IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Albina dan Haykal



Keterkejutan Haykal saat mendengar ucapan perawat yang Ia tugaskan menjaga mantan kekasihnya membuat Haykal tanpa sadar meninggikan suaranya. Sehingga para pelanggan Starbucks serentak mengalihkan pandangan mereka ke arah meja Haykal dan keluarganya. Begitu juga dengan Alexa.


"Maaf...." lirih Haykal melihat tatapan serentak orang-orang yang mengarah ke arahnya dan keluarganya.


Suasana di Starbucks kembali seperti semula, Haykal lalu pamit sebentar ke toilet kepada kedua orangtuanya. Ia ingin berbicara di tempat yang sedikit tenaga dengan perawat yang menjaga Albina.


"Hallo"


"Tolong jelaskan kronologi mengapa kalian bisa kehilangan Albina?" tegas Haykal gusar.


Haykal tentu saja takut sekaligus cemas kejadian masa lalu akan terulang kembali. Apa lagi Albina memiliki tubuh yang proposional dan menawan. Meskipun kondisinya sekarang masih dalam pemulihan, namun terkadang Albina bisa berbicara seperti orang normal pada umumnya. Asal jangan mengucapakan kalimat-kalimat yang mengganggu pikirannya dan melihat pria bermata biru.


#


#


#Masa Lalu


***Flashback***


Haykal baru saja mendapatkan informasi mengenai kelulusannya menjadi salah satu calon mahasiswa baru spesialis bedah. Ia akan segera berangkat ke California setelah kelulusannya beberapa sebulan lagi. Pria itu berniat membagikan kabar bahagia itu kepada kekasihnya. Namun Ia tidak pernah menyangka bahwa hari itu akan menjadi akhir dari hubungannya.


Haykal meninggalkan Albina dengan pakaian compang-camping di depan lobi apartemen kekasihnya itu tanpa sepatah kata pun. Pria itu menghabiskan waktunya menyelesaikan studinya tanpa gangguan Albina lagi. Karena setelah kejadian itu, Haykal tidak pernah lagi bertemu dengan Albina.


Sementara di sisi Albina


Wanita itu berhari-hari mengurung dirinya di kamar tanpa ada niat keluar melihat dunia lagi. Ia merasa hidupnya hancur dan berantakan setelah malam dimana Ia diperkosa dengan kejam.


Ditambah lagi dua garis merah di tangannya, membuat air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia tidak menolak kehadiran bayi di dalam perutnya. Namun Ia sungguh belum sanggup jika harus hamil tanpa seorang suami.


Drettt drettt drettt


Suara dering ponselnya mengalihkan pandangannya dari testpack positif di tangannya. Albina menatap lama nomor telepon tanpa nama di layar ponselnya.


"Hallo"


[Datanglah hari ini ke apartemenku.] ujar seorang pria dari sana lalu mematikan panggilannya.


Albina terkejut mendengar suara pria yang sangat familiar di pendengarannya. Albina lalu mengalihkan pandangannya kearah testpack di tangannya.


"Aku harus memberitahunya mengenai kehamilanku." ujarnya berlari keluar dari kamar mandi.


Wanita itu mencari-cari tas samping kecil yang biasa Ia bawa berpergian. Albina lalu memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tasnya.


Albina berlari menuruni tangga lobi menghampiri taksi yang sedari tadi sudah menunggunya di bawah. Taksi itu kemudian berlalu dari apartemennya.


#


#


Sementara Haykal tertegun melihat Albina untuk pertama kalinya. Ia melihat kekasihnya itu terlihat seperti orang yang sedang terburu-buru keluar dari apartemennya. Sebenarnya Haykal berniat berpamitan dengan Albina sekaligus ingin mengatakan sesuatu mengenai hubungan mereka. Namun Albina sepertinya memiliki tujuan penting hari ini.


Haykal memutuskan untuk mengikuti taksi yang Albina tumpangi hingga mobil itu sampai di sebuah Penthouse mewah.


"Mengapa Albina datang ke tempat mewah seperti ini?" gumamnya sembari mengamati bangunan penthouse sultan itu. Setahunya Albina merupakan anak orang biasa, Ia juga kuliah dengan bantuan beasiswa.


Namun tak beberapa lama, Ia melihat Albina keluar dari bangunan Penthouse mewah itu dalam keadaan menangis. Haykal tentu saja terkejut melihat Albina menangis tersedu-sedu setelah keluar dari penthouse itu.


"Apa yang terjadi dengannya?" batin Haykal bertanya-tanya. Pria itu lalu turun dari mobil mengejar langkah Albina.


"Albina!!"


Teriak Haykal saat melihat Albina berlari ke tengah jalan.


"Albina!!!"


Teriaknya lagi berusaha menyelamatkan Albina.


Wanita itu berjalan di tengah jalan raya dengan tatapan kosong dan air mata tidak berhenti mengalir. dari sudut matanya.


......***Bersambung***......