MUSE

MUSE
S6 ~ PARK JAE HYUNG



MUSE S6


EPISODE 9


S6 \~ PARK JAE HYUNG


\~Benarkah mereka semua hanya pelariannya karena kecewa pada Ivander? Jauh di dalm hati Krystal, ia masih mengharapkan cinta dari pria itu, masih mengharapkan untuk kembali bersamanya.\~


________________________


Bandara terbesar di ibu kota itu tampak legang, hanya segelintir manusia yang masih nampak menunggu kedatangan kerabatnya atau rombongan tour di jam 1 malam. Namun kelegangan itu tak berlangsung lama saat pengumuman kedatangan pesawat Korean Air terdengar.


Bandara berangsur-angsur mulai ramai, seluruh penumpang menghambur keluar setelah melewati jalur imigrasi dan juga pengambilan bagasi. Tak berbeda dengan seorang pria tampan dengan tinggi di atas rata-rata. Tubuhnya tegap, pembawaannya sangat tenang, di tambah dengan senyumannya hangat. Ia tak berhenti tersenyum pada setiap petugas imigrasi dan keamanan bandara.


Mereka semua memang mengenalnya. Sudah tak asing bagi Park Jae Hyung masuk ke negara ini. Pekerjaannya sebagai seorang pilot membuatnya sering keluar masuk ke negara mana pun dan berkenalan dengan banyak orang dalam.


“Stay for vacation? (Tinggal untuk berlibur?)” tanya petugas imigrasi.


“Yeah, missing My Love! I will propose her. (Ya, rindu cintaku, aku akan melamarnya kali ini.)” Pria bersetelan rapi itu mengambil kembali paspornya dan tos dengan petugas imigrasi.


“Fighting!”


“Thanks!”


Jae Hyung keluar dari pintu kaca otomatis, Krystal sudah menunggunya dengan penuh kilatan bahagia pada sorot matanya.


“Oppa!!” teriak Krystal. Wanita cantik bertubuh langsing itu langsung menghambur masuk ke dalam pelukkannya.


“Hallo, Sayang.” Hyung mengelus pucuk kepala Krystal dan mengecup bibirnya. Membuat Gabby spontan membuang muka.


“Lelah?”


“Langsung menghilang saat melihatmu.” Perkataan Hyung langsung membuat Krystal tersenyum lebar.


“Oh, ya, Oppa. Ini Gabby, dia temanku sejak kecil. Dia sudah seperti saudara bagiku.” Krystal memperkenalkan Hyung dengan Gabby.


“Hai, Jae Hyung.” Mengulurkan tangannya.


“Gabriella.” Menyambut tangannya.


Gabby memandang Jae Hyung, mengamati pria itu dengan seksama. Ternyata tak berbeda dari pacar-pacar Krystal sebelumnya. Perawakan dan bentuk wajahnya mirip dengan Ivander. Mungkin pelampiasan dari hati Krystal yang begitu mencintai Ivander, jadi seakan sosok pria idamannya mengikuti figur Ivander.


Kenapa dia tak memilih Adrian saja? Dia malah jauh lebih mirip dengan Ivander. Pikir Gabby, dari pada menyerahkan Krystal dengan pria yang tak dikenalnya, mungkin hati Gabby akan jauh lebih legowo saat Adrian yang mendampingi Krystal.


Ah, namun itu adalah hal terbodoh yang Gabby pikirkan. Tentu saja Adrian tak mau, Krystal adalah mantan dari kakak yang sangat di bencinya. Bahkan sebulan yang lalu Adrian datang menemuinya sambil marah-marah, perlakuan Ayahnya kini berbanding terbalik, ia begitu mengunggulkan Ivander dan menyelah terus kesalahan Adrian.


“Apa kau lapar?” tanya Krystal di dalam mobil.


“Lumayan lapar,” jawab Hyung.


“Kau mau mencoba makan soto? Bakso?”


“Apa itu?”


“Atau ke resto Korea saja?” Krystal mengetuk dagunya bingung.


“Sudah biasa, ada yang lain?” tanya Hyung.


“Bikinin saja mi instan, Krys. Di sana kan In**mie mahal, di sini murah, enak lagi,” celetuk Gabby dari bangku belakang mobilnya dengan sebal. Gabby terpaksa mengalah, membiarkan Krystal menyetir agar Hyung bisa duduk di depan bersamanya.


“Temanmu bilang apa?” tanya Hyung bingung.


“Ah, dia hanya bilang kau sangat tampan.” Krystal berbohong.


“Don’t lie to him, Krys,” desis Gabby.


“Kau kenapa sih, Gab? Kok tiba-tiba jadi sewot gitu? Kau cemburu padaku?” Krystal sedikit sebal dengan kelakuan Gabby. Dia kira Gabby cemburu karena Krystal berhasil menggandeng lelaki sekeren Hyung.


“Nggak kok. Sorry, aku cuma sebel aja soalnya dia minta yang aneh-aneh.” Gabby benar-benar tak bisa mengontrol emosinya. Ia memang cemburu pada Hyung yang mendapatkan perhatian lebih dari Krystal.


“Dia nggak minta yang aneh-aneh, Gab. Aku yang nawarin dia. Gimana sih?!” tandas Krystal dengan nada sedikit tinggi.


“Iya, iya.”


Akhirnya mereka berdua menepi pada sebuah resto kwetiaw siram sapi yang cukup terkenal. Mereka berdua makan dengan lahap sambil sesekali bercanda. Hanya Gabby yang sewot, ia terus mengaduk makanan di depannya. Tidak ada nafsu makan saat melihat kemesraan kedua insan manusia di depannya saat ini.


“Kalian sudah selesaikan? Ayo pulang!” Ajak Gabby.


“Temanmu kenapa? Sepertinya dia tak menyukaiku,” ujar Hyung.


“Abaikan Gabby. Tak biasanya dia begitu, mungkin dia PMS,” jawab Krystal.


Mereka sampai pada apartemen. Gabby masuk dan lekas menenggak segelas air putih dingin lalu masuk ke dalam kamar. Tak seharusnya dia begini karena Krystal bukanlah kekasihanya. Tak ada hak untuk Gabby melarang Krystal berpacaran, bahkan sampai cemburu padanya. Gabby harusnya yang paling tahu, tak ada kesempatan untuknya untuk mengisi hati Krystal.


“Ugh! Sialan,” umpat Gabby.


Tok ... tok ... tok ...!


“Gabby, boleh aku masuk?” Krystal mengetuk pintu kamarnya.


Gabby mengambil napas dalam sebanyak 7 kali sebelum membuka pintu. Ia harus meredam rasa cemburunya atau Krystal akan mencurigainya.


“Boleh Oppa menginap di sini malam ini saja? Sudah jam 2 pagi dan dia pasti sangat lelah, besok pagi kami akan mencari hotel.” Krystal langsung bertanya begitu Gabby membuka pintu.


“OK, silahkan, dia bisa tidur di kamarmu dan kau tidur di sini,” ujar Gabby.


“Hah?? Kenapa?” Krystal kaget.


“Kan nggak seharusnya wanita yang belum menikah tidur dengan pria. Kalau kau hamil bagaimana?” tukas Gabby, walaupun sebenarnya Gabby sudah tahu Krystal pasti sering tidur dengan Hyung, namun ia merasa tak rela bila harus melihat sendiri Krystal masuk ke kamar bersama pria asing itu.


“Ck, Gab! Hal seperti itu sudah umum di luar negeri.” Krystal duduk pada tepi ranjang Gabby.


“Yang benar saja?!”


“Iyalah! Rasanya juga sangat luar biasa! Ck, jangan bilang kau masih perawan?!” tebak Krystal.


“Aku hanya akan melakukannya dengan orang yang kucintai,” tandas Gabby.


“Benar, makanya kau juga harus berkencan dan menikmati rasanya Gabby!! Membuatmu melayang ke surga.” Krystal tersenyum genit ke arah Gabby.


“Krystal!”


“Sudah ah, jangan kolot!” Krystal bangkit dan menepuk pundak Gabby.


Gabby hanya bisa memejamkan matanya, mencoba menahan emosi yang meluap. Emosi yang tak tertafsirkan. Sungguh rasanya membuat hati Gabby terasa aneh, bercampur aduk dan memuakkan.


“Shit!! Shit!! Shit!!” Gabby memukul-mukul bantal untuk menyalurkan kekesalannya.





Di kamar sebelah, Hyung telah selesai membersihkan diri. Ia telah berganti piyama santai dan duduk pada tepi ranjang. Krystal tengah berbaring, ia juga memakai setelan piaya yang semotif dengan milik Hyung.


“Oppa! Kau tidurlah.” Krystal menepuk sisi ranjangnya.


“Bagaimana aku bisa tidur saat melihat wanita secantik dirimu di sampingku.” Hyung mengecup pelan bibir tipis Krystal.


Krystal tak menolaknya, ia malah semakin memanjakan ciuman Hyung dengan lumattan yang dalam dan cepat. Tangan lebar Hyung masuk di antara sela kancing piama Krystal. Mengusap pelan perutnya dan naik ke atas dada, rasa hangat mulai menjalar pada sekujur tubuh Krystal. Sesekali lengguhan lolos dari bibir Krystal. Pria mana yang tak bergairah saat wanitanya merancau dengan begitu lugas?


Hyung langsung melucuti pakaian Krystal, menyesap perlahan dan menggoyangakan semua bagian tubuhnya dengan lembut. Perlakuan Hyung sukses membuat Krystal melengguh panjang, ia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat tiap bagian sensitif keduanya berdenyut perlahan.


“Krys, ada yang ingin aku ungkapkan padamu.” Hyung melepaskan persatuan mereka, mencari kotak kecil yang telah ia persiapkan sebelumnya.


“Apa itu, Oppa?” Krystal duduk, menarik selimutnya agar tidak terlalu dingin.


“Menikahlah denganku? Apa kau mau?” Hyung memeluk tubuh ramping Krystal, membuka kotak kecil itu di hadapan Krystal.


Krystal terdiam sesaat, bukan karena tak ingin menerima pinangan Jae Hyung. Baginya Jae Hyung adalah pria baik dan sempurna. Namun seakan bayangan Ivander masih menggelayuti hatinya, Krystal masih mencintai Ivander dan dia menjadi ragu dengan perasaannya terhadap semua pria-pria ini. Benarkah mereka semua hanya pelariannya karena kecewa pada Ivander? Jauh di dalm hati Krystal, ia masih mengharapkan cinta dari pria itu, masih mengharapkan untuk kembali bersamanya.


“Bagaimana?” tanya Hyung lagi.


“Iya, Oppa. Aku mau,” jawab Krystal. Walaupun ragu, Krystal tak bisa menolak begitu saja kesempatan ini. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya, siap tahu Jae Hyung akan berhasil menggeser perasaannya yang terus berdegup untuk Ivander.


“Sarangheo, Krystal.” Peluk Hyung.


“Me too, Oppa.”


— MUSE S6 —


Aroma wangi merebak ke seluruh penjuru ruangan. Matahari sudah berada di tengah. Gabby terbangun cukup siang karena semalam ia tak bisa tidur. Suara desahhan Krystal terdengar samar dan membuatnya terganggu.


“Kau sudah bangun, Gab?” tanya Krystal, ia sudah duduk di depan meja patry, menunggu Hyung menyelesaikan masakkannya dengan sabar.


“Kalian juga sudah bangun?”


“Iya, Oppa memasak sup dan juga kimbab. Masakannya sangat enak, Gabby, kau harus mencobanya.” Krystal mengullum sendoknya, dan Hyung tersenyum manis.


“Baiklah.” Gabby duduk, tak ada salahnya menerima dan mengenal Hyung lebih dekat.


Mereka menikmati sarapan dengan nikmat, sesekali Hyung dan Krystal saling menyuapkan makanan mereka dengan mesra. Gabby hanya diam dan menggelengkan kepalanya.


Hyung sudah melamarnya ternyata. Bisa Gabby lihat cincin yang melingkar pada jari manis Krystal. Walaupun sebal tapi tak dipungkiri Gabby begitu bahagia melihat kebahagian terpendar di wajah cantik Krystal.


Asal kau bahagia, mungkin aku juga akan ikut bahagia. Pikir Gabby, ia menyangga kepalanya dengan telapak tangan, mengamati kemesraan mereka berdua.





“Oh, ya, Gab. Sudah lama aku tak bertemu Adrian. Terakhir kalinya aku marah padanya karena melarangku menghubungi Ivander,” kata Krystal di tengah-tengah kegiatannya mencuci piring bersama dengan Gabby.


“Aku juga tidak begitu tahu kabarnya, terakhir sebulan yang lalu. Dia marah-marah karena Ayahnya lebih cinta pada Ivander,” jawab Gabby, tangannya tak berhenti bekerja.


“Bagaimana kabar Ivander?” tanya Krystal.


“Mana aku tahu?!” seru Gabby.


“Apa dia masih ganteng seperti dulu? Tak ada yang lebih ahli memuaskanku selain dirinya. Hahaha ...,” tawa Krystal lantang, wajahnya memerah saat teringat kenangan mereka.


“Hush!! Ntar Hyung dengar.”


“Biarin, dia kan nggak ngerti bahasa kita,” ujar Krystal, mereka selama ini mamang berkomunikasi dalam bahasa Inggris.


“Kau sudah punya dirinya, sepertinya dia juga mencintaimu. Jangan sia-siakan cintanya dengan memikirkan lelaki bgsd itu lagi, Krys.” Gabby memberinya nasehat.


“Iya, iya.”


“Lain kali kalau bertemu Adrian aku akan menyampaikan salammu.” lanjut Gabby.


“OK! Oh, ya, selepas ini aku akan mengantarkan Hyung mencari hotel.” Krystal melepaskan apron dan merapikan rambutnya.


“Oke, kau bisa pakai mobilku, aku lebih suka naik motor,” tandas Gabby.


“Baiklah. See you.”


“Hati-hati.”


“Bye, Gabby.”


“Bye, Hyung.”


— MUSE S6 —


Sebuah hotel berbintang lima di kawasan tengah kota menjadi tujuan Krystal dan Hyung siang ini. Hotel itu bernuansa etnik dengan berbagai elemen penunjang interior bertema lokal. Sorot permainan lampu membuat suasana hangat dan temeram tersendiri saat menyambut tamu.


Setelah cek in dan mengantarkan Hyung ke dalam kamarnya. Krystal berpamitan.


“Beristirahatlah! Aku jemput kau saat makan malam.” Krystal mengecup bibir Jae Hyung.


“Baiklah. Kau juga beristirahatlah.”





Pintu lift terbuka, panjang umur. Baru saja Krystal dan Gabby membicarakannya saat mencuci piring, pria itu terlihat di depan Krystal saat ini. Wajahnya merah padam, sepertinya ia habis marah akan sesuatu.


Dia terlihat tampan dengan setelan jas dan juga kemeja dengan dua buah kancing teratas terbuka. Rambutnya lebih rapi dan pembawaannya jauh lebih dewasa.


“Adrian?!!” Krystal terpekik tak percaya.


“Krystal?!!” Adrian sama terkejutnya, sudah lama kedua sahabat itu tak bertemu. Mereka langsung berpelukkan dan melepaskan rindu.


“Ya Tuhan, Krys, cantik sekali kau sekarang.” Adrian tak percaya dengan perubahan diri Krystal. Memang benar, Krystal kini sangat cantik, dia bukan gadis lugu seperti dulu. Rambutnya bergelombang indah, make up nya selalu terlihat flawless, belum lagi pakai-pakaiannya yang tampil berkelas.


“Kau juga sangat terlihat dewasa, Adrian. Kau mulai bekerja di perusahaan Ayahmu?” tanya Krystal ingin tahu.


“Well, begitulah.” Adrian mengangkat bahunya.


“Kau sepertinya sedang geram akan sesuatu? Apa yang terjadi?” Krystal mengajak Adrian berjalan bersama.


“Papa dan Kakakku membuatku muak! Sialan itu! Ingin rasanya aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Adrian mengumpat, ia membanting tubuhnya pada sofa di lobby hotel. Krystal mengikutinya duduk.


“Siapa yang ingin kau bunuh?” Tiba-tiba sebuah suara keras membuat keduanya berpaling, melihat ke arah sumber suara itu.


“Ivander?!” Mata Krystal melebar, sebuah senyuman terulas di wajah cantiknya.


— MUSE S6 —


Like dan comment MUSE!!


Jangan lupa di Vote ya readers yang budiman!! Othor sedih bgt rangkingnya turun drastis.


——————


Sekilas inpo unfaedah.


Masih lanjutan dari kehaluan Othor Rengginan dengan bucinnya tentang motor sport.


OR : Cin, pengen makan kepiting. 🤤


Bucin : ya udin ayo cuss.😒


OR : aseeekk.


Si bucin ngambil motor metic, terus keluar rumah, di depan pagar rumah ada glondoran jalan buat naik turunin kendaraan. Si bucin dengan santainya diem di situ.


Bucin : naik gih 😒


OR : ngapain dijalanan miring? Nggak di situ aja datar? Bikin susah bini lu naik aje. 😅😅


Bucin : udah naik aja, rewel deh. 😒


OR : okelah! (Akhirnya nurut)


Bucin : Tuh, udah kerasa kek naik motor sportkan?! Bagian belakang lebih tinggi!


OR : 🙄🙄🙄🙄


Bucin : mending duitnya elu beliin kepiting, dapet satu karung, enak, perut kenyang, dan nggak perlu ngepet, lelah aku tu disuru ngepet tiap malem. 😒


OR : 🙄🙄🙄🙄


Keduanya bergegas ke warung kepiting


To be continue ...