MUSE

MUSE
S7 ~ IMPIAN



MUSE S7


EPISODE


S7 \~ IMPIAN


Pukulan demi pukulan mulai bertubi-tubi terlihat dalam pertandingan kali ini. Baik Levin maupun Arvin mulai kepayahan. Keduanya tak menyerah maupun tumbang padahal sama babak belurnya.


__________________


Levin masuk ke dalam kamar, ia melepaskan sembarangan sepatunya dan melemparkan diri ke atas ranjang. Teringat kembali ciumannya dengan Leoni sebelum pulang sekolah, rasanya manis dan mendebarkan. Jauh lebih mendebarkan dibanding melaju dalam kecepatan eksra pada track dan jalanan licin itu.


Levin menatap kancing baju seragam milik Leoni. Lalu menggenggamnya rapat-rapat. Hal-hal kecil tak masuk akal seperti ini bisa membuat hatinya bahagia. Sepertinya benar kata orang, cinta membuatmu gila, membuatmu lupa diri.


“Vin!” seruan memanggil namanya terdengar dari lantai bawah.


“Ah, iya, aku ada janji dengan Daddy.” Levin bangkit, ia menyimpan kancing, lalu berganti pakaian yang lebih nyaman sebelum turun menemui Ayahnya.


“Kau sudah siap?” tanya Arvin begitu putranya turun.


“Kita mau ke mana, Dad?” tanya Levin gantian, bingung dengan ajakan Arvin.


“Mau temani Daddy latihan?” Arvin melemparkan sarung tinju ke arah Levin.


“Sudah pasti aku kalah.” Levin menyandang sarung itu pada pundaknya, berjalan lemas.


“Kalau Daddy kalah, kau boleh minta apapun.” Arvin tersenyum. Levin langsung tersenyum.


“Berjanjilah Daddy akan mengalah!” Levin terlihat antusias.


“No, i’ll not take easy on you, Boy! Kau harus memperjuangkan impianmu kalau kau memang menginginkannya.” Arvin melemparkan kunci motor.


Levin bergegas mengambil sepatu dan mencium pipi Kalila untuk berpamitan. Arvin mengerling pada istrinya. Memang Arvin tak bisa mencabut keputusannya sebagai seorang ayah dan lelaki karena Levin telah melanggar janjinya. Tapi mungkin ada cara lain untuk mendapatkan kembali kesempatan itu. Ya, dengan cara Arvin kali ini.


“Jangan keras-keras padanya, Kak. Dia hanya anak kecil.” Kalila berkata pada Arvin saat Levin sudah lebih dahulu keluar.


“I know, Baby.” Arvin tersenyum dan keluar dari rumah. Membonceng Levin menuju ke area gym terdekat.


Levin membetulkan sarung tinjunya, begitu pula Arvin. Mereka berdua memulai pemanasan sebelum bertanding boxing. Olah raga keras itu menjadi penentu Levin memperoleh restu dari kedua orang tuanya.


“Ready?!” Wasit menengahi, Levin menatap tajam ke arah Arvin, begitu pula Arvin. Ia tak meremehkan anaknya, walaupun baru saja lulus SMP Levin punya tinggi badan hampir 170, cukup tinggi untuk anak seusianya.


“Fight!!” Wasit mengangkat tangannya.


Levin mengayunkan pukulan lebih dahulu. Arvin mengelak dengan mudah. Mereka kembali menjaga jarak. Levin mencari lagi kesempatan, gairah masa muda membuatnya bersemangat untuk segera menyerang lawan. Berbeda dengan Arvin, ia tetap tenang dan menunggu titik lemah Levin.


“Hiya!!” Levin mengayunkan hook dengan cepat, namun lagi-lagi Arvin menghindarinya dengan mudah, ia menunduk dan memukul perut anaknya.


“Akh!!” pekik Levin kesakitan.


“Ayo bangkit!! Apa cuma segitu kemampuanamu, Boy!” Arvin mengulurkan tangannya, Levin mengerutkan alisnya mulai serius. Ia meraih tangan Ayahnya, kembali berdiri dan membentuk kuda-kuda.


Arvin mengarahkan pukulannya, Levin melingsut dan memukul pinggang sang ayah. Kini poin mereka sama.


“Good Boy!!” puji Arvin.


Levin menyeringai, ia mulai mengerti permainan ini. Dengan segera Levin membentuk kuda-kuda. Mencari kembali celah dan juga kesempatan untuk menyerang lawannya. Boxing bukan pertarungan jalanan, butuh startegi dalam mengayunkan tinjunya. Butuh perhitungan dan juga sedikit bumbu keberuntungan.


Pukulan demi pukulan mulai bertubi-tubi terlihat dalam pertandingan kali ini. Baik Levin maupun Arvin mulai kepayahan. Keduanya tak menyerah maupun tumbang padahal sama babak belurnya.


“Pukulan terakhir!” Saru Levin tiba-tiba, ia mengayunkan hook keras dengan tangan kanannya, Arvin menunduk untuk menghindari serangan Levin, namun ternyata Levin hanya mengecohnya. Tangan kiri Levin yang maju, memberikan up punch pada perut Arvin dan membuat tubuh Pria itu terjungkal.


“Dad!!” seru Levin, takut tenaganya terlalu berlebihan.


“Hahahaha!!! Kau menang Boy!!” Arvin mengusik kepala Levin. Levin tersenyum lega, ia ikut rebahan di atas ring. Menikmati kemenangannya. Bahu keduanya naik turun tak beraturan. Deruan napas terasa berat dan panas karena gerakan fisik.


“Daddy sudah menyiapkan apartemen di Madrid. Juga pendidikan home schooling di sana. Kau bisa berlatih menjadi pembalap tanpa melupakan sekolahmu.” Arvin masih tersenggal, keringatnya bercucuran karena lelah. Staminanya sudah tak sebaik saat masih muda dulu.


“Thanks, Dad.”


“Ingat Levin!! Kau harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang kau mulai!” Arvin melempar pandangan ke langit-langit ruang Gym.


...— MUSE S7 —...


Kalila mengobati luka-luka bonyok pada wajah suami dan anak bontotnya. Tak menyangka bahwa latihan singkat mereka ternyata separah ini.


“Ck, nggak yang tua nggak yang muda, sama aja.” Decak Kalila sebal.


“Ya kan Levin anaknya Daddy. Miriplah.” Levin nyengir, lalu berhigh five dengan ayahnya.


“Bandel banget sih?!!” Kalila gemas, ia menekan luka lebam di pipi Levin dengan jari penuh saleb.


“Adduduh sakit, Mom!!” keluh Levin.


Setelah menerima wejangan panjang lebar dari Kalila. Levin bergegas menyahut lagi jaket dan juga kunci motornya. Membuat kedua orang tuanya heran.


“Kemana? Kan masih sakit!” tukas Kalila.


“Istirahat dulu!” pinta Arvin.


“Nope!! Aku harus segera membagi berita bahagia ini pada Leoni.” sahut Levin.


“Leoni?” Arvin dan Kalila berseru bersama.


“Kami pacaran hari ini.” Cengir Levin lebar.


“Hah???” Keduanya tercengang tak percaya:


“Bye Mom, Dad!!” seru Levin seraya meninggalkan ruang keluarga.


Levin mengendarai motornya, menuju ke rumah Leoni, ia tak sabar untuk membagi kabar suka cita ini. Mereka sudah resmi berpacaran, tentu saja Leoni adalah manusia pertama yang harus mendengar berita ini.


“Levin!! Kau kenapa?” Leoni kaget melihat wajah Levin bonyok.


“Bukan apa-apa kok. Cuma tadi latihan sama Papa.” Levin tersenyum, ia turun dari atas jog motor dan menghampiri Leoni.


“Serius?? Latihan sampai bonyok?”


“Latihan sambil mempertahankan harga diri dan sebuah kesempatan.” Levin terkekeh.


“Hah???” Leoni bingung.


“Kok sepi?” tanya Levin.


“Papa Mama keluar makan malam. Aku tak ikut karena harus menyelesaikan pahatanku untuk ujian praktek masuk SMA.” Leoni menggandeng Levin masuk ke dalam studio kriya miliknya.


“Kau memahat apa?” tanya Levin.


“Michael,” jawab Leoni, ia mengambil sudip kecil, mulai mengikis pelan-pelan pada bagian sayap, bagian itu butuh perhatian ekstra.


“Kenapa memahat lelaki?” Levin duduk di samping Leoni, melihat kekasihnya melakukan pekerjaannya dengan teliti dan hati-hati.


“Dia malaikat perang, Levin!! Bukan lelaki!!” Leoni mengdengus kesal, benarkah Levin sudah cemburu pada sebuah patung?


“Ah, Michael!! Aku tahu!” Levin terkikih, baru sadar dengan kebodohannya.


“Ada apa kemari malam-malam? Seperti tak ada hari esok saja!” Leoni mencibir Levin.


“Ada berita penting!! Aku ingin segera mengatakannya kepadamu, Babe!” Levin memutar kursi Leoni, kini mereka saling berhadap-hadapan. Levin mencubit gemas pipi Leoni.


“Apaan sih?” Leoni kesal, cubitan Levin menyakitkan.


“Aku akan ke Madrid bulan depan, aku akan mengejar impianku untuk menjadi pembalap profesional.” Levin tersenyum.


“Apa kau bilang?!” Leoni langsung kehilangan ekspresi wajahnya.


...— MUSE S7 —...


...Hiks,,, baru jadian udah mau ditinggal aja sih!! Babang Lepin jaat agh!!...


...💋💋💋💋...