
MUSE S6
EPISODE 30
S6 \~ EPILOG
\~Mereka menutup malam yang indah dan hangat itu dengan persatuan, hentakan cepat, dan lengguhan keras. Mengobarkan bara asmara yang terus memanas di dalam hati.\~
_______________________
Bunyi musik mengalun lembut, selembut angin yang berhembus sore ini. Gabby memainkan biolanya dengan penuh perasaan di depan makam Krystal. Sudah enam bulan berlalu, Gabby mulai bisa kembali bermain biola, namun tidak sebaik dulu, masih kaku.
“Aku kemarin mengunjungi Adrian, Krystal. Apa kau kecewa karena aku melepaskannya?” Gabby menurunkan biolanya, ia bermonolog dengan makam berhiaskan batu granite di depannya.
Sunyi, hening, hanya desiran angin dan suara gemerisik dedaunan yang bergerak pelan.
“Tak pernah ku sangka hubungan kita akan menjadi serumit ini,” gumam Gabby, ia membersihkan dedaunan kering yang menutup rumput hijau pada pusara.
Gabby duduk pada tepian makam, menghembuskan napasnya beberapa kali sebelum akhirnya kembali berkata-kata, “aku akan menikah dengan Ivander akhir tahun ini.”
“Kau pasti merasa anehkan? Hahaha, aku juga merasa ini sangat aneh, cinta memang aneh, bisa membuatmu mulia dan juga menjadi manusia paling hina di dunia.” Gabby mencabut rerumputan liarnya.
“Aku akan menjaga Ivander. Aku akan menggantikanmu mencintainya. Aku akan mencintainya sama besarnya seperti kau mencintainya, Krystal.” Gabby menelan salivanya berat, masih jelas dalam benaknya kenangan akan sosok Krystal yang begitu mencintai Ivander. Gabby merasa menjadi perebut pacar sahabatnya sendiri walaupun nyatanya tidak begitu.
Air mata menetes pelan dari sudut mata Gabby, dengan jemarinya Gabby mengusap air mata itu. Namun semakin diusap, lelehannya malah semakin deras. Gabby menyerah, ia menangis terisak-isak, menangisi nasib dan keadaan mereka sampai detik ini. Krystal meninggal, Adrian menjadi gila, Gabby kehilangan fungsi tangannya.
Lalu, setelah semuanya terjadi Gabby menikah dengan Ivander, melanjutkan kehidupannya dengan bahagia. Gabby merasa hina, merasa tak enak hati dengan keadaan ini. Tapi bagaimana lagi, cinta tak bisa dibendung begitu saja.
“Sekali lagi, maafkan aku, Krystal. Aku pasti akan bahagia untuk kalian semua.”
— MUSE S6 —
Italy, dua bulan kemudian ...
Gabby menggandeng tangan Ivander, menyelusuri jalanan setapak dari tanah liat. Gabby tampak cantik dengan dress putih bruklat, topi bulat lebar berhiaskan topi, heels setinggi 5 cm berwarna senada. Di tangannya menyincing sebuah tas biola berwarna merah kecoklatan.
“Ayo cepat, Van!” Gabby menarik pergelangan tangan Ivander, berlari kecil, ingin segera sampai ke tempat tujuan.
“Pelan-pelan, Schatz!” Ivander dengan tas keranjang pikniknya mengekor di belakang Gabby, mempercepat langkah kakinya juga.
“Keburu mataharinya meninggi.”
“Yang membuat kita lambat itu heelsmu.” Ivander menujuk sepatu hak tinggi milik Gabby.
“Cantik bukan?” Gabby memamerkan lagi sepatunya, ia membeli sepatu cantik itu untuk pernikahan mereka. Dan selepas menikah, Gabby ingin memakainya saat berbulan madu.
“Kau lebih cantik!” Ivander menarik tangan Gabby, membuat istrinya membentur tubuhnya yanh keras.
“Ih, apaan sih?!” protes Gabby.
“Ayo aku gendong.” Tanpa bertanya Ivander membopong Gabby pada pundaknya dan melangkah dengan cepat.
“Waa!! Turunkan aku Ivander! Apa-apaan ini? Kenapa membopongku! Gendonganmu tidak romantis kau tahu!” Gabby memukul-mukul pelan punggung suaminya.
“Kau bilang ingin segera sampai! Jangan protes, Schatz, nikmati saja.”
Akhirnya Gabby menyerah, ia terus memegang topinya agar tak terjatuh. Beberapa turis lainnya yang melihat kemesraan mereka ikut terkikih. Gabby hanya bisa menebar senyum kecut, wajahnya memerah karena malu.
“Turunkan aku, Van. Semuanya melihat kita.” Gabby meronta.
“Baiklah, ada syaratnya.”
“Apa?”
“Cium aku, Gabby! Cium aku seakan tak ada lagi hari esok untuk kita berdua.”
“Di sini? Di depan mereka?”
“Kenapa? Negera barat lebih terbuka tentang hubungan mereka.”
“Baiklah!” Gabby merosot turun. Dengan segera ia melumatt bibir suaminya. Melingkarkan lengan pada leher Ivander, Ivander menahan pinggang Gabby agar mudah untuk menciumnya. Sinar matahari keemasan yang mulai muncul membuat hangatnya dekapan, dan manisnya perasaan terasa semakin indah.
“Ich liebe dich, Gabby!”
“Ich liebe dich, Miene Liebe.”
Puas mengecup bibir kekasihnya, Ivander kembali menggandeng Gabby, menyelusuri hamparan padang bunga lavender yang begitu indah. Mereka duduk, menikmati pemandangan indah, sinar matahari yang hangat, dan cinta yang merekah dengan begitu manis.
Ivander tidur di pangkuan Gabby sembari mendengarkan Gabby memainkan biolanya. Gabby menggeseknya pelan, menimbulkan bunyi lembut yang memecah keheningan pagi. Menyalurkan juga kisah cinta mereka pada beberapa orang turis di sekitarnya.
“Du bist für immer meins!” ucap Ivander.
(Kau milikku selamanya)
“Ja, Schatz,” jawab Gabby, ia mengecup lagi bibir Ivander.
— MUSE S6 —
BYURR!!!
“Kya!!” Gabby terpekik saat dengan sengaja Ivander melemparkannya pada kolam renang hotel.
Dengan bergegas Ivander menyusul Gabby, terjun ke dalam kolam dan menangkap perut rampingnya.
“Geli!!” Gabby sebal karena Ivander menggelitik perutnya.
“Kemana kita setelah ini?” Ivander melirik ke arah istrinya. Sudah dua hari ini mereka menikmati langit Kota Capri, berbulan madu di Italy, kota yang romantis selain Paris, ah, tidak, bagi mereka Italy mungkin lebih romantis dari pada Perancis.
“Gelatto? Naik perahu di kanal? Menyelusuri Capri dengan vespa retro, mencoba semua pasta, makan pizza yang baru saja matang?” Gabby menuturkan semua keinginannya.
“Bayak sekali keinginanmu?” Ivander terkikih.
“Yah, sudah lama tidak trip jauh! Ayo nikmati saja, kita coba semuanya.”
•
•
•
Ivander menuruti semua kemauan istrinya, mengantarkannya berkeliling dengan vespa sewaan. Mencoba berbagai macam makanan di sepanjang perjalanan. Pasta, pizza, meat ball, gellato, sampai berbagai jenis keju dan kudapan manis.
Beberapa penjual lokal yang tak bisa berbahasa Inggris terpaksa harus menggerak-gerakkan tangannya seperti orang gila, begitu juga mereka berdua, bermain bahasa isyarat, yang penting mengerti.
“Two for yu, gaes. Just pay for one! Free for you honeymoon servis,” ucap penjual gelatto dengan bahasa seadanya saat mereka membeli dua cup besar untuk di nikmati di dalam hotel.
“Hah?? Benarkah?? Grazie!!” Gabby bersorak kegirangan, dia membentuk love besar dengan kedua tangannya tersambung di atas kepala.
“Welcome welcome!”
Gabby dan Ivander juga mendapatkan servis makanan gratis dari penjual pasta Italia di pinggir kota untuk makan malam mereka. Ia memberikan ekstra agli olio, lengkap dengan ekstra kerang pada vongole pesanan Gabby.
“Bagaimana rasanya?” tanya penjual dengan bahasa Italy.
“Perfecto!!” jawab Gabby.
“Yummy!” tambah Ivander, Gabby meliriknya.
“Perfecto!” Angguk Ivander menurut.
(Sempurna)
“Grazie, eat, eat!”
(Terima kasih, makanlah!)
Tak terasa malam mulai datang, puas menikmati makan malam romantis mereka pada sebuah kedai pasta, Ivander kembali mengajak Gabby pulang ke hotel.
“Siap untuk teriakan lagi, Schatz?” tanya Ivander, ia langsung memeluk Gabby begitu sampai di hotel.
“Sure, Schatz. Wann immer du willst.” Gabby melingkarkan lengannya pada leher Ivander.
(Tentu, Sayang. Kapanpun kau mau)
Ivander tersenyum, ia melucuti satu per satu pakaian yang di kenakan mereka berdua. Lalu dengan lembut Ivander menggendong Gabby, meletakkannya pada bathtube yang telah terisi oleh air hangat dan bath boom beraroma lavender.
Gabby tersenyum saat Ivander mulai ikut mencelupkan dirinya ke dalam bak. Ia menarik Gabby, membawa tubuh istrinya untuk berada tepat di atasnya. Gabby memainkan jemarinya lembut pada dada bidang Ivander.
“Bersihkan aku, dan aku akan membersihkanmu.” Ivander berbisik pada telinga Gabby, meluapkan rasa panas yang penuh gairah.
Gabby menangkupkan tangannya pada wajah Ivander, menatap mata hazel itu sesaat sebelum akhirnya mellumat cepat bibirnya, meledakkan rasa cinta yang penuh dengan hasrat dan nafsu.
Sapuan demi sapuan terusap mesra pada tiap jengkal kulit Ivander. Ivander menikmati fingger servis dari istrinya, sebelum akhirnya ia membalas Gabby dengan sentuhan yang tak kalah hangat dan sensual.
“Aku mencintaimu, Gabby.”
“Me too.”
Mereka menutup malam yang indah dan hangat itu dengan persatuan, hentakan cepat, dan lengguhan keras. Mengobarkan bara asmara yang terus memanas di dalam hati.
“Arg, Ivander ...,” rancau Gabby.
— MUSE S6 —
Apa yang bisa kalian dapat dari cerita Muse S6? Tuliskan di kolom komentar ya, 4 orang dengan komentar terbaik berhak mendapatkan pulsa @25rb. Di tunggu komentar terbaiknya sampai tanggal 5/9/20, diumumkan tanggal 6/9/20
Dengan berakhirnya S6 maka berakhir pula giveaway pulsa untuk voter terbanyak setiap minggunya. (Minggu ini terakhir ya.)
Lalu juga dengan berat hati Author memutuskan untuk hiatus, tapi tenang saja karena MUSE S7 akan kembali lagi. Dengan cerita Levin dan juga Leoni. Terbutchinlah ini.
Semoga kalian tetap sehat, tetap semangat, dan tetap menebarkan banyak cinta untuk orang sekitar.
Tetap go green dan sayangi bumi dengan menghemat air, listrik, dan penggunaan plastik.
Jangan lupa buang sampah pada tempatnya!! Sayangkan sekolah tinggi-tinggi masih buang sampah sembarangan 😘😘😘
Terus author mau curhat unfaedah lagi. Othor dan butchinnya. Pekara burung ini, berat!! 🤧🤧
OR : cepatan Cin, uda nggak tahan ini!
Bucin : Tahan dulu, bentar lagi! Tahan ya!
OR : jangan dalem-dalem, sakitlah!🤧
Bucin : Nggak dalem keluar donk!😒
OR : ya udah cepetan! Capek nih, masa uda mo setengah jam kek gini terus.🙄🙄🙄
Bucin : iya, iya ini udah bentar lagi. Ga tau lagi asyik aja! 😒
5 menit kemudian
Bucin: udah no!
OR : akhirnya!!
Bucin : dah sekarang lepasin!! 😒
Or : OK! Bye burung, tumbuh besar dan sehat ya.😘
Ceritanya OR lagi megangin anakkan burung love bird. Si Bucin lagi ngelolohin makanan cair pake pipet.
Hayoo sapa yang mikir mesum? Yang mikir mesum ketahuan otaknya kotor 🤣🤣🤣🤣
Wkwkwkwkkw