MUSE

MUSE
S2 ~ MALAM ITU



MUSE S2


EPISODE 38


S2 \~ MALAM ITU


\~Suaranya yang merdu membangkitkan gairah, membuatku ingin terus melanjutkannya.\~


Aku masih memandang wajahnya yang begitu cantik dan kalem. Aku tak menyangka bahwa seorang anak SMA bisa memiliki wajah dan tubuh yang begitu menarik perhatian.


Tanpa menunggu aku bangkit dan melepaskan jubah mandi yang melekat di tubuhku. Ingin segera berbagi kehangatan suhu tubuh dengan gadis manis ini. Ternyata tingginya hanya sebahuku, membuatku harus menunduk untuk mencium bibirnya.


“Ach..!! Sakit..” pekiknya ketika dengan kasar aku menjambak rambut panjangnya. Aku terpaksa melakukannya karena dia terus menunduk untuk menghindari tatapan mataku.


“Lihat aku, baby!! Kau sudah ku beli dengan harga yang mahal. Tak seharusnya kau menyembunyikan wajahmu!” perintahku mutlak dan dia langsung mengangguk tanda mengerti.


Tangannya masih terus mencoba melepaskan cengkramanku, wajahnya meringis kesakitan. Dan aku menyukainya, tanpa ragu aku mencium bibirnya yang begitu penuh. Melumatnya dengan kasar, semula ia sempat menolak, namun lama-lama menyerah juga.


Tangannya yang lain masih terus mendorong dadaku, seakan menjaga jarak aman antara tubuhnya dengan tubuhku. Gadis ini sungguh menganggap tinggi nilai dirinya. Tak tahukah dia kalau yang namanya pe**cur tetap saja seorang pe**cur, walaupun bayarannya mahalpun tetap saja dia hanya seorang wanita mu**han.


“Tidak!! Kumohon!! Sa—kit!” rintihannya terdengar merdu, apalagi saat aku menggigit bibirnya. Aku memang sadist, masokis, dan sedikit syco. Rintihan rasa sakit dan penundukan dirinyalah yang membuatku puas.


“Hei, Baby!! Look at me..!” bentakanku kembali menyentaknya.


Gadis itu mengangkat wajahnya yang kacau, air matanya menetes. Rambutnya acak-acakan karena memang aku mencengkramnya terlalu kencang. Bibirnya sedikit mengeluarkan darah, mungkin juga gigitanku terlalu keras.


Aku memandang wajahnya lekat, mengusap bibirnya yang berdarah. Air matanya mulai mengalir, ia menangis. Aku tercengang tak percaya. Betapa ba**ngannya aku? Dia hanya anak kecil dan aku membuatnya menangis.


Tetesan air matanya membuat hatiku sakit, pertanyaan kembali muncul. Kenapa hatiku sakit?


Aku mulai kehilangan nafsuku malam ini. Aku tak bisa menyakitinya dan itu membuatku tak bisa mendapatkan kepuasan.


“Kenapa berhenti?” dalam sela isakannya gadis ini masih bisa bertanya hal seperti itu. Aku benar-benar tak habis pikir dengan caranya berpikir.


“Kau menangis..!”


“Aku tidak akan menangis lagi.” ia menghapus air matanya dengan kedua tangan. Merapikan rambutnya dan tersenyum simpul.


Kenapa?


Apa benar dia begitu memerlukan uang itu?


Sampai harus rela menahan rasa hina dan sakit dengan begitu tegar.


“Kemarilah!” pintaku, gadis itu menurut, ia kembali mendekatiku. Aku bisa melihatnya menelan ludah beberapa kali sebelum naik ke atas ranjang.


“Lakukan! Puaskan aku.”


“Ba—baik.”


Aku memposisikan diriku senyaman mungkin di atas ranjang. Menunggunya melakukan apa yang bisa dia lakukan. Aku sudah malas melanjutkannya. Moodku rusak, kini tinggal menunggu bagaimana caranya bisa mendapatkan uang 100 juta itu. Bagaimana dia bisa memuaskanku?


Tangannya yang bergetar mengelus lembut dadaku, ia mulai mendekatiku. Menyibakkan rambutnya yang panjang ke belakang telinga sebelum mendekat dan mencium bibirku.


Kecupan lembutnya terasa basah dan begitu hangat. Ia mengecup beberapa kali sebelum mengelus rambutku. Aku menyukai caranya mengelus rambutku, nyaman, dan menggelitik emosi.


Aku kembali memandang wajahnya, mata kami bertemu. Bola matanya yang lebar membuatku terpana, gelap, dan sepekat langit malam yang bertaburkan bintang. Aku menyukai caranya menatapku. Wajahku mulai memanas, mungkin aku sedang tersipu saat ini. Sungguh, sepertinya aku telah jatuh pada pesonanya.


Secepat kilat aku mengunci kedua pergelangan tangannya di atas kepala. Merebahkannya, menahan tubuhnya di bawah kakiku. Aku langsung ******* bibirnya, dalam dan begitu lekat. Rasanya sangat manis dan membuatku ketagihan. Kenapa rasanya berbeda? Jauh berbeda.


Aneh! Aku menikmatinya, aku menginginkannya.


“Aaargh..” lengguhan panjangnya terdengar begitu merdu, tanpa sadar aku bisa menikmati malam itu tanpa harus menyiksanya.


Aku tak memberikan cambukan atau tamparan, aku tak meludahi ataupun berkata-kata kasar sama seperti saat aku bersama wanita lain sebelumnya.


Aku tulus, aku menginginkannya dengan tulus.


“Tuan, apa anda tak memakai pengaman?” gadis itu menggigit bibirnya, ia takut aku akan menghamilinya.


Tapi mana ada yang menggunakan pengaman saat kau membayarnya dengan harga 100 juta? Aku sendiri juga tak mempersiapkannya.


“Tidak,” jawabku singkat.


Tanpa menunggu lagi aku menerobos masuk ke dalam dirinya. Merenggut mahkotanya yang paling berharga. Aku mengerti kekalutannya, aku sendiri juga tak menginginkan anak di luar pernikahan. Tapi nafsu-ku tak bisa di tahan lagi. Aku begitu ingin memilikinya saat ini.


Tangannya terus mencengkram erat sprei, meremmatnya sampai kusut. Perlakuanku menimbulkan noda merah pada sprei hotel. Pasti rasanya sangat sakit.


Peluhnya yang menetes membuatku terus menginginkannya.


Suaranya yang merdu membangkitkan gairah, membuatku ingin terus melanjutkannya.


Pesona dan manis aroma tubuhnya membuatku semakin lupa diri.


Sepertinya aku mulai jatuh cinta padanya.


— MUSE S2 —


“Bunyi apa itu?” tawaku terdengar nyaring saat suara perutnya terdengar.


“Maaf.” gadis itu menutup wajahnya dengan tangkupan tangan, sepertinya dia begitu malu karena kelaparan.


“Kau lapar?” tanyaku sembari bangkit dari tubuhnya.


Gadis itu mengangguk. Sepertinya naga di dalam perutnya protes. Aku tak tega juga melihatnya kelaparan. Apa lagi setelah hal brutal yang kulakukan padanya terjadi hampir berjam-jam lamanya.


“Hallo, room servis,” pintaku pada bagian kitchen hotel.


Tak butuh waktu lama saat makanan datang, aku memesankannya sup asparagus, steak, dan juga desert. Gadis itu diam terpana dengan makanan di depannya, ia menatapku seakan bertanya, bolehkan aku memakannya? Aku tersenyum, dia sangat menggemaskan.


“Makanlah!” Aku mempersilahkannya makan.


Dengan sedikit ragu ia mendekati nampan makanan. Menikmatinya dengan lahap. Aku hanya mengamatinya dengan senyum manis sambil menghabiskan wine yang di pesan Aleina.


“Apa kau tidak susah? Makan dengan terbungkus selimut seperti itu.”


“Aku malu,” wajahnya memerah.


“Ck.. aku sudah melihat semuanya. Apa lagi yang mesti membuatmu malu?” Aku menggelengkan kepalaku geli.


“Tetap saja.”


“Oke. Terserah. Lanjutkan makanmu.”





Aku keluar ke balkon hotel, menikmati angin malam yang menerpa wajahku. Sudah hampir empat batang rokok aku habiskan dan dia masih belum selesai membersihkan diri. Mungkin aku membuatnya merasa sangat kotor.


“Ah sial, hujan lagi,” gerutuku sebal. Hujan memaksaku kembali masuk ke dalam kamar.


“Tuan, saya pulang dulu. Terima kasih untuk makanannya.” gadis itu menundukan sedikit kepalanya, hendak berpamitan padaku.


“Oh.. kau mau pulang?”


“Iya.”


“Di luar hujan.”


“Tidak apa-apa. Aku bisa naik taxi, Tuan.”


“Baiklah. Ini cek-nya,” tak ada alasan untukku menahan dirinya.


“Terima kasih.”


Setelah berterima kasih dia berbalik untuk meninggalkan kamar. Entah kenapa aku tak rela mengantarnya pergi. Aku masih ingin bersamanya, “hei baby!!”


“Ya, Tuan?”


“Ini kartu namaku. Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu. Juga kalau kau hamil,” sumpah, bukan maksudku menghinanya, tapi aku tak punya alasan lain untuk membuatnya bertemu lagi denganku.


“Baik, Tuan.” matanya berkaca-kaca, aku tahu aku pasti kembali menggelitik harga dirinya dengan ucapanku.


Aku menghela napas panjang. Melihatnya berlalu pergi dari balik pintu kamar membuatku sakit. Hatiku sakit, seperti ada ketidak relaan yang tak bisa aku ungkapkan.


Benarkah aku mencintai gadis itu pada pandangan pertama?


Benarkah love at the first sight is truly exists?


— MUSE S2 —


Hallo


Dukung kisah cinta Arvin, Kalila, dan Angga. ❤️❤️


Vote dan like, comment yang banyak.


Biar saya semangat ya readers.


Cerita ini tentang kisah cinta dari hati yang terluka dan jiwa yang rusak. Mampukah mereka saling menyembuhkan?


So, jangan hanya berpandangan pada adegan dewasanya, ya. Tapi suara hati tiap karakternya. Maacih..


Noted:


sadistis, yakni suatu kelainan seksual di mana seseorang mengalami kepuasan seksual ketika menyakiti pasangannya secara fisik dan psikis. Kebanyakan pelaku sadistis terkait dengan masokis seksual untuk mendapatkan kepuasan secara timbal balik. Pelaku sadistis bisa mendapatkan kepuasan dengan menyakiti pasangannya, sedangkan masokis bisa merasa puas saat dirinya disakiti atau direndahkan. (Sumber wikiped)