
MUSE S2
EPISODE 52
S2 \~ GAMBAR
\~ Dahinya menyatu dengan dahiku. Sudah lama aku tak merasakan tarikan napasnya yang berada sedekat ini. \~
•••
Bunyi lonceng mengiringi kepergian Arvin. Aku hanya bisa mendengus saat melihat punggungnya yang lebar menjauh pergi.
Aku merasa begitu aneh terhadap perasaanku padanya. Normalnya orang akan menampar atau mendorong lelaki asing yang tiba-tiba memeluknya. Sedangkan aku, malah menerima pelukannya begitu saja. Ada apa dengan diriku? Apakah hatiku masih berdegup untuknya?
Aku memandang potret gambar lelaki tanpa wajah yang tertempel pada dinding. Dialah Arvin. Iblis sekaligus malaikat yang di kirim Tuhan kepadaku. Iblis yang merenggut kesucianku dan malaikat yang memberikan semua ini kepadaku. Tanpanya aku sudah berada di kolong jembatan, mungkin juga berpindah dari satu ranjang ke ranjang yang lain.
“Kenapa kau begitu susah untuk digambar?” aku melepaskan potret gambar itu. Mungkin aku mulai gila, bermonolog dengan sebuah gambar.
Aku mengambil sebuah pensil arang dan kertas gambar dari dalam laci meja. Aku mulai menggores pelan pensil di atas kertas gambar. Nihil, aku tetap tak bisa menggambar wajahnya. Aku tetap tak bisa melengkapi gambar lelaki itu.
“Kenapa? Padahal aku sudah melihatnya kembali?!” aku menggosok kasar kertas gambar sampai sobek.
“Maaf, aku masih belum bisa melengkapimu.” Aku memangis sambil memeluk gambar yang tak berwajah itu. Mungkin memang benar, selamanya Arvin hanya akan menjadi Muse yang tak sempurna.
Sakitnya hati membuatku takut, membuatku menutup diri, membuatku melupakannya.
— MUSE S2 —
•••
“Ken, susunya jangan buat mainan. Di minum yang bener sayang.” Aku memarahi Keano. Dia melemparkan botol susunya, kelihatan sekali Keano merindukan Mamanya.
“Kau rindu Mamamu, Ken? Mami juga,” ucapku, Keano mungkin tak mengerti, tapi aku tetap saja mengajaknya bicara.
“Boss.. hari ini aku libur. Aku bisa full time sampai malam.” tiba-tiba suara serak Caca mengagetkanku.
“Ih, bikin kaget aja,” seruku latah.
“Keanoo....” panggil Caca panjang.
“Baa.. baaa.. ndaaaa au..” Keano bersembunyi ke belakang kakiku, ia menghindari ajakkan Caca.
“Jahat!! Awas kamu monster kecil.. aunty gigit nanti.” goda Caca, ia menggelitik perut Keano.
Aku menggendong Keano yang menangis karena geli. Caca nampaknya sudah puas menggoda makhluk kecil ini.
“OK, mari kita berdoa sebelum membuka toko.” Ku kumpulkan semangatku kembali.
Walaupun semalam nggak bisa tidur karena memikirkan dirinya. Hari terus berjalan dan kita tetap harus bersemangat melayani pembeli. Caca ikut berdoa, kami berdoa menurut keyakinan masing-masing.
“Semangat!!” Aku ber- high five dengan Caca.
Tak lama beberapa pelanggan mulai berdatangan. Cafe selalu ramai pada jam 8 sebelum berangkat ke kantor, lalu jam 12 waktu makan siang, dan jam 4 sore waktu pulang kerja. Selebihnya lebih santai dan aku bisa merawat Keano.
“Terima kasih,” ucapku sebelum kembali meracik kopi.
Aku memang tak begitu hebat dalam menjadi seorang barista. Pengetahuanku tentang kopi masih amat sangat dangkal. Tapi aku menyukai saat-saat butiran sari kopi menetes waktu proses brewing. Aku menyukai aroma kopi yang pekat namun terasa begitu ringan. Aku juga menyukai saat-saat latte art tergambar sempurna pada tiap-tiap cangkir penambah semangat itu. Membuat senyuman tersendiri di wajah pelanggan saat di hidangkan.
•
•
•
“Welcome to Palette cafe,” sapaku saat lonceng kembali berbunyi.
“Kalila...” sapa Arvin, ah, ia kembali. Panggilannya yang terkesan manja membuatku menunduk dan bergeleng pelan. Aku malu.
Arvin langsung menyelonong masuk dan duduk di depanku.
“Kalau mau pesan antri dulu, Kak,” aku agak sebal dengan prilakunya yang seenaknya sendiri.
“Duh, judesnya?! Kemana perginya gadis manis semalam?” kata Arvin.
OMG, Kenapa dia menggodaku seperti itu di depan Caca.
“Tetap saja, anda harus mengantri untuk memesan minuman,” jawabku sembari mengigit bibir karena gemas. Arvin bangkit dan mengantri untuk memesan latte.
“Ca, kasih gratis aja,” bisikku pada Caca yang menjaga mesin kasir.
“Yup.”
“Mau pesen apa, Om?” ucapan Caca membuatku geli, spontan aku terkikih.
“Apa wajahku terlihat begitu tua bagimu?” decak Arvin sebal.
“Hehe.. maaf, mau pesan apa, Kak?” Caca mengulangi pertanyaannya.
“Pandan latte, ekstra shot.”
“Ice?”
“Ice, less sugar, ya,” pintanya.
“OK.”
“Berapa?”
“Gratis, boss yang suru.”
“Thanks.”
Arvin kembali dan bertanya padaku, “di mana gambar laki-laki tanpa wajah itu?”
“Oh, aku melepasnya. Aku ingin mencoba untuk menggambarnya ulang,” jawabku.
“Ah, begitu, kau pintar menggambar ternyata.” pujiannya terlalu berlebihan.
“Hanya hobi. Ini, Kak.” Aku menyerahkan segelas latte.
“Thanks.”
Aku hanya tersenyum untuk menjawab rasa terima kasihnya. Sudah hampir pukul 5 sore dan cafe masih sangat ramai. Aku mulai kualahan. Apa lagi Keano semakin aktif dan terus mengekor di bawah kakiku.
“Apa ada yang bisa ku bantu?” Arvin menawarkan diri.
“Ah.., apa bisa kau jaga Keano sebentar, Kak?” Aku menitipkan Keano padanya, hanya sebentar. Aku akan menutup cafe lebih awal.
“A—apa??” Arvin tergagap saat menerima Keano. Dia pasti belum pernah merawat seorang bayi sebelumnya.
“Tolong, Kak. Sebentar saja. Ajak dia main ke dalam kamar.” Ku satukan telapak tanganku di depan dada. Mengiba padanya.
“Ternyata ini maksudmu menyogokku barusan.” Arvin menyerah dan menyanggupi permintaanku untuk menjaga Keano.
Arvin menggendong Keano masuk ke dalam kamar, aku sedikit khawatir tapi mencoba untuk mempercayainya.
“Boss, siapa? Ganteng banget.” tanya Caca tiba-tiba dari belakang.
“Ih.. dibilang jangan bikin kaget!” dengan reflek ku pegang dadaku.
“Semalam kalian ngapain, boss?” tanya Caca lagi, kayaknya ni anak super penasaran dengan hubunganku dan Arvin.
“Nggak ngapa-ngapain.” Aku kembali sibuk mempersiapkan pesanan.
“Kayaknya, dia suka sama, boss, hlo.”
“Anak kecil tahu apa?” Aku terkekeh.
“Emang boss bukan anak kecil? Kita ini seumuran kales!!” protes Caca. Ah, dia benar, kami hanya beda 1 tahun.
“Why?” Aku bertanya untuk menanggapi ocehannya, tapi pandanganku masih berfokus untuk menimbang komposisi perbandingan antara kopi dan juga susu.
“Soalnya udah ganteng, tajir lagi. Boss lihat mobilnya no.. cakep!” Caca menunjuk ke arah area parkir.
“Ow.. jadi orang bodoh tempo hari itu dia.” Aku bergeleng pelan saat melihat mobil sport berwarna oranye terang terparkir di depan cafe.
“Ck ck ck... penasaran sumpah!” decak Caca yang sebal karena aku tak kunjung bercerita padanya.
“Sudah, ayo kembali bekerja! Lain kali aku cerita,” jawabku sambil memukul pantat Caca pelan.
•
•
•
Aku sudah membereskan semuanya bersama dengan Caca. Kerja keras kami hari ini terbayar dengan banyaknya rupiah yang memenuhi laci mesin kasir.
“Ini bonusmu. Thanks, ya, Ca.” Aku memberikan beberapa lembar uang biru pada Caca.
“Sama-sama, Boss. Pulang dulu, ya.” pamit Caca.
“Hati-hati.”
Aku menutup pintu luar dan segera masuk untuk menemui Arvin. Sudah dua jam aku meninggalkannya dengan Keano. Aku harap mereka berdua baik-baik saja.
“Kak...,” sapaku lirih, lampunya masih mati. Tak ada suara, sepertinya mereka berdua tertidur.
Aku mengamati wajah Arvin yang tertidur pulas. Ternyata pria yang ku kenal menakutkan dulu bisa punya wajah yang begitu manis saat ia tertidur. Ah, kalau begini dia benar-benar malaikat. Lebih tepatnya iblis yang menjelma sebagai malaikat.
Aku duduk di samping ranjang, dan tak sengaja membuat Arvin terbangun, “terima kasih, ya. Sudah menjaga Keano.”
“Aku tak bisa menjaganya sebaik dirimu.” Arvin bangkit dan duduk di sampingku.
“Aku juga tidak terlalu ahli menjaga Keano.”
“Tapi kau pasti bisa jadi Mama yang baik.”
“Yah, semoga.”
“Apa kau mau mencobanya? Mem...,” pertanyaanya mulai ngaco.
“Jangan berpikir macam-macam!” selaku, Arvin terkikih mendengar jawabanku.
“Aku tak bisa membayangkan rasanya menjadi seorang, Papa.” gumamnya.
“Menjadi orang tua adalah naluri semua makhluk hidup, Kak. Kau tak perlu takut saat membayangkannya.” ucapku.
Suasananya menjadi canggung. Aku sendiri tak tahu harus menanyakan apa? Sudah lama kami tak bertemu, dan dalam ingatanku juga pria ini tak banyak berbicara.
“Kenapa kau tak menampar atau mengusirku semalam, Kalila?”
“Aku sendiri juga tak tahu, Kak.”
“Apa kau punya rasa yang sama denganku?”
“Jangan Ge-er.” Aku tertawa, menyembunyikan rasa malu.
“Lalu kenapa?
Aku tak bisa menjawabnya. Karena sampai saat inipun aku masih bertanya pada diriku sendiri.
Aku melihat kembali gambar yang semalam aku turunkan. Aku tersadar bahwa dunia kami berbeda. Aku bahkan tak bisa mengingat wajahnya dalam goresan tanganku. Aku gagal melengkapinya.
“Kau lihat gambar itu, Kak?”
“Iya, kenapa dengan gambar itu?”
“Aku punya ratusan gambar yang sama, walaupun posenya berbeda, namun semuanya sama. Mereka tidak punya wajah.” Ku dekam lututku.
“Oh.., lalu?”
“Itu dirimu, Kak.” Aku menoleh padanya.
“Maksudmu?”
“Sekuat apapun aku mencoba untuk mengingatmu, aku tak pernah bisa mengingatmu, Kak. Mengingat wajahmu.”
“Kalila?”
“Kau adalah Muse yang tak sempurna dalam setiap goresan tanganku, Kak,” entah mengapa hatiku terasa sangat sakit.
“....” Arvin hanya diam.
“Walaupun aku memiliki rasa padamu, nyatanya rasa itu tak pernah bisa melengkapi gambar dirimu dalam hatiku.”
“Maksudmu kau tak akan pernah bisa mencintaiku?”
“Iya, Kak. Dunia kita berbeda.”
“Kalila..!”
“Kumohon, Kak. Rasa sakit itu membekas begitu dalam,” air mataku menetes, hatiku sangat sakit.
“Kalila.. kumohon. Jangan begini, aku tahu aku salah. Harusnya aku mencarimu dari dulu.”
“Kita tak ditakdirkan untuk bersama.” aku menggeliat, mencoba melepaskan diri.
“Tidak, aku akan melengkapinya. Aku akan menjadi Muse yang sempurna untukmu. Aku mencintaimu, Kalila!”
Dahinya menyatu dengan dahiku. Sudah lama aku tak merasakan tarikan napasnya yang berada sedekat ini. Bau parfumnya membiusku, menarikku masuk dalam pesonanya yang menggetarkan hati.
“Aku mencintaimu!!” lirihnya.
Kata-kata itu memanjakan telingaku. Membuatku ingin menangis bahagia sekaligus sedih.
Benarkah perasaanya nyata untukku?
Sekejap kemudian bibirnya menempel pada bibirku. Basah dan hangat, membuat desiran halus pada perutku.
Rasa manis yang ku rindukan...
Rasa manis yang ku dambakan...
“Kalila..., aku menginginkanmu.” bisiknya..
“Kak Arvin...”
Tangan Arvin masih menahan tubuhku, mengunci pinggangku untuk mengikis jarak di antara kami.
Tanpa sadar aku kembali menerima ciumannya...
— MUSE S2 —
Yo Muse up..
Like commeny yang banyak ya rederskuh..
Bosskuh tolong di Vote.. biar MUSE femes..
Wkwkwkwkw
Berhadiah untuk 3 voter terbanyak. Di tutup tanggal 15 mei 2020.
❤️❤️❤️
Lap yu readerskuh...