
"Alexa!" panggil Stevenson membuyarkan lamunan Alexa.
"Apa kau baik-baik saja?"
Stevenson sebenarnya merasa bingung dengan tingkah saudarinya. Mengapa Alexa tidak menjawab ataupun menolak lamaran Paskal. Padahal setahu Stevenson, sedari kecil Alexa sangat mendambakan pemuda itu. Alexa sangat menyayangi Paskal sejak dari kandungan. Gadis itu juga selalu bernyanyi di depan Theresia, ketika usia kehamilan wanita itu memasuki 6 bulan.
"Ya! aku baik-baik saja...." sahut Alexa mengaruk kepalanya tidak gatal.
"Apa kau sudah menerima lamaran Paskal?" tanya Stevenson memincingkan matanya.
"Ya?"
"Kau sudah menolaknya!" dengus Stevenson sedikit kesal.
Alexa langsung mengalihkan pandangannya mencari-cari keberadaan Paskal. Namun pemuda itu sudah tidak ada lagi di acara itu. Karena Paskal sudah pergi ke mansion belakang setelah penolakan Alexa.
"Sepertinya aku belum menjawab apapun." gumam Alexa dengan lirih. Perasaan cemas dan takut tiba-tiba meliputi hatinya.
"Aku mau mencarinya terlebih dahulu."
Alexa melangkah terburu-buru menuju mansion belakang. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari keberadaan mereka.
Sementara Stevenson dan Sherina menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat tingkah Alexa. Mereka lalu berlalu ke kursi pengantin menunggu acara selamatan.
#
#
Steven dan Livia membawa putra dan keponakan mereka ke kursi pengantin. Mereka saling melepas rindu disana.
"Sayang.... ayo duduk disini."
Steven menunjukkan kursi panjang yang sudah dialasi dengan busa lembut dan empuk.
Albiano menatap lama wajah Steven. Ia merasa wajah Steven terlihat sangat mirip dengan wajahnya. Sementara wajahnya dan Haykal sama sekali tidak mirip. Bola mata Albiano berwarna biru, sementara Haykal memiliki bola mata berwarna hitam pekat.
"Apa kamu merasa wajah kita sama? Hem?" tanya Steven tersenyum hangat.
"Aku adalah Daddy kandungmu! dan ini adalah Mommy kandungmu!" sambung Steven.
"Apa kau mengenal Mommy?" timpal Livia tersenyum manis.
Albiano lalu mengalihkan pandangannya menatap Livia. "Ya! gambar Mommy ada di foto pemberian Papi." jawab Albiano.
Livia tersenyum manis mendengar perkataan Albiano. "Kami adalah orang tua kandung kamu. Kita berpisah karena saat itu Mommy sedang sakit." ujar Livia.
"Papi Haykel membawa kamu bersamanya karena Mommy saat itu sedang sakit. Dan tidak ada yang menjaga kamu." sambung Livia mengelus kepala Albiano.
"Lalu Daddy dimana saat itu?" tanya Albiano dengan polos.
Livia dan Steven tertegun mendengar pertanyaan putra mereka. Mereka tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.
"Hem.... saat itu Daddy sedang ada pekerjaan. Dan kita harus berpisah beberapa saat. Sekarang Daddy datang menjemput Albiano dan Mommy. Mulai sekarang, kita akan tinggal bersama," ujar Steven tersenyum hangat.
"Maafkan Daddy datang terlambat." sambung Steven mendekap tubuh putranya.
"Suatu hari nanti kamu pasti mengerti dengan masalah orang dewasa." timpal Steven.
"Apa kalian melupakan Mommy?" tanya Livia pura-pura merajuk.
Steven dan Albiano saling memandang dan tiba-tiba tertawa cekikikan menatap kearah Livia yang sedang mencebikkan bibirnya ke depan. Gionino ikut senang melihat keceriaan Albiano.
Steven langsung mengenggam tangan istrinya. Ia benar-benar sangat senang karena akhirnya keluarganya berkumpul kembali.
Tiba-tiba seorang pemuda datang membuyarkan suasana bahagia itu.
"Selamat Stev.... ternyata kau sudah punya putra sebesar ini." ujar pemuda itu tersenyum kecil.
"Ya! kau benar. Apa kau tidak mau menikah juga? awas si joni entar karatan lama-lama dikurung." ejek Steven menatap sepupunya.
"Akhirnya kalian menikah juga," kata seorang gadis tomboy tiba-tiba menyela obrolan mereka.
"Vania.... apa Nathan juga ikut bersamamu?" tanya Steven menatap sepupunya.
"Ya! anak manja itu ada bersama Mama dan Papa," kata Nia tersenyum tipis.
"Jika dilihat dari sifat kalian berdua. Aku merasa jiwa kalian sewaktu dilahirkan sudah tertukar." celetuk Steven menatap penampilan sepupunya. Nia berpenampilan seperti seorang pria. Rambut pendek dan juga pernak-pernik gelang milik pria melingkar di pergelangan tangannya.
"Cih! come on, Stev. Bukankah sifat kita tida jauh berbeda!" dengus Nia menaik-turunkan alisnya menatap sepupunya.
"Selamat untuk kalian berdua. Semoga keponakan baru segera launching." sambung Nia tersenyum tipis menatap Livia.
"Jika pria tengil ini menyakiti mu dan berselingkuh diluar sana! beritahu padaku. Aku tidak akan segan-segan mencincang cacing Alaska miliknya." ucap Nia penuh peringatan membuat tubuh Steven dan Jordan tiba-tiba menegang.
Livia tersenyum tipis mendengar ucapan Nia. Ia merasa Nia merupakan gadis yang unik. Diluar sana para wanita akan berlomba-lomba menjaga penampilannya agar terlihat cantik di mata orang lain. Namun Nia berpenampilan seperti pria agar para pria diluar sana menjauhinya.
Berbeda dengan Jonathan yang memiliki sifat kalem dan lembut. Nia memiliki sifat judes,cuek dan suka berpenampilan tomboy. Nia juga menyukai hal-hal yang menantang seperti Steven. Karena sedari kecil mereka melakukan hal-hal menantang bersama. Nathan lebih akrab dengan Stevenson karena pria itu memiliki sifat sedikit dewasa.
"Jordan! sampai sekarang aku masih bingung. Apa alasanmu menyukai wanita seperti Vania. Tidak ada hal yang menarik dari sepupuku ini." celetuk Steven tersenyum menyeringai. Suasana disana tiba-tiba berubah menjadi hening.
"Apa kalian diam-diam menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Aunty Gabi?" timpal Steven menuduh mereka.
"Ini kado dariku atas pernikahan kalian. Sekali lagi selamat untuk kalian. Semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan. Aku mau mengucapkan selamat juga kepada Stevenson dan Sherina." sela Vania. Ia bergegas berlalu dari sana. Sebenarnya Nia masih ingin menyapa kedua putra sepupunya itu. Namun Nia merasa topik pembicaraan mereka cukup sensitif untuk dibahas. Apa lagi itu mengenai suatu perasaan.
Jordan terdiam lama menatap kepergian Nia. "Apa kau mau mendengarkan saranku."seru Steven menatap wajah mendung sepupunya.
"Aku yakin saran yang kau berikan bisa jadi akan menghancurkan hubungan dua keluarga." dengus Jordan kesal.
"Dengan cara baik-baik saja kau tidak bisa mendapat restu dari Aunty dan Uncle. Mengapa tidak menggunakan cara Daddy saja." ucap Steven.
"Aku sudah mencobanya dan hasilnya tokcer. Lihatlah hasilnya sekarang sudah sebesar ini." timpal Steven mengangkat tubuh putranya.
"Tidak mungkin, kan.... kau menjomblo sampai usia diatas 30 tahun. Sekarang usiamu 27 tahun! usia yang sangat pas untuk menikah. Kau sudah memiliki perusahaan sendiri. Kau juga mewarisi bisnis gelap Uncle. Sekarang apa lagi yang mau kau tunggu?" tutur Steven beruntun.
"Awas.... entar kalau udah di ambil orang malah nyesal." nasehat Steven.
"Mengapa setelah menikah kau berubah menjadi cerewet seperti ini." ketus Jordan pura-pura kesal.
"Aku sudah banyak belajar dari masa lalu." ucap Steven dengan pelan. Steven mulai menyadari semua itu setelah melihat putranya. Putranya tumbuh tanpa kasih sayang penuh dari kedua orang tua kandungnya. Meskipun kemungkinan Haykal sudah memberikan kasih sayang penuh kepada Albiano. Namun perasaan bersalah itu masih tetap tumbuh di dalam hatinya. Andaikan waktu bisa diputar kembali, Steven tidak akan meninggalkan Livia. Ia akan menghampiri Livia dan membawanya ikut bersamanya ke Inggris. Namun hanya karena keegoisan, kesalahpahaman dan rasa cemburu yang berlebihan, semuanya menjadi berantakan.
Tapi di satu sisi Steven juga sangat bersyukur, karena dengan kejadian itu. Ia bisa memetik banyak sisi baiknya. Tuhan mempertemukan mereka dan menyatukan cinta lama yang belum terkubur sejak lama.
...***Bersambung***...