
MUSE S5
EPISODE 177
S5 \~ LUCAS
\~ Aku memang belum pernah membunuh orang sebelumnya. Tapi aku tidak keberatan melakukannya demi wanitaku!!\~
_____________________
AUTHOR POV
Lucas menyeringai, ia mendekat ke arah Bella.
“Hallo, Ella! Apa kau kemari untuk mendukungku?” tanya Lucas.
“Jangan Ge-eR!” sanggah Bella.
Senyuman terkembang di wajah tampan Lucas, sedangkan rona kemerahan muncul pada wajah cantik Bella.
Lucas naik ke atas ring, ia melemaskan bahunya beberapa kali sebelum mengambil kuda-kuda pertama, mengepalkan tangannya di depan dada. Lawannya juga melakukan hal yang sama.
“LUCAS!!!” teriakan penonton kembali terdengar riuh, membuat tubuh Bella merinding.
Ternyata dia sangat terkenal, ya, batin Bella. Ia berjalan menuju sedikit lebih ke depan agar bisa melihat pertandingan Lucas dengan jelas.
TENG!
Bunyi bel yang diketuk oleh dewan juri menandakan pertandingan dimulai.
Baik Lucas dan lawannya saling mengamati sesaat sebelum akhirnya bergerak. Mereka saling memandang dengan tajam, seakan menilai lawan. Lucas mundur sedikit ke samping saat lawannya melayangkan hook pertamanya, membuat tubuhnya lusut dari serangan itu.
Lucas tak menyia-yiakan kesempatan ini, melihat bagian dada dan perut lawannya yang terbuka. Lucas menyerangnya, memberikan zap pertamanya. Poin untuk Lucas.
TENG! Bunyi bel ronde kedua, boxing memang terbagi dalam beberapa ronde dengan waktu 3 menit per rondenya.
Lucas menaruh tangannya di depan wajah, menangkis serangan bertubi-tubi dari pihak lawannya, lawan Lucas kali ini cukup kuat, ia adalah pemenang dari beberapa pertandingan kelas berat sebelumnya. Namun Lucas tak hanya bertahan, ia juga menunggu kesempatan yang pas untuk menyerang balik.
Wasit melerai, mereka memberi jarak tanding kembali. Meloncat pelan sambil sedikit berzig zag, lalu secepat kilat Lucas menyambarkan tinjunya dan mengenai wajah lawannya. Pria kekar itu hampir terpelanting ke samping. Ia menggoncangkan kepalanya untuk mencari kembali kesadarannya.
Poin ekstra untuk Lucas karena berhasil mengenai kepala lawan. Seringai Lucas membuat lawannya panas, emosi, dan marah.
“Sialan!!” Ia mengayunkan tinjunya, memberikan zap keras ke perut Lucas. Lucas terlabat menangkisnya, ia memukul perut dan dada Lucas. Membuatnya tersungkur ke bawah.
Bella menutup mulutnya, ia tak tahan saat melihat Lucas terkena serangan telak. Wajahnya ketakutan, sontak Bella mengucapkan semangat untuk Lucas. Lucas sepintas melihat ke arah Bella, wajah cantiknya berkerut karena cemas.
Ck, dia bilang tidak datang untuk mendukungku, dasar pembohong kecil, Lucas tertawa dalam hatinya.
Lucas bangkit, kembali ke sudut ring untuk menghabiskan waktu jeda antar ronde.
TENG! Ronde berikutnya di mulai. Tak terasa pertandingan sudah berjalan hampir 3/4 bagian. Pertandingan semakin memanas, baik Lucas dan juga lawannya sama-sama kehabisan tenaga. Mereka saling beradu tinju dan juga kekuatan. Memberikan luka dan juga lebam di wajah maupun tubuh lawannya.
“Baiklah, ayo selesaikan sekarang! Ada wanita yang menunggu kemenanganku.” Lucas tersenyum, matanya menatap semakin tajam.
Lucas meloncat maju, memberikan hook bawah ke arah dada lawannya. Beruntung lawannya sigap, ia menahan serangan Lucas. Lucas terus melayangkan tinju beruntun sampai lawannya terdorong mundur, lalu saat melihat wajah lawannya yang kosong Lucas langsung memberikan hook depan dan ....
BUAK!!
Tinju Lucas mengenai wajah lawannya, sampai pria tegap itu terpental. Tak berhenti di situ, Lucas memberikan serangan terakhirnya, sebuah upercut dengan tangan kiri, membuat lawannya terpelanting ke kanan.
“YES!!” teriak Bella spontan. Bella terlihat begitu bahagia saat melihat kemenangan Lucas.
“Bell, gantiin aku dulu, ya, kebelet pipis nih.” Tasya mengagetkan Bella dari belakang, Bella mengangguk tanda setuju dan bergegas kembali mengelilingkan dagangan mereka.
“Satu ... dua ... tiga ... sepuluh!! K-O!!” Wasit menghitung sampai hitungan ke sepuluh dan menetapkan lawan Lucas telah tumbang, tak lagi bisa melanjutkan pertandingannya.
“PEMENANGNYA LUCAS!!!” teriak MC saat wasit mengangkat tangan kanan Lucas ke atas sebagai tanda kemenangannya.
“Lucas!! Lucas!! Lucas!!” Hingar bingar penonton menggema di seluruh area gedung olah raga. Berbahagia karena junjungan mereka berhasil memenangkan pertandingan kali ini.
Lucas mengangkat tangannya, tersenyum bahagia. Matanya sibuk menyisir area penonton, mencari gadis cantik dengan baju birunya yang begitu menggoda. Lucas kecewa karena tak menemukan sosok Bella, Lucas kecewa karena Bella tidak melihat kemenangannya.
— MUSE S5 —
Bella melanjutkan pekerjaannya, menyelusuri bagian luar gedung, ia tak bisa menjual minumannya di dalam karena semua penonton sibuk bersorak untuk kemenangan Lucas.
“Capeknya!!” keluh Bella, ia akhirnya duduk di bangku beton dekat parkiran motor. Duduk menyendiri beberapa saat sampai akhirnya sebuah suara membuatnya berjengit.
“Wah ada cewek cantik nih!” Seorang cowok mendekati Bella, ia bersama dengan beberapa orang temannya.
“Hallo, apa mau beli minuman?” Bella bangkit, mencoba menawarkan botol minuman yang dari tadi bersarang di genggamnya.
“Kami mau beli kamu saja bagimana?” godanya, ia menjulurkan lidahnya saat melihat kemolekan tubuh Bella.
“Maaf, jangan ganggu saya.” Bella mundur beberapa langkah ke belakang.
“Wah, jual mahal dia!” katanya pada teman-temannya yang lain, mereka semua tertawa.
Bella mundur, namun langkahnya terhalang pilar bangunan. Kakinya mentok, membuat cowok itu dengan leluasa mendekati Bella. Bau alkohol keluar dari napasnya, Bella sudah hapal benar dengan bau memuakkan itu. Mamanya selalu pulang dalam keadaan mabuk dan baunya sangat menyengat.
“Tolong jangan begini! Atau Saya akan berteriak!” ancam Bella.
“Teriak saja!! Siapa suru berada di parkiran motor, memang ada yang dengar malam-malam begini? Lagian mereka masih di atas, menonton pertandingan si brengsek Lucas!” ejek mereka, ternyata mereka bukan fans Lucas, mereka hanya berandalan kecil yang kecewa karena junjungan mereka di kalahkan oleh Lucas.
“TOLO ... hemp!!” Tangan cowok itu membungkam mulut Bella. Teriakkan Bella langsung terbungkam.
Bella memberontak, ia menggigit tangan itu.
“ACH!! Sialan, cewek j4lang!!” umpatnya kasar. Salah satu temannya kembali menangkap Bella, dengan cepat ia mengunci pergelangan tangan Bella dan membungkam mulutnya kembali.
“Kemarikan!” Cowok lainnya merebut beberapa botol minuman dari tangan Bella, dengan cepat mereka membuka semua tutup botolnya dan mengguyurkannya pada tubuh dan kepala Bella.
Bella gelagapan, bajunya basah karena minuman dingin. Lekukkan tubuh Bella semakin terlihat menonjol karena bajunya basah, membuat cowok-cowok brengsek ini semakin terpesona dan ingin segera memiliki Bella.
“Wah, gila!! Oke banget bodynya!! Sayang kalau dianggurin!!” gelak mereka senang.
“Atau jadi pacarku saja?!” kikihnya lagi.
“Le—pas—in!!” Bella berusaha memberontak dari bekapan mereka.
Bella memucat, melihat beberapa orang cowok ingin berlaku kurang ajar padanya membuat jantungnya berdebar tak karuan. Kakinya sangat lemas dan napasnya mulai terasa berat. Bella hanya bisa menangis, ia tak bisa beteriak karena mereka membungkam mulutnya.
“Bajumu basah!! Kau tidak mau melepasnya?” goda mereka. Bella bergeleng sambil menangis.
“Apa perlu kami bantu untuk melepaskannya?!” Bela semakin berontak, ia berusaha meronta dan terisak.
“Dimulai dari bawah dulu saja bagaimana?” Tangan salah seorang cowok hendak mengangkat rok Bella, namun tiba-tiba ditahan oleh seseorang.
“Lucas?!” Cowok itu syok saat melihat siapa yang tengah berdiri dihadapannya.
Lucas memandang mereka dengan geram, amarahnya tersulut saat melihat wanita yang dicintainya hampir ternoda oleh tangan-tangan kotor para cecunguk sialan ini.
“Lucas.” Bella memberontak, ia langsung berlari kebelakang tubuh Lucas, mencari perlindungan. Tubuhnya bergetar hebat.
“Siapa yang melakukan ini padamu?” Lucas memandang tubuh Bella yang basah, wajahnya terlihat kacau karena keringat dan air mata.
Bella tak bisa menjawabnya, dia masih menangis dan menangis.
Lucas menjadi semakin geram, ia mencengkram pergelangan lengan cowok tadi lebih kencang, membuatnya berlutut dan berteriak kesakitan.
“Ma—maafkan kami, kami tidak tahu kau kenal dengannya!” Ia memohon ampun.
“Siapa yang pertama kali mengganggumu, Ella??” Lucas menatap Bella, Bella seakan kembali menemukan keamanan di sisi Lucas.
“Dia,” jawab Bella sambil menunjuk cowok yang berlutut di depan Lucas karena kesakitan.
Lucas langsung mengangkatnya bangkit, ia melayangkan tinjunya beberapa kali, membuat tubuh orang itu gontai. Ia tak bisa membalas Lucas karena memang Lucas terlalu kuat. Teman-temannya pun tak ada yang berani menolong karena takut pada Lucas. Tak ada di antara mereka yang tak mengenal Lucas, Lucas adalah petinju kelas berat yang namanya cukup terkenal di kalangan anak muda.
BUAK!!! BUAK!! Lucas terus menghajar orang itu, darahnya muncrat sampai ke mana-mana, membasahi tubuh Lucas dan juga baju yang di kenakannya.
“BRENGSEK!! Kau sentuh wanitaku!!” Lucas tak puas hanya memukulnya, ia hendak mematahkan tangannya.
“Jangan Lucas!! Kau bisa membunuhnya!” cegah Bella.
“Jangan memohon untuknya!” Lucas membuat ucapan Bella tercekat.
Lucas menghentikan pukulannya, ia mengelap darah pada kepalan tangannya dengan kaos b*debah itu. Lalu pandangan matanya menuju ke arah teman-teman cowok itu.
“Aku memang belum pernah membunuh orang sebelumnya. Tapi aku tidak keberatan melakukannya demi wanitaku!! Ingat baik-baik! Kalau sampai aku melihat kalian mengganggu Bella lagi! Aku pastikan nyawa kalian tidak akan selamat.” Lucas mengancam mereka.
“Ba-baik.” Mereka menyeret tubuh temannya dan menghilang.
“Terima kasih, aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak ada.” Bella menangis dan menundukkan wajahnya.
“Kenapa sendirian di tempat sepi?? Kenapa kau bodoh sekali??” bentak Lucas.
“Maaf, aku hanya lelah dan ingin beristirahat.” Bella mengatakan alasannya.
“Bodoh!! Kenapa aku mencintai gadis bodoh sepertimu!” Lucas menarik dan mendekap tubuh Bella yang menggigil karena takut dan juga kedinginan.
“Hiks ...!” tangis Bella.
“Sudahlah! Ayo pulang! Kau tidak mungkin berada di sini dengan keadaan seperti ini.” Lucas melihat baju Bella basah, lekukannya membuat wajah Lucas menghangat.
“Hiks, tas ku ada di dalam loker.” Bella meminta izin untuk mengambilnya.
“Hubungi temanmu untuk membawakannya besok. Lagi pula memang ada apa di dalamnya?” sergah Lucas, cap tubuh Bella yang menonjol membuat Lucas tidak rela bila ada orang lain yang melihatnya.
“Boleh aku pinjam ponselmu?” tanya Bella, Lucas memberikan ponsel padanya.
Bella menghubungi Tasya, menceritakan pengalaman buruknya dan meminta Tasya menggantikannya. Tasya mengangguk tanda mengerti, toh jam kerja mereka sudah habis, hanya tinggal menghitung stok barang dan juga fee.
Bella memberikan kembali ponsel Lucas. Lucas menerimanya, “pakai jaketku! Aku antar kau pulang!”
Lucas melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Bella. Bella langsung memakai jaket itu, basah membuatnya kedinginan. Tak lama Lucas telah berada di depannya dengan motor trail berwarna hijau.
“Naik!” Perintah Lucas, Bella mengangguk dan naik ke atas motor Lucas.
Mereka berdua diam sepanjang jalan, Bella mendekap dan melingkarkan lengannya pada perut Lucas. Bella sedikit takut karena Lucas mengebut di jalanan.
“Jangan mengebut!! Aku takut!!”
“Diam dan peluk saja aku, Ella! Kau bisa masuk angin kalau kita tidak segera sampai ke rumah!” Lucas menyuruh Bella diam dan memeluknya.
“Tapi aku takut!”
“Pejamkan saja matamu!” pinta Lucas.
Bella menurut, ia memejamkan matanya dan memeluk perut Lucas lebih erat. Dalam ketakutannya Bella bisa mendengar suara detak jantung Lucas yang terdengar cepat. Ternyata Lucas juga berdebar karenanya, dia juga takut terjadi sesuatu pada Bella! Dia juga takut andai saja ia datang terlambat, dia juga takut kalau Bella sampai hancur di tangan para b4jingan itu.
Malam semakin larut dan dingin, terpaan angin membuat wajah keduanya membeku. Namun dinginnya angin berbanding terbalik dengan hati mereka yang saat ini terasa begitu hangat.
•
•
•
CIT!
Lucas menghentikan laju motornya di depan rumah Bella.
“Masuklah!”
“Iya,” jawab Bella, ia turun dari atas motor Lucas.
Bella berlari kecil ke dalam rumahnya. Namun langkah kakinya terhenti saat di depan pintu masuk rumahnya.
“Ach ... ach ... yes ... ach!” Suara desahan dan rancauan mamanya bersama dengan seorang pria terdengar. Mereka melakukannya di sofa ruang tamu. Tak tahu bahwa Bella akan pulang lebih cepat malam ini.
Bella mengurungkan niatnya untuk memutar handle pintu. Air matanya mengalir turun, bahunya menjadi kembali lemas. Dengan lesu Bella berjalan kembali ke luar, membuat Lucas memincingkan matanya heran.
“Kenapa?” Lucas mengusap air mata Bella.
“Bawa aku pergi dari sini, Lucas!! Aku tak ingin pulang!” Bella menangis semakin keras.
“Ada apa, Ella?” Lucas masih penasaran, namun Bella tak mungkin mengatakannya. Bahwa mamanya tengah menjual diri, bercumbu dengan lelaki hidung belang untuk menghidupinya.
“Hatiku sakit, Lucas! Bawa saja aku pergi dari sini!” Bella menaiki lagi motor Lucas.
“Kemana?”
“Terserah!”
Lucas mengurungkan niat untuk bertanya, ia kembali memutar gasnya dan melesat cepat ke sebuah apartemen mewah di jantung kota S.
— MUSE S5 —
Lucas membuka pintu apartemennya, Lucas memang memiliki sebuah apartemen sebagai hadiah kelulusannya tahun lalu. Apartemen ini merupakan apartemen mewah dengan dua kamar tidur. Karena Lucas masih sendiri, ia mengubah salah satu kamarnya sebagai area gym pribadi dan juga tempatnya berlatih boxing.
“Masuklah! Agak bau apek, sudah lama aku tak tinggal di sini!” Lucas mempersilahkan Bella masuk, memang benar semenjak kepulangannya dari luar negeri Lucas memilih tinggal di rumah utama demi menemani mama-nya yang sakit-sakitan.
Bella menelan ludahnya, baru kali ini ia berani bertandang ke rumah seorang lelaki. Dan bahkan hanya berduaan saja. Bella mengerutuki dirinya sendiri, tapi mau bagaimana lagi. Dia juga tak bisa pulang ke rumah padahal bajunya basah dan tubuhnya terasa lengket.
“Permisi,” izin Bella.
Lucas melemparkan tasnya ke atas sofa dan menyalakan semua pendingin ruangan dan ventilasi central, berharap bau apeknya segera menghilang. Bella mengusap lengannya karena dingin.
Lucas tersenyum dan mendekati Bella. Bella mundur sampai mentok ke dinding, mulai merasa kikuk dengan pandangan tajam Lukas yang seakan ingin menelannya bulat-bulat. Lucas semakin mendekatkan wajahnya, Bella sampai memejamkan matanya, menanti hal tak terduga apa yang akan dilakukan Lucas padanya.
“Mandilah, Ella!” bisik Lucas panas di telinganya.
Bella menurunkan bahunya, ternyata Lucas hanya menyuruhnya mandi. Dia kira akan menciumnya atau melakukan hal lain yang lebih panas. Ugh!! Bella mengumpati dirinya, kenapa pikirannya menjadi seliar ini hanya karena sedang berduaan dengan Lucas.
Lucas mengantarkan Bella masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya ada sebuah kamar mandi dalam, Lucas menyuruh Bella untuk bergegas mandi.
Bella mengamati kamar Lucas, ada sebuah ranjang king size, lalu nakas, dan juga perabotan lain dengan warna biru tua dan abu-abu. Warna gelap, sudut meja yang tegas, dan tidak banyak lekukan menimbulkan kesan maskulin pada design interiornya.
“Aku carikan handuk dan pakaian bersih. Kau mandi saja, apa kau tidak takut masuk angin?” Lucas membongkar lemari pakaiannya.
“Mandi di sini?” Bella mencelos saat melihat kamar mandi di kamar Lucas.
“Iya, hanya ada satu kamar mandi di apartemen ini.” Lucas mengangguk.
“Kau gila!!” umpat Bella.
Lucas tersenyum dan bangkit mendekati Ella, ia menyeringai saat melihat wajah cantik Ella berkerut sebal.
“Apa kau mau terus memakai baju basah dan merasa lengket sepanjang malam, Baby?” Lucas mengecup pipi Bella.
Bella mendengus sebal, perkataan Lucas tidak salah tapi tidak mungkin dia mandi di sana. Seluruh dinding kamar mandinya dari kaca transparan dan bisa terlihat jelas dari dalam kamar.
“Lucas kau buaya!”
“Salah siapa suru buaya ini mengajakmu pergi?” Lucas tersenyum nakal.
“Lucas!!” Protes Bella.
— MUSE S5 —
Wah wah, apa Bella akan mandi di sana?
Next episode gaes 🤭
Yo Muse up
LOVE
LIKE
COMMENT
VOTE
BAGI CINTA UNTUK SAYA
TERIMA KASIH SUDAH VOTE BAIK POIN MAUPUN KOIN
SEMOGA MENGHIBUR GAES!! ❤️❤️❤️