MUSE

MUSE
S7 ~ BOCOR



MUSE S7


EPISODE 17


S7 \~ BOCOR


Saat pandangan mereka bertemu dalam satu garis. Saat bersandar pada meja karena pelajaran biologi yang membosankan. Belum lagi saat perlakuan kesatria Levin yang memberikan jaketnya untuk Leoni. Ya ampun, dia bagaikan seorang Pangeran yang menyelamatkan Putri dari penyihir kejam.


______________


Lupakan!! Lebih baik kembali belajar. Tepis Leoni.


Namun, sekuat apapun Leoni mempertahankan posisi belajarnya, tubuh gadis itu merasa lelah dan tak bersemangat. Mungkin akibat dari rasa kantuk karena tidur pada pukul empat dini hari. Tapi yang aneh, perutnya juga melilit sakit. Tidak terlalu nyaman, seperti kembung, tapi sangat menyiksa.


Kenapa tiba-tiba perutku sakit? Leoni mengusap perutnya.


Dua jam pelajaran terakhir membuat Leoni tersiksa. Ia merasa perutnya sangat sakit, ke toilet pun rasanya tidak membantu meringankan rasa aneh yang bergejolak di dalam perutnya.


KRING!!!!


Bel tanda usai sekolah akhirnya berbunyi. Semua anak-anak bersorak gembira. Hanya Leoni yang tampak tidak bersemangat. Dia bahkan ogah berdiri untuk memberi salam pada guru kelas.


Semua murid memasukkan buku dan perlengkapan sekolah ke dalam tas. Begitu pula Levin dan kedua sahabatnya. Mereka bersendal gurau dan saling mengejek.


“Ketombe dikasih nyawa ya jadinya kayak gini!” Levin menjitak kepala Bryan.


“Wkwkwk,” tawa Chiko lantang.


“Dari pada kau, bulu ketek ga tumbuh-tumbuh!” balas Bryan.


“Hei, besok kalau bulu ketek kita panjang kita warnai yuk. Pirang,” usul Chico.


“Jangan, rainbow aja biar kaya little pinny. Wkwkwkwk!” tawa Levin.


“Ide bagus, ntar kita kepang juga bulu keteknya biar cantik. Kau kepang punyaku, aku kepang punya Levin, ntar Levin kepang punya Farel, Farel kepang punyamu.” Bryan menggoda Chiko.


“Wkwkwkwkkw!” Mereka ketawa barengan.


Leoni hanya bisa bergeleng sebal dengan guyonan jayus mereka. Bagaimana bisa bocah-bocah itu punya pikiran menjijikan seperti itu? Mana perutnya lagi sakit, mood nya jelek. Ga bisa ketawa.


“Woi Singa kau merem melek menahan tawa ya? Nggak usah ditahan, ketawa aja.” Goda Bryan, sambil berlalu dari kelas merangkul punggung Chiko.


“Ayo, Vin!” ajak Chiko.


“Kalian duluan aja!” Levin menyandang back pack hitamnya. Lalu berjalan ke arah Leoni.


“Kau sakit? Wajahmu pucat.” Levin mengetahui gelagat tak beres dari Leoni.


“Nggak kok, aku baik-baik saja.” Leoni bangkit, membereskan tasnya.


“Benaran nggak apa-apa?” tanya Levin lagi.


“Bener. Udah ayo pulang.” Leoni bergegas meninggalkan kelas, Levin mengekor di belakangnya.


Saat berjalan di belakang Leoni, Levin melihat rok seragam Leoni ada noda merahnya. Levin punya dua orang kakak perempuan sudah pasti dia bisa menebak apa yang terjadi dengan Leoni.


“Hei, Singa. Apa kau bocor?” Levin menghentikan langkah Leoni dengan menahan bahunya.


“Bocor?” Leoni bingung, remaja yang belum pernah mengalami menstruasi mana ngerti arti kata ‘bocor’.


“Hei, rokmu berdarah. Apa kau lagi eum ... bulanan?” Levin menggaruk kepalanya, bingung cara menjelaskan situasi akward ini pada Leoni.


“Bulanan?”


“Menstruasi, haid!!” Levin sebal, masa cowok lebih ngerti tentang bulanan dibandingan cewek?!


“HAH?? Benarkah?!” Mata Leoni membulat sempurna. Tak pernah ia sangka sebelumnya bahwa sakit perut yang dialaminya adalah efek dari menstruasi.


Duh, bagaimana ini? Pantas saja rasanya lembab sekali. Leoni menyalahkan diri sendiri. Selama ini dia tak pernah mempersiapkan apapun. Menyesal tak pernah menuruti wejangan dari sang Mama.


“A—apa terlihat jelas?” Leoni menutup bokongnya dengan tas model sling bag.


“Pakai ini! Tas tak akan bisa menutupinya.” Levin melepaskan jaket hodie hitam miliknya.


“Jangan, Vin. Nanti kotor.” Tolak Leoni.


“Lalu apa? Kau mau keluyuran sampai rumah dengan keadaan bocor begitu?” Levin tetap memasangkan jaket pada pinggang Leoni, mengikat lengan panjang jaket di depan perut. Leoni diam saja, antara malu dan kikuk.


“Kau tidak bawa pembalut?” tanya Levin.


“Tidak, ini pertama kalinya bagiku.” Wajah Leoni memerah.


“Ow ... begitu.” Levin ikutan kikuk.


“Ayo aku antar pulang! Akan lebih cepat dengan naik sepeda.”


“Bawel banget sih? Sudah ayo ikut! Lagi pula kau sudah berjanji menuruti semua perintahku sebagai ganti model wajahku!” Levin menarik paksa pergelangan tangan Leoni.


Desiran halus merambat perlahan dari sentuhan tangan Levin. Menggetarkan sekujur tubuh Leoni. Sensasi geli dan bahagia membaur menjadi satu.


Apa ini? Rasanya aneh!! Leoni memejamkan mata erat-erat.


Leoni berdiri di belakang Levin. Berpegangan pada pundak cowok itu. Levin mengkayuh sepedanya cepat menuju ke rumah Leoni.


“Kau ketahuan semalam?” tanya Levin.


“Nggak. Tapi bangunku siang sekali. Aku terlambat, dan mama mengomel tak karuan.” Leoni terkikih.


“Boleh aku ikut lagi lain kali?”


“Boleh.”


“Terima kasih, Vin.”


“Untuk apa?”


“Untuk semuanya.” Leoni tersenyum.


...— MUSE S7 —...


Malamnya Leoni terlihat melamun sendirian. Perutnya masih terasa sedikit nyeri, tapi sudah lebih baik berkat ramuan herbal pemberian Kanna. Jamu kunir asem dengan gula aren dan sedikit jahe merah. Resep alami untuk mengusir nyeri haid dan kembung-kembung.


Leoni tak bisa mengusir bayangan wajah tampan Levin saat tersenyum padanya. Saat pandangan mereka bertemu dalam satu garis. Saat bersandar pada meja karena pelajaran biologi yang membosankan. Belum lagi saat perlakuan kesatria Levin yang memberikan jaketnya untuk Leoni. Ya ampun, dia bagaikan seorang Pangeran yang menyelamatkan Putri dari penyihir kejam.


Oh, Tuhan. Kenapa nggak mau hilang?! pikir Leoni, kakinya menendang-nendang ke udara karena rasa gemas.


“Leoni, ada yang mencarimu.” Kanna mengetuk pintu kamar anak gadisnya.


“Siapa?”


“Teman sekelasmu.”


“Levinkah?” lirih Leoni menerka-nerka, wajahnya mendadak berubah warna. Masa iya baru saja dipikirin sudah datang. Seperti telepati saja.


Leoni dengan hati riang bergegas turun ke bawah. Menyambut kedatangan temannya. Namun hati Leoni mendadak kecewa begitu melihat siapa yang menunggunya di ruang tamu.


“Farel?!” Leoni terlihat bingung. Ada apa? Kenapa malah cowok tengil ini yang mencarinya. Rambut Farel terlihat tersisir lebih rapi dari biasanya. Farel mengenakan kaos paling bagus dan juga celana jeans termahal yang ia punya.


“Hai! Mampir mau pinjam catatan. Hari ini aku nggak masuk.” Farel menjelaskan maksud kedatangannya.


“Ow, tapi catatanku juga tak lengkap. Kenapa tak meminjam punya Anya atau Jesca saja? Bukankah kalian dekat.” Usul Leoni lantas menyusul Farel duduk.


“Hm, sebenarnya aku hanya ingin bertemu denganmu. Catatan itu hanya alasan.” Farel mengusap dahinya yang berkeringat karena gerogi.


“Ingin bertemu denganku?” Leoni terkejap, setengah tak percaya dengan pendengarannya.


“Aku akan mengikuti seleksi lomba balap motor. Untuk itu aku harus berlatih setiap hari. Kemungkinan beberapa hari ke depan aku tak bisa masuk ke sekolah. Jadi aku ingin menemuimu terlebih dahulu.” Farel mengutarakan maksud kedatangannya.


“Hei, apa kau serius? Dua bulan lagi kita naik kelas. Kalau kau sering membolos kau akan tertinggal pelajaran, Rel.” Leoni berpindah, duduk di samping Farel.


“Iya, tapi masa depanku tergantung juga pada hal ini. Firza tak lulus seleksi karena usianya terlalu tua untuk menjadi pembalap profesional. Dan Ayah bertanya apakah aku mau mencobanya. Ini pertaruhan besar, Leoni. Aku tahu itu, belum tentu juga aku akan berhasil. Bisa saja aku kehilangan masa depanku dan tak naik kelas. Tapi, bisa jugakan aku menjadi bintang dan juara dunia?” tutur Farel, wajahnya juga terlihat percaya diri. Leoni mengangguk mengerti.


“Apa kau menyukainya?”


“Heung?”


“Dunia balap motor? Kau menyukainya?” Leoni menatap lamat Farel.


“Sukalah, aku dibesarkan dalam lingkup balap motor.” Farel tersenyum.


“Ah, kalau begitu majulah, Farel. Aku mendukungmu!! Kau harus berhasil, ya!! Semangat!!!!” Leoni mengepalkan tangan di depan dada, memberi semangat pada Farel.


Hati Farel berbunga-bunga, semangat dari Leoni membuat hatinya bahagia. Farel semakin percaya diri dan bertekat untuk memenangkan pertandingan pertamanya.


“Aku tunggu berita baiknya,” kata Leoni.


“Tentu saja.”


...— MUSE S7 —...


...Farel, my baby 💋💋💋...


...Like...


...Vote...


...Comment...


...Follow...