau ke mana?” Nick yang baru saja menciduk nasi bingung dengan gelagat Levin. (Nick sedang liburan kuliah dan pulang ke rumah. Baca MUSE S5 kisah abang Nick)
“Cari angin, suntuk menjelang ujian.” Levin ngeles. Berharap alasannya masuk diakal.
Arvin dan Kalila yang kebetulan sedang menonton televisi di ruang tengah ikut bingung. Mereka cemas kalau anak bontotnya mengalami stress menjelang ujian.
“Mau Daddy temani?”
“Nggak, Dad!”
“Are you Okay baby?” Kalila mengerutkan dahi, tak biasanya Levin stress, anak itu sangat pintar mana mungkin stress karena ujian.
“Im OK, Mom. Just need to break.” Levin melangkah keluar.
“Hati-hati, Levin. Jangan lama-lama, mau hujan!!” seru Kalila.
“Iya!!” jawab Levin.
•
•
•
Leoni masih terus memberontak dari kursinya. Ia juga berusaha bersuara, namun mulutnya terbungkam.
“Hemm...hem....!!!”
“Kau berisik sekali, Singa!!” Farel mendekati Leoni, melepaskan sumbatan mulutnya.
“Brengsek, sialan! Lepaskan aku!!” seru Leoni kencang, Farel menutup telinganya karena lengkingan suara Leoni.
“Hei, hei, easy!!” Farel mengambil kursi duduk dengan terbalik di depan Leoni, lengannya bersandar pada sandaran kursi.
“Apa maumu?! Kenapa kau menipuku?” Leoni masih belum tahu dengan keinginan dan rencana Farel. Begitu sampai dua orang teman Farel langsung mencekal kedua tangan Leoni, dan menggiring gadis itu masuk ke dalam bangunan. Mengikat kedua tangan dan kaki pada sebuah kursi.
“Kan sudah kubilang, kau akan membuatku bertemu dengan Levin. Dia pasti menuju kemari karena ingin menyelamatkanmu.” Farel mengelus wajah Leoni, gadis itu membuang muka.
“Apa kau tahu kalau aku begitu mencintaimu dulu, Singa? Aku dulu merasa ke geer an. Aku kira dulu kau juga mencintaiku.” Farel terkikih.
“Kau gila!! Lepaskan aku!!”
“Ternyata kau lebih memilih Levin.”
“Lepaskan aku Farrellll!!! Jangan begini!! Kau bisa ditangkap polisi!” Leoni masih memelas.
“Hari ini, aku akan menjadikkanmu taruhan. Yang menang boleh mendapatkanmu juga. Aku akan mengambil semua yang Levin punya, harga diri dan juga cintanya.”
“Kau menjijikkan!! Menang pun aku tak akan sudi menjadi milikmu!!” teriak Leoni.
“Aku tak perlu persetujuanmu, kau cukup diam saja, terima aku tanpa perlu bersuara.” Farel mengecup pucuk kepala Leoni, gadis itu bergeleng, matanya berkaca-kaca. Semangatnya yang tadi menyala mendadak redup karena rasa takut.
“Seharusnya dia sudah sampai.” Farel meninggalkan Leoni, memberi kode pada kedua temannya untuk membawa gadis itu ke depan.
Perkiraan Farel benar, Levin sampai di depan bangunan tua itu. Wajah tampannya terlihat garang karena emosi. Levin menaruh helm racingnya ke atas motor dan berjalan mendekati Farel.
“Apa maumu?” tanya Levin.
“Kita bertanding ulang.”
“Apa yang akan kau lakukan kalau aku menolak?” Levin mencoba bernegosiasi. Janjinya sebagai seorang anak dan pria bisa dipertahankan.
“Maka dia akan menghilang dari hadapanmu.” Farel menunjuk ke belakang dengan jempol, tampak Leoni sedang memberontak dari cekalan kedua teman Farel.
“Leoni??! Apa yang kau lakukan pada Leoni??!” Levin mendekati Farel, mencengkram kerah pakaiannya.
“Easy, Vin. Aku belum menyentuhnya sedikit pun.” Farel menyeringai, membalas tatapan Levin tak kalah tajam.
“Tapi kalau kau tidak mau bertanding ulang denganku, aku pastikan dia akan terluka.” Farel memprovokasi Levin.
Levin terdiam sesaat, menatap wajah Leoni yang mengiba padanya. Leoni yakin Levin bisa mengalahkan Farel. Leoni yakin Levin bisa membebaskannya. Gadis itu tak mau menjadi korban dari kegilaan Farel. Jadi hanya bisa berpasrah pada keyakinannya akan kemampuan Levin.
“Tolong aku, Vin.” Iba Leoni.
Levin mengepalkan tangannya. Melihat wajah cantik Leoni terlihat kacau dan ketakutan membuat hati Levin berdegup dengan kencang. Baru kali ini Levin merasakan rasa takut, berkendara dalam kecepatan di atas 100 pun Levin tak pernah takut. Tapi kali ini, melihat Leoni terjerat tak berdaya karena kesalahannya membuat hati Levin ketakutan. Teriris-iris dan rasanya begitu sesak.
“Baik, ayo kita bertanding.” Levin melepaskan cengkraman kerahnya. Malam ini, dia melanggar semua janjinya.
Guruh terdengar bersahutan. Keclapan cahaya terang membelah angkasa. Awan pekat sesekali berpendar terang sekali, namun hanya sekejap. Angin dingin yang lembab mulai berhembus, tanda hujan akan segera turun. Leoni menengadah ke angkasa, tak ada bintang, tak ada bulan, hanya kegelapan pekat.
“Hujan, sebentar lagi akan hujan!! Jangan bertanding Farel, Levin!! Ini bahaya!!!” Leoni menjerit.
Farel tak peduli, begitu pula Levin. Mereka mengenakan Helm dan menaiki motor masing-masing. Kali ini mereka tidak bertanding pada tanah berpasir, atau pun tanah kosong. Mereka akan bertanding di jalan raya, membelah hiruk pikuk kota dan kembali lagi ke bangunan itu.
Jam menunjukan pukul 9 malam, jalanan mulai sepi, namun tetap merupakan track yang berbahaya.
“Ini, aku share rutenya!!” Farel mengirimkan gps track, Levin mengecek jam tangannya. Ada titik hijau dan merah. Kedua titik itu berpendar pada posisi keduanya. Merah untuk Farel dan hijau untuk Levin.
“Apa kau siap?” tanya Farel.
“Tentu saja.”
“BERHENTI, kumohon kalian berdua!! Berhenti!!” Leoni mencegah dengan berteriak, tapi tangannya masih tercekal.
“Pada hitungan ke tiga.” Farel menghidupkan motor, begitu pula Levin.
“Satu,” Farel dan Levin menutup kaca helm mereka.
“Dua,” Farel dan Levin memutar gas motor.
“Tiga ....!!!” Motor keduanya melesat cepat masuk pada jalan raya.
“TIDAKKK!!!!” teriak Leoni kalap.
...— MUSE S7 —...
...Siapa?? Siapa yang akan menang?...
...Kalian dukung siapa Gaes???...
...💋💋💋...
...Vote...
...Like ...
...Comment...
...Lop yu Bellecious...