
MUSE S2
EPISODE 72
S2 \~ KETAHUAN
\~ Kalila memang obatku, satu-satunya penawar dari jiwaku yang rusak. Cintaku padanya membuatku menjadi manusia yang lebih baik, membuat hatiku yang keras menjadi lembut, membuat naluri kejamku yang tajam menjadi tumpul. \~
•••
“Hatching!!”
“Hatching!!”
Sialan, pagi ini hidungku sangat gatal dan berair. Sepertinya aku akan terkena flu. Tidur tanpa pakaian setelah berhujan-hujanan membuatku gampang terserang flu.
“Pagi, Tuan Arvin.”
“Pagi, Boss.”
“Pagi, Pak.”
Itulah kalimat yang ku dengar berulang-ulang mulai saat turun dari mobil pada lobby depan sampai ke dalam ruang kerja. Kata-kata sambutan selamat pagi terdengar dari setiap pegawai yang berpapasan denganku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan atau lambaian tangan ringan. Mulutku bisa kering kalau menjawab mereka semuanya.
Aleina dan Noah terlihat masih mengekor di belakangku, sedikit tergesa-gesa memang karena aku bolos kerja tanpa persiapan apapun kemarin. Jadi aku harus menebus pekerjaanku yang tertunda.
“So, apa masalahmu, Noah? Kenapa kau ikut mengekorku?” Aku keheranan, tak biasanya kepala programerku ini mengikutiku dipagi hari. Kecuali ada meeting penting
“Masuk dulu saja, Boss.” Noah membukakan pintu ruanganku begitu kaki kami berhenti tepat di depan pintu.
Aku masuk dan bergegas duduk pada singasanaku yang nyaman. Ah, permainan semalam membuat punggungku sakit. Pasalnya sudah lama aku tak melakukannya dan aku bermain terlalu lama.
“Saya mau cuti, Boss.” Noah berdiri di depanku, sedangkan Aleina menyeduhkan secangkir teh jahe sebagai pereda flu.
“Heung?” Aku menaikan sebelah alisku tanda meminta alasan.
Tak biasanya Noah cuti, dia sudah bekerja denganku dari perusahaan ini saat masih berupa perusahaan rumahan. Dulu Noah adalah adik tingkatku saat kuliah. Kini kalian tahukan, kenapa hanya dia yang tidak pernah sopan saat memanggil namaku.
“Saya akan melamar pacar saya, Boss.” cengir Noah.
“Kau punya pacar?”
“Tentulah, dan dia ribut karena kami LDR sekarang.” Noah, pria berrambut coklat gelap itu akhirnya duduk di depanku juga. Aku bosan harus mendongak dari tempat dudukku saat melihat wajahnya.
“Lalu apa hubungannya LDR dengan lamaran? Lamaranpun kalian tetap akan LDR.”
Logikaku benar bukan? Emangnya keributan kekasihnya akan mereda kalau mereka lamaran?
“Boss, anda tak tahu betapa berartinya kata-kata lamaran bagi seorang wanita, ya?”
“Sembarangan, taulah,” padahal aku tidak tahu dan tak pernah berpikir tentang hal itu sebelumnya.
“Melamar berarti mengikat, jadi kita membuktikan kesungguhan terhadap sebuah hubungan. Yah, semacam jaminan kalau kita tak akan menghianati pasangan kitalah, Boss.” terang Noah.
“Berapa hari?” tanyaku.
“Seminggu saja, Boss. Jangan potong bonus tahunannya, ya, Boss.” Noah mengiba.
Ternyata begitu maksudnya mencariku, pantas saja, padahal untuk jabatan setingkat dirinya cuti harusnya cukup memberikan surat pada bagian personalia. Lagian diakan bisa bekerja di mana saja asal ada sambungan internet.
“Ck, ternyata,” lirihku, Aleina ikut tertawa mendengarnya.
“Tolonglah, Boss. Saya harus memberikannya cincin, dan harganya tidak murah.”
“Oke, oke, tak ada potongan. Catat Aleina!” Aku mengetuk-ketukkan bolpoin pada meja.
“Noted.” Aleina sudah mencatatnya.
“Thanks, Boss.” Noah tersenyum bahagia seraya bangkit dan memeluk Aleina.
“Thanks, Na!!” Noah memeluk dan mencium pipi Aleina,
Noah memilih mencium Aleina alih-alih mencium atau memelukku. Aku sendiri juga jijik kalau menerima pelukkannya. Akukan cowok normal, sedangkan Noah tahu bahwa Aleina tak menyukai pria.
“Hentikan! Itu menjijikan!” seru Aleina.
“Hahaha..., dasar! Cantik-cantik kelainan.” ucap Noah. Aleina dan Noah memang sahabat yang sedikit sarkastik, saling hina dan saling menghujad namun tak pernah ada rasa sakit hati di antara mereka.
Tak berapa lama Noah keluar dari ruanganku dan Aleina memberikan banyak sekali dokumen di atas meja kerjaku. Membuat sakit kepalaku bertambah parah saja.
“Na, apa benar yang di katakan Noah? Bahwa melamar wanita akan membuatnya semakin mencintaimu?” Aku benar-benar kepikiran dengan ucapan Noah pagi ini.
“Ya, tentu saja. Tidak ada wanita yang tidak menyukainya.”
“Walaupun baru kemarin kau jadian?”
“Hmm..., kalau itu, sih, agak berlebihan.” Aleina menjawabnya dengan lirih.
Masuk akal juga sih, memangnya ada orang yang melamar di hari ke dua mereka jadian? Lagi pula Kalila belum tahu kekuranganku, aku juga belum yakin dia akan bisa menerimaku apa adanya. Terlalu berlebihan melamarnya saat ini. Walaupun sebenarnya aku memang ingin mengikatnya untuk memberinya tanda bahwa dia milikku. Wanita ini milikku dan aku tak akan membiarkan siapapun mendekatinya.
“Hadiah saja, Tuan. Berikan dia hadiah.”
“Hadiah, ya? Boleh juga idemu, Na.”
“Ajak dinner dan berikan dia hadiah itu.”
“Menurutmu wanita suka apa?”
“Benda berkilauan dengan harga selangit.” jawab Aleina seraya membereskan dokumen di atas mejaku.
“Ah, benar!” seruku. Wanita mana yang nggak suka berlian?
“Saya permisi, Tuan.” Aleina menyelipkan sebuah file case pada lempitan sikunya, sedangkan tangannya yang lain mendorong pintu agar terbuka.
Aku mengamati situs penjualan resmi sebuah merek perhiasan terkemuka. VCA, baru saja meluncurkan produk barunya. Sebuah gelang dengan bentuk daun semanggi empat, harganya terbilang cukup fantastis. Aku membandingkannya dengan milik ca*tier, sama-sama cantik, namun design ca*tier lebih mewah, sedangkan VCA lebih kalem.
Kriing....
Bunyi intercom terdengar, aku menekan timbol hijau untuk menjawabnya.
“Tuan, Nona Diana datang.”
“Hah?? Lagi??”
“Bagaimana?”
“Suru dia masuk, Aleina,” menilik hubungan kekerabatannya dengan kakak iparku membuatku tak bisa menolak atau mengusirnya begitu saja.
“Silahkan, Nona.” Aleina membukakan pintu.
Diana duduk pada sofa, dagunya yang lancip membuat wajahnya terlihat lonjong. Ia duduk dengan tegap, menyanding tasnya yang berharga puluhan juta. Ah, benar juga, Diana adalah wanita yang punya selera tinggi, mungkin tak ada salahnya aku bertanya padanya.
“Ehm..., Din. Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa itu?”
“Menurutmu ini dan ini bagus mana?” tangaku sambil memegang tablet pintar. Aku mendekati Diana dan menunjukan kedua gambar perhiasan milik Ca*tier dan VCA.
“Aku lebih suka VCA. Designnya lebih lembut dan kalem.” Diana menjatuhkan sedikit kepalanya ke kanan saat mengamati gambar.
“Baiklah, aku akan membelinya.” Aku beranjak kembali ke meja kerjaku.
“Kenapa tak menghubungiku, Vin? Mamamu dan Mamaku sudah begitu gencar membicarakan tentang lamaran kita?” Diana mendekatiku.
“Hah??! Lamaran?!” Aku tersentak kaget. Hari ini banyak sekali kata-kata ‘lamaran’ yang ku dengar.
“Benar.” Diana mengelus punggungku dengan jari-jarinya yang ramping.
“Diana, kita bahkan tidak saling mengenal untuk bisa dikatakan saling cinta apa lagi sampai lamaran!” tolakku.
“Aku mengenalmu Arvin. Aku tau segalanya tentangmu. Bahkan juga hobi anehmu...,” Diana berbisik lirih pada telingaku.
“Apa maksudmu?!” Aku kaget mendengarnya.
“Aku tahu penyimpanganmu, Arvin. Aku tahu kau suka menyiksa wanita sebelum berhubungan dengan mereka.” Diana duduk di atas mejaku, belahan pada roknya membuat paha putihnya terlihat.
“Dari mana kau tahu?!” Aku tak habis pikir, selama in bahkan tidak ada yang tahu wajahku, aku selalu menutup mata mereka. Hanya Kalila yang aku biarkan melihat wajahku karena dia datang terlambat. Saat itu Aleina sudah pulang, tak ada yang membantuku menutup matanya.
“Dari mana??!” teriakku, aku bingung.
Bahkan orang tuakupun tidak tahu, bahkan satu kantorpun tidak tahu. Br*ngsek!! Siapa yang memberi tahu Diana? Akan aku bunuh orang itu!
“Jadi benar, ya?” Diana menutup mulutnya setengah tak percaya.
“Apa?!” Aku tercengang, justru aku yang membuka aibku sendiri.
“Pertama aku kira hanya ucapan bohongan dari seorang artis yang pernah aku rias. Jadi aku hanya memancingmu.” Diana bangkit dari atas meja.
“Tapi begitu melihat ekspresimu saat ini. Ternyata mereka tidak berbohong.” Diana menarik dasiku, membuat wajah kami saling berdekatan.
“Diana!!!” bentakku.
“Pikirkanlah, Arvin! Kita menikah, atau aku sebarkan aibmu. Biar seisi dunia tahu, betapa bejatnya dirimu!” Diana mengancamku.
“Kau sudah tahu, dan masih ingin menikahiku? Kau tidak takut aku menyiksamu? Menghajarmu sebelum kita berhubungan?”
“No, lakukan saja, siksa aku seperti kau menyiksa wanita-wanita itu.” Diana mencium keningku sebelum akhirnya beranjak dan menyahut tasnya.
“Kau gila!!”
“Bukankah kau juga gila?! Kita sama-sama gila, Arvin!” Diana menyeringai seakan-akan menunjukkan bahwa ucapanku salah.
“F*ck!”
“Berhentilah mengumpat dan pikirkanlah tawaranku baik-baik, Arvin!” Diana keluar dari ruanganku.
“Sialan!!” geramku marah.
— MUSE S2 —
•••
Kepalaku terasa pening dan berputar-putar. Flu menambah beban pikiranku semakin terasa berat. Aku kehilangan rasa percaya diriku karena ucapan Diana. Aku memang monster, aku memang laki-laki baj**gan. Tapi aku benar-benar berharap untuk sembuh, menjadi pria normal yang mencintai wanita dengan sepenuh hati.
Aku ingin bertemu dengan Kalila. Hanya dia yang bisa meredakkan kegundahanku saat ini. Melihat wajahnya bisa membuatku merasa lebih baik.
Kalila memang obatku, satu-satunya penawar dari jiwaku yang rusak. Cintaku padanya membuatku menjadi manusia yang lebih baik, membuat hatiku yang keras menjadi lembut, membuat naluri kejamku yang tajam menjadi tumpul.
Aku benar-benar menikmati hubungan kami, aku benar-benar sembuh saat bersamanya. Aku tak harus menyiksanya dan tetap terpuaskan, bahkah jauh lebih puas dibanding dengan semua waktu yang pernah aku habiskan saat bersama dengan wanita-wanita itu.
Aku menyahut ponsel dan melakukan panggilan padanya.
“Hallo.” Ah, suaranya yang merdu terdengar di ujung sana.
“Hallo, baby, makan siang, yuk!” ajakku.
“Nggak bisa, aku masih harus jaga cafe. Nggak enak sama anak-anak kalau nggak kerja.” Kalila menolak ajakkanku, tentu saja, seharian dia membolos kemarin.
“Yah, oke, deh. Ntar sore aku mampir ke cafe.” Aku ingin sekali bertemu dengan dirinya.
“Oke.”
“See you, baby.”
“Eh, tunggu, Kak! Makasih, ya, bunganya. Bagus banget.”
“Bunga apa?” tanyaku bingung. Aku tak pernah mengiriminya bunga. Hadiahnya saja baru aku pesankan.
“Kau mengirimiku bungakan, Kak?” tanyanya lagi.
“Tidak, aku tak mengirimimu bunga.”
“Lalu siapa?”
“Ada nama pengirimnya?”
“Tidak.”
“Dari toko bunga mana? Apa tidak ada tanda terimanya?”
“Ah, aku menanda tanganinya, tapi tak meminta bukti antarnya. Aku kira kau yang mengirimnya, Kak.”
“Aku akan ke sana sekarang, Kalila.” Aku menutup panggilanku.
Siapa? Siapa yang mengirim bunga pada Kalila? Siapapun yang mengirim bunga itu pada Kalila dia pasti punya maksud untuk mendekatinya.
“ARG!!! SI*LAN!!” Aku menjambak rambutku dengan kasar. Belum selesai masalah Diana, muncul lagi sebuah masalah baru. Aku menyahut kunci mobil dan segera berangkat.
Aku tak akan membiarkan siapapun mendekati Kalila! Dia milikku!!
— MUSE S2 —
Yo ho ho ho ho....
Muse up.....
Dimohon untuk LIKE COMMENT VOTE!!
Yang banyak ya readers..
Plisss.... vote kalian berarti banyak buat saya...
🥺🥺🥺
Makasih ya readers.
Stay healty stay safe.
Cuci tangan sebelum makan, setelah beraktivitas.
Jangan lupa banyak makan makanan bergizi.
Semangat gaes, walupun di rumah saja tetep lakukan yang terbaik ya.