
MUSE S4
EPISODE 18
S4 \~ GAIRAH
\~ Aku melihat wajahnya, tatapannya begitu hangat dan lembut. Namun kenapa aku malah memikirkan tatapan Ra yang penuh dengan perhatian dan juga gairah?\~
____________________
Aku menghela napas saat memasuki sebuah klinik di pusat kota. Berbeda dengan Ken, dia tanpak tenang dan berjalan santai di sampingku. Aku memandang wajah tampannya, benarkah aku menginginkan Ra menghilang dari dalam diri Keano?
“Sudah membuat janji temu?” tanya seorang suster begitu kami sampai.
“Sudah, atas nama Keano,” jawab Ken.
“OK tunggu sebentar, ya,” pintanya kepada kami.
Kami lantas duduk pada sofa di ruang tunggu pasien. Klinik itu terlihat bersih dan terawat. Interiornya di dominasi oleh warna biru langit dan nila, warna biru dan nila memang terkenal memberikan kesan damai dan biasa dianggap untuk membantu menenangkan mental seseorang.
“Kau takut?”
“Nggak, kok.”
“Aku janji akan kembali menjadi Keano, Inggrid.” Ken menggenggam tanganku, menyalurkan rasa hangat.
“Iya, Ken.”
Aku melihat wajahnya, tatapannya begitu hangat dan lembut. Namun kenapa aku malah memikirkan tatapan Ra yang penuh dengan perhatian dan juga gairah?
“Keano!” panggil suster.
Ken beranjak untuk masuk ke dalam, aku mengikutinya, namun suster itu melarangku untuk ikut masuk. “Sorry, miss. Pasien harus berkonsultasi seorang diri.”
Aku tahu, sih, Ini psikiater, bukan dokter umum. Kalau ada orang lain yang juga masuk di dalam takutnya pasien tidan akan leluasan menceritakan semua unek-unek dan kisahnya. Dokter tak bisa mengorek sampai bagian paling dalam dari relung hatinya.
Aku menurut dan kembali menunggu di sofa tamu. Tiap detiknya terasa bergerak begitu lambat, aku benar-benar bosan. Sampai akhirnya aku tertidur setelah menunggu cukup lama.
“Inggrid.”
“Ken? Kau sudah selesai?” Aku menguap dan mengucek mata.
“Kau lelah? Maaf. Lama sekali, ya?”
“Tak apa, Ken. Aku bisa tertidur dengan nyenyak. Bagaimana konsultasinya?” tanyaku.
“Yah, wawancara singkat. Prosedural pengobatan. Pertemuan selanjutnya baru akan mencoba hypnoterapi,” terang Ken.
“Ah, begitu.”
“Kenapa? Kau terlihat tak bersemangat?”
“Bu, bukan begitu, Ken. Aku hanya kasihan dengan Ra,” lirihku, aku menunduk, aku merasa seakan-akan aku dan Ken sedang bersekongkol untuk membunuh Ra.
“Dia hanya ilusi, Inggrid! Dia hanya bagian dari rusaknya gambar diriku.” Ken memelukku dengan erat.
Sampai saat inipun aku masih terus bertanya-tanya dalam hatiku, apakah benar aku menginginkannya? Menghapus keberadaan Ra?
“Ayo pulang!” ajak Ken.
Aku mengikutinya, kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan kami hanya diam, Ken terus memandang keluar jendela MRT, sedangkn aku terus memandang wajahnya. Kami seakan punya pertanyaan kami masing-masing dalam benak kami saat ini, namun tak bisa saling mengungkapkannya.
“Apa besok kau akan datang, Ken?”
“Ke mana?”
“Kelulusanku!”
“Oh, tentu saja, girl.”
“Jangan bohong, OK!”
“OK.”
Aku kembali menatap ke arah wajahnya yang tampan. Kaca matanya sedikit melorot turun, aku hendak membetulkan kaca matanya namun Ken melarangnya.
“Jangan!!”
“Kenapa? Apa kau sengaja memakainya sedikit turun?” godaku. Aku sedikit merasa aneh, memangnya nyaman memakai kaca mata seperti itu?
“Kita sampai.” Ken tak menjawab pertanyaanku dan menggandeng tangaku dalam diam.
Kenapa dia berubah? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang prakter dokter tadi? Apa ada hal buruk?
“Ken? Apa ada sesuatu yang buruk? Sepertinya perasaanmu sedang tidak baik.”
“Tidak ada, hanya lelah. Mulutku kering karena terlalu banyak bercerita. Ayo kita pulang dan makan sesuatu.”
“Ah, begitu.”
Aku kembali melangkah riang di sampingnya. Ken mengelus pucuk kepalaku lembut, sepintas rasanya sama seperti saat Ra mengelusnya kemarin.
“Tunggu, ya! Aku bikinin es sirup dan cemilan.”
“Oke.”
“Sepertinya Mama belum pulang, apa cafe sedang ramai?” Ken melihat ke kamar mami dan juga ke dapur belakang.
“Mungkin.”
Aku berjalan semakin ke dalam, menuju ke taman kecil di belakang rumahnya. Dulu saat masih kecil kami sering bermain dan mandi bersama dalam kolam plastik. Saat itu yang ada hanya kebahagiaan, tak ada rasa bimbang dan juga kesesakkan aneh yang menghimpit jiwa seperti saat ini.
“Kau masih merawat kaktus ini?” tanyaku dengan mata berbinar, kaktus adalah tanaman ke sukaanku, mama sering merawat tanaman ini, aku jadi ikut menyukainya. Aku dulu memberikannya sebuah bibit. Tak kusangka Ken masih merawatnya juga, bahkan kini sudah berkembang biak, banyak bunganya.
....
Kenapa Ken diam saja?
“Oh, Ra.”
Ken mendekatiku, ia melingkarkan lengannya pada pinggangku dari belakang. Wajahnya membenam pada cerukan leher dan menghirup tubuhku dalam-dalam. Aku sedikit menggeliat karena rasa geli dari napasnya yang panas.
“I love you, girl!” Ken semakin memperat dekapannya.
“Ken? Kenapa kau menjadi melo?” tanyaku heran.
“Biarkan aku begini sebentar saja.”
Aku merasa aneh saat ini, namun membiarkan Ken melakukan semaunya. Mungkin dia hanya butuh dekapan, bukan suara, bukan juga nasehat.
Tak lama Ken mengangkat wajahnya, dan memberikan es sirup dingin padaku. Kami duduk di teras belakang, menikmati aliran angin yang menerpa wajah. Membuat rasa nyaman dan juga tenang.
“Andai saja ada gemericik air.”
“Besok aku bikin kolam ikan deh!”
“Hahaha, aku hanya bercanda.”
Aku menghabiskan nugget pisang goreng yang dibuat Ken sebagai camilan kami sore ini. Ada remahan kremes yang menempel di bawah bibirku, Ken tersenyum dan mengambilnya.
“Makasih.”
Ken mengelus lagi wajahku sampai ke bawah dagu, mengangkat daguku agar kami saling memandang. Perlahan-lahan Ken mendekatkan wajahnya, dan menciumku. Ken terus memberikan hisapaan-hisaapan pelan saat kami beradu bibir. Rasanya terlalu susah untuk ditolak, entahlah, ada sesuatu yang berbeda dengan ciumannya kali ini. Lembut dan bergairah, aku menyukainya.
“Inggrid,” panggilnya, Ken menyatukan dahi kami, tangannya masih terus menyentuh wajahku.
“Ken.”
Ken kembali menautkan bibirnya atas bibirku. Memberikan sesapan dalam yang begitu nikmat. Rasanya sangat manis dan mendebarkan. Aku memejamkan mataku, begitu meresapi tiap alunan gerakan bibirnya yang mengulum bibirku. Aku mengigit bibirnya pelan sebelum Ken melepaskan panggutannya.
“Hihihi,” kikihku.
“Kau nakal!”
Ken langsung menubrukku sampai ambruk ke belakang. Ken menahan tubuh dengan tangannya, rona kemerahan muncul seiring dengan detak jantungnya yang berdegup keras. Ken menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuhku, mendekapku dengan begitu erat. Tangannya masuk melalui sela kaos dan semakin masuk ke dalam.
“I want you, Inggrid.”
“I wang you, too, Ken,” kataku dengan lirih.
“Give yourself to me!” Setelah mengatakan hal itu Ken langsung menggendongku masuk ke dalam kamarnya.
Ken membaringkanku di atas kasur dan mulai mencium kembali tubuh dan bibirku. Aku terus menggeliat geli karena perlakuannya, rasanya terlalu aneh. Hampir seluruh tubuhku bergetar karenanya, dia berbeda! Dia seperti bukan Ken. Sentuhannya begitu membekas dan terasa hangat, walaupun lembut tapi tetap penuh gairah.
“Agh, Ken!”
“Inggrid ..., aku suka caramu memandangku.”
Yah, kami menikmati alunan gerakan yang begitu sensual dari pasangan kami. Melepaskan rasa cinta dan nafsu dalam balutan keringat dan sentuhan mesra. Aku sempat was, was, bagaimana kalau Ra kembali muncul?! Namun, Ra sama sekali tidak muncul. Bahkan sampai sejauh sebelum kami melepaskan semua pakaian kami.
“Anak-anak!! Apa kalian di atas?!” teriakan mami mau tak mau membuat kami berdua berjengit kaget.
“Gawat!!” pekikku.
Kami berdua bergegas memakai kembali pakaian kami dan beracting seakan tidak terjadi apapun di antara kami.
Tok ... tok ...!
“Keano?” Mami Melody mengetuk pintu kamar Ken.
“Iya, sebentar.” Ken beranjak dan membuka pintu.
“Kalian sudah makan?” tanya mami.
“Erm, belum,” jawabku kikuk.
“Good, Mama beli bakso, ayo turun kita makan!” ajak Mami. Aku dan Ken saling menatap dengan lega, untung saja mami Melody tak memergoki kelakuan nakal kami.
— MUSE S4 —
Wah, si Melody pulang di saat yang tidak tepat!! 😂🤣😅
Berikan VOTE!!
Jangan lupa like dan juga comment.
Banyakkan.
Author mau curhat, sekarang regulasi novel membuat sebal. Bayangkan saja, udah nulis 60ribu kata per bulan pendapatan buat beli nasi bungkus aja nggak cukup, coba bayangin pengorbanan saya gaes 😭😭😭
Mana kemarin entah kenapa level MUSE turun peringkat. (Kelihatannya gara-gara saya nggak up dua hari pas akhir bulan kemarin soalnya S3 tamat.).
Nulis itu nggak gampang, mesti belajar banyak dan cari-cari artikel ttg konsep dan latar belakang dari cerita yang diangkat.
Walaupun genre romantis tp saya tak ingin melulu hanya sekedar kata “aku cinta padamu”, pengen ada sesuatu hal yang bisa saya sampaikan lewat tulisan saya.
Sedih juga saat tahu kalau novel ini nggak banyak yang baca. 😭😭😭
Jadi tolonglah gaes, bantu saya promosi. Hahahaha... 😘😘
Walaupun mungkin reward dr platform ini tak seberapa, kalau banyak yang bacakan hatinya bahagia.
Makasih udah baca curhatan author yang unfaedah.
🤭🤭🤭
Love you gaes
Sweet, dee
❤️❤️❤️