
MUSE S4
EPISODE 27
S4 ~ SENJA
~ Ra melepaskan panggutan kami, ia mengeluarkan sesuatu di balik saku jaketnya. Sebuah kotak beludru berwarna biru. Ra membukanya, sebuah cincin emas dengan batu berwarna jingga, sama seperti sinar matahari saat ini, jingga yang cantik.~
_____________________
Pukul 4 dini hari, jalanan terasa begitu legang dan sepi. Hanya ada beberapa motor pedagang sayur dan juga truk yang lewat, sengaja beroprasi pagi-pagi untuk mengais rejeki. Awan gelap dan lampu-lampu jalan berpendar dengan terang menemani langkah kakiku dan Ra.
Kami diam sepanjang jalan, masih kikuk dengan kejadian semalam. Kami tidak tidur dan hanya bisa berpelukan, hanya suara napas yang terdengar. Tanpa sadar jam bergerak dengan cepat, tiba-tiba saja sudah subuh.
“Ra, daddy bisa membunuh kita.” Aku bergegas memakai bajuku dan mengajaknya pulang.
Ra juga kelabakan, sampai akhirnya kami berdua malah tertawa karena geli dengan tingkah konyol kami berdua.
Lalu, di sinilah kami, berjalan dalam diam, saling bergandengan tangan. Berbicara lewat tatapan mata dan juga genggaman tangan. Rasa hangat dari tangannya menyapu dinginnya pagi. Cukup singkat perjalanan kami, namun terasa begitu mendebarkan.
“Sampai, masuklah!”
“Thanks, Ra.”
Ra menungguku masuk ke dalam rumah, namun aku berbalik terlebih dahulu untuk memandang wajahnya. Oh, kenapa aku benar-benar tak ingin berpisah darinya?
Aku kembali padanya, meloncat untuk memeluknya sekali lagi, untuk menciumnya sekali lagi, aku tak ingin kehilangan dirinya lagi.
“Nggak mau pisah.” Senyumku manis.
“Bodoh! Nanti juga akan bertemu lagi.” Ra mengusik rambutku sampai kacau dan berantakan. Dasar, kenapa tangannya nakal sekali?
“Baiklah, aku masuk, Ra. Janji jemput aku sepulang dari cafe, kita menonton hasil karya kita, Ok?”
“OK.” Ra tersenyum manis sebelum aku meninggalkannya masuk ke dalam rumah.
Aku membuka kunci pelan-pelan, Bi Iyem melongo melihatku pulang jam 4 dini hari. Aku mengkodenya dengan telunjuk di depan mulut agar tidak berisik dan banyak bertanya.
“Dari mana Non? Pacaran?” tanyanya selirih mungkin.
“Ng—nggak kok! Menggambar, Bi,” jawabku gelagapan, namun dengan nada tak kalah lirih.
“Cepetan naik, Non. Kalau Bapak atau Ibu tahu bisa gempar.”
“OK, jangan bilang Daddy and Mommy!” Aku mengerling ke arah bi Iyem.
“Siap Non.”
Aku berjinjit pelan sambil menaiki tangga lantai dua, meninggalkan Bi Iyem yang sibuk membersihkan lantai di ruang keluarga. Ternyata Bi Iyem bangunnya pagi banget.
Aku meringis kesakitan, area kewanitaanku masih terasa berdenyut perih. Ternyata yang pertama kali sangat menyakitkan. Jalanku sudah pasti gemetaran saat ini.
KREETT ...!
Aku membuka perlahan pintu kamarku dan menyalakan lampunya.
“ASTAGA!! YA TUHAN!! SETAN ... E ... SETAN!!!” Aku begitu kaget sampai berteriak dengan latah.
Wajah daddy terpampang jelas saat aku menghidupkan lampu kamar. Guratan amarah tergambar jelas di wajah tampannya yang mulai terlihat tua.
“Siapa yang kau panggil setan?” daddy mendengus kasar.
“Hahaha, Inggrid nggak sengaja, hanya kaget, Dad,” kataku ngeles, Daddy langsung bangkit dari bibir ranjang dan berjalan ke arahku.
Keringat dingin langsung membasahi pelipisku, tak menyangka bahwa daddy akan berada di dalam kamarku, menungguku pulang.
“Dari mana?” tanyanya.
“Em ... em— itu, e— dari menggambar,” ucapanku terbata-bata, tak mungkin aku mengatakan pada daddy aku menginap di rumah Keano, dan bermesraan di sana. Bisa-bisa siang nanti Keano tinggal nama.
“Ck, menggambar apa sampai pulang pagi?!”
Menggambar cucu untukmu, Dad. Pikirku dalam hati, tanpa sadar aku malah nyengir geli.
“INGGRID!!” bentak daddy, aku kaget. Tak pernah daddy membentakku sebelumnya.
“Maaf, Dad. Inggrid tadi mampir ke rumah Keano, lalu karena capek Inggrid ketiduran.” Aku berbohong lagi, takut dengan wajah garangnya.
“Jangan bohong!” Daddy semakin mendekat, ia mengangkat tangannya, Oh tidak, apa dia akan memukulku? Aku sontak memejamkan mata menanti tamparannya mendarat pada pipiku.
“Siapa yang memukulmu, Inggrid?” ternyata bukan tamparan, tapi sebuah belaian lembut, ia melihat pipiku yang membekas kemerahan, walaupun tidak bengkak tapi masih sedikit merah.
“Aku tak sengaja terjatuh.”
“Oh, ya? Kau bohong lagi?”
“Nggak, beneran kok, Dad. Aku terpleset sampai membentur lantai.” Ya, Tuhan maaf aku mengarang lagi semua kebohongan ini.
“Huft ... panggil si Monster kecil kemari besok! Ada yang ingin Daddy bicarakan dengannya.”
“Hah? Apa?”
“Lebih baik aku nikahkah kalian dari pada terus khawatir seperti ini.” decisnya sebal. Akhirnya Daddy keluar dari kamarku sambil bergeleng pelan.
Menikah!!!! Aku??? Dan Keano? Satu rumah? Membuat bayi setiap hari? Dan juga mengurus bayi?? Lalu impianku keliling dunia bagaimana? Mobil sportku bagaimana??
Aku membayangkan alih-alih keliling dunia, aku di kelilingi oleh anak-anak bayi yang mirip dengan wajah Keano. Aku mengurus beberapa Keano kecil. Satu pup, satu ngompol, satu bermain pipis saudaranya, dan yang lain menangis. Lalu Keano, dalam hal ini Ra, hanya duduk sambil bersantai meminum kopi dengan wajah liciknya.
“Sepertinya aku belum siap!” lirihku dengan wajah super syok!
Tak bisa ku banyangkan juga dengan siapa aku akan menikah? Ken atau Ra?
Lalu anakku besok anak siapa? Ken atau Ra?
Pusingkan?!
“WAAA!!! Aku nggak mau menikah!!!” teriakku.
Padahal dulu aku gembar gembor ingin segera menikah! Ingin segera memiliki Keano!! Menjadi istrinya. Namun begitu teringat akan kenakalan adikku waktu kecil dan kerepotan yang harus aku hadapi saat menjadi seorang Mama. Entah kenapa nyaliku menciut?! Aku tidak siap.
— MUSE S4 —
•••
Sudah beberapa hari sejak kejadian pemukulan itu. Wajah Ra juga sudah tidak lagi bengkak dan kembali mengikuti bekerja di cafe. Dia terus memandangku dengan pandangan ingin tahu, heran kenapa akhir-akhir ini aku begitu menghindarinya.
“Apa kau marah?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa sepertinya kau terus menghindariku?” Ra menyentuh tanganku, spontan aku menariknya karena kaget.
“Heung?” Ra menaikan lagi alisnya, semakin penasaran dengan perlakuanku padanya.
“Tidak Ra. Aku ha—nya ... Daddy???” Aku melengos saat mengetahui daddy keluar dari mobilnya dan berjalan menuju cafe.
“Papi?” Ra tak kalah terkesiap.
“Ra!! Apapun yang daddy bilang, cukup kau tolak saja!” ujarku.
“Kenapa? Memang Papi meminta apa dariku?”
“Pokoknya cukup katakan kalau kau tidak bisa.”
“O—ke.” Ra masih menatapku dengan heran.
Aku menelan ludahku, bayangan empat orang bayi yang bermain di sekelilingku kembali berputar. Oh, jangan minta Keano menikahiku please!
“Halo anak-anak.” Daddy menyapa kami semua begitu dia masuk ke dalam cafe.
Aku bergegas memberikan secangkir kopi dengan creamer dan juga kudapan pai asin. Aku harap makan makanan enak dan minum kopi bisa membuat suasana hatinya membaik. Setidaknya dia tak akan marah bila Keano menolak usulannya.
“Eum ..., Dad. Mau apa kemari?”
“Kau tidak menyampaikan pesanku padanya?” Daddy menunjuk ke arah Ra.
“Belum sempat.”
“Padahal kalian tiap hari bertemu?!”
“Iya, tapi Inggrid lupa.”
“Ck, alasan aja. Panggil dia ke sini!” Daddy menyuruhku memanggil Ra, sementara dia meminum kopi dengan santai.
“Ra, Daddy memanggilmu. Ingat kau tolak saja kemauannya,” pintaku.
“Kau membuatku penasaran.” Ra menelan ludahnya takut, ck, kemana perginya arogansi dan sikap pemberaninya?
“Hallo, Pi,” sapa Ra, dengan sungkan dia duduk di depan Daddy.
Daddy menatap tajam ke arah Ra sebelum akhirnya saling bercakap. Aku tak bisa mendengar suara mereka dengan jelas karena saat itu cafe sedang ramai. Pendengaranku teralihkan dengan beberapa orang yang datang untuk memesan.
Tak butuh waktu lama saat Daddy sudah mengkerutkan dahinya dan memandang tajam ke arah Ra. Apakah daddy marah? Apakah dia akan memukul Ra? Apakah dia akan berkata-kata kasar padanya? Lalu ... apakah Ra sudah menolaknya?
Di luar dugaanku! Daddy malah menepuk punggung Ra dan bergegas meninggalkan mejanya. Ia tersenyum hangat padaku dan mengecup dahiku pelan.
“Ah, daddy kira tidak akan melepasmu secepat ini.” Wajahnya terlihat bahagia.
Glek!! Masa sih? Beneran di nikahin?
“Dad?!” protesku.
“Stt ... sudah ya, daddy balik.” pamitnya.
Aku menurunkan bahuku kecewa. Masa iya Daddy beneran menikahkan anaknya? Dan si bodoh itu!! Kenapa sih tidak di tolak saja?!
•
•
•
Ra menggandeng tanganku sepanjang jalan. Wajahnya tampak berbinar bahagia, hanya aku yang merasa sebal karena tidak tahu apa-apa mengenai percakapan mereka siang tadi.
“Ke rumahku? Kita bisa bermesraan?” tawarnya.
Muncul bayangan empat orang monster kecil dengan wajah Keano.
“Emp ... mungkin lain kali,” tolakku.
“Kenapa sih? Kau menghindariku terus?” Ra menghentikan langkah kakinya.
“Aku hanya takut, Ra! Ah, Kau tak akan mengerti perasaanku!” Aku ngambek padanya.
“Makanya bilang!”
“Huh, nggak bisa bilang!” Masa iya bilang sama dia kalau aku takut menikah dengannya.
“Dasar!!”
“Hiks ...! Ra Jahat!!”
“Kok malah nangis?”
“Kalau begini aku jadi merindukan Ken!!” gerutuku sebal.
“Ya udah, biar Ken keluar, sana bermesraan dengannya!” Ra emosi, memang menyebalkan, mana sikap pencemburunya tak berubah.
“Hiks ...!” Aku berlari meninggalkannya.
“Inggrid!!!” panggil Ra.
“Bodo!! Pulang sana!!!”
“Ya udah aku pulang!”
“Ck, Dasar cowok nggak peka!” pungkasku.
“Ck, Dasar cewek kebanyakan mau!” tandasnya. Hish, cowok ini bikin aku sebel deh!
Akhirnya aku berjalan cepat menuju ke rumah. Ra terus mengikutiku dari belakang. Sepertinya dia tak tega membiarkanku berjalan sendirian.
— MUSE S4 —
Malam tiba, aku sibuk mencatat nota-nota pengeluaran dan menyalinnya pada buku pengeluaran cafe.
Triing ... 🎶
Bunyi chat masuk.
Nuna besok sabtu kita berangkat
Inggrid:
Hah?? Kemana?
Nael:
Kau lupa?
Acara camping kita.
Ah benar, kami berencana akan pergi camping setelah proyek ini selesai.
Ara:
Aku sudah beli daging sapi
ranking A5 yang termahal.
Kita BBq party ok
Momo:
Aku akan bawa alkohol.
Kita sudah cukup umur bukan?
Karen:
Tidakkah lebih baik
Kita membawa kopi?
Nael:
Bawa apa saja
Asal jangan bawa keributan.
Daffin:
Aku tak ikut
Semua:
Kenapa?
Daffin:
Menyebalkan melihat
Inggrid bermesraan dengan
Pacaranya.
Aku tertawa membaca chat dari Kak Daffin, ya ampun, mau sampai kapan dia baru bisa move on?
Inggrid:
Kau menyebalkan.
Daffin:
Namanya juga cinta.
Momo:
Sama Momo saja Kak
Momo jomblo 😭
Daffin:
Kasihan 🤭
Aku tertawa membaca kekonyolan teman-temanku.
Hah ... semoga hubunganku sudah membaik saat kami berangkat nanti. Aku menepis permasalahanku dan kembali fokus pada pembukuan cafe.
•
•
•
Cuaca tampak begitu cerah, cocok untuk mendaki gunung. Kami semua telah sampai di awal jalur pendakian. Membawa backpak kami yang sebesar dinosaurus bunting. Mana berat sekali, heran aja kenapa mau liburan saja menyusahkan diri sendiri?
“Semuanya siap???” teriak Niel.
“Siap!!”
“Oke kita berangkat!”
Aku mengikuti langkah kaki Niel, berjalan di samping Ra yang masih terlihat marah denganku. Andai saja dia bukan cowokku sudah aku tinggal dia dari tadi.
Berhubung aku masih punya hati, malam kemarin aku mengabarinya. Ra kelabakan, dia menyiapkan semua keperluan camping secepat kilat, kami berangkat subuh tadi jadi waktunya bersiap tidaklah banyak.
“Sebenarnya kenapa denganmu?” Ra membuka pembicaraan.
“Kau sendiri kenapa ngambek?”
“Kau terus menghindariku, Inggrid? Memang apa salahku?”
“Kau salah, Ra!!”
“Ya sudah anggap memang aku yang salah, aku minta maaf. Sekarang beri tahu aku kenapa kau marah?”
“Aku belum mau menikah, daddy memaksaku menikah karena kita sudah melanggar batas.”
“Hah? Hanya karena itu?”
“Itu perkara besar tahu!! Menikah bukan hal kecil!! Bayangin saja, Ra! Kita akan punya banyak bayi karena kita membuatnya setiap hari.” Aku menjelaskan panjang lebar pada Ra perihal kekesalanku dan juga ketakutanku.
“Bayi???” Ra keheranan.
“Iya, setelah menikah kita pasti akan punya bayi, dan mereka pasti nakal-nakal sepertimu.” tuduhanku memang tak beralasan, tapi itulah faktanya, anak kecilkan memang merepotkan.
“HAHAHA ...!” Ra tertawa keras sampai membuat semuanya memandang ke arah kami.
“Kenapa kau tertawa?” tanyaku sebal.
“Kenapa kau begitu polos, girl?!” Ra terpingkal-pingkal.
“Huh!! Tuh kan! Makanya aku nggak mau ngomong sama kau, Ra.” Aku berjalan lebih cepat dan meninggalkannya.
Ra masih saja tertawa saat mengikutiku, dia terkadang membantu mendorongku saat menaiki tanjakan. Lalu dia juga membantuku menjijing tas dari belakang agar bahuku tidak lelah.
Akhirnya tepat pukul 4 sore kami tiba di jalur peristirahatan untuk pendakian terakhir. Tempat bumi perkemahan dan juga peristirahatan sebelum meneruskannya ke puncak gunung. Sudah ada beberapa tenda lain yang mendahului kami.
Hamparan hijau rumput dan pemandangan alam yang luar biasa membuat mata kami menjadi bening kembali. Sebuah danau vulkanik terlihat begitu jernih dan indah. Memantulkan wajah alam yang sangat cantik. Pegunungan yang lebih tinggi terlihat menjulang dengan berbagai macam pohon pinus yang tumbuh subur di atasnya.
“Inggrid! Kemarilah!” Ra menggandeng tanganku.
Aku menaruh backpak ke bawah, lalu mengikuti langkah kaki Ra. Kami menelusuri tanah basah, rerumputan, juga jalanan setapak yang semakin menyempit. Jalanan itu semakin terjal dan curam. Berbagai macam jenis tumbuhan paku-pakuan, lumut, dan semak yang tidak aku ketahui namanya terinjak kakiku.
“Hati-hati, licin.” Ra selalu mengingatkanku agar berhati-hati dalam menginjak akar pepohonan yang menyembul keluar. Akar itu licin karena ditumbuhi lumut dan jamur.
Tak berselang lama, setelah pendakian yang cukup melelahkan kami sampai pada puncak gunung. Udaranya terasa begitu dingin sampai syal dan sarung tanganku terasa basah. Udara yang terhembus dari pernafasanku mengembun.
“Kita duduk di sana Inggrid.” Ra menggandengku untuk duduk pada spot terbaik.
Beberapa pasangan pendaki lain juga telah duduk. Mereka menikmati udara dingin dan juga matahari yang hampir tenggelam.
Senja merubah matahari menjadi orange ke merahan. Sinarnya membuat perasaan menjadi begitu hangat. Aku menyadarkan kepalaku pada bahu Ra, Ra merangkul pundakku dengan tangannya.
“Indah sekali.” lirihku.
“Iya, ciptaan Tuhan memang tiada duanya.”
“Benar.”
Ra menarik daguku agar memandang wajahnya. Seketika itu juga Ra mengecup lembut bibirku, menguluumnya dengan sangat perlahan namun dalam. Aku begitu menikmati ciuman manis yang bercampur dengan hangatnya senja saat ini.
Ra melepaskan panggutan kami, ia mengeluarkan sesuatu di balik saku jaketnya. Sebuah kotak beludru berwarna biru. Ra membukanya, sebuah cincin emas dengan batu berwarna jingga, sama seperti sinar matahari senja saat ini, jingga yang cantik.
“Menikahlah denganku Inggrid.”
“Ra??”
“Tak usah takut punya bayi, kita bisa menundanya. Sekarang banyak alat kontrasepsi beredar di pasaran, girl!” tawa Ra membuatku malu.
“Sialan!!” Aku memukul dadanya menyembunyikan semburat kemerehan pada wajahku.
“Aku calon dokter, Inggrid. Aku tahu caranya menunda kehamilan, bahkan tanpa alat kontrasepsi sekalipun.” bisik Ra panas ditelingaku. Aku jadi semakin malu mendengarnya.
“Ih, apaan sih?!”
“Kita bikin bayi setelah kau siap, setelah kau keliling dunia, setelah aku lulus dan menjadi seorang dokter. OK.” Ra menyatukan dahi kami.
“Hiks ...! Aku terharu Ra.”
“Ken juga sudah setuju. Kami akan menjalankan prosesi terapi dan menyatukan jiwa kami kembali Inggrid.”
“Maksudmu?”
“Doakan saja kami bisa kembali menjadi Keano seutuhnya.” Ra memelukku.
“Iya, Ra.” Aku menangis haru.
Ra mengusap air mata haruku dengan ibu jarinya. Setelah mengullum senyuman manis ia kembali mengullum bibirku. Rasa yang begitu manis membuatku kehilangan akal sehat. Rasanya sungguh enak dan memanjakan.
Dalam hati aku geli dengan pemikiranku, bagaimana bisa aku sepolos ini.
“Jadi kita bisa bikin bayi setiap hari tanpa menjadi bayi?” Aku bertanya kembali, sekedar menegaskan.
“Iya,” Ra menciumku lagi.
“Benarkah? Bayinya bisa ditunda?”
“Iya, benar.” Ra menciumku lagi.
“Seriuskan? Kau tidak bohong hanya demi menikah denganku?”
“Ya Tuhan, Inggrid!!! Kau membuatku sebal!”
Ra menciumku dengan paksa, menyalurkan rasa gemasnya terhadap tingkahku barusan. Tangannya menggerayaang masuk ke dalam jaket dan menggelitik perutku.
“Hahaha ... geli Ra!!”
Kami menutup hari itu dengan luapan rasa bahagia dan juga canda tawa.
Dalam hati aku terus berharap, agar Ra dan Ken bisa kembali bersatu. Menjadi Keano yang seutuhnya.
— MUSE S4 —
omo.. mau juga di lamar Ra 😘😍
MUSE UP
YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE
VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.
Suport saya dengan dukungan point dan koin.
Jangan lupa juga buat like dan commentnya.
Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭
Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang
Jangan lupa cintai alam
Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri
Jangan lupa kalau saya cinta kalian