
MUSE
EPISODE 13
LAVENDER
\~Entah setan atau malaikat yang merasukiku saat itu, yang pasti aku terlalu terbawa suasana. Aku menarik dan mencium Alex.\~
“Hatching..!!” ah sialan, kenapa malah flu sih? Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang pusing dan hidung yang gatal. Gara-gara lupa mengeringkan rambut dan tertidur dengan handuk basah sampai pagi.
Padahal aku hari ini ada janjian sama Alex. Padahal sudah mempersiapkan diri.
Akhirnya aku putuskan untuk tetap berangkat ke kampus dan bertemu dengan Alex.
“Hai.” sapa Alex.
“Sudah lama?”
“Belum. Ini.” Alex memberiku sebotol air.
“Terima kasih.”
“Kau tampak nggak enak badan?” tanyanya khawatir. Wajahnya terlihat cemas, hal itu membuatku berdebar tak karuan.
“Nggak kok. Cuma agak flu aja, tapi masih OK.”
Alex tersenyum dan mengajakku berjalan.
“Kita mau ke mana?” tanyaku sambil mengimbangi langkah kakinya.
“Ke daerahku, di sana ada padang bunga lavender. Aku rasa cocok untuk mencari foto sebagai refrensi melukisku di sana.”
“Bunga lavender?? Benarkah??” Aku berseru antusias.
“Apa kau tidak keberatan naik bis?”
“Nggak.” Aku menggelengkan kepalaku.
Alex tersenyum manis, kami kembali berjalan dan melewati trotoar menuju halte bis.
Kami duduk bersebelahan, aku duduk di dekat jendela. Aku masih mengingat beberapa halte bis yang kami lewati sebelum mataku terasa begitu berat dan mengantuk.
“Len.. Lenna.. Kita sampai.” Alex membangunkanku, tangannya yang hangat menepuk pipiku pelan.
Aku melonjak kaget, ternyata aku tertidur di pundak Alex.
“Ma.. Maaf.. Pegal ya??”
“Nggak apa-apa.” Alex tersenyum dan mengajakku turun.
Alex menawarkan tangannya untuk membantuku menuruni anak tangga bis, aku menyambut tangannya. Rasanya begitu hangat dan aneh, perutku terasa geli dan hatiku berdesir. Padahal hanya sentuhan tangan, tapi kenapa bisa punya rasa yang sehebat ini?
“Ayo.” Alex melepaskan genggamannya dan berjalan di depan, rambutnya yang sedikit panjang bergoyang karena tertiup angin yang lembut.
“Tunggu.” Aku sadar dari lamunanku dan berlari kecil mendekatinya.
“Sewa sepeda?” tanyanya.
“Aku nggak bisa naik sepeda.”
“Aku boncengin.”
Alex berbelok menuju sebuah toko persewaan sepeda dan keluar dengan sepeda jengki berwarna biru.
“Vintage banget,” seruku senang.
“Ayo naik.”
“Aku duduk miring ya?” Aku bergegas menaiki boncengan sepeda itu, karena menggunakan rok jadi aku duduk miring.
Ah gila! Mimpi apa aku semalam bisa berada sedekat ini dengan Alex? Aku memandang punggungnya yang lebar dan hangat. Samar-samar wangicolloneAlex tercium dan membuatku merasa nyaman.
“Udaranya bersih, ya?” Aku memecah keheningan.
“Dulu lebih bersih lagi, setelah kebun lavendernyaboomingjadi banyak orang berwisata kemari.”
“Ow begitu.” Aku mengangguk senang.
Sepanjang jalan aku mengamati pemandangan alam yang bagus.
“Oke sampai.” Alex berhenti pada sebuah rumah kecil.
“Yap.” Aku melompat turun.
“Kita beli tiket dulu, ya.” Alex bergegas memasuki rumah itu dan keluar dengan 2 lembar tiket masuk.
“Ayuk.”
Aku mengikuti Alex masuk ke dalam, ternyata di balik rumah kecil itu ada hamparan padang bunga lavender yang luas sekali. Warna ungunya benar-benar menyejukan mata.
“Luar biasa.. Cantik sekali!” Aku berdecak kagum.
“Kau suka?” tanyanya.
“Suka sekali.” Aku mengangguk dengan antusias.
Alex kembali tersenyum dan mengambil kameranya.
“Ayuk ke sana. Kau bisa membeli bunganya juga.”
“Benarkah?” Aku memandanginya dengan jurus sorot mata anjing.
“Tunggu di sini.” Alex berlari ke arah penjaga kebun, sesaat kemudian dia kembali dengan seikat bunga lavender.
“Wah.. Cantiknya..!”
“Sama dengan warna bola matamu yang cantik.” Alex menyerahkan bunga itu kepadaku.
“Te.. Terima kasih.” Aku tersenyum dengan malu-malu. Sumpah aku nggak kuat dengan ucapan-ucapan manisnya, kalau begini terus aku bisa meledak.
“Ayo ke tengah, aku foto buat model lukisanku.”
Aku mengangguk dan berlari ke tengah hamparan padang bunga yang luar biasa indah. Hembusan angin sore yang berhembus sepoi-sepoi membuat rambut panjangku melambai. Sesekali aku juga menahan rokku yang ikutan tersibak karena angin.
“Sudah kau dapatkan fotoku, Lex?” teriakku.
“Iya sudah. Bermainlah di sana kalau kau mau.” Alex juga berteriak supaya terdengar olehku.
Aku terus tersenyum dan berputar melihat bunga-bunga yang indah itu. Segala lelah dan penatku menghilang menjadi luapan kegembiraan dan rasa cinta.
Dari jauh bisa kulihat wajah Alex yang tampan juga tak berhenti tersenyum.
—MUSE—
.
.
.
Nggak terasa matahari mulai terbenam, aku dan Alex bergegas kembali menaiki sepeda dan mengembalikannya ke toko tempat kami menyewa. Alex menganggukan kepala beberapa kali sebelum meninggalkan toko.
“Tahu-tahu sudah gelap.” Alex memandang langit yang sudah berubah menjadi hitam pekat.
“Untung nggak didenda karena terlambat kembaliin.”
“Alex.”
“Hm?”
“Bukankah rumahmu di sini? Kau nggak mampir? Apa kau nggak merindukan Papa dan Mamamu?”
“Nggak terlalu, lagian kita bisa kehabisan bis kalau harus mampir ke sana dulu.” garis wajah Alex sedikit berubah, lebih tegang dari biasanya.
“Iya.”
Tes... Tes... Tes...
Terdengar bunyi air hujan yang mendadak turun dengan deras. Alex mempererat gandengannya dan mengajakku untuk segera sampai ke halte. Kami berteduh di sebuah halte bis, menunggu bis jurusan ke kota datang menjemput kami.
“Tiba-tiba hujan.”
“Iya. Kau basah?” Aku mengeluarkan tisu dan mengelap wajah Alex.
Pandangan kami bertemu, kulihat bayangan wajahku yang terpantul dari bola matanya yang hitam. Wajah Alex terasa begitu dekat, bisa kurasakan hembusan nafasnya yang hangat menyentuh kulitku. Bibirnya mendekat dan hendak menciumku. Aku tak menolak, dan malah memejamkan mata menunggu bibirnya mendarat.
“Hatching!!” Aku bersin mendadak, mengagetkan kami berdua dan menghentikan niat Alex untuk menciumku.
“Waaa..!! Maafkan aku,” seruku serba salah.
Aku mengelap hidungku dan membuang muka. Alex melakukan hal serupa, dia juga sama salah tingkahnya denganku.
“Duh.. padahal tinggal sedikit lagi.” Aku menyalahkan diriku sendiri atas kebodohanku.
“Alex,sory.” Aku kembali mengangkat wajahku.
“Nggak pa-pa kok.” pandangan Alex lurus ke depan.
Aku mengangkat tanganku dan meremas lengan kemeja Alex. Entah setan atau malaikat yang merasukiku saat itu, yang pasti aku terlalu terbawa suasana. Aku menarik dan mencium Alex.
Alex nampak kaget saat bibirku mendarat di atas bibirnya. Namun detik berikutnya aku bisa merasakan hangatnya bibir Alex yang membalas ciumanku, melumat bibirku dengan lembut. Aku meraih tangannya yang hangat agar melingkar di pinggangku dan mencengkramnya pelan.
Dinginnya malam itu berubah menjadi hangat, saat cinta itu bersemi dalam hatiku. Aku berinisiatif untuk menghentikan ciuman kami, sedikit jeda untuk menarik nafas panjang. Dahiku melekat di dahinya, sedikit peluh keluar dari dahi Alex.
Sesaat aku merasa semakin panas dan pusing, namun semakin lama aku malah merasa kedinginan.
“Lenna badanmu panas.” Alex menempelkan punggung tangannya ke dahiku.
“Aku merasa berat, Lex.” Aku terbata- bata.
“Lenna sadar!! Lenna!!” itulah suara yang terakhir ku dengar sebelum aku jatuh pingsan.
—MUSE—
.
.
.
“Kau sudah bangun?” suara Alex terdengar khawatir.
“Di mana ini?” tanyaku pada Alex.
Aku memutar bola mataku melihat sekeliling. Kamar ini tampak asing bagiku.
“Ini kamarku. Kamu pingsan, aku membawamu pulang ke rumahku.” Alex masih memegang erat tanganku.
“Terima kasih,” anggukku pelan.
Tunggu.. Kalau ini rumah Alex, berarti ada Papa dan Mama Alex di sini. Terus ada saudara-saudaranya juga. Ya, Tuhan aku belum siap berkenalan dengan mereka.
“Temanmu sudah sadar?” suara seorang wanita menggetkanku.
“Sudah, Ma.”
Mamanya Alex masuk ke dalam kamar, membawa nampan berisi teh hangat dan semangkok bubur.
“Temanmu harus makan sebelum minum obat.” suaranya kembali terdengar.
“Te.. Terima kasih, Tante.” Aku berusaha bangkit, Alex membantuku bangun.
“Sama-sama.” wanita itu tersenyum padaku.
Ternyata Mama Alex juga merupakan seorang wanita yang cantik. Ada beberapa garis halus yang mulai terlihat di pinggir matanya. Memang hanya usia yang bisa menghilangkan kecantikan seseorang.
“Alex bisa kita bicara di luar?” ajak wanita itu.
Alex mengangguk dan mengikutinya keluar kamar. Aku duduk di pinggir kasurku, samar-samar aku masih bisa mendengar suara Alex dan Mamanya dari balik pintu.
“Apa hubunganmu dengan gadis itu?” Mamanya memulai pembicaraan mereka.
“Teman, Ma.” jawab Alex.
“Kalian tidak sedang pacarankan??” nadanya sedikit tinggi.
“Nggak kok.”
“Mama nggak setuju kalau kamu sama dia.”
“Kenapa Mama berkata seperti itu? Lenna anak yang baik.”
“Kamu anak yang tampan, kamu bisa cari gadis normal yang lebih cantik dari dia.”
“Ma.. Stop! Lenna bisa mendengarnya!”
“Kau selalu saja membangkang kami, kuliahmu? Jurusanmu? Kabur dari rumah!!”
“Hentikan berbicara tentang kuliahku! Itu keputusanku sendiri.”
“Carilah yang seperti Amanda, atau yang lebih baik dari Amanda!”
“Jangan ungkit tentang Amanda!” nada suara Alex terlihat meninggi.
“Alex, jangan seperti anak kecil. Nasehat kami selalu yang terbaik untukmu.”
“Sudahlah aku muak, kalian terlalu mengaturku.” suara langkah kaki Alex semakin mendekat.
Otot leher Alex terlihat menegang saat masuk ke dalam kamar. Aku menoleh saat melihatnya datang. Aku masih terpaku duduk di pinggir kasur, tanpa terasa air mata meleleh turun dari kedua mataku.
“Kau mendengarnya?” raut wajah Alex kembali khawatir.
Aku mengangguk pelan.
“Sialan!” Alex memukul dinding di belakangnya, dan bergegas menghampiriku.
“Maafkan aku.” Alex berjongkok di depanku.
Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan mulai terisak.
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^