
Greyson tertegun melihat mansion Klan King sudah rata dengan tanah. Pohon-pohon yang tadinya lebat terlihat sudah hangus dan tumbang "Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" batinnya menatap nanar kearah bekas mansion klan king
"Mengapa banyak tubuh yang tergeletak dan terbakar begini" batinnya melangkah perlahan mendekati kearah mayat-mayat anggota klan king dan anggota Meyer yang sudah tergeletak di tanah.
"Stevi...." lirih Greyson mengamati daerah kekuasaannya sudah terlihat gersang.
Greyson berusaha menemukan keberadaan istri dan asisten kepercayaannya. Namun dari segi kondisi wajah dan tubuh dari mayat-mayat itu, tidak ada satu orang pun yang bisa di kenali.
"Stevi.... Sayang...." teriak Greyson memanggil-manggil istrinya. Greyson sudah tidak mampu membendung air matanya melihat kondisi di sekelilingnya.
"Saya--ng...." lirihnya meneteskan air mata. Greyson berlutut di tanah sembari menangis tersedu-sedu.
"Andai--kan.... Andai--kan, aku tidak pergi.... Semua ini tidak akan terjadi......" Rasa bersalah melingkupi hati kecilnya. Dia merasa bersalah meninggalkan Stevi saat masih tertidur tanpa mengucapkan apa-apa. Greyson tidak pernah berpikir jika peristiwa ini akan terjadi.
#
#
Dari kejauhan sepasangan suami istri paruh baya juga ikut sedih, dan meneteskan air mata melihat kondisi mansion yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat tinggal mereka. Mereka yang terkenal dingin dan berwajah datar, terlihat tidak seperti biasanya. Mereka belum pernah melihat ketua klan king yang terkenal tempramen, dingin, kejam, menangis tersedu-sedu seperti yang di lakukan Greyson sekarang.
Mereka tidak ikut menjadi korban tragedi ini, karena beberapa jam sebelum kejadian itu, mereka ditugaskan untuk membeli kebutuhan dapur mansion klan king.
"Ketua...." lirih mereka bersamaan ikut menatap nanar kondisi mansion klan king, yang sudah mereka tinggali selama bertahun-tahun hancur dan terlihat gersang.
"Mengapa semua ini terjadi...." ujar Greyson serak. Dia tidak mampu membendung rasa ke-tidak-rela-nya melihat kesadisan pelaku yang melakukan semua itu.
Pandangan Greyson beralih ke wajah putranya yang sedari tadi menangis
"Ssss.... Kita akan terus mencari mommy Mu... Dia pasti masih hidup..."ujar Greyson penuh harapan. Dia mengelus pelan kepala putranya agar lebih tenang.
Greyson kemudian berdiri sembari mendekap putranya "Cari keberadaan orang-orang yang masih hidup! aku yakin pasti masih ada anggota klan king yang masih hidup!" ujarnya sembari menatap kosong ke depan.
#
Sementara sepasang paruh baya juga tergesa-gesa turun dari private jet miliknya "Dad.... Mommy sangat mencemaskan putra, menantu dan cucu kita...." lirihnya dengan perasaan gusar melangkah menuruni tangga.
Mereka sangat terkejut ketika mendapatkan informasi hancurnya Mansion, yang di jadikan sebagai markas Klan King dari pemberitahuan TV Internasional.
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" batin mereka, jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya, hingga membuat mereka sulit untuk bernafas.
"Kita berdoa saja.... Semoga mereka baik-baik saja!" ujar suami-nya tenang.
#
#
Di Indonesia
Lagi-lagi kericuhan juga terjadi di rumah besar keluarga Thomson. Nyonya Lorens langsung pingsan ketika melihat sebuah berita yang menayangkan wajah menantunya. Matanya terpaku melihat apa yang tertulis di layar lebar itu.
Tuan Lorens langsung mengangkat tubuh istrinya, lalu membawanya menuju kamar mereka
"Stevi...." lirihnya meneteskan air mata menatap kosong langit-langit kamar khusus yang mereka tempati di rumah keluarga Thomson.
"Silvia.... Jo.... " lirihnya mendudukan tubuhnya menatap semua orang yang ada di kamarnya
"Kalian harus berusaha menemukan keberadaan Stevi...." lirihnya menatap penuh harapan kepada anak dan menantunya.
...***Bersambung***...