MUSE

MUSE
S4 ~ DAFFIN



MUSE S4


EPISODE 7


S4 \~ DAFFIN


\~ Aku menghabiskan minumanku dan bergegas bangkit, lama-lama aku merasa aneh saat berada di dekatnya. Aku seperti mendapati dan mencari sosok Ken dalam dirinya.\~


____________________


“Pacaran denganku, Inggrid. Jadi kau punya hak atas tubuhku.” Ken menggenggam tanganku. Aku hampir-hampir pingsan mendengar ucapannya. Saat ini rasanya dunia terasa begitu indah, bahkan jauh lebih indah dari pada saat aku mendapatkan ciuman pertamaku dulu.


“Ken....”


“Apa jawabanmu, girl?”


“Iya, mau, aku mau mau mau mau...!” renggekku, dengan cepat aku menjawab pernyataan cintanya.


“Horeee!!! Aku pacaran dengan Keano!!” seruanku membuat semua petugas kepolisian berdecak heran.


“Ayo kita pulang!” ajak Keano.


“Tebus aku dulu, Ken! Akukan sedang dihukum.” cengirku lebar. Aku menggoyangkan tangannya meminta tolong. Keano hanya mengangguk dan mengusap pucuk kepalaku.


— MUSE S4 —


•••


Aku berskateboarding di area taman kota sambil memakan lolipop rasa cherry kesukaanku. Sebenarnya pengen makan permen karet, tapi terakhir kali saat aku meniupnya, permen itu meletus dan lengket dirambutku. Aku kapok dan tak lagi memakan permen karet saat bermain skate.


Dipusat kota terdapat area skate yang cukup ramai. Aku biasa melatih kemampuan freestyle skateku di sana. Beberapa kakak tingkat dari sekolah juga sering aku temui di sana. Oh iya, hari ini aku tidak bersama Ken karena dia sedang pelajaran tambahan sebagai persiapan ujian kelulusan.


“Eh, coba lihat siapa ini?!” sesaat sebelum aku meluncur seorang cowok jelek mendekatiku. Ternyata si senior muka badak. Sialan, kenapa mesti ketemu dia sih?!


“Halo, gimana burungnya? Masih sakit?” Aku melepaskan lolipop dari mulutku dan bertanya sambil mengejeknya.


“Cewek brengsek! Kebetulan sekali kita ketemu di sini! Aku ingin buat perhitungan denganmu.” katanya arogan.


“Wah, nggak takut telormu pecah lagi?” Aku menyeringai.


“Coba saja. Hei kawan!! Kemari, ada cewek cantik siap dipermainkan.” teriaknya pada segrombolan anak-anak nakal yang bergerumul di bangku taman. Mereka merokok dan penampilannya sangat ambruadul. Oke, kini aku takut, dia memanggil bala bantuan. Kalau satu lawan satu mungkin aku masih bisa menang.


“Pengecut! Lawan cewek aja pake panggil teman-temanmu.” teriakku.


“Kau sendiri panggil temanmu itu donk! Si cupu yang belakangan ini cukup terkenal. Biar aku sekalian membalasnya.” jawabnya setengah menghina, benar saja sekarang Keano sangat terkenal karena Ra.


“Dia pacarku! Bukan temanku.”


“Kyahahaha, dia saja pacaran dengan cewek se-kelasku kok. Jangan sok gaya ngaku-ngaku pacarnya.” si muka badak semakin mendekatiku, aku mundur beberapa langkah ke belakang.


“Sialan si Ra, dia belum berhenti cari pacar baru rupanya. Brengsek satu itu minta dihajar,” pikirku dalam hati.


Belakangan ini, jadwal tukar mereka semakin tak terprediksi, aku jadi terpaksa harus mengalah untuk tidak mendekatinya saat tubuh Keano diambil alih oleh Ra.


“Kelamaan, aku balas dendam mulai dari kamu dulu!” tangannya mengepal di depan dada.


Aku melirik ke kanan dan kiri, banyak orang di sampingnya. Menyebalkan, aku harus lari! Inggrid terpaksa mengaku kalah saat ini. Maaf Daddy aku menodai reputasimu.


Aku mengambil ancang-ancang di atas papan skate, bila beruntung aku akan melesat ke belakang dengan cepat, itupun kalau aku nggak jatuh dan kehilangan keseimbangan.


“Dalam hitungan ke tiga, satu, dua, tiga, go...” aku mencoba kabur dan melesat. Namun namanya lagi apes, si muka badak berhasil mencengkram kerah o-neck kaos milikku.


“Mau kabur ke mana?” teriakannya membuatku refleks memejamkan mata. Sialan jangan sampai liurnya muncrat ke arahku.


GRAP!! Saat aku membuka mata perlahan ada sebuah tangan yang mencengkram pergelangan tangan senior brengsek itu.


“Jangan kasar sama cewek.” katanya. Bisa ku rasakan tangan senior muka badak bergetar karena kesakitan. Mau tak mau dia melepaskan cengkramannya. Bahkan para anak-anak badung yang dari tadi pasang tampang garang langsung ciut nyalinya.


“Maaf, maaf, tolong lepaskan tanganku, Kak.” katanya ketakutan, memang siapa cowok ini sampai semua takut padanya?


Aku melirik pelan ke arah wajahnya, mencoba mencuri pandang ke arah cowok itu. Mencari tau siapa dirinya? Wow, daebak! Dia tampan sekali, mirip Idol, alisnya yang tebal membuatnya sepintas mirip Yoseph Zeng, idolaku.


“Kau tidak apa-apa?” tanyanya lirih, dia mengambil papan skate dan memberikannya padaku.


“Thanks,” ucapku malu-malu, baru kali ini aku berbicara dengan cowok seganteng ini selain Ken dan juga Si kembar.


“Namaku Daffin, siapa namamu?”


“Inggrid.” jawabku semanis mungkin, auh, ternyata aku bisa juga jadi cewek manis.


“Senang berkenalan denganmu, Inggrid.”


“Senang juga berkenalan denganmu. Kau tampaknya tidak asinh dengan keberandaanku?” kulihat Daffin seperti sudah mengenalku sebelumnya.


“Aku sering melihatmu bermain di sini. Biasanya kau bersama dengan seorang cowok. Jadi aku tak bisa mengajakmu berkenalan.” kata Daffin sambil menggaruk dahinya. Hei, tunggu! Wajahnya memerah! Kenapa wajahnya memerah?


“Apa dia pacarmu?”


“Iya, dia pacarku,” senyumku senang, kini aku bisa mengakui diriku sebagai pacarnya. Hore...!


“Ah, begitu.” nada kecewa langsung keluar dari bibir tebalnya.


“Kau sering bermain di sini?” tanyaku padanya.


“Iya, aku sering berlatih di sini, aku seorang profesional skateboarding.”


“Wow, serius?!”


“Duduk ke sana? Kita bisa ngobrol lebih nyaman.” ajak Daffin.


Aku mengangguk dan mengekor dirinya. Duduk pada bangku taman di samping mesin penjual minuman otomatis. Rindangnya pohon membuat sinar matahari sore tertahan. Daffin membeli dua kaleng minuman dingin dan memberikan salah satunya padaku.


“Makasih.” Aku menerimanya.


“Sama-sama.” Dia duduk di sampingku.


Kami mengobrol tentang banyak hal seputar hobi dan kecintaan kami akan skate. Daffin banyak membuat video tentang skate dan cara bermain di utube, dari sanalah dia mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya. Dan yang lebih membuatku tak percaya adalah ternyata dirinya juga seorang pecinta grafiti. Dulu saat masih SMA dia pun sering keluar masuk penjara karena hal ini. Saat kuliahpun niatnya untuk menggambar pada dinding kosong tak berkurang.


“Adrenalin yang kau dapatkan dan kepuasan saat gambar itu selesai membuatmu ketagiahan.” katanya dengan penuh semangat.


“Benar, kau benar Kak. Aku juga merasa begitu,” tawaku terdengar riang, baru kali ini aku mendapatkan teman ngobrol yang cocok.


“Kini kau harus lebih hati-hati saat menggambar. Jangan terlalu sering ketangkap polisi.” Daffin mengelus pucuk kepalaku, membuatku tersipu malu. Belum ada cowok lain selain Ken yang melakukannya. Wajahku menghangat dengan perlakuannya.


“Ah, Iya.”


Aku menghabiskan minumanku dan bergegas bangkit, lama-lama aku merasa aneh saat berada di dekatnya. Aku seperti mendapati dan mencari sosok Ken dalam dirinya.


“Mau kemana?” tanyanya heran.


“Mau pulang, Kak. Sudah hampir petang,” jawabku.


“Benar juga.” Daffin melihat langit senja yang mulai gelap, “Oh, iya, apa aku boleh ikut saat kau sedang menggambar?” sambung Daffin.


“Bo..., boleh saja.”


“Hubungi aku kalau kau menggambar ya.” Daffin memberikan nomor ponselnya padaku dengan menyatukan ponsel lewat airdrop.


“Baik, Kak.”


“See you Inggrid. Aku harap bisa semakin mengenalmu.” kata Daffin sebelum ia berlalu pergi.


“Ah, see you....,”


Daffin berlari, sepintas ia membalikkan badannya melambai dan tersenyum. Ah..., kenapa dia menunjukan senyuman semanis itu padaku?


— MUSE S4 —


MUSE UP


KEANO PUNYA SAINGAN NIH


GEGARA KEN JARANG MUNCUL.


Semangat Ken dan Ra, Jangan sampai Inggrid diambil orang hloh.


YUK VOTE DULU 👌🏻


TERUS LIKE 👍


TERUS COMMENT 😂


TERUS CIUM AUTHOR 😘


BIAR AUTHOR BAHAGIA 🥰


•••


Jangan lupa sayangi bumi dengan meminimalkan penggunaan plastik.


Jangan lupa tetep jaga kesehatan.


Tetep bahagaia.


Tetep bagi cinta buat banyak orang.


Mengasihi sesama adalah wujud rasa cinta yang paling utama. ❤️❤️❤️


Love, dee